
Sore harinya setelah pekerjaan Fandi selesai ia segera keluar dari kantor megahnya, ia memang sedikit telat dengan melirik jam tangannya ia kini dapat melihat jika waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Jika saja Fandi tidak pergi menemui dokter Tamara bisa dipastikan jika Fandi akan menyelesaikan semuanya sebelum jam pulang kantor, tapi Fandi tak menyesali itu, toh dia sekarang sudah merasa senang dengan jawaban yang diberikan oleh dokter Tamara.
Dilain tempat, di lobby kantornya, Alisa kini tengah menunggu suaminya yang setiap hari akan menjemputnya, memang sedikit telat, tak Alisa tak mempermasalahkan itu, Fandi tadi sudah mengabarinya terlebih dahulu.
Setengah jam kemudian, dengan kecepatan tinggi akhirnya Fandi sampai di depan kantor Istrinya dalam keadaan selamat, ia keluar dari mobilnya dan setelah itu segera menyusul istrinya yang ia ketahui masih berada di lobby kantornya.
Fandi masuk kedalam, suasana kantor itu pun sangat sepi, hanya tinggal satpam saja, dan ada yang menemani istrinya, Fandi semakin mendekat, ia ingin tahu siap orang itu.
Setelah Fandi sampai, Fandi dapat melihat jika Istrinya kini tengah bersama dengan Shinta, Shinta juga sedang menunggu jemputan dari tunangannya dan sampai saat ini juga belum datang.
" Sayang ???", Panggil Fandi.
Aliaa pun menoleh, begitu juga dengan Shinta, Ia pun juga menoleh karena mendengar suara seseorang yang sedang memanggil seseorang.
" Mas, kamu sudah datang ??", Tanya Alisa,
Fandi pun mengangguk dan Alisa segera meraih tangan Fandi untuk ia cium.
" Maaf lama sayang, mas masih banyak pekerjaan ", Ujar Fandi menjelaskan.
" Iya tidak apa-apa mas ", jawab Alisa.
Tak lama kemudian Shinta juga berpamitan pulang, ia sudah mendapat chat jika seseorang yang tengah di tunggu sudah datang.
"Aku pulang duluan, Al, pak Fandi", Ucap Shinta yang kemudian keluar dari dalam gedung tersebut.
" Hati-hati Shin ", Jawab Alisa dan di angguki oleh Shinta.
Fandi pun mengajak istrinya pulang, suasana sudah sangat sepi sekali, satpam pun juga sudah duduk di dalam posnya sambil melihat layar monitor untuk memantau di semua penjuru kantor tersebut.
__ADS_1
Fandi pun berhenti, ia kemudian masuk kedalam pos jaga satpam tersebut, ia keluarkan uang Dua ratus ribu dan ia berikan kepada kedua satpam yang kini sedang berjaga sampai besok pagi.
" Ini pak buat beli makan ", Ujar Fandi sambil menyerahkan uang tersebut.
" Terimakasih pak Fandi, Bapak baik sekali ", Jawab salah seorang satpam yang juga sedang berjaga.
" Iya pak, sama-sama, Kalau begitu kami pamit pulang dulu ", Satpam itu pun mengangguk, kemudahan Fandi dan Alisa masuk kedalam mobilnya.
Mobil pun berjalan santai, Fandi sama sekali tak menambah kecepatan laju mobilnya.
" Sayang, mas tadi bertemu Tania dan Niko ", Ucap Fandi.
Alisa yang semula menatap lurus ke depan kini jadi menolehkan kepalanya.
" Ketemu dimana mas ??", Tanya Alisa penasaran.
Alisa sama sekali tidak mengetahui jika Fandi keluar dari kantornya dan menemui dokter Tamara.
" Aku tadi bertemu mereka dirumah sakit ", Jawab Fandi.
" Kamu ke rumah sakit mas??, kamu sakit??, kenapa kamu gak bilang sama aku ??", Tanya Alisa dengan berbagai pertanyaan kepada suaminya.
" Eh, enggak sayang, mas gak sakit, mas tadi hanya menemui dokter Tamara ", ujar Fandi menjelaskan, Fandi tidak mau jika istri nya berpikiran yang tidak-tidak kepada dirinya karena menemui dokter Tamara secara diam-diam.
" Oh ", Jawab Alisa dengan hanya ber oh saja, Ia sudah mengetahui tujuan suaminya menemui dokter Tamara, pastinya ingin menanyakan hal itu.
" Terus kamu tadi kok bisa bertemu dengan Mbak Tania mas??", Tanya Alisa lagi.
Ia sedikit penasaran dengan perjalanan hidup Tania dan Niko, ia ingin mengetahui kabar keduanya.
"Tania hamil sayang, tadi mas sempat bicara dengan Niko ", Fandi menjelaskan tentang pertemuan nya dengan Niko dan Tania.
__ADS_1
"Alhamdulillah mas ", Alisa tersenyum senang mendengar kabar kehamilan Tania.
"Sayang, aku sudah menanyakan semuanya kepada dokter Tamara, dan jawaban dokter Tamara sangat memuaskan, mas jadi senang sekarang", Ujar Fandi yang terlihat menyunggingkan senyumnya.
Alisa pun terdiam tak menjawab, melihat ekspresi yang diberikan Suaminya membuat ia bisa menebak apa yang sudah dikatakan dokter Tamara kepada Suaminya.
Tak lama kemudian mobil pun sampai, Alisa segera turun, begitu juga dengan Fandi, ia turun dan masuk kedalam rumahnya dengan meng ekori istrinya dari belakang.
Malam harinya jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Fandi sedang berbaring dan sedang menunggu istrinya yang sedang sibuk di depan meja riasnya, Alisa sengaja mengulur waktu dan berharap Suaminya akan tertidur, tapi setelah sekian lama, bukannya tidur Fandi malah sibuk menatap dirinya sehingga membuat Alisa sedikit gugup,
Fandi yang merasa istrinya mengulur waktunya, kemudian ia segera menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, perut istrinya masih rata sehingga Fandi bisa leluasa memeluk perut istrinya.
" Kenapa kamu lama sekali sayang, Kamu sengaja ya ??", Tanya Fandi sambil menempelkan bibirnya di pipi istrinya, pantulan dirinya kini terlihat di cermin yang ada di depannya, Fandi begitu menikmati ciumannya dan masih terus menempelkan bibirnya di pipi Alisa sambil memejamkan matanya.
"Nggak mas, aku nggak mengulur waktu kok, ini aku udah selesai", Alisa bermaksud melepaskan pelukan suaminya, tapi bukannya di lepas Fandi justru malah menenggelamkan kepalanya di leher istrinya.
"Emmm", Tak sadar Alisa malah terbawa perlakuan Fandi yang sedang bermain-main di leher mulusnya,
"Mas ???", Alisa malah merasakan kenikmatan yang diberikan Fandi untuknya.
Perlakuan yang dilakukan Fandi saat ini bisa jadi pemanasan untuknya kali ini, jadi Fandi tak perlu repot-repot melakukan pemanasan lagi dengan Alisa.
Fandi kemudian menggendong tubuh Alisa, Alisa yang kini merasa kaget langsung saja melingkarkan tangannya di leher suaminya, jujur ia takut jatuh saat di gendong seperti ini.
Fandi merebahkan tubuh istrinya secara pelan-pelan, ia tak mau membuat Alisa ketakutan apalagi sampai ia kesakitan karena ulahnya, jadi sebisa mungkin Fandi membuat tubuh istrinya rileks terlebih dahulu.
Mata mereka saling bertemu, ada hasrat yang lama terpendam, tatapan mata Fandi saat ini terlihat seperti orang yang tengah kelaparan,
Tatapannya sedikit aneh, seakan ia akan memakan istrinya habis-habisan malam ini, ia begitu merindukan Alisa, merindukan istrinya yang mampu membuat ia jatuh cinta setiap hari, membuat ia tak bisa jauh dari perempuan yang selalu ada dalam pikirannya.
"Aku cinta kamu sayang", Ucap Fandi dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"Aku juga cinta sama kamu mas",Jawab Alisa yang kini melingkar kan tangannya di leher Suaminya.
"Terimakasih sudah mau mengandung anak kita lagi, Aku sayang sama kamu", Fandi kemudian mencium kening istrinya lalu ia membaca doa sebelum melakukan hubungan suami-istri dengan istrinya.