Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Pulang kampung


__ADS_3

Disya bangun dengan suasana baru kamarnya, Setelah mereka tiba tadi malam, begitu banyak yang mereka alami saat tiba dirumah keluarga Hendra.


🌸🌸🌸


Flash back On


Mobil jemputan untuk Denis sudah tiba sejak setengah jam yang lalu, Menunggu pewaris tunggal kekayaan Hendra, supir yang sudah cukup tua itu menunggu orang yang selama ini juga sangat ia rindukan, anak dari majikannya yang selalu ia antar sejak sekolah duku kini sudah pulang, pulang kembali kerumah orang tuanya yang sudah lama ia tinggalkan karena sebuah masalah yang membuat mereka tidak saling bertegur sapa hampir 8 tahun ini.


"Den, Denis", ucap Pak Ujang, supir keluarga Hendra yang masih bisa mengenali wajah Denis sampai saat ini.


Denis pun menoleh, dan berhenti, ia melihat seorang laki-laki yang tengah memanggil, Denis pun tersenyum, segera ia peluk laki-laki itu.


"Bagaimana kabar pak Ujang, sehat??, sudah lama kita tidak bertemu pak", Pak Ujang juga terlihat sangat bahagia bisa melihat anak dari majikannya tersebut.


"Alhamdulillah pak Ujang sehat den", pandangan pak Ujang terhenti kemudian ada dua orang wanita yang berada di belakang Denis, " Den, ini non Nisa yang pacarnya Aden dulu??", Tanya pak Ujang yang juga belum lupa dengan teman Denis sewaktu kuliah dulu, bisa dikatakan dulu memang mereka berpacaran.


Denis pun mengangguk, "Yang, ini pak Ujang, kamu masih ingat kan??", Tanya Denis, Nisa pun mengangguk, "Iya aku masih mengingatnya bang", Nisa kemudian mencium punggung tangan pak Ujang", Pak Ujang pun kaget, "Ya Allah non, kenapa tangan bapak dicium", Pak Ujang merasa tidak enak, istri dari majikannya ini begitu sangat sopan, wajar saja jika Denis sangat mencintai dan memperjuangkan Nisa untuk menjadi istrinya.


Nisa pun tersenyum, "Tidak apa-apa pak, kami yang muda harus menghormati orang yang lebih tua", Pak Ujang kembali tersenyum.


"Oh iya, Sayang, ayo salam dulu sama Mbah", Perintah Nisa kepada Disya, Disya pun menurut dan ikut mencium punggung tangan pak Ujang.


"Siapa namanya non??", tanya pak Ujang, anak itu pun juga tersenyum melihat pak Ujang yang baik kepadanya.


" Nama aku Disya Mbah", ucap Disya.


"Oh, ini nama nya non Disya", jawab pak Ujang sambil tersenyum Kembali.


Denis dan Nisa pun juga ikut tersenyum, " Disya ini anak kami pak, usianya sudah 6 tahun", ucap Denis.


Pak Ujang pun mengangguk, ternyata keluarga majikannya sudah mempunyai cucu cantik dan sudah sebesar ini.


"Kalau begitu mari den, kita segera pulang, tuan dan nyonya sudah menunggu Aden sejak tadi", Pak Ujang mulai memasukkan koper yang dibawa okeh Denis, Denis pun juga ikut membantu, Setelah semuanya sudah masuk kedalam mobil, Denis masuk kedalam mobil dengan duduk di depan dengan pak Ujang, sementara itu Nisa dan Disya duduk tepat dibelakang Denis dan pak Ujang.


Mobil mereka meninggalkan pelataran bandara internasional tersebut, mereka kini sedang menuju kerumah yang sejujurnya sangat Denis rindukan.


Setengah jam kemudian, mobil sudah sampai di depan gerbang besar rumah tersebut, ruang yang tak berubah sama sekali, warna cat tembok dan kayu nya juga masih sama, sama seperti saat Denis meninggalkan nya beberapa tahun lalu.


Mobil berhenti di halaman rumah tersebut, tepat di depan pintu utama rumah itu, Mbok nah, pembantu yang bekerja di ruang pak Hendra juga sedang berjalan untuk membukakan pintu tersebut, mbok nah juga sudah menanti kedatangan Denis sejak beberapa jam yang lalu.


Pintu pun terbuka, terlihat mbok nah yang membukakan pintu untuknya, "Assalamualaikum mbok", ucap Denis, Denis kemudian mencium punggung tangan Mbok Nah, Orang yang dulu merawat nya mulai dari kecil, Nisa dan Disya juga ikut bersalaman, Mbok Nah terlihat sangat bahagia, tak terasa air mata wanita tua itu menetes saat melihat Denis Kembali.


" Den, Denis, Ya Allah, akhirnya den Denis kembali kerumah ini", Ucap Mbok nah tak percaya, Mbok nah kemudian mempersilahkan Denis, Nisa beserta Disya masuk kedalam rumah.


"Tuan dan nyonya pasti senang melihat Aden pulang", Ucap Mbok nah.


"Dimana Papa dan Mama Mbok??", tanya Denis


"Tuan dan nyonya ada di atas den, Nyonya sedang kurang enak badan", ucap mbok nah.


Wajah Denis dan Nisa pun seketika berubah, Denis Nisa beserta Disya pun naik ke atas untuk menuju ke kamar Papa dan Mamanya.


Suasana rumah itu masih sama, tak ada yang berbeda sama sekali, kamarnya pun juga masih sama, tidak ada yang berubah, Mereka kini sudah sampai tepat di depan pintu kamar orang tua Denis, Denis pun segera mengetuk pintu tersebut dan mendengar suara perintah masuk dari dalam.


Dengan pelan Denis membuka kenop pintu kamar tersebut, hati Nisa sempat takut dan was-was, Nisa takut jika orang tua Suaminya masih belum bisa menerima dirinya sebagai menantunya,


Denis menggenggam tangan Nisa, ada sedikit kekuatan ketika tangannya dipegang, Nisa pun kini tersenyum mantap dan ikut masuk kedalam kamar tersebut sambil tangan satunya menggandeng tangan putrinya.


"Assalamualaikum", Ucap Denis dan Nisa, pak Hendra yang mendengar suara putranya seketika menoleh ke arah belakang, begitu juga dengan Bu Lia, ia juga terlihat menatap ke arah belakang Suaminya.


Denis dan Nisa pun mendekat, menatap kedua orang tua yang amat ia rindukan selama ini.


"Denis", ucap pak Hendra tak percaya, pak Hendra seketika berdiri, mendekat ke arah Denis, Denis pun juga begitu, ia maju langkah demi langkah untuk sampai di depan papanya.


Tangan pak Hendra pun terlentang, dan Denis pun seketika menyambutnya, kedua laki-laki itu pun berpelukan, saling melepas rindu mereka, tangis pak Hendra juga tak dapat ia bendung, akhirnya ia bisa bertemu dengan putranya lagi.


"Maafkan papa den, papa salah sehingga membiarkanmu jauh dari papa", Ucap pak Hendra.


"Maafkan Denis juga yang telah meninggalkan papa dan mama selama ini, Denis sangat merindukan papa dan mama", ucap Denis, Nisa yang melihat semua ini ikut meneteskan air matanya, selama beberapa tahun ini Nisa tahu jika Suaminya ini sangat merindukan keluarganya.


Pak Hendar pun melepas pelukannya, kini pandangan pak Hendra tertuju pada Nisa dan Disya,


"Itu Nisa istri mu den??", Tanya pak Hendra, Denis pun mengangguk, " Dan itu pah, itu anak Denis, dia cantik kan pah", ucap Denis, pak Hendra pun tersenyum lebar, tak menyangka jika dirinya sudah mempunyai cucu sebesar ini.


Nisa pun mendekat, ia kemudian mencium punggung tangan ayah mertua nya, Pak Hendra pun mengelus kepala Nisa, "Maafkan papa ya nak, papa salah kepadamu", ucap pak Hendra, "Jangan bicara seperti itu pah, Papa tidak salah sama sekali, Nisa juga salah karena telah memisahkan bang Denis dengan papa", kemudian pandangan pak hendra tertuju pada Disya.


"Sayang, kamu gak mau peluk kakek??", Tanya pak Hendra, Disya pun mengangguk ia senang ia bisa mempunyai kakek, yang selama ini memeluk disya adalah pak Dimas dan pak Ardi sebagai pengganti kakeknya.


"Disya suka punya kakek, Disya sayang sama Kakek", ucap Disya, pak Hendra pun tersenyum kepada Disya, lali ia mencium pucuk kepala cucunya tersebut.


Kini Denis beralih kepada sang Mama, mamanya juga terlihat meneteskan air matanya sedari tadi, Denis segera memeluk wanita yang telah melahirkan nya, ia sangat merindukan Sang Mama, Nisa pun ikut bergabung, ketiganya kini saling berpelukan dengan erat.


"Disya, sayang, ayo kesini, nenek ingin memeluk Disya", Mendengar perintah dari mamanya Disya pun datang menghampiri neneknya.

__ADS_1


Bu Lia memeluk cucunya tersebut, ia kemudian menciumi Disya Sampai anak itu merasa kegelian karena ulah sang nenek, Bu Lia merasa bahagia, sampai-sampai raut wajahnya kembali tampak segar, wajahnya sudah tidak pucat lagi, ia sembuh, melihat putra, menantu, dan cucu nya pulang membuat kesehatan Bu Lia seakan kembali.


Mereka berlima link duduk di ruang tengah yang ada di rumah tersebut, Nisa yang juga ikut duduk bisa tersenyum senang melihat keharmonisan keluarga suaminya.


"Den, boleh papa bertanya??", tanya pak Hendra.


"Iya Pah, papa mau bertanya apa??", tanya Denis lagi.


Disya kini sedang berada di dalam pelukan neneknya, Bu Lia masih ingin memeluk cucu semata wayangnya tersebut.


"Selama ini kalian dimana??, dan apa kalian mendapatkan hidup yang layak??", tanya pak Hendra.


Pak Hendra sungguh sangat penasaran dengan kehidupan putranya selama ini, tapi melihat penampilan ketiganya membuat pak Hendra yakin jika putranya disana hidup dengan layak sama seperti dirinya.


"Kami hidup di Jakarta pah, aku bekerja di Wiratama Corp", ucap Denis.


Pak Hendra pun kaget, Putranya bisa bekerja di Wiratama Corp perusahaan yang besar yang kini sama dengan Bachtiar Group dan terkenal di berbagai perusahaan lainnya,


"Apa papa gak salah dengar, benar kamu bekerja disana??", tanya pak Hendra lagi.


"Iya Pah, aku disana bekerja sebagai sekertaris pribadi pemilik Wiratama Corp, dia sudah baik sekali dengan keluarga kami pah, sehingga kami bisa seperti ini saat ini", ucap Denis.


Pak Hendra pun tersenyum bangga, tak menyangka jika putranya bisa bekerja di perusahaan tersebut,


"Pah, Disya mau telfon Kaka Rafa", ucap Disya kepada Denis.


Pak Hendra lagi-lagi bingung, siapa Rafa yang dimaksud oleh cucunya ini.


"Siapa Rafa den??", tanya pak Hendra.


"Rafa adalah anak dari pak Fandi Pah, bos Denis, pemilik Wiratama Corp, mereka sudah menganggap Denis dan Nisa seperti keluarga mereka dan mereka juga menganggap Disya juga sebagai anak kandung mereka", Ucap Denis.


Pak Hendra amat penasaran dengan sosok Fandi, memang pak Hendra tahu dan pernah masuk kedalam Wiratama Corp, tapi itu sebelum Fandi memimpin, pak Hendra dulu bekerja sama dengan pak Dimas papa dari Fandi.


"Mbak Alisa juga sangat baik pah, Nisa duku juga pernah bekerja dengan istrinya pak Fandi sebagai sekertaris nya di Bachtiar Group", Ucap Denis lagi, pak Hendra tak menyangkal jika anak-anaknya dapat memasuki dan bekerja di dalam perusahaan besar, dan jabatan pun tidak main-main, sekertaris pribadi yang selalu mengurus jadwal para bos dan selalu ikut kemanapun bos pergi.


Denis kemudian mengeluarkan ponselnya, ia kemudian melakukan sambungan telfon Kepada Fandi,


Di Jakarta, saat Fandi masih berada di dalam mall dan hendak pulang, ponselnya tiba-tiba berbunyi, Fandi pun tersenyum mendapatkan sambungan video call dari Denis.


Fandi pun menerima video call tersebut dan kini dapat ia lihat wajah Denis Nisa berserta Disya yang ada di layar ponselnya.


"Papa", ucap anak itu senang, melihat wajah Fandi Disya seakan langsung gembira.


"Kak ada video call dari Disya", ucap Fandi, wajah Rafa yang kembali sedih itu pun mendadak langsung cerah kembali saat mendengar nama Disya disebut olah papanya.


Rafa mengambil alih ponsel tersebut, disana Rafa dapat melihat wajah Disya yang sedang tersenyum kepadanya.


"Halo kak, Disya sudah Sampai di Surabaya, Disya sudah ketemu sama Kakek dan nenek Disya, Disya senang disini kak", Ucap Disya.


Rafa pun juga ikut tersenyum,


"Sering-sering telfon kakak ya sya, kakak senang bisa melihat kamu lagi", Rafa terlihat gembira sekali bisa melihat wajah Disya meskipun tidak bertemu secata langsung.


Ponsel itu pun kini beralih kepada Alisa, jujur saja Alisa sudah rindu dengan anak itu.


" Mama", ucap Disya lagi, Alisa pun ikut tersenyum melihat Disya yang dapat menunjukkan raut wajah gembiranya.


Beberapa menit kemudian panggilan pun sudah terselesaikan, Denis memasukkan kembali ponselnya dan sekarang mereka semua akan makan malam bersama.


Nisa membantu mbok nah menata semua masakan di atas meja makan, awalnya mbok nah menolak, tapi dengan paksaan Nisa akhirnya mbok nah pun menyetujuinya.


Semua makanan sudah tersusun rapi diatas meja, dan Nisa pun berjalan kembali dan memberitahu jika makan malam sudah siap, semuanya pun bangkit dan pergi menuju meja makan, malam ini adalah malam pertama bagi mereka bisa berkumpul bersama keluarga besar mereka untuk makan malam bersama.


Bu Lia pun tersenyum senang, akhirnya keluarga nya bisa lengkap kembali, utuh seperti semula dan sekarang sudah bertambah anggota keluarga mereka, sudah lengkap rasanya, Bu Lia pun terlihat sangat bahagia.


Mereka pun makan dalam diam, Bu Lia pun kemudian memulai percakapan dengan putranya.


"Kalian nggak mau nambah anak lagi??", tanya Bu Lia, Denis yang mendengar perkataan mamanya langsung saja tersedak, ia kaget mengapa mamanya mempertanyakan anak lagi kepada Denis.


"Nggak ma, Denis gak mau, Denis gak tega lihat Nisa kesakitan seperti dulu, Denis gak mau itu terjadi lagi, Denis udah punya Disya dan itu sudah cukup.


Bu Lia merasa bersalah tak dapat mendampingi menantunya melahirkan, pasti begitu berat putranya menjalani hidup disana tanpa adanya orang tua yang selalu menyemangati hidupnya.


"Maafkan Mama ya den, mama tidak bisa mendampingi istrimu saat melahirkan Disya", ucap Bu Lia.


Nisaa kemudian menoleh ke arah Mama mertua nya dan memegang tangan ibu mertuanya tersebut.


"Mama tidak boleh berbicara seperti itu, bisa tidak apa-apa kok mah, Mama tidak salah, hanya keaadaan lah yang membuat kita seperti ini", Ujar Nisa.


Bu Lia begitu bahagia mendapat menantu seperti Nisa, Bu Lia sudah yakin sejak dulu jika Nisa adalah istri dan menantu yang baik.


Setelah makan malam semuanya pun kembali ke kamarnya, Disya kini mendapat kabar baru, Disya pun sangat menyukainya, tak lama setelah itu Disya pun seketika langsung tidur karena ia juga sudah cukup lelah karena perjalanan panjang mereka",

__ADS_1


Flash back Off


17 tahun kemudian, Rafa kini sudah berusia 25 tahun, dan Disya kini juga sudah berusia 23 tahun, Rafa kini sudah menggantikan Daddy ya untuk memimpin perusahaan,


Setelah lulus SMA, Rafa pergi ke luar negri, Rafa melanjutkan studi nya Di sana, awalnya Alisa tidak mau sampai jauh dari Rafa putra nya, tapi setelah Fandi membujuk istrinya itu,


akhirnya Alisa pun ikhlas dan membiarkan putranya itu melanjutkan kuliahnya disana.


Suatu pagi, Fandi kini tengah menikmati kopinya yang sudah disiapkan oleh Alisa, Alisa pun duduk di samping Fandi dan menunggu ketiga anak-anak mereka untuk sarapan bersama di ruang makan.


Rafa kini tengah keluar dari dalam kamar mandi, ia baru saja selesai dengan aktivitas mandinya, Rafa saat ini tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan, menurun ketampanan Daddy nya saat muda, bisa dibilang jika Rafa saat ini adalah Fandi muda terdahulu.


Rafa kini sedang menyemprotkan parfum favorit nya, parfum yang mampu membuat para karyawan wanita yang bekerja dikantornya sangat terpesona dengan Rafa, bau yang selalu dinanti oleh para karyawan lainnya.


Rafa turun dari kamarnya dengan menggunakan kemeja lengkap beserta jas kantornya, Rafa kemudian duduk disamping mommy nya dan tak lupa mencium pipi Sang Mama.


" Selamat pagi mom, dad", ucap yang kini duduk tepat disamping mommy nya, tempat duduk favoritnya jika didahului oleh Ghani maka raga kan meminta Ghani untuk segera pindah, karena itu khusus untuk dirinya dekat degan tempat duduk mommy nya.


Disusul dengan Ghina dan Ghani, anak kembar itu juga tumbuh menjadi anak yang tampan dan cantik, Ghani dan Ghina yang baru saja lulus kini lebih memilih untuk mencari pekerjaan di kantor lainya,


"Sayang, Ghina, kok udah rapi aja, mau kemana??", Tanya Alisa.


Ghina tampak tersenyum kepada Mommy nya,


"Ghina kan mau cari kerja mom, kan Ghina sendiri yang belum dapat pekerjaan, Ghani aja udah dapat di rumah sakit, aku aja yang belum", Ujar Ghina.


Ghani memang lebih memilih menjadi seorang dokter, dan Ghina lebih memilih untuk seorang sarjana hukum.


"Loh, bukannya mommy sudah bilang, kamu bisa bekerja ditempat mommy, Kamu bisa bantu Daddy dan Mommy disana", y memang sekarang Fandi dan Alisa mengurus Bachtiar Group Setelah kedua orang tua Fandi dan Alisa sudah meninggal, Fandi dan Alisa lah yang mengambil alih semuanya, dan untung saja sekarang Rafa sudah bisa mengurus perusahaan, jadi Fandi bisa sedikit santai dalam mengurus Bachtiar Group bersama dengan Alisa.


"Ghina nggak mau mom, Ghina mau cari kerja dari usaha Ghina sendiri", Ucap Ghina yang masih kekeh ingin mencari pekerjaan.


"Ya sudah, bagaimana kalau begini, kamu melamar bekerja di kantor mommy, tapi mommy tidak akan ikut campur masalah o


penerimaan kamu sebagai pegawai baru disana, biar bagian HRD aja yang menseleksi kamu", Ucap Aliaa memberi saran.


Ghina kemudian berpikir sejenak, tak ada salahnya menerima penawaran sang Mama.


"Ok deh mom, Ghina terima tawaran mommy, tapi nanti berangkat nya Ghina gak mau bareng mommy, nanti semua tahu Ghina anak mommy dan Daddy.


Alisa dan Fandi pun tak dapat menolak permintaan putrinya, dan mereka hanya mengiyakan saja.


"Dek, Kaka suka dengan sikap kamu, kamu mandiri dek, semoga berhasil ya", ucap rafa kepada Ghina adiknya.


"Terimakasih kak", Ghina pun tersenyum senang, Rafa kakaknya begitu perduli kepada nya mulai dari kecil sampai sekarang.


Ghani lebih dulu berangkat, sebelum turun dari kamarnya tadi, Ghani sudah mendapatkan telfon jika diri nya ada jadwal operasi pagi ini.


"Ghani berangkat dulu ya Mom, dad", Ucap Ghani,


Ghani kemudian mencium punggung tangan Daddy dan mommy nya, dan juga berpamitan kepada kakak dan saudara kembarnya.


"Hati-hati dijalan, jangan ngebut", itulah yang selalu raga katakan kepada adik laki-laki nya itu, dan Ghani hanya tersenyum Menanggapi nya.


Rafa kemudian juga berangkat ke kantor, ia akan mengadakan rapat bulanan jadi ia harus berangkat lebih pagi lagi, sementara Ghina yang awalnya ingin nebeng di mobil kakaknya harus mengurungkan niatnya karena mendengar kakaknya yang akan memimpin rapat direksi diperusahaan nya.


"Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu mom dad, Assalamualaikum", ucap Ghina yang kini berlari keluar dari dalam rumahnya, Alisa dan Fandi menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya tersebut, anak itu manja sekali, tapi tak menyangka jika ia ingin mendapatkan pekerjaan sendiri tanpa ada embel-embel nama orang tuanya dibelakang nya.


Fandi dan Alisa pun ikut berangkat, ia kini berada di dalam satu mobil dan mengemudikan mobilnya dengan pelan, usia mereka sudah tak muda lagi, dan mereka sudah pantas jika mempunyai cucu dari anak-anaknya.


Ghina sudah hampir telat, karena kemacetan tadi akhirnya taxi online yang ia tumpangi tidak bisa mencari jalan alternatif untuk sampai ke kantor Bachtiar Group, kini Ghina keluar dari dalam taksi online tersebut dan mencari ojek untuk segera sampai di kantor orang tuanya.


Ghina datang dengan rambut yang sedikit berantakan, karena ia menyuruh Abang ojol nya ngebut akhirnya yang menjadi korban adalah rambut lurusnya yang kini sudah sangat berantakan.


Ghina turun dan masuk kedalam kantor tersebut, ia duduk Sambil menunggu bagian HRD memanggil nama dirinya untuk segera melakukan interview kerja.


Tak lama setelah itu Daddy dan mommy nya datang, Ghina menggeleng kan kepalanya saat mommy nya ingin menyapa dirinya, ia tak mau semua orang tahu jika pemilik perusahaan ini kenal dengan dirinya.


Para resepsionis langsung saja memberi hormat kepada Kedua pasangan suami-istri Tersebut, tak lama kemudian, nama Ghina sudah dipanggil oleh bagian HRD dan Ghina pun masuk kedalam ruangan yang sudah di tunjuk oleh resepsionis yang tadi.


Ghina pun duduk di depan kepala HRD, kepala HRD itu mantap Ghina sedari tadi, wajahnya yang cantik mampu membuat orang yang akan mewawancarai dirinya Sampai lupa tujuan utamanya.


" Pak", ucap Ghina saat melihat orang yang ada didepannya itu sedang melamun, laki-laki muda dan juga tampan itu akhirnya tersadar, ia kemudian mulai fokus dan melakukan interview kepada Ghina.


Ghina sengaja tidak mencantumkan nama Wiratama di surat lamaran pekerjaan nya, Ghina takut semuanya akan tahu jika ia adalah anak dari pemilik perusahaan yang saat ini akan menerima dia sebagai pegawainya.


"Ghina Adelia", Ucap kepala HRD tersebut, Ghina pun menatap laki-laki yang ada di depannya itu saat ini.


"Iya pak, saya", Jawab Ghina membuat orang yang ada didepannya ini tersenyum kepada Ghina.


Sudah 3000 kata ya, ku harap kalian semua suka, jangan lupa pencet tombol like dan ratingnya juga, dan jangan sampai ketinggalan vote aku dong


I love you all

__ADS_1


__ADS_2