
Mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, dengan bantuan Fandi Alisa turun dari mobil, meskipun ia bisa sendiri tapi Fandi tak membiarkan istrinya turun sendiri tanpa bantuan dirinya.
Fandi menggandeng tangan istrinya dengan mesranya, kadang kala ia kecup tangan Tersebut tanpa malu dilihat orang yang ada di sepanjang koridor rumah sakit.
Langkah mereka serasi seperti seorang pasangan bahagia yang baru saja menjadi pengantin baru yang baru saja mendapat hadiah kehamilan untuk yang pertama kalinya.
Mereka kini sudah sampai di depan ruangan dokter Tamara, meskipun mereka agak telat sedikit, tapi Fandi dan Alisa tak ambil pusing jika mereka berdua harus mengantri untuk bertemu dokter Tamara.
Antrian ke 5 akhirnya Fandi dan Alisa masuk ke dalam ruangan tersebut, menemui dokter Tamara untuk memeriksakan kandungan Alisa, Alisa pun sudah berbaring dan perutnya juga sudah dilapisi okeh gel yang akan dipergunakan untuk mempermudah alat USG yang akan memperlihatkan bagaimana kondisi bayinya.
Setelah alat itu digerak-gerakkan terlihat di layar monitor tersebut janin yang masih sebesar sebuah buku kacang tumbuh di rahim Alisa, Alisa pun terlihat bahagia, tapi didalam layar tersebut terlihat bukan hanya satu tapi dua, Dokter pun terlihat tersenyum ketika mengetahuinya.
Alisa kini sudah dibersihkan, kemudian Fandi membantunya untuk turun dari ranjang tempat pemeriksaan tadi dan kini mereka duduk kembali di depan meja dokter Tamara.
" Begini pak Fandi ada yang ingin saya jelaskan kepada anda ", Ujar dokter Tamara.
Fandi pun kemudian langsung menatap dokter Tamara begitu serius, dan Alisa pun juga, keduanya kini saling berpandangan, apakah ada masalah dalam kehamilan Alisa saat ini, dan mereka pun masih belum mendapat Jawabannya.
Dokter Tamara melihat ketegangan di wajah pasangan ini dan membuat dokter Tamara Tersenyum.
" Jangan tegang dulu Pak Fandi, semua baik-baik saja ", Ujar dokter Tamara sambil terus menyunggingkan senyumnya.
" Lalu dok, apa yang ingin dokter katakan kepada kami ??", Tanya Fandi, ia sungguh sangat penasaran saat ini, dan Dokter Tamara pun masih belum membuka suara nya kembali.
" Begini pak Fandi, Bu Alisa, saya lihat janin anda ada dua, dan bisa saya pastikan jika anak yang sedang ibu Alisa kandung kembar ", Ujar dokter Tamara,Fandi dan Alisa pun seketika tak percaya, tapi senyum mereka langsung merekah saat mendengar jika mereka akan di karuniai bayi kembar.
Fandi langsung saja memeluk istrinya kuat-kuat, ia bahagia, sangat bahagia sampai ia tak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan itu semua, semua diluar rencana mereka, tapi ini semua adalah pemberian Allah SWT kepadanya, dan mereka menerima dengan rasa bahagia.
" Jaga kandungan baik-baik ya Bu, dan jaga pola makan, Jangan terlalu capek ", Ujar dokter Tamara.
__ADS_1
" Baik dok ", Jawab Alisa bersemangat.
Mereka pun akhirnya keluar, Fandi terlalu bahagia, tangannya masih menggandeng tangan istrinya,
Senyumnya selalu terpancar, banyak suster yang melihat mereka juga ikut tersenyum karena sedari tadi mereka menunjukkan senyum mereka kepada semua orang.
Fandi sangat bahagia, Ternyata usahanya tak sia-sia bahkan Fandi diberikan dobel sekarang, pastinya Fandi dan Alisa akan menjaganya dengan sepenuh hati mereka.
" Kita rayakan ya sayang ",
" Maksudnya mas ??", Tanya Alisa.
" Kamu mau makan apa hari ini ??", Tanya Fandi, ia ingin mengajak istrinya makan tentunya, rasa bahagianya membuat ia seketika lapar dan ingin memakan banyak makanan hari ini.
Fandi membawa istrinya makan di resto mewah hari ini, tapi saat sudah Sampai di depan pelataran parkir resto tiba-tiba Alisa tidak mau masuk, ia berubah pikiran lagi, nafsu makannya hilang, ia menginginkan makan di pinggir jalan saja.
" Kamu yakin sayang??", Berulang kali Fandi mempertanyakan hal tersebut, takutnya istrinya akan berubah pikiran lagi, maklum lah ibu hamil suka berubah moodnya.
Pilihan Alisa jatuh pada warung sate yang ada di pinggir jalan, sesuai dengan permintaan Alisa, kini mereka sudah duduk dan menunggu si Abang penjual sate untuk menghilangkan sate di meja mereka.
Aroma sate yang tengah dibakar membuat perut keduanya tiba-tiba berbunyi,
Perut mereka sudah meronta-ronta sejak tadi meminta untuk segera diisi.
Tak lama mereka menunggu, si Abang penjual sate sudah menata dua piring sate untuk Alisa dan Fandi, mata Alisa langsung saja berbinar, air liur nya juga sudah ingin menetes, tak mau menunggu lama lagi Alisa segera memakan sate tersebut.
Fandi yang melihat istrinya lahap, juga sangat bahagia, apalagi istri nya harus memberi makan untuk dua janinnya yang ada di dalam kandungannya, maka dari itu Fandi akan memastikan untuk menjaga nafsu makan istrinya mulai dari sekarang.
Alisa menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ada di warung tersebut, perutnya sudah kenyang, Alisa kemudian mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang,
__ADS_1
" Pasti kalian sudah kenyang kan ??", Alisa mencoba berbicara kepada anak-anaknya yang masih berada di dalam perutnya.
Fandi juga sudah selesai memakan makan siangnya, dan Fandi kemudian segera membayar sate yang ia makan tadi kepada Abang si penjual sate.
" Berapa semua pak ??", Tanya Fandi .
" Seratus ribu mas ", Jawab si pedagang sate, Fandi kemudian mengeluarkan uang 100 ribu dan dia pun segera kembali menuju ke meja istrinya tadi.
" Sayang ayo ", Ajak Fandi kepada istrinya, ia kemudian mengulurkan tangannya dan Alisa pun menerimanya dengan senang hati.
" Ke kantor lagi ??", Tanya Fandi,
" Nggak usah mas, aku ikut mas aja", Jawab Alisa.
Fandi pun mengangguk dan ia segera melajukan mobilnya menuju ke arah kantornya.
Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan tidak terlalu ramai jadi Fandi bisa leluasa untuk berkendara dengan santai.
Kini mereka sudah sampai di depan kantor Fandi, mereka pun turun dan masuk dengan bersama-sama,
Fandi pun berjalan dengan santai dan perlahan, ia mengimbangi langkah istrinya yang tak terlalu lebar,
Beberapa menit kemudian Fandi dan Alisa sudah sampai di depan ruangan Fandi, Denis pun terlihat lega bisa menemukan bosnya tersebut.
" Bos telfon ku kenapa gak diangkat ??", Tanya Denis, wajah Denis kini berubah menjadi tenang setelah tadi ia kebingungan mencari bosnya.
Fandi kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, benar saja, sudah lebih dari 20 kali Denis menelfon nya tadi tapi Fandi sama sekali tidak tahu akan itu.
Setelah dilihat ternyata ponsel Fandi berada dalam mode senyap, dan Fandi tidak tahu itu.
__ADS_1
" ponselku dari tadi senyap den, ada apa ??", tanya Fandi kepada Denis, dan kini Alisa hanya memperhatikan Suaminya dan Denis saja tanpa ikut berbicara apapun kepada Denis maupun Suaminya.