Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 68


__ADS_3

Zian saat ini tengah berada di kamarnya, selama orang tuanya di Jakarta, Zian akan tinggal bersama Mama dan papanya, ia sementara ini mengosongkan apartemen nya karena tak mau berjauhan jika mamanya berada di Jakarta, Zian awalnya bertekad untuk tinggal di rumah besar ini, rumah Mamanya yang selama ini kosong, tapi jika ia tinggali rumah itu pastinya Zian akan merasa kesepian karena rumah itu terlalu besar dan hanya Zian sendiri lah yang akan menempati nya, berbeda dengan nanti, jika dirinya dan Ghina sudah menikah pastinya Zian akan memboyong Ghina untuk tinggal di rumah besar ini.


Zian kemudian segera turun, di bawah dirinya sudah di tunggu oleh kedua orang tuanya pastinya, menunggu untuk berangkat bersama-sama menuju ke ruah Ghina.


"Sudah siap Ma??" Tanya Zian melihat Mama nya yang tengah duduk sambil menunggu nya.


"Sudah, ayo berangkat" Niko pun sudah berada di luar sambil menunggu putra dan istrinya keluar dari rumah.


"Ayo Pa, kita berangkat sekarang, gak enak kan kalau sampai telat" Ajak Tania kepada Niko, dan Zian segera membukakan pintu untuk Mamanya, dan Niko juga mengikuti istrinya, sedangkan Zian saat ini berada di balik kemudi untuk membawa kedua orang tuanya untuk melamar Ghina untuk nya, tak pernah terpikir kan oleh Zian akan melamar Ghina secepat ini, ternyata Mama nya sudah menginginkan dirinya segera melamar Ghina dan nantinya juga akan secepatnya menikahinya.


Perjalanan pun cukup singkat karena jarak rumah mereka hanya sekitar setengah jam saja dan kini mereka sudah berada di area perumahan elit yang didalamnya terdapat rumah Fandi dan Alisa.


Didalam rumah saat ini gajian sudah siap dengan gaun yang sudah ia kenakan saat ini, gaun itu sangat pas dan membuat Ghina terlihat cantik malam ini.


Sementara itu, Disya masih tetap sama, meskipun pusing sedikit berkurang, tapi badannya masih lemas, jadi tak memungkinkan dirinya untuk ikut menyambut tamu yang akan datang untuk melamar adik iparnya tersebut.


Rafa baru saja keluar dari dalam kamar mandi, Rafa sudah siap, hanya saja ia ingin yang air kecil terlebih dahulu sebelum turun ke bawah.


"Sayang, kamu gak apa-apa kan kakak tinggal ke bawah??" Tanya Rafa, Rafa harus meminta izin dulu apakah Disya memperbolehkan nya, ia tak ingin Disya merasa kesepian dikamar.


"Aku nggak apa-apa kok kak, kakak turun aja ke bawah, kasihan Papa cuma sama Ghani aja, dan gak enak juga sama Tantu Tania sama om Niko pastinya akan menanyakan kakak Dimana" Ujar Disya, dan Rafa kemudian mengelus pucuk kepala istrinya dengan

__ADS_1


sangat lembut.


"Ya udah, kakak ke bawah dulu ya, nanti kalau butuh sesuatu kaku tinggal telfon kakak aja" Rafa kemudian mencium kening istrinya dengan lembut dan setelah itu keluar dari dalam kamarnya.


Tepat saat Rafa turun mobil keluarga Zian sudah datang dan Rafa segera ke depan, menyambut kedatangan Zian beserta keluarganya, Terlihat Ghani juga berada di samping Daddy nya, Ghani juga sangat rapi mengenakan kemeja batik, ia menjadi sangat tampan, entah bagaimana jika ratna tahu, pastinya Ratna akan semakin jatuh cinta dengan ketampanan dokter muda dan dingin itu.


Tania segera turun dari mobil nya sambil di barengi oleh Niko, dan kemudian Zian juga ikut turun, mereka pun masuk dan disambut dengan hangat oleh Fandi, Rafa dan Ghani.


"Assalamualaikum" Ucap Niko pertama kali.


"Waalaikum salam" Jawab Fandi, Rafa dan Ghani. Mereka semua berjabat tangan dan tak lam setelah itu Alisa menyusul ke depan, menyambut kedatangan Tania, kedua wanita tersebut kemudian saling berpelukan, pertemuan terakhir mereka pada saat pernikahan Rafa beberapa bulan yang lalu.


Para laki-laki itu pun ikut masuk kedalam menyusul kedua wanita yang sudah masuk terlebih dahulu kedalam.


Semuanya pun sudah berkumpul, hidangan juga sudah tersaji, Alisa kemudian pergi ke belakang, memanggil Ghina yang saat ini sudah berada di belakang dan akan ikut bergabung bersama keluarga calon suaminya.


Ghina saat ini sudah berada di tengah keluarganya dan keluarga Zian, dan acara lamaran pun di mulai, seserahan juga sudah diberikan kepada Ghina dan Ghina menerima dengan sangat bahagia sekali.


Kini di tangan Ghina sudah terlingkar sebuah cincin yang menandakan dirinya sudah menjadi calon istri dari Zian, dan kini saat penentuan tanggal pernikahan, dan sudah di putuskan jika pernikahan akan dilakukan satu bulan lagi, akad nikah di rumah keluarga Ghina dan resepsi akan diadakan di hotel.


Setelah acara lamaran selesai Niko, Tania dan Zian kemudian berpamitan, dan Zian dan Ghina saling melempar senyum mereka tanda mereka sangat bahagia sekali.

__ADS_1


Dan tidak disangka juga, yang awalnya Ghani yang akan menikah dahulu kini berbalik menjadu Ghina yang akan menikah.


Rafa tidak ikut mengantar keluarga Zian ke depan, yang dilakukan Rafa adalah segera kembali ke kamarnya, melihat istrinya yang selama satu jam ini ia tinggalkan.


Disya saat ini tengah tidur, jika ia paksakan untuk membuka matanya kepalanya terasa berputar-putar, jadi lebih baik Disya memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing yang berkepanjangan ini.


Rafa segera naik ke atas ranjang, menemani istrinya berbaring, Rafa sangat khawatir sekali dengan keadaan istri yang sangat ia cintai itu.


Malam Rafa memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya, untuk membawa Disya pergi dan kembali ke apartemen rasanya tak tega, melihat kondisi istrinya seperti itu Rafa memutuskan untuk tetap tinggal sampai Disya benar-benar sehat.


Pagi harinya, Disya bangun dengan kepala yang sudah berkurang pusingnya, dan pandangan pertama yang ia lihat adalah suaminya, ada rasa aneh tiba-tiba dalam dirinya, bau badan suaminya saat ini mampu membuat perutnya terasa di aduk-aduk, segera Disya turun dari ranjangnya dan segera pergi menuju ke kamar mandi, ia ingin muntah, bau badan suaminya membuat ia muntah-muntah saat ini.


Rafa mulai terusik tidurnya dengan suara istrinya yang sedang muntah-muntah, ia kemudian segera bangun, dan segera menghampiri istrinya yang berada di dalam kamar mandi.


Disya merasa ada langkah kaki yang mendekat, dan setelah Disya menoleh suaminya lah yang kini mendekat, spontan tangan Disya terangkat dan menyuruh suaminya untuk berhenti.


"Kak, stop, jangan mendekat" Rafa reflek pun berhenti, ia bingung kenapa istrinya menyuruh dirinya berhenti.


"Kenapa sayang, kenapa kakak di suruh berhenti??" Tanya Rafa.


"Aku mual jika kakak mendekat, jadi aku mohon, kakak jangan mendekat, bau badan kakak bikin aku mau muntah" Rafa pun seketika terbengong, kenapa bisa istrinya seperti itu, apakah ada yang salah dengan istrinya sehingga istrinya tersebut tak mau ia dekati.

__ADS_1


__ADS_2