
Aku sedikit gerogi, apalagi aku kini duduk disamping Zian, oh rasanya jantungku terus berpacu lebih cepat, ada apa dengan diriku??.
Begitu juga dengan mommy, Mommy kini bukan sibuk memeriksa kertas-kertas itu, tapi mommy lebih sibuk memperhatikan diriku sekarang, Bibirku pun mengerucut, dan dapat ku lihat seperti nya Mommy ku kini tengah menahan tawanya.
Beberapa menit kemudian semuanya pun sudah selesai, aku dapat bernafas lega, dan saat ini aku ingin segera kabur dari tempat ini, tempat yang bisa-bisa akan memperlihatkan siapa diriku.
Dapat kulihat juga disitu ada foto keluarga kami, tapi jika ada orang yang melihatnya pun tidak akan mengetahui siapa yang ada di sana, aku pun dapat bernafas lega, setidak nya identitas ku tidak diketahui secepat ini.
Aku melangkah cepat setelah berpamitan, aku ingin sekali cepat sampai ke ruangan ku, aku ingin cepat pulang, aku yakin semua teman-teman ku pastinya sudah pulang
Benar dugaan ku, semuanya sudah pulang, hanya tinggal diriku saja, tidak!!, Bukan diriku, tapi Zian juga, aku melupakan dirinya, dia juga belum pulang, kulihat dia sudah memasuki ruangannya, meskipun dia berjalan lurus tanpa menoleh, aku sangat yakin jika ia pasti melirik kearah ku.
Cepat-cepat aku keluar, bukannya tidak baik jika laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan, jadi aku putuskan aku keluar terlebih dahulu tanpa memberi tahu Zian.
...Zian POV...
Aku mengangkat nya sebagai asisten ku bukan tanpa alasan, ku akui aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, saat aku pertama melihatnya saat dia melamar kerja tentunya, tapi aku menutupi itu, aku tidak mau semua orang tau, dan rasanya perasaan ini terlalu cepat muncul dan aku belum yakin itu.
Hari ini aku yakin aku membuat dia kesal, dia terlihat terpaksa saat berada dalam satu ruangan bersamaku, aku tahu dia kesal, tapi aku suka melihat wajahnya yang seperti itu, rasanya sudah seperti orang gila aku, memikirkan dia saja membuat aku tersenyum sendiri.
Tapi ada satu yang membuatku kesal, aku melihat dia diantar seorang laki-laki tadi pagi, jujur aku merasa cemburu, rasanya aku ingin bertanya kepadanya, siapa dia dan ada hubungan apa ghina dengan laki-laki itu.
Aku pun keluar dari ruangan ku, memang ini sudah jam pulang kantor dan aku yakin jika ghina juga belum pulang sama dengan diriku, Terlihat semuanya pun sudah sepi,
"Dimana Ghina, bukannya dia tadi masih disini??",Tanyaku dalam hati, aku yakin dia saat ini masih berada di area kantor ini, dan aku yakin dia belum pulang.
__ADS_1
Aku segera melangkahkan kaki keluar, menuruni lantai 5 ini, rasanya sangat kama, aku tidak ingin sampai Ghina pulang sendirian.
Pintu lift pun terbuka, dapat kulihat Ghina yang ternyata masih di sini, aku rasa di tengah menunggu seseorang, aku pun mendekat dan kini sudah tidak ada jarak diantara kami.
"Sedang menunggu siapa??", Tanya ku kepada Ghina, Ghina pun menoleh kearah ku, aku rasa dia kaget dengan kehadiran ku yang secara tiba-tiba ini.
"Saya, sedang menunggu taxi online pak", Jawabnya kepada ku, dia terlihat gerogi, aku dapat melihat semuanya.
"Batalkan", Perintah ku kepadanya.
"Apa!!", Dia pun sedikit meninggi kan suaranya,
"Maaf pak, bukan maksud saya membentak anda", Ucapnya lagi kepadaku, dan aku bisa memaklumi itu.
"Tapi pak, saya bisa pulang sendiri, taxi yang saya pesan sudah dalam perjalanan, tidak enak jika harus dibatalkan", Lagi-lagi dia mencoba menolak dan aku merasa tidak suka itu.
"Tidak ada penolakan, aku cuma ingin kamu selamat sampai rumah, tidak lebih", Ucapku kepadanya, dan sepertinya dia mengerti dan kemudian aku lihat anggukan di kepalanya.
Aku pun berjalan menuju basemen kantor, dia mengikuti ku dari belakang, aku pun diam-diam tersenyum, rasanya aku benar-benar gila kali ini, aku bisa sesenang ini berada di dekatnya.
Kami pun pulang bersama, Ghina terlihat diam saja setelah duduk tepat di sampingku, aku pun juga diam karena aku masih tidak punya paham untuk aku bicarakan.
Sementara itu Ghina mulai panik, ia takut jika Zian akan mengetahui dimana ia tinggal, "Tidak mungkin kan Zian harus mengetahui siapa diriku yang sebenarnya dengan secepat ini, aku belum siap", Ghina pun mulai gelisah, ia kini mencari cara agar Zian tak dapat mengantar dirinya pulang, tapi bagaimana, apa yang harus Ghina lakukan.
Zian merasa Ghina tak nyaman saat ini, entah apa yang sedang dipikirkan wanita ini, dan Zian dapat melihat jika Ghina sedang gelisah.
__ADS_1
"Ghin, kami tidak apa-apa??", Ghina seketika menoleh ke arah Zian, ia bingung harus menjawab apa.
"Saya tidak apa-apa pak", Jawab Ghina dengan memperlihatkan senyum nya.
Senyum itu mampu menghipnotis Zian seketika, Zian kini masih menatap Ghina membuat ghina seketika takut.
"Pak, perhatikan jalannya, aku takut jika nanti bapak menabrak seseorang", Zian pun tersadar dan kembali mengarahkan matanya ke depan
"Maaf", Satu kata yang diucapkan Zian.
"Jangan panggil aku pak, umur ku tidak setua itu, aku masih muda", ucap Zian kepada Ghina, Ghina pun kini menjadi menatap Zian lagi.
"Aku bingung harus memanggil apa", ucap Ghina, dan akhirnya Zian pun memikirkan sesuatu, apa panggilan yang pantas untuk dirinya saat ini.
"Kamu bisa panggil aku mas saja, tapi jika di kantor kamu tahu sendiri kan apa yang tempo hari aku katakan??",
"Iya mas, aku mengerti", Ada rasa aneh saat Ghina memanggil Zian dengan sebutan mas, Ghina pun tak tahu itu, berbeda dengan Ghina, Zian terlihat tersenyum lebar saat Ghina merubah panggilan dirinya saat ini.
"Oh ya, ngomong-ngomong rumah kamu dimana??, gak lucu kan kalau kita hanya muter-muter aja", Zian merasa jika dirinya sedari tadi hanya berputar-putar saja untuk memperpanjang waktu.
"Oh itu, rumah ku di..", ucapan Ghina pun terjeda, ia bingung, ia harus bagaimana, apa iya aku harus pulang kerumah, nanti Zian tahu jika aku adalah putri dari bosnya.
"Hey...", Tangan Zian bergerak tepat di wajah Ghina, Zian menanti alamat yang akan dikatakan Ghina kepadanya, tapi sampai saat ini ghina belum juga memberitahukan nya.
Akhirnya satu ide muncul, Ghina berharap ini akan berhasil, ia akan turun saja di depan resto milik Daddy nya, Ghina yakin Daddy dan mommy nya pasti ada disana sekarang.
__ADS_1