Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Permainan


__ADS_3

Fandi kini sedang berada di kamar bersama dengan istrinya, Rafa sedang bersama Bu Minah dan ditemani oleh kakek di ruang tengah, selepas sholat Maghrib tadi, Alisa masih belum keluar juga dari kamar, ia masih ingin merebahkan tubuhnya yang sudah sedikit capek.


"Kamu capek sayang??", Tanya Fandi sambil memperhatikan tingkah istrinya yang sedang berada di atas ranjang besar itu.


Alisa pun menggeleng, "Nggak mas, aku cuma mau rebahan aja", Ucap Alisa kepada suaminya.


"Mas nanti kita nginap sini ya, kita sudah lama tidak menginap disini", ujar Alisa.


Fandi pun mengangguk, "Kamu kabari Bi Jum atau bi sum duku sayang, nanti mereka nungguin kita pulang", Ucap Fandi.


Alisa berbalik mengangguk, ia kemudian meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja nakas tadi sebelum sholat Maghrib.


Ia mencari nomor telpon rumahnya, kemudian Alisa segera mengabari Bi sum yang ternyata benar mereka tengah menunggu dirinya pulang.


"Bibi gak usah tunggu kami pulang, kami malam ini menginap dirumah papa", ujar Alisa.


" Baik non", Jawab Bu sum, Kemudian Alisa mengakhiri panggilan nya dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas.


Fandi kini duduk bersama dengan Alisa sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjangnya, Fandi memperhatikan istrinya yang kini tengah memikirkan sesuatu.


"Kamu kenapa sayang??", Tanya Fandi yang melihat raut wajah istrinya berubah.


"Aku masih memikirkan Melly sama Anton mas, aku setengah tidak percaya mereka akan menikah dengan cara seperti ini", Ucap Alisa.


"Kami kenapa, cemburu??, atau nggak ikhlas Melly nikah sama Anton??", Ucap Fandi setengah mengejek istrinya.


" Ih, apaan sih kamu mas, udah mau punya anak tiga kok masih cemburu, yang enggak lah, tapi kalau kamu yang dekat sama wanita lain pastinya aku cemburu", Ujar Alisa kepada Fandi, Fandi pun terkekeh,


"iya sayang, sebentar lagi kita udah mau punya anak tiga, Mas merasa ini seperti mimpi", Ujar Fandi.


Alisa pun menoleh, ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

__ADS_1


"Kamu sedang tidak bermimpi mas, ini nyata, kita akan mempunyai 3 anak", Fandi kemudian memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang, sungguh tak pernah dipikirkan oleh Fandi jika Allah SWT memberinya anak kembar.


"Mas sudah tidak sabar melihat seperti apa wajah anak kita nantinya, Mungkin mirip aku semua, seperti Rafa yang wajahnya dominan kayak aku", Ucap Fandi bangga karena Rafa begitu mirip dengan dirinya.


Alisa kemudian memukul dada Suaminya, "Kalau mirip kamu semua aku kebagian apanya mas, aku yang mengandung kok wajahnya mirip kamu semua, itu namanya nggak adil mas", Ucap Alisa pura-pura kesal kepada suaminya.


"Hahha", Fandi pun tertawa, ia melihat wajah istrinya yang seperti itu, bibirnya yang sudah manyun ketika ia cemberut membuat Fandi ingin mengecup bibir itu berulang kali.


"Kenapa kamu tertawa??", Tanya Alisa, Alisa merasa apa yang ia katakan tidak ada yang lucu sama sekali.


"Aku gemas aja melihat bibir mu yang seperti itu sayang, membuat mas ingin berulang kali menciumnya",


Alisa memukul lengan Fandi kali ini,


"Kamu tuh ya mas, sempat-sempatnya kayak gitu, dasar mesum", Ucap Alisa.


"Aku memang mesum sayang, tapi semenjak nikah sama kamu, kan mesum sama istri sendiri dapat pahala",


"Terserah kamu deh mau ngomong apa, aku mau keluar dulu", Alisa pun ingin turun dari ranjangnya, tapi tiba-tiba tangannya sudah ditahan oleh Fandi.


"Mau kemana??", Tanya Fandi sambil terus memegang tangan istrinya.


"Mau keluar, mau main sama Rafa, kalau disini sama kamu terus bisa-bisa nanti kamu nya kebablasan", Ucap Alisa.


" Sebentar", Fandi kemudian menarik tangan istrinya dengan pelan, dan wajah Alisa pun semakin mendekat dan bibirnya tepat menempel di bibir Fandi.


"Emmuachh, Sudah kamu boleh keluar sayang", Ujar Fandi dengan nada memerintah.


Alisa seketika bengong, ia dicium tepat di bibirnya, wajah Alisa pun merona, ia kemudian segera pergi keluar karena tidak mau jika sampai Fandi tahu wajahnya kini tengah merah merona karena ulah dirinya.


Alisa kemudian turun dan menuju ke arah ruang tengah, disana Rafa sedang asyik menonton film kartun bersama dengan kakek buyutnya, anak itu terlihat sangat anteng sekali saat di pangku oleh kakek Bagas.

__ADS_1


Alisa kemudian duduk, tak kama kemudian ia disusul oleh Fandi yang juga duduk tepat di sebelahnya, Alisa masih menatap lurus kedepan, ia tak mau menoleh ke arah Suaminya untuk saat ini.


Makan malam pun sudah siap, mereka semua kini sudah berada di meja makan, hanya satu yang kurang, yaitu pak Ardi, biasanya rumah ini akan ramai jika pak Ardi ada bersama ditengah-tengah mereka.


"Kapan papa pulang kek??", Tanya Alisa, ia kini sudah mengenakan daster rumahan tapi tetap ia masih mengenakan jilbab meskipun itu hanya jilbab instan.


"Sepertinya besok papamu sudah sampai di Jakarta", Jawab kakek Bagas.


Mereka pun kembali terdiam sambil menikmati makan malam mereka sampai mereka selesai.


"Kek, kita malam ini akan menginap disini", ujar Fandi, Kakek Bagas mengira jika Fandi dan Alisa akan pulang, tapi ternyata tidak, dan kakek Bagas pun terlihathat sangat bahagia.


"Bagus kalau begitu, berati malam ini dan besok kakek akan punya teman bermain, dan besok pagi jelek buyut mau mengajak Rafa bermain bersama kakek buyut", Ucap kakek Bagas, Rafa pun terlihat senang.


Beberapa menit kemudian Rafa terlihat sudah menguap, anak itu sudah mengantuk, dan Alisa segera membawanya ke kamar dan menidurkan dirinya di atas ranjang bersama dengan dirinya.


Sedangkan Fandi kini sedang beradu catur dengan kakeknya, Fandi begitu senang, sudah lama Fandi tidak main catur dengan kakek Bagas.


Fandi melongo ketika melihat kakek Bagas memenangkan permainan catur nya, Fandi kalah telak, ia harus berusaha lebih teliti lagi jika ia ingin mengalahkan kakeknya Tersebut.


"Sudah kek, aku sudah lelah, dari tadi kakek menang terus dan aku selalu kalah", ujar Fandi.


Kakek Bagas pun tertawa,


"Anak muda tidak akan bisa mengalahkan kakek meskipun kakek ini sudah tua", ujar kakek Bagas.


" Iya kek, Fandi tidak akan meremehkan kakek lagi", Fandi sudah hampir tiga kali kalah dengan kakek Bagas, dan Fandi pun perlahan-lahan mundur dan ingin menyudahi permainan nya.


"Sudah ya kek, ini sudah malam, lebih baik kakek istirahat saja", Fandi kemudian melirik jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam, kakek pun mengangguk, ia kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya dengan menggunakan tongkat yang selalu ia bawa, Fandi kemudian berdiri, ia kemudian mengantar kakek Bagas menuju ke kamarnya.


" Ya sudah kek, kakek istrinya saja, pintunya biar Fandi tutup.

__ADS_1


Fandi pun keluar, seperti yang ia katakan tadi, maka setelah Fandi keluar Fandi kemudian menutup pintu kamar tersebut dengan pelan.


__ADS_2