Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 70


__ADS_3

Setelah Disya kembali membaik, Alisa segera keluar, menemui Rafa dan sekaligus meminta penjelasan mengapa ia tak mau mendekati istrinya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.


Alisa segera keluar dan segera mencari putranya itu.


Saat ini Rafa sedang berada di sofa, ia duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut, Alisa yang masih butuh penjelasan tentang semuanya segera menghampiri putranya tersebut.


"Fa, kamu kenapa??, apa yang sudah terjadi??, kenapa kamu tega meninggalkan Disya yang sedang mual-mual??" Tanya Alisa.


Rafa kemudian memandang kearah Mommy nya, melihat ekspresi Mommy nya yang sudah merubah mimik wajahnya, dan akhirnya membuat Rafa pelan-pelan membuka suaranya.


"Mom aku harus bagaimana??, aku salah apa, kenapa Disya sampai gak mau dekat-dekat aku" Ucap Rafa sedih, wajahnya memang sedari tadi sudah menampakkan kesedihannya, kesedihan karena istrinya tak bisa ia dekati.


"Maksud kamu apa Fa??, Mommy gak ngerti" Ucap Alisa, Rafa tak mengatakan secara langsung, membuat Alisa semakin bingung saja.


"Mom, Disya kalau dekat aku gak mau, dia langsung mual-mual Mom, aku jadi bingung, aku harus bagaimana??, kata Ghani Disya sedang hamil, masa orang hamil kayak gitu Mom" Alisa pun tak menyangka jika Ghani bercerita kepada kakaknya Rafa, dan sepertinya rencananya gagal untuk memberi kejutan Rafa, dan Alisa kemudian mulai mencerna kata-kata putranya soal Disya yang mual saat berdekatan dengan Rafa.


"Kamu gak perlu bingung seperti itu, itu gak akan bertahan lama sayang, kamu harus sabar, dan asal kamu tahu Fa, Mama Nisa juga duku seperti itu, dia dulu gak mau dekat-dekat sama Papa Denis sewaktu hamil Disya" Ucap Alisa sambil mengingat sewaktu Nisa hamil Disya.


Rafa pun sedikit tak percaya, apakah memang betul Mama mertuanya dulu sewaktu hamil Disya seperti itu.

__ADS_1


"Kok Mommy bisa tahu??" Tanya Rafa, Alisa belum pernah bercerita jika dulu Nisa pernah menjadi sekretaris nya, yang Rafa tahu hanya Denis saja yang pernah bekerja dengan Daddy nya dulu.


"Ya jelas Mommy tahu sayang, Mama Nisa kan pernah jadi sekertaris Mommy dulu, makanya Mommy tahu bagaimana Disya, dan Mommy sangat menyayangi Disya, dulu Papa Denis dan mama Nisa juga sangat menyayangi kamu, Mama Nisa selalu senang jika mommy bawa kamu ke kantor" Ujar Alisa.


"Jadi kamu yang sabar, Disya hanya sebentar bersikap seperti itu, cuma 4 bulan, dan kamu harus memaklumi nya, dan jaga emosi Disya" Untuk kedua kalinya Rafa mendengar hal itu, pertama dari adiknya, dan kedua dari Mommy nya.


Rafa pun membuang nafasnya kasar, ia mencoba memaklumi, dan itu juga demi anak yang istrinya sedang kandung itu, dan setelah memikirkan tentang kehamilan Disya, Rafa baru ingat jika dirinya tahu kehamilan istrinya paling terakhir, sedangkan Mommy nya dan Ghani sudah tahu lebih dulu, dan kenapa juga Disya tidak bilang kepadanya.


"Mommy bisa tahu kalau Disya sedang hamil, dan Ghani juga, kok malah aku yang tahu belakangan??" Tanya Rafa, Mata Alisa pun membulat, bagaimana ia akan menjelaskan itu kepada Rafa, jika dirinya lah yang membuat Disya tidak memberitahu berita ini kepada Rafa.


"Hmm.. Maafin Mommy ya Fa, sebenarnya Mommy yang merencanakan itu semua, maunya sih mau ngasih kejutan, tapi nyatanya sekarang kamu malah udah tau sebelum Mommy kasih kejutannya" Alisa terlihat cemberut karena kali ini rencananya gagal, apalagi melihat ekspresi putranya saat ini, membuat Alisa semakin mengerucutkan bibirnya.


"Ma, Papa cari dari tadi, gak tau nya disini, ayo ma, udah siang nanti kita telat" Mau tak mau Alisa pun mengikuti Fandi, tapi itu juga menyelamatkan dirinya dari Putra nya Rafa.


"Iya pa, ayo" Alisa pergi bersama dengan Fandi dengan bergandengan tangan, seperti ABG yang sedang jalan-jalan saja, dan itu membuat Rafa kemudian menggeleng kan kepalanya, ada-ada saja kedua orang tuanya itu, masih tetap romantis meskipun udah hampir punya cucu.


Fandi tak memperdulikan Rafa yang pastinya sedang melihatnya dengan Alisa, yang Fandi ingin tetap menggandeng tangan Alisa samai menuju kamarnya.


Fandi dan Alisa sampai di dalam kamarnya, Fandi segera mengunci pintu kamarnya, dan ia seger menarik tangan Alisa dan tepat saat itu mereka kemudian jatuh di atas ranjangnya.

__ADS_1


Keduanya pun saling memandang dan menatap penuh cinta, meskipun sudah lam menikah, Alisa dan Fandi masih sangat romantis sekali sampai sekarang.


Alisa segera tersadar, tak mau sampai terbuai dengan tatapan maut suaminya yang akan membuat mereka telat menuju kantor, dan Alisa segera bangun dan segera mengambil handuk kimono nya dan segera menuju ke kamar mandi.


"Sayang, mau kemana??, gak kasihan sama aku??" Fandi seperti sudah lupa umur nya, ia merengek kepada Alisa dan Alisa sama sekali tidak menggubris nya, Fandi pun semakin gemas kepada istrinya dan akhirnya ikut masuk kedalam kamar mandi untuk memintai pertanggungjawaban istrinya yang tiba-tiba kabut dari dekapannya.


Dilain tempat, Rafa kembali ke kamarnya, mencoba untuk menemui istrinya, Rafa perlahan-lahan membuka pintu kamarnya, dapat dilihat jika saat ini Disya sedang berada di atas ranjangnya, dan saat ini juga tengah menatap Rafa, ada rasa bersalah juga di dalam hati Disya, bukan dia yang menginginkan ini , tapi anaknya lah, dan Disya hanya bisa pasrah saja, tapi di balik itu Disya juga berjaga-jaga, ia tak mau sampai mual-mual lagi, badannya sudah sangat lemas sekali, dan ia tak mau itu lagi.


Disya segera menutup hidungnya, tetapi juga ia tidak enak dengan suaminya tapi bagaimana lagi, harus ia lakukan demi dirinya yang saat ini sedang seperti ini.


Rafa pun tersenyum kepada istrinya, merasa tak masalah dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Kakak mandi dulu sayang" Rafa kemudian berjalan sambil mengambil handuk yang ada.


Disya membuka tangannya kembali, menatap suaminya yang sudah hilang dan masuk kedalam kamar mandi.


Ada rasa kesedihan yang mendalam, tapi Disya tidak bisa melakukan apapun, yang ia bisa hanya menjaga dirinya dengan cara ini, menutup hidungnya saat suaminya datang, dan itu berharap suaminya akan mengerti.


Rafa kemudian keluar dari dalam kamar mandi, bau maskulin dari tubuhnya sudah menyeruak dalam kamarnya, dan itu membuat Disya sedikit mual, tapi ia tahan dengan menutup mulutnya, tak mau sampai membuat suaminya merasa bersalah atau lebih dari itu.

__ADS_1


__ADS_2