Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 9


__ADS_3

Zian akhirnya ikut bergabung, setelah dipaksa oleh Ghina maupun Alisa, akhirnya Zian pun pasrah dan kini ia tengah duduk disamping Ghina, Rafa yang merasa jika Zian menyukai adiknya akhirnya berpindah tempat duduk, membiarkan Ghina dan Zian duduk bersama.


Setengah jam kemudian, Ghina dan Zian berpamitan, jam istirahat mereka sudah habis dan sebagai karyawan yang baik mereka harus mematuhi aturan tersebut meskipun Ghina adalah putri pemilik Perusahaan besar tersebut.


Mereka masuk kedalam ruangan mereka secara bersamaan membuat para teman-teman Ghina menatap mereka dengan tatapan menyelidik.


Ghina duduk di kursi kerjanya sedangkan Zian meneruskan langkahnya menuju ke ruangannya.


Nita yang penasaran segera mendekat kearah Ghina.


"Ghin, Lo kok bisa bareng sama pak Zian sih, emang Lo dari mana??", tanya Nita kepada Ghina, Ghina pun hanya tersenyum tapi tak menjawab pertanyaan Nita.


Zian kemudian tiba-tiba keluar kembali, melihat Nita dan Ghina yang sedang sibuk berbincang,


"Kenapa kalian sibuk berbicara, ini masih jam kerja", Zian menatap mereka dengan tatapan mengerikan, membuat Nita segera kembali ketempat nya.


"Ghin, keruangan saya", perintah Zian yang langsung diangguki oleh Ghina.


Semua mata kembali menatap Ghina yang berjalan memasuki ruangan tersebut, Ghina pun masuk kedalam, dan segera duduk di depan meja kerja Zian, menatap wajah Zian yang kini sudah merubah mimik wajahnya.


"Ada apa pak, ada yang bisa saya bantu??", Tanya Ghina kepada Zian.


Zian masih saja menatap wajah Ghina yang kini sedang ada didepannya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu, tapi tidak disini, aku mau kita berbicara berdua saja di tempat lain", Ghina masih tidak mengerti dengan perkataan Ian kepadanya kali ini.


"Maksud bapak apa, saya tidak mengerti", Ghina masih memperlihatkan wajah kebingungan nya.


"Aku ingin mengajakmu keluar nanti malam, apa kamu ada waktu??", Tanya Zian lagi.


"Keluar pak, kemana??",


"Ke suatu tempat, apa kamu mau??",

__ADS_1


Ghina pun kemudian mengangguk, membuat Zian langsung saja tersenyum.


"Baiklah, aku akan menjemputmu nanti malam, jangan lupa", Ghina mengangguk kembali dan kemudian berdiri dan berpamitan.


"Kalau begitu saya keluar dulu pak, masih banyak pekerjaan yang ada di meja saya", Zian mengangguk sambil menampilkan senyuman manisnya membuat siapapun yang melihatnya langsung saja terhipnotis.


Ghina segera pergi, ia kemudian menutup pintu tersebut dan langsung kembali ke mejanya, ia tak mau Zian melihat dia yang terpesona melihat ketampanannya.


Ghina dapat bernafas lega, ia kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya.


Malam harinya, biasanya Ghina sudah berada di atas sofa sambil menonton acara televisi kesukaannya, tapi Alisa merasa ada yang aneh pada putrinya hari ini, sampai sekarang Ghina masih belum turun dan duduk di sofa bersamanya.


"Tumben Ghina gak turun-turun pah, biasanya anak itu selalu lebih dulu disini", Fandi yang mendengar hanya menoleh saja, dan kemudian kembali menonton acara televisi yang menayangkan acara berita nasional.


"Coba Mama lihat, siapa tahu Ghina ketiduran",Alisa pun mengangguk dan berdiri dari sofa.


"Ya udah pah, aku lihat Ghina dulu", Alisa pergi meninggalkan Fandi yang masih menatap layar televisi nya.


Tak lama setelah itu, sebelum Alisa naik ke tangga, Ghina turun dengan penampilan yang tak biasanya, ia kini tengah menggunakan dress bawah lutut dan dengan lengan sampai batas siku, Ghina tampak cantik malam ini membuat Alisa menatap putrinya dengan tatapan aneh.


Ghina kemudian menuntun Mommy nya untuk duduk, dan Ghina kemudian duduk di sebelah nya.


"Ghina mau di ajak keluar sama mas Zian mom", Ucap Ghina, Fandi yang mendengar pun menoleh ke arah istri dan anaknya.


"Kemana??", tanya Fandi langsung kepada putrinya.


Sebelum Ghina menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, Ghina pun menatap Mommy nya, Ghina tahu jika yang ada di luar pasti adalah Zian yang kini sedang menjemputnya sesuai janjinya tadi.


Ghina kemudian berdiri, ia akan berjalan menuju ke arah pintu rumahnya dan ingin membukakan pintu.


"Biar mommy saja, kamu duduk disini sama Daddy, biar mommy yang lihat siapa yang datang", Ghina kemudian duduk kembali dan membiarkan Mommy nya yang membukakan pintu, Jantung Ghina kini mulai berdegup kencang, entah apa yang membuat kinerja jantung nya tak normal, yang pasti saat ini Ghina ingin sekali menormalkan detak jantungnya agar kembali seperti semula.


Alisa sampai di depan pintu, ia kemudian membuka pintu tersebut dan melihat seorang pemuda tampan yang tak asing dimatanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum", Ucap Zian kepada Alisa.


Alisa masih menatap pemuda yang ada di depannya, penampilan nya begitu berbeda saat di kantor.


"Waalaikum salam, Silahkan masuk", ucap Alisa kepada Zian.


"Terimakasih Bu", ucap Zian kepada Alisa.


Alisa kemudian masuk kedalam rumahnya dengan diikuti Zian dari belakang,


"Silahkan duduk nak Zian, Tante panggilkan Ghina dulu", Zian pun mengangguk dan meninggalkan Zian seorang diri di ruang tamu.


Taka lama setelah itu, Setelah Alisa masuk dan meninggalkan Zian sendirian, terdengar suara pintu terbuka dan tampaklah Rafa yang baru saja pulang, Rafa masih menggunakan pakaian kerja yang ia pakai tadi dan pandangan Rafa saat ini tertuju pada Zian yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Assalamualaikum", Ucap Rafa dan segera dijawab oleh Zian.


"Waalaikum salam", Jawab Zian dan kemudian berdiri dan menghampiri Rafa.


Zian menjabat tangan Rafa dan Rafa menyambutnya dengan senang hati.


"Bukannya kamu yabg tadi sama Ghina ya??", Tanya Rafa, dan Zian pun mengangguk.


"Iya pak, saya mau izin ingin mengajak Ghina keluar sebentar", Ucap Zian yang meminta izin kepada Rafa yang ia tahu sebagai kakak dari Ghina.


"Jangan panggil pak, saya masih muda, mungkin usia kita beda tipis, Panggil mas aja biar enak", Ucap Rafa dan diangguki oleh Zian.


"Iya mas", Jawab Zian, dan setelah itu tak lama kemudian Alisa, Ghina dan Fandi datang menemui Zian yang ada di ruang tamu.


Pandangan Zian kini teralih kepada Fandi yang datang, Zian segera menyalami Fandi dan mencium tangan orang tua dari Ghina.


"Maaf kedatangan saya membuat pak Fandi dan keluarga tidak nyaman", Zian pun merasa tidak enak, apalagi melihat Fandi ia ragu untuk mengatakan perihal kedatangan ya malam ini.


" Tidak perlu berkata seperti itu, kami senang jika nak Zian mau datang ke rumah kami", Fandi menampakkan senyum nya kembali kepada Zian membuat Zian sedikit merasa lebih santai menghadapi bos sekaligus orang tua Ghina.

__ADS_1


Zian kemudian melirik kearah Ghina, Ghina terlihat sangat berbeda malam ini, Ghina sangat cantik berbeda dari penampilan nya saat di kantor, membuat Zian saat ini susah untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ghina pun merasa malu, ia masih tertunduk membuat Alisa tersenyum melihat ekspresi putrinya.


__ADS_2