
Fandi sudah kebingungan, ia melihat secara langsung istrinya yang tengah kesakitan, Alisa pun sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, satu-satunya cara adalah Fandi mengangkat tubuh Alisa dan segera membawanya menuju ke rumah sakit,
Rasa sakit berangsur hilang, Alisa sedikit tenang, tapi keringat sudah membasahi tubuhnya karena ia tak sanggup menahan rasa sakit yang ia rasa.
Bi Jum melihat Fandi yang tengah mengangkat tubuh Alisa, Bi Jum pun segera berlari untuk memastikan keadaan Alisa yang diyakini sudah akan melahirkan.
"Bi tolong siapkan perlengkapan yang akan aku bawa, aku tunggu di mobil", perintah Fandi dan segera dilakukan oleh Bi Jum, Bi Jum juga terlihat sangat gugup, memang bukan pertama kali Alisa akan melahirkan, tapi ini berbeda, Alisa akan melahirkan bayi kembarnya hari ini.
Tak lama setelah itu, Bi Jum keluar dengan membawa satu tas penuh perlengkapan yang akan di bawa oleh Fandi ke rumah sakit.
"Terimakasih bi, titip Rafa ya dan tolong juga hubungi Mama dan papa", Ucap Fandi, Bi Jum pun mengangguk dan Fandi kemudian segera berangkat menuju ke rumah sakit.
Perjalanan sangat lama menurut Fandi, sesekali ia melirik istrinya yang terkadang meringis menahan sakit pada perut nya, Fandi tidak menyangka jika hari ini anak kembarnya akan segera lahir, dan Fandi berharap agar semuanya lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun.
Fandi tiba tepat di depan pintu besar rumah sakit itu, Fandi pun segera keluar dan meminta para suster untuk membantu istrinya.
Alisa sudah di bawa ke ruang ICU, Keadaan Alisa sangat lemah, ia sudah kehabisan tenaganya, dokter Tamara juga sudah tiba, ia kini sedang memeriksa keadaan Alisa yang sudah tampak pucat dan sudah tak bertenaga,
Dokter Tamara keluar, Fandi pun segera berdiri dan ingin mengetahui keadaan Istrinya.
"Pak Fandi, bisa kita bicara sebentar", Fandi pun mengangguk, ia kemudian mengikuti dokter Tamara masuk kedalam Ruangan nya.
"Ada apa dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya??", Wajah Fandi sudah menunjukkan kekhawatiran nya, rasanya ia tak ingin melihat istrinya yang sekarang sedang terbaring lemah Menahan sakit.
"Begini Pak Fandi, Saya akan bertindak cepat untuk segera melakukan operasi Caesar kepada Bu Alisa, melihat kondisi Bu Alisa yabg seperti ini saya rasa ibu Alisa tidak akan kuat jika harus melahirkan bayinya secara normal",
Fandi pun mendengarkan dokter Tamara dengan seksama,
"Lakukan yang terbaik dok asalkan istri dan anak saya selamat", Ujar Fandi.
__ADS_1
"Baik pak Fandi, anda hanya harus menandatangani surat pernyataan ini", Dokter Tamara menyodorkan sebuah map, dan tanpa pikir panjang Fandi pun langsung menandatangani nya.
"Terimakasih pak Fandi,saya akan melakukan yang terbaik untuk istri dan anak anda", Dokter Tamara pun bangkit dan meninggalkan Fandi yang masih terdiam di dalam ruangannya.
"Segera siapkan ruangan untuk operasi sekarang juga", Suster yang diperintahkan dokter Tamara pun mengangguk,
Alisa kini dibawa oleh suster menuju ke ruang Operasi, Fandi mengikuti istrinya dan sudah mengenakan pakaian khusus untuk digunakan saat berada di dalam ruang Operasi, Pak Ardi, Bu Mira dan pak Dimas pun juga sudah sampai mereka senang tapi juga khawatir terhadap keselamatan anak dan kedua cucunya.
Alisa sudah semakin tenang karena efek obat bius yang sudah berinteraksi dalam tubuhnya, dan Fandi pun masih setia menemani dan ikut melihat proses persalinan kedua buah hatinya.
Ini adalah hal yang pertama kali buat Fandi, melihat kedua buah hatinya di keluarkan dari perut istrinya dengan jalan operasi Caesar.
Kedua bayi tampan dan cantik itu pun sudah lahir, mereka Seketika menangis saat sudah berhasil di keluarkan dari perut Mommy nya.
Dua jam kemudian, operasi sudah berjalan dengan lancar, kini kedua bayi tersebut tengah berada didalam Gendongan Pak Ardi dan Bu Mira.
"Cantik dan tampan", Ucap Bu Mira, psk Ardi juga mengangguk, ia mengiyakan apa yang dikatakan oleh besannya tersebut.
Fandi pun mendekat, ia bahagia melihat kedua putra dan putrinya.
"Fand, kamu sudah punya nama buat mereka??",Tanya mamanya.
Fandi tidak langsung menjawab, tangannya kemudian terulur dan ingin menggendong putri yang sedang berada dalam gendongan Omanya.
"Namanya Ghani dan Ghina ma, Ghani Adelio Wiratama dan Ghina Adelia Wiratama", Ucap Fandi.
Bu Mira pun tersenyum, "Nama yang bagus, Mama suka Fand, gimana menurut papa dan pak Ardi??", Tanya Bu Mira pada kedua lelaki paruh baya tersebut.
Pak Ardi pun mengangguk setuju dan Papa Dimas pun juga setuju, mereka terlalu bahagia dengan kehadiran keluarga baru mereka, dua orang bayi yang akan menambah keramaian di dalam rumah mereka.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Alisa sudah sadar, ia menatap ke sekeliling kamarnya, dapat Alisa lihat Fandi yang kini sedang tidur sambil duduk di samping nya,
Alisa pun tersenyum ia belai rambut Suaminya dengan sangat lembut,
Fandi pun terbangun setelah merasa ada yang menyentuh bagian tubuhnya, Senyum Fandi pun terukir ketika melihat istrinya yang sudah sadar dan kini tengah tersenyum kepada-nya.
"Kamu sudah sadar sayang??", Tanya Fandi sambil memegang tangan Alisa.
"Iya mas, dimana anak-anak kita, aku ingin melihatnya", ucap Aliaa kepada suaminya.
"Sebentar, aku panggilkan suster dulu", Fandi pun keluar dan memanggil suster untuk membawakan kedua buah hatinya yang sudah dilahirkan istrinya tadi.
Fandi datang bersama seorang suster, Ghani digendong oleh Fandi, sedangkan Ghina di gendong oleh suster yang mengikuti nya.
Pintu terbuka, Alisa sudah semakin tidak sabar, ia tak perduli sama sekali dengan kondisi perutnya yang sehabis melakukan operasi yang ia inginkan adalah bisa melihat kedua buah hatinya.
Fandi mendekat, Dan di duduk di samping istrinya, Suster pun kemudian memberikan Ghina kepada Alisa.
"Silahkan Bu", Ucap suster tersebut dan kemudian segera berlalu,
"Terimakasih sus", Ucap ku kepada suster, aku melihat putriku, dia begitu cantik, wajahnya mirip sekali dengan Daddy nya, tapi itu tak masalah yang terpenting ia sudah lahir dengan selamat.
Ku timang putriku, lalu aku menatap suamiku yang kini juga tengah menggendong putra keduaku.
"Siapa namanya mas, apa kamu sudah memberi mereka nama??", Tanya ku kepada suamiku.
Fandi mengangguk, "Namanya Ghani, Ghani Adelio Wiratama, dan dia Ghina, Ghina Adelia Wiratama, Apa kamu suka sayang??", Tanya Fandi kepada ku.
Aku pun tersenyum, "Aku suka mas, namanya bagus",
__ADS_1
Aku pun mencium putriku, dia sangat cantik, hidungnya mancung, tapi sebentar, aku memperhatikan bibirnya, ternyata bibirnya sama seperti ku.