Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 1


__ADS_3

Ghina masih terdiam, ia sedikit salah tingkah di pandangi oleh kepala bagian HRD tersebut.


"Masih muda, ganteng lagi", Gumam Ghina, ia sebenarnya malu di tatap oleh laki-laki seperti ini, tapi mau gimana lagi, ia saat ini sedang dalam proses wawancara kerja, jadi mau tak mau Ghina harus menerimanya.


"Ok, saudara Ghina, anda bisa mulai bekerja di perusahaan ini", Ucap kepala HRD itu yang bernama menurut nama dadanya tersebut bertuliskan nama Zian.


Ghina pun tersenyum lega, akhirnya ia bisa diterima di perusahaan keluarganya sendiri dengan hasilnya sendiri tanpa embel-embel dari keluarganya."Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi", Setelah menjabat tangan Zian, Ghina akhirnya pun pergi meninggalkan ruangan HRD tersebut, saat ia turun dari lantai tiga tempat ia wawancara tadi ia berpapasan dengan Mommy nya.


Ghina pun memberi isyarat dengan tangan jempolnya memberitahu kepada Mommy nya jika ia sudah diterima di perusahaan ini.


Alisa pun menggeleng kan kepalanya, ada-ada saja tingkah anak perempuan nya ini.


Ghina kemudian berjalan keluar, memesan taksi online terlebih dahulu, sebenarnya Fandi sudah memfasilitasi Ghina mobil, tapi gadis itu tak mau memakainya dulu, jika ia memakai nya satu perusahaan bakalan heboh melihat pegawai memakai mobil mewah keluaran terbaru.


Zian pun juga kebetulan akan keluar, ia melihat Ghina yang belum juga meninggalkan perusahaan ini, gadis itu terlihat masih menunggu taksi online yang akan membawanya nanti.


"Belum pulang??", Tanya Zian kepada Ghina.


Ghina pun terperanjat kaget, kemudian ia menolehkan kepala dan ternyata yang ada dibelakangnya adalah Zian kepala bagian HRD tadi.


"Iya pak, saya masih menunggu taksi online yang sudah saya order tadi", Laki-laki itu pun mengangguk, kemudian ia mengulurkan tangannya kearah Ghina.


"perkenalkan nama saya Zian, kamu bisa panggil Zian kalau sudah berada di luar kantor, kalau di dalam kantor kami mengerti sendiri", ucap Zian.


Ghina menyambut uluran tangan tersebut, " Nama saya Ghina pak, anda bisa memanggil nama saya Ghina", ucap Ghina.


"Saya sudah tahu, bukannya saya tadi yang mewawancarai kamu??", tanya Zian.


Ghina pun tersenyum, ia lupa jika Zian sudah mengetahui namanya tadi, tak lama setelah itu taksi yang ia pesan sudah datang, kemudian Ghina berpamitan kepada Zian dan langsung memasuki taksi online tersebut.


Zian masih menatap taksi yang di tumpangi oleh Ghina, melihat Ghina untuk pertama kalinya membuat hati Zian mendadak berdetak kencang, Zian tak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatinya saat ini.


Siang harinya, disalah satu rumah sakit ternama di kota tersebut, seorang dokter tampan batu saja keluar dari dalam ruangan operasi, wajahnya sedikit memperlihatkan kelegaan nya karena ia berhasil menyelamatkan nyawa seseorang.


Ghani pun berjalan melewati sepanjang koridor rumah sakit untuk menuju ke ruangannya, ia sangat lelah sekali hari ini, dan ia ingin istirahat di ruang kerjanya.


"Dokter, dokter Ghani, dokter tunggu", Ucap salah seorang perempuan yang kini mengejar dirinya, Ghani pun menoleh, ia melihat siapa yang memanggil nya sedari tadi dan mengikutinya sampai disini.


"Iya, ada yang bisa saya bantu", Ucap Ghani dengan sangat berwibawa, ia tak mau menunjukkan senyum nya kepada semua wanita, takutnya jika nanti wanita itu akan modus terhadapnya, maklum saja Ghani merupakan salah satu dokter tertampan di rumah sakit ini.


"Saya hanya ingin menanyakan keadaan papa saya, bagaimana keadaannya dok??", Tanya Ratna, putri dari orang yang telah diselamatkan nyawanya oleh Ghani.


"Mari ikut ke ruangan saya", ucap Ghani lalu berjalan terlebih dahulu tanpa memperdulikan Ratna yang hampir pingsan karena mengejarnya.


Ratna pun membuang nafasnya kasar, mengikuti dokter ini membuat ia sedikit kesal, "Tinggal bilang aja disini kok pakek keruangannya segala", Gerutu Ratna dalam hatinya.


Ratna kemudian mengikuti Ghani, dan kemudian masuk kedalam ruangan tersebut, Ratna kemudian duduk tepat di hadapan Ghani, laki-laki itu masih enggan menatap Ratna sampai saat ini.


Nafas Ratna masih saja ngos-ngosan, berlari mengejar dokter dingin ini membuat ia sangat haus sekarang,


"Dokter, boleh saya minta air, saya haus dok??", Tanya Ratna tanpa rasa sungkan, tenggorokan nya sudah sangat kering sekali dan ia ingin segera membasahi tenggorokan nya dengan satu gelas air putih.


Ghani mendengus kesal, dan ia pun berjalan menuju ke arah dispenser airnya, lalu ia mengisi gelas yang ada ditangannya dengan segelas penuh air putih, Ghani kemudian menyerahkan gelas tersebut, dan tanpa malu-malu Ratna meneguk air putih tersebut sampai habis. ada rasa kasihan saat melihat wanita ini kehausan, tapi Ghani tak mau menunjukkan itu semua, ia takut perhatian nya akan disalahgunakan oleh kebanyakan wanita yang pernah ia temui.


Gelas itu di letakkan kembali oleh Ratna, dan matanya kini kembali menatap dokter tampan yang ada dihadapannya.


"Sudah hilang haus nya??", Tanya Ghani, Ratna hanya mengangguk, sejujurnya ia juga malu harus meminta air minum kepada dokter yang menangani papanya.


"Baik kalau begitu saya akan mengatakan bagaimana keadaan dan kondisi ayah anda, operasi nya berjalan dengan lancar, dan ayah anda hanya perlu memulihkan keadaan nya untuk saat ini, jangan banyak bergerak, jangan membebani pikiran nya, dan makan makanan yang bergizi, Itu saja", Ucap Ghani.


Wanita ini mengangguk tanda ia mengerti,


"Kalau sudah tidak ada yang ingin ditanyakan, saya mohon anda segera keluar karena saya mau istirahat", ujar Ghani yang secara langsung mengusir Ratna dari ruangannya.


Ratna mendelik tajam ke arahnya, "Dasar dokter sombong", Gumam Ratna, Ratna kemudian menggeser kursi tersebut dengan kasar, dan dia segera keluar tanpa mengucapkan permisi.


Ghani pun menggeleng kan kepalanya, ia melihat wanita ini sama sedari tadi seperti terlihat cuek dan tak memperdulikannya, tapi Ghani tak mau ambil pusing, ia tak mau memikirkan wanita yang namanya saja ia tak tahu.


Ratna keluar dari ruangan itu dengan sangat kesal,


"Kalau dia bukan dokter yang menangani papa, aku tidak mau di usir seperti ini, dasar dokter sombong", Ratna pun semakin kesal dengan Ghani.


Ratna kembali berjalan menuju ke arah ruangan papa nya, ranjang itu bertuliskan nama Pak Bambang, laki-laki paruh baya itu tengah selesai menjalani operasi beberapa jam yang lalu, yang jelas dokter yang menangani pak Bambang adalah dokter sombong itu.


Ratna menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di sisi ranjang pasien, tubuhnya sangat lelah sekali, sudah seminggu ini ia menemani papanya disini, Ratna menguap, matanya sudah tidak sanggup untuk ia buka, maka tak perlu menunggu waktu lama ia sudah tertidur di sofa tersebut.


Dilain tempat, Rafa kini sudah selesai dengan rapat bulanan yang akan ia pimpin setiap bulannya, banyak yang takjub saat mendengar presentasi Rafardhan, putra dari Fandi Wiratama, ia sudah menggantikan posisi Fandi sejak 1 tahun yang lalu, yang jelas itu membuat pekerjaan Fandi berkurang,


Para staf wanita yang ikut dalam rapat tersebut tak henti-hentinya menatap Rafa sedari tadi, wajahnya yang tampan membuat semua wanita ingin dekat bahkan mau untuk menjadi kekasih Rafa.


Rafa keluar dari ruangan rapat, ia berjalan dengan diikuti oleh sekertaris nya, ia mencontoh semua yang di lakukan Daddy nya selama dikantornya, sekertaris Rafa sama seperti Fandi dulu, namanya Kevin, dia seumuran dengan Ghina dan Ghani, dan dia mungkin juga satu universitas dengan Ghina adik perempuan Rafa.


Rafa memasuki ruangannya sedangkan, Kevin juga sudah masuk kedalam ruangannya, Rafa kemudian mengeluarkan ponsel nya, ia melihat foto wallpaper wanita cantik yang selama ini sangat ia cintai, ya Rafa memang mencintai Disya, dan sekarang Disya kini tengah berada di luar negri sedang menyelesaikan kuliahnya.


Rafa POV


Aku Rafardhan Syahreza Wiratama, bekerja menggantikan Daddy ku adalah ke inginkan ku, aku ingin meringankan beban Daddy yang harus juga membantu mommy mengurus perusahaan kakek Ardi, seperti sekarang ini, aku yang sudah pulang dari Jerman beberapa bulan yang lalu,dan aku nyatanya langsung diberikan amanat untuk mengurus perusahaan Daddy, aku merasa tertantang, aku ingin membuat Daddy bangga kepadaku.


Seperti tadi pagi, aku sudah bersiap dengan pakaian kerjaku, aku sudah siap melihat diriku di depan cermin, aku ingin membesarkan perusahaan Daddy dengan tanganku sendiri, Semangat kerjaku tak luput dari wanita cantik yang hadir dalam hidupku sejak aku kecil, ya dia bernama Disya Adisti Mahendra, sejak kecil kita selalu bersama, hingga suatu ketika Disya harus pindah ke kota asal om Denis, mau tak mau aku pun harus menerima dan berhubungan jarak jauh sampai sekarang ini.


Ponselku berdering saat ini, terlihat dia sedang melakukan panggilan video call denganku, aku pun sangat senang, aku bisa melihat wajahnya meskipun hanya dari balik layar ponsel.


" Hai Assalamualaikum", kata pertama ku yang aku ucapkan saat melihat wajahnya yang begitu cantiknya.


Dia juga terlihat senang melihat diriku, kami sudah menjalin hubungan pacaran sekitar 5 tahun yang lalu, aku masih tak pernah menatap dirinya secara langsung, hanya lewat media saja, awalnya aku ragu untuk mengatakannya, tapi rasanya hati ini ingin memiliki wanita yang selalu hadir dalam mimpiku itu.


"Waalaikum salam kakak sayang", Balasan itu yang selalu aku dengar, aku pun semakin cinta kepada Disya.


"Apa yang sedang kamu lakukan??", tanyanya kepadaku, Aku pun tak langsung menjawab aku ingin dia merasa sedikit kesal terhadapku karena aku senang menjahili dirinya.


Benar saja ia kini sudah mengerucutkan bibirnya membuat aku ingin sekali mencium bibir Tersebut, tapi aku bisa menahan itu, aku ingin menyentuh dirinya ketika aku benar-benar sudah halal untuknya.


"Jangan seperti itu, aku tidak sanggup untuk melihatnya", Ucapku kepada Disya, Disya pun mengerutkan keningnya.


"Memang nya aku kenapa??", tanya disyaku lagi, dia merasa tidak melakukan apapun.


"Aku tidak sanggup melihat bibir mu yang seperti itu", Ucap ku lagi, wajahnya kini berubah menjadi merah, aku sangat jelas melihatnya, aku membuat dia malu.


Disya memalingkan wajahnya,


"Kapan kamu pulang sayang??", Tanya ku kepada Disya, sudah hampir 4 tahun kita berhubungan jarak jauh beberapa bulan yang lalu, aku di Jerman, dan dia di Amerika. dan setelah kelulusan ku Beberapa bulan yang lalu kini aku kembali ke Indonesia, dan kita masih LDR an sampai saat ini.


"Minggu depan, aku Minggu depan pulang sayang, aku sudah selesai wisuda", Ucap Disya kepadaku, aku pun merasa sangat senang, akhirnya aku bisa melihatnya dengan jarak yang dekat, meskipun kami masih berbeda kota, aku di Jakarta dia di Surabaya, tapi aku berjanji akan membawa dia ke Jakarta dan hidup bersama ku selamanya.


"Mau aku jemput??", tanya ku lagi, Wajah Disya pun seketika berubah, ia menganggap ini hanya lelucon.


"Apa kamu serius kak??", Tanya Disya kepadaku.

__ADS_1


Aku pun mengangguk, "Jika kamu mengizinkan aku akan menjemputmu disana, aku akan berbicara Dengan om Denis dan Tante Nisa", Ujar ku, Dan Disya pun mengangguk.


"Jadi Minggu depan tunggu aku disana, aku akan menjemputmu sayang", Ucapku mengingatkan Disya.


Selepas kepulangan Disya aku sudah mempunyai rencana, aku ingin melamarnya dan aku ingin secepatnya menghalalkan hubungan kami, aku akan membicarakan ini kepada Daddy nanti nya, dan mudah-mudahan Daddy dan Mommy setuju.


Disya POV


Aku tak menyangka jika teman dekat kecilku kini sudah menjadi kekasihku, jujur aku menyukainya sejak dulu, ku pikir itu duku hanya cinta monyet ku, namun ternyata dia kini menjadi kekasih ku, berharap menjadi kekasih halal ku kelak.


Sebagai rutinitas pagi ku, aku selalu menghubungi dia terlebih dahulu, semenjak kita berpacaran aku lebih sering menghubunginya dulu, aku ingin selalu mendengar suara nya dan memandang wajahnya dari balik layar ponselku.


Dia selalu menjahili ku, tapi aku suka, ia selalu bilang jika bibirku mampu menggoda dirinya, dan aku pun menjadi malu karena itu.


"Jangan begitu, kamu sengaja menggodaku??", ucap nya kepadaku, aku yakin wajahku kini menjadi sangat merah merona karena ucapannya.


Dia pun tertawa, sejujurnya aku juga tak berniat menggodanya, hanya saja itu akal-akalan dari kak Rafa.


Aku mendengar dia akan menjemputmu, awalnya aku menganggap itu hanya candaan nya saja, tapi ternyata itu serius.


"Jadi Minggu depan tunggu aku disana, aku akan menjemputmu sayang", Ucapnya, dan itu membuat aku senang.


Aku pun mengangguk, dan aku akan menunggu dia menjemputku Minggu depan.


Rafa hari ini sudah berniat untuk menelfon papanya Disya, Rafa sudah sering kali berkomunikasi dengan Denis dari sejak dulu, dan Rafa pun juga sudah tidak canggung lagi untuk berbicara dengan sahabat dari Daddy nya Tersebut.


Rafa pun keluar dari kantor, hari ini ia berniat akan menuju ke kantor Mommy nya, perjalanan Rafa menuju ke kantor Bachtiar Group sangat lancar, tidak ada kendala sama sekali, Rafa tiba di depan gedung besar itu tepat pukul 12 siang, Rafa segera memasuki kantor tersebut dan segera menuju ke lantai 15, tempat dimana mommy dan Daddy nya berada.


Lift pun terbuka Rafa dan Rafa segera keluar, kini ia tengah mengetuk pintu utama ruangan tersebut.


"Assalamualaikum Mom", ucap Rafa saat memasuki ruangan tersebut.


"Waalaikum salam", Fandi dan Alisa pun menoleh ke arah pintu yang terbuka, Rafa masuk kedalam dengan menenteng jas kerja kantor nya, pemuda itu masuk kedalam ruangan tersebut dan mencium punggung tangan Mommy nya, Rafa tak lupa mencium pipi Mommy nya setiap ia bertemu dengan wanita yang sudah melahirkan nya tersebut.


Kemudian Rafa beralih, ia menghampiri Daddy nya yang masih sibuk dengan laptop di meja kerja nya.


"Tumben datang kemari??", Tanya Fandi, tak biasanya putranya itu akan datang ke kantor ini, biasanya ia akan lebih memilih bertemu dengan orang tuanya dirumah saat malam.


Rafa pun tersenyum, senyum Rafa yang ada di bibirnya itu mampu menghipnotis semua wanita yang melihat ketampanan Rafa.


Rafa kemudian duduk di sofa, sambil menggandeng tangan mommy nya ia kini duduk bersama dengan Mommy nya.


"Pasti ada maunya", Ucap Fandi tepat mengena di putra sulungnya, Rafa pun tersenyum, tak menyangka jika Daddy nya mampu membaca pikiran nya.


"Ada apa sayang??", Tanya Alisa kepada putra nya tersebut.


"Ada yang ingin Rafa bicarakan sama Daddy dan Mommy", Ucap Rafa.


"Apa itu??", Tanya Fandi yang penasaran dengan maksud putranya.


"Mom, dad, Minggu depan aku mau ke Amerika, aku mau jemput Disya", ucap Rafa, Fandi dan Alisa sama sekali belum mengetahui hubungan putranya dengan Disya, yang mereka tahu Rafa dan Disya hanya berhubungan sebatas Kakak dan adik.


"Tumben kamu, ada acara apa??, bukannya om Denis dan Tante Nisa yang akan jemput Disya??", Tanya Fandi lagi, Alisa masih tidak menyahuti, ia hanya mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh kedua laki-laki nya itu.


"Aku ada hubungan dengan Disya dad, mom, kita sudah pacaran hampir Lima tahun ini", Ucap Rafa.


Alisa pun melihat kaget, begitu juga dengan Rafa, "Jadi selama ini kalian menjalin Hubungan dan kamu tidak memberitahu kami??", Tanya Alisa, ia sungguh tidak percaya dengan perkataan Rafa kepadanya.


"Maafkan aku mom, bukan maksud aku menyembunyikan semuanya, ini sudah kesepakatan kami berdua", Ucap Rafa.


"Jadi sekarang apa yang kamu inginkan??", Tanya Fandi kepada putranya.


"Setelah Disya sampai di Indonesia aku mau melamar dia mom, aku ingin secepatnya kami menikah", ujar Rafa, Wajah Alisa seketika berbinar, ia senang jika putra nya akan menikah, di usianya yang sudah menginjak 25 tahun sudah sepantasnya untuk laki-laki mulai membina rumah tangganya.


Apalagi saat ini ia mendengar jika Disya lah yang akan dinikahi Rafa, maka tak ragu-ragu lagi Alisa untuk merestui hubungan mereka.


"Baik kalau itu mau kami, Daddy dan Mommy hanya la bisa merestui dan mendukung segala keputusan kalian, dan Daddy dan Mommy siap untuk melamar Disya untuk mu", ucap Fandi.


Rafa pun tersenyum lebar, "Terimakasih mom, dad, aku sangat bahagia sekali", kemudian Rafa mengambil ponselnya, sekarang rencananya ia akan menelfon papa dari Disya untuk meminta izin menjemput putrinya di Amerika.


Fandi membiarkan putranya melakukan itu semua, ia ingin membuat Rafa mempunyai tanggung jawab yang besar, tanggung jawab kepada istrinya nanti.


Ponsel pun tersambung dengan ponsel milik papa Disya, Denis yang kini juga berada dikantornya mendengar suara dering ponselnya dan segera ia angkat.


"Halo om, Assalamualaikum", ucap Rafa pertama kali menguak suaranya.


"Waalaikum salam", jawab Denis dari balik telfon, Denis pun mengerutkan keningnya ada apa tiba-tiba Rafa menelfonnya kali ini.


"Om, ada yang akan saya bicarakan dengan om Denis", ucap Denis, sejujurnya Rafa sedikit gugup, ia takut jika papanya Disya tak mengizinkan dirinya untuk menjemput Disya.


"Iya ada apa??", Tanya Denis, Rafa masih saja terdiam dan ia masih mengumpulkan keberanian nya untuk memulai pembicaraan nya dengan papanya Disya.


"Om, saya mau minta izin untuk menjemput Disya, apakah boleh??", Tanya Rafa yang terlihat sedikit ragu, Denis pun terdiam ia masih belum menjawab membuat Rafa kali ini menatap wajah Daddy nya.


Sudah lama Rafa menunggu, tapi belum ada jawaban sama sekali dari Denis.


"Bagaimana om??", Tanya Rafa sekali lagi.


"Baiklah, om izinkan, tapi dengan satu syarat", ucap Denis, denja sebenarnya sudah mencium bau-bau hubungan antara putri dan anak mantan bosnya tersebut.


"Syarat om, apa??", tanya Rafa lagi.


Fandi yang melihat mimik wajah putranya seketika ingin tertawa, namun Alisa mendelik membuat Fandi tak jadi menertawakan Putranya.


"Syaratnya adalah kamu harus membawa pulang putri om dengan selamat dan tak kurang satu apapun", ucap Denis, Rafa terlihat kembali tersenyum, ia lega karena syaratnya sangat mudah sekali, tapi tidak!!, syarat nya sungguh sudah sekali, membawa Disya tanpa kurang satu apapun itu yang membuat Rafa tidak bisa memenuhi nya, bagaikan jika terjadi sesuatu yang tak bisa ia hindari, pastinya itu akan menyusahkan dirinya nanti.


"Bagaimana??", Tanya Denis penuh penekanan, Rafa pun kemudian tersadar dari lamunannya,


"Baik om, pastinya, aku akan membawa Disya dengan keadaan utuh tanpa kurang satu apapun", ucap Rafa.


Panggilan telfon akhirnya berakhir, akhirnya Rafa dapat bernafas lega, berbicara hak semacam ini dengan calon mertua nya membuat keringat nya keluar dengan derasnya, tak terasa peluh menetes dengan banyak didahi nya membuat Alisa kasihan dengan putranya, berbeda dengan Fandi, Fandi masih menahan tawanya.


Alisa kemudian mencubit lengan Suaminya membuat Fandi seketika mengaduh kesakitan.


"AW... kamu kenapa sih sayang, kok cubit-cubit, kangen ya??", Fandi sama sekali tak malu dilihat oleh Rafa saat menjahili istrinya seperti ini.


"Apaan sih kamu pah, kamu senangnya lihat anak kita tegang seperti itu, kami gak ingat kamu juga gak bisa romantis dulu waktu menyatakan cinta sama mama", Ucap Alisa membuat Rafa Seketika menoleh, Rafa amat penasaran dengan kisah cinta dari orang tuanya, Daddy nya begitu sangat mencintai Mommy nya sampai sekarang.


"Mom, coba cerita bagaimana mommy dan daddy bisa bertemu??", Tanya Rafa, anak itu begitu antusias mendengarkan cerita Yang akan diceritakan oleh kedua orang tuanya.


Alisa pun mengambil nafasnya dalam-dalam,


"Mommy duku pernah bekerja di resto Daddy kamu, dan mungkin Daddy kamu jatuh cinta sama mommy saat pertama kali mommy melamar sebagai pelayan di resto Daddy kamu", ucap Alisa, Fandi pun mengangguk membenarkan cerita dari istrinya.


Rafa pun terlihat semakin antusias, "Terus guna lanjutannya, bukannya kakek punah perusahaan ini ya mom, kenapa mommy bisa bekerja di resto punya Daddy??", Tanya Rafa penasaran.


"Kalau itu ceritanya panjang sayang, Intinya Daddy kami itu jatuh cinta sama mommy saat mommy masih kuliah, dan pada akhirnya sebelum mommy wisuda mommy sudah dilamar sama Daddy kamu, dan kamu mau tahu apa nggak, Daddy kamu duku gak bisa berkata romantis sama mommy", ucap Alisa membuat Fandi seketika malu kepada putranya.

__ADS_1


Rafa pun seketika tertawa, ia kini dapat melihat raut wajah Daddy nya yang sudah ditekuk.


Satu Minggu kemudian, Rafa sudah bersiap untuk berangkat menuju ke Amerika, paspor nya juga sudah siap, kini tinggal ia menunggu keberangkatan nya yang tinggal menunggu beberapa menit lagi.


Rafa kemudian masuk kedalam pesawat dan tak menunggu lama pesawat yang ia tumpangi sudah lepas landas meninggalkan kota nya.


Butuh beberapa jam untuk ia sampai di negara tersebut, kini Rafa sudah mendarat dengan selamat, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Disya, Rafa pun menaiki taksi dan segera menuju ke alamat yang sudah diberikan oleh Disya sebelumnya, kini mobil itu pun segera melaju ketempat tujuan Rafa.


Setengah jam kemudian, Rafa sudah Sampai dia apartemen yang cukup besar, Menurut alamat yang diberikan oleh Disya Sebelumnya, disinilah Disya tinggal di apartemen yang cukup mewah.


Rafa segera masuk kedalam ia kemudian segera menaiki lift dan menuju ke lantai 4, Dimana tempat tinggal Disya disini, pintu lift pun terbuka, Rafa kembali berjalan, disepanjang koridor apartemen tersebut Rafa banyak bertemu dengan wanita-wanita bule yang juga tinggal di tempat itu, mereka sangat terpesona dengan ketampanan Rafa,


Banyak yang mengedipkan matanya, ada juga yang sengaja menyenggol bahu Rafa, dan raga sama sekali tidak merespon itu semua.


Rafa berjalan menuju ke salah satu kamar, saat sudah Samapi tepat di depan pintu tersebut Rafa segera mengetuk pintu tersebut, Rafa yakin jika itu memang tepat tinggal Disya, jadi tanpa ragu-ragu lagi Rafa kemudian mengetuk pintu tersebut.


Tak lama kemudian pintu tersebut terbuka, dan benar saja, wanita yang amat ia rindukan sekarang tengah berada di hadapannya, Rafa pun tersenyum kepada Disya, begitu juga dengan Disya, ia tak menyangka jika Rafa akan benar-benar Sampai disini, menjemputnya dan membawa nya pergi dari negara ini.


"Ayo kak, silahkan masuk", Ucap Disya, Rafa pun masuk kedalam apartemen milik Disya, selama Disya di Amerika ia hanya tinggal sendiri disini.


Disya membiarkan Rafa untuk beristirahat sejenak, ia kemudian kebelakang dab membuatkan teh hangat untuk orang yang ia cintai tersebut, sudah lama sekali mereka tidak bertemu, ada rasa kecanggungan saat Disya menatap wajah Rafa.


Disya Kemudian meletakkan secangkir teh tersebut di atas meja, Rafa pun yang tadi memejamkan matanya sejenak kini tiba-tiba membuka matanya, ia dapat melihat wajah gadis yang ia cintai sejak duku, mungkin sudah sejak kecil Rafa mencintai Disya dan baru tersampaikan 5 tahun yang dan sampai sekarang ini.


"Diminum kak, teh nya", ucap Disya, Disya masih memandangi wajah tampan Rafa, terakhir kali Disya melihat Rafa ketika ia baru saja lulus sekolah SMA, dan batu saat ini ia bisa bertemu lagi dengan Rafa, sungguh pandai sekali mereka berdua ini menjaga cinta mereka, kini tak lama lagi cinta mereka akan segera terwujud dengan melangsungkan pernikahan.


Rafa meminum teh yang dibawakan boleh Disya, Rafa saat ini tengah menatap Disya dan Disya pun menjadi malu jika ditatap oleh Rafa seperti itu.


"Kak, jangan melihatku seperti itu, aku malu", Ucap Disya dan itu membuat Rafa terkekeh.


"Aku bisa melihatmu lebih dari ini sya, kalau kita sudah menikah aku bebas mau menatap mu dengan cara apapun", ucap Rafa, Disya pun terdiam dan tak menyahuti lagi perkataan Rafa.


"Kita mau langsung pulang atau gimana kak??", tanya Disya,


"Kakak capek saya, kakak mau istirahat dulu", ucap Rafa


Disya kemudian mengantar Rafa kedalam kamar yang bersebelahan degan kamarnya, kamar ini biasanya akan ditempati jika Mama dan Papa Disya mengunjungi Disya.


"Kakak, istirahat saja disini kak, ini kamar mama sama papa", ucap Disya, Rafa pun mengangguk dan kemudian masuk kedalam kamar tersebut.


"Kak tunggu", ucap Disya saat Rafa ingin menutup pintu kamarnya.


"Ada apa sya??", Tanya Rafa.


" Jika kakak butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan panggil aku, ketuk aja pintu kamar ku aku akan keluar", Rafa pun mengangguk dan kemudian menutup kembali kamarnya, ini pertama kali buat Rafa dan Disya berada di dalam satu rumah secara bersamaan, Disya pun menjadi canggung kepada Rafa, ia bingung harus berbuat apa kepada Rafa.


Rafa segera membuka kancing bajunya dan segera menuju kamar mandi, badannya sudah sangat lengket sekali, dan yang Rafa butuhkan saat ini adalah guyuran air segar dari shower kamar mandi.


Didalam kamar, Disya kini sedang mengotak Atik ponselnya dan ia kini sedang memesan makanan untuk ia dan Rafa, Disya pun memesan makanan Indonesia yang ada disini, ia akan memesan makanan halal dari Resto yang didirikan oleh orang Indonesia.


Setengah jam kemudian, pintu apartemen Disya pun berbunyi, Disya kemudian keluar dengan membawa beberapa lembar uang, benar saja, diluar pintu yang datang adalah petugas pengantar makanan, Setelah Disya membayarnya Disya kemudian masuk kedalam Kembali.


Disya menata makan malam nya bersama dengan Rafa Setelah semuanya siap, Disya kemudian mengetuk pintu kamar Rafa dan mengajaknya untuk makan malam bersama.


"Kak", panggil Disya sambil mengetuk pelan pintu tersebut, Rafa pun membuka pintu tersebut, ia melihat Disya yang kini berdiri tepat dihadapannya.


"Kenapa saya??", tanya Rafa.


"Ayo Kaka, makan malam dulu, sudah aku siapkan nanti keburu dingin.


Rafa pun mengangguk dan kemudian ia keluar dari kamar nya dan mengikuti Disya dari belakang.


Mereka berdua kini makan malam secara bersama-sama, ini juga kali pertama mereka makan bersama, rasa canggung pun datang kembali, Rafa dan Disya pun semakin salah tingkah.


"Ayo kak kita makan, aku sudah lapar", Disya pun mengajak Rafa untuk segera memakan makan malam nya, ia takut jika makanan itu dingin.


Dada mereka sama-sama berdetak kencang, mereka sungguh sangat gugup berada di situasi saat ini.


Mereka akhirnya menyelesaikan makan malam mereka, Rafa kini membantu Disya untuk membereskan piring sisa makan mereka, Setelah selesai mereka pun Kembali kedalam kamar mereka masing-masing.


Didalam kamar, ponsel Rafa tiba-tiba berbunyi, terkuat Mommy nya sedang melakukan video call terhadapnya.


Rafa segera menggeser layar ponselnya dan kini dapat melihat wajah mommy nya.


"Assalamualaikum mom", ucap Rafa kepada Alisa.


"Waalaikum salam, kamu sedang apa ??", Tanya Alisa , ia takut jika putranya itu akan bertindak lebih mengingat mereka tinggal dalam satu rumah.


"Rafa lagi tiduran mom", Jawab Rafa.


"Disya??, kemana??", tanya Alisa.


"Disya ada dikamar nya mom, aku udah menyuruh dia istirahat terlebih dahulu", Ucap Rafa.


"Bener??, kamu gak lagi bohongin mommy kan??" Tanya Alisa yang sempat was-was dengan Rafa dan Disya, memang Alisa pernah berada di dalam posisi seperti ini, tapi kali ini berbeda anak jaman sekarang tidak semudah itu bisa dipercaya.


"Rafa gak bohongin mommy kok, Disya beneran udah tidur mom", ucap Rafa meyakinkan.


Alisa pun dapat tersenyum lega, "Ya sudah, lebih baik kamu istirahat sayang, kalian kan besok ma perjalanan lagi", ucap Alisa.


"Baik mom, siap", ucap Rafa.


Rafa kemudian menutup ponselnya setelah mommy nya yang terlebih dahulu menutup panggilan nya.


Mata Rafa sudah tidak dapat terbuka lagi, ia sudah sangat mengantuk, jadi tak perlu menunggu waktu lama Rafa kini sudah tertidur dan terbawa alam mimpinya.


Didalam kamar Disya, Disya sama sekali belum bisa tidur, Disya masih memikirkan Rafa, laki-laki yang kini tangah bersamanya dan sedang berada didalam satu apartemen.


Pikiran Disya pun mulai berkelana, ia membayangkan jika Rafa akan mengucapkan ijab Kobul atas nama dirinya, Disya pun kemudian tersenyum, betapa bahagianya jika itu benar-benar terwujud nantinya.


Disya pun mulai memejamkan matanya, ia tak mau jika esok pagi Rafa melihat mata panda tercetak jelas diarea matanya.


Disya kemudian memejamkan matanya dengan paksa, tapi kali ini usaha Disya tak sia-sia, ia kini sudah terlelap begitu saja dan sudah menari-nari didalam mimpinya.


Keesokan harinya, Disya sedang berada di dapur, Setelah sholat shubuh tadi kini Disya tengah memasak sesuatu untuk ia sarapan bersama dengan Rafa.


Tak lama setelah itu Rafa keluar dari dalam kamarnya, ia duduk di meja makan dan melihat punggung Disya yang sedang berkutat di dapur, mata Rafa tak bisa berpaling dari Disya yang saat ini sedang ia pandang dari jarak yang dekat.


Sarapan pun sudah siap, kini Disya sedang menata sarapan mereka di atas meja makan, dua porsi nasi goreng ala Disya sudah siap untuk dimakan.


"Silahkan kak", ucap Disya mempersilahkan Rafa untuk mencicipi nya terlebih dahulu, Disya sudah terbiasa memakan masakan ia sendiri, dari sini lah Disya dapat belajar memasak sendiri untuk ia makan sendiri nantinya dan tak perlu keluar dari apartemen.


Setelah selesai sarapan dan setelah Kembali membersihkan meja makan, akhirnya Disya akan meninggalkan apartemen ini, sudah hampir 4 tahun diya tinggal disini sendiri, dan ketika papa dan mamanya sedang libur mereka akan datang kesini dan akan menginap disini.


Barang-barang Disya sudah berada diluar apartemen, masih ada sebenarnya barang yang belum Disya bawa, Disya tak mau membawa semuanya, Disya berharap masih bisa mengunjungi apartemen nya ini suatu saat nanti.


Taksi yang di pesan oleh Rafa sudah datang, barang-barang Disya semua sudah masuk kedalam bagasi, dan kemudian mereka pun berangkat menuju ke bandara.

__ADS_1


Mereka kini duduk bersama dan sedang menunggu jadwal keberangkatan yang tinggal menunggu menit saja, Setelah mendapat instruksi dari operator bandara, akhirnya Rafa dan Disya pun masuk kedalam pesawat dan pesawat pun siap untuk lepas landas menuju ke kota Surabaya, Rafa tak membawa pulang Disya ke Jakarta, ia akan mengantarkan Disya langsung menuju ke orang tuanya sesuai janji Rafa kepada Denis, Rafa tak ingin nama baiknya di cap buruk oleh calon mertua nya, jadi Rafa memutuskan untuk mengantar langsung Disya ke Surabaya.


__ADS_2