
Suasana di rumah tersebut terlihat sangat sepi malam ini. hanya terdengar suara samar-samar dari sebuah telepon genggam yang saat ini sedang di pegang oleh Riska.
"Tenang aja. Kita besok senang-senang",
Kelakuan Riska masih tetap sama seperti dahulu, Pembangkang. sudah sering juga Bu asih sampai menangis di buatnya. Kelakuan Riska memang sudah kelewat batas kewajaran.
Ponselnya ia letakkan kembali. Rencana nya besok Riska akan pergi bersama dengan teman-teman nya. Mencari pria yang bisa memberikan dia uang tentunya.
Tak ada satupun yang tahu jika Riska seperti itu. Yang ibunya tahu adalah Riska memang suka meminta uang lebih untuk sekolahnya. Entah apa yang Riska lakukan dengan uang itu. Yang terpenting bagi Bu asih adalah, Riska bisa bersekolah dan lulus setelah ini.
Keesokan paginya. Riska sudah membuat ibunya berkaca-kaca. mengapa tidak. Pagi-pagi buta seperti ini Riska sudah meminta uang lagi kepada ibu nya. bukan sedikit yang ia minta tapi cukup lumayan banyak untuk anak seusianya.
"Ibu kan baru saja Bekerja. Ibu tidak punya uang Riska",
"Aku tidak percaya ibu tidak punya uang. Pasti ibu menyimpan nya",
Bu asih masih tetap Keukeh dengan tidak bilang di mana ia meletakkan uangnya.
Bu asih menabung untuk kelangsungan hidup mereka berdua. Untuk membayar sekolah Riska yang cukup mahal.
Setelah tidak menemukan apapun Riska akhirnya pergi begitu saja. tanpa pamit Riska pergi menggunakan seragam putih abu-abu nya. Sambil berjalan Riska menyimpan kekesalannya kepada Ibunya.
"Jangan salahkan jika aku begini',
Riska pun mempunyai niat buruk, Mencari tahu siapa majikan ibunya yang baru.
Riska berjalan menyusuri trotoar, Sambil kakinya menendang kerikil-kerikil kecil yang ada disana.
Dari arah kejauhan, Sebuah mobil berwarna merah melaju dengan pelan. memang dengan sengaja memelankan laju kendaraannya agar bisa berhenti tepa di samping Riska.
"Bareng gue yuk", Terdengar suara dari dalam mobil yang merupakan teman dari Riska.
Bukan teman, lebih tepatnya orang yang ingin memanfaatkan dirinya.
"Oke", Jawab Riska dan kemudian membuka pintu mobil tersebut dan masuk kedalamnya.
Mereka berdua segera pergi. Dan tujuan mereka saat ini bukan lah ke sekolah. Melainkan ke tempat Maya.
__ADS_1
***
Wajah Bu asih saat terlihat sangat sedih. Kejadian pagi tadi mampu merubah perasaan Bu asih yang tadi nya biasa saja menjadi Sangat tak karuan.
Disya yang sedari tadi melihat pergerakan Bu asih pun terlihat sangat bingung.Bu asih yang biasanya bicara kini hanya diam saja. Bahkan Disya yang sedari tadi mengajaknya bicara. hanya membalas dengan satu kata.
"Ibu ada masalah??", Tanya Disya memberanikan diri. Disya bukan tipe yang ingin tahu tentang urusan orang lain. Tapi melihat ekspresi wajah dari bua sih membuat Disya sangat penasaran dengan apa yang sedang di alami oleh wanita yang baru ia kenal kemarin.
"Tidak mbak. Saya hanya sedang kurang enak badan saja",
"Bu asih sakit??", tanya Disya, Disya pun semakin mendekat. Takut jika terjadi apa-apa dengan art barunya itu.
"Saya cuma pusing saja mbak. Saya tidak apa-apa",
"Kalau ibu tidak kuat. Ibu bisa pulang istirahat. Saya tidak apa-apa", Ujar Disya.
Disya takut jika terus di forsir maka akan membuat tenaga Bua sih menjadi lemah.
"Terimakasih mbak. Tapi saya masih kuat. Kalau begitu saya lanjut kerja lagi Mbak", akhirnya Disya pun membiarkan Bu asih kembali melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi Disya merasa ada yang di sembunyikan dari Bu Asih.
Sementara itu. Saat ini, Riska tengah berada di sebuah rumah milik teman yang memberikan dia tumpangan tadi pagi.
"Kita duduk santai saja disini. Dari pada kita pusing di sekolah. Enakan di sini kan??", Ujar Maya yang merupakan teman dari Riska tadi.
Maya mempersilakan Riska masuk. Rumah itu sangat besar sekali. sehingga membuat Riska yang hanya anak seorang pembantu menjadi sangat terheran-heran dengan Kebesaran rumah itu.
"Ini serius rumah Lo", Riska kembali bertanya kepada Maya.
"Iya bener ini rumah gue. Bukan rumah gue sih. lebih tepatnya rumah orang tua gue",
"Ternyata Lo kaya ya. Pantesan Lo tiap hari bawa mobil", Ujar Riska dengan masih melihat seisi rumah itu.
"Itu gak seberapa", Tingkah kesombongan Maya saat ini mulai di perlihatkan di depan Riska.
Tak lama setelah itu. Ada salah seorang art di rumah Maya yang membawakan makanan ringan dan dua buah gelas es jeruk untuk melepas dahaga dua anak perempuan itu.
"Non Maya nggak sekolah??", Tanya art yang melihat anak majikannya itu tidak sekolah.
__ADS_1
"Libur sekolah nya bi", Jawab Maya berbohong.
"Oh libur ya non. tumben hari selasa libur", Dengan polosnya art itu berpikir bagaimana bisa hari Selasa seperti ini sekolah libur.
Mereka pun terdiam, Tapi Riska menjadi ingat tentang sesuatu. Suatu rencana yang belum ia lakukan. Rencananya Riska akan mendatangi rumah majikan ibunya nanti.
"Oh ya may. Gue pamit dulu ya. Gue ada urusan", Pamit Riska kepada Maya.
"Oke, tapi gue gak bisa nganterin Lo ya", Jawab Maya lagi.
"Oke gak apa-apa. terimakasih tumpangan nya tadi", akhirnya Riska pun pergi dari rumah Maya dan berencana untuk menemui ibunya di rumah majikannya.
Riska sempat bertanya kepada ibunya. Di mana sekarang ibunya bekerja. dan Bu asih pun memberi tahu tampar dimana dirinya bekerja sekarang.
"Seperti apa kira-kira rumah majikan ibu sekarang", ujar Riska yang Saat ini sedang Menaiki kendaraan umum untuk menuju ke alamat yang sudah di beritahukan oleh sang ibu.
Tak lama setelah itu Riska sampai di tempat dimana Riska berada di sebuah rumah yang sangat besar.
"Wahhh... Gede banget rumah nya", Riska menatap rumah tersebut seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Gadis berumur 17 tahun itu seakan terpukau melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat saat ini .
Riska pun mendekat. Mulai untuk menekan bel rumah tersebut.
"Aku harus memastikan jika ibu benar-benar bekerja disini", Riska pun tanpa ragu-ragu menekan bel rumah tersebut.
Sudah dua kali Riska menekan bel tersebut. Tapi tidak ada sahutan dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang ada didalam rumah tersebut.
"Bener gak sih ini rumahnya. Kok nggak ada orang??", Tanya Riska sambil terus melihat ke arah dalam rumah itu.
Dari dalam rumah tersebut. saat ini Bu asih yang mendengar suara bel berbunyi segera meletakkan pisau yang ia pegang. Bu asih saat ini tengah mengupas buah pepaya.
Segera Bu Asih keluar dari rumah itu dan melihat siapa kira-kira tamu yang ada di depan rumah majikannya tersebut.
Tampak Bu asih tak asing dengan gadis yang sedang membelakanginya itu.
Tapi Bu asih tak mau su'udzon, Bu asih masih tetap berbaik sangka dengan gadis yang ada di depan.
__ADS_1
"Iya, Cari siapa ya??" Tanya Bu asih. dan setelah gadis itu berbalik arah membuat Bu asih tampak sangat kaget dengan kedatangan nya.