Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 25


__ADS_3

Ghani menatap rumah itu, sudah lama ia berada disini tapi ia tak bertemu dengan Ratna sampai saat ini.


Ia sudah menyerah, ia ingin pergi saja, Ratna tak mungkin menemuinya saat ini, dan Ghani akan membiarkan Ratna untuk sendiri dan berpikir sejenak, dan kini kunci mobil sudah ia putar dan mobil pun sudah akan bergerak.


Ratna pun keluar dari dalam rumah, ia melihat mobil Ghani yang sudah ingin bergerak, Ratna kemudian segera berlari, ia kemudian keluar dari dalam gerbang dan menghadang mobil Ghani.


Ghani pun kaget, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menghadang mobilnya.


"Mas turun, aku mau bicara", Ucap Ratna kepada Ghani, Ghani pun tersenyum, ia kemudian turun untuk menemui Ratna yang sedang ada di hadapannya.


Mereka kemudian berjalan, mencari tempat duduk yang tak jauh dari tempat mereka berada, sekarang mereka kini tengah duduk bersama, mencoba membicarakan kesalahpahaman antara mereka.


Mereka saling terdiam, belum ada yang membuka suaranya, hanya Suara lalu lalang kendaraan yang lewat yang saat ini ia dengar.


Mereka kemudian saling pandang, ada rasa canggung dan gugup, tak pernah mereka berdua duduk sedekat ini.


Mata mereka saling memandang, ada sesuatu yang ingin mereka katakan, dan kini Ghani lah yang akan memulai.


"Rat, aku mau minta maaf, itu semua salah paham, aku gak nikah, yang nikah itu kakak ku, bukan aku", ucap Ghani, Ratna kemudian tertunduk, ia malu, sangat malu, salah sendiri ia tidak membaca dulu undangan tersebut.


"Jangan meminta maaf mas, seharusnya aku yang minta maaf, aku yang salah, aku marah saat dengar kamu mau nikah", ucap Ratna, Ghani kemudian mendongak, ia kemudian menatap Ratna yang ada di hadapannya.


Mendengar kata marah membuat Ghani kemudian tersenyum, Ghani sudah bisa memastikan jika Ratna cemburu kepadanya, dan ia pun juga sama ia juga cemburu saat Ratna jalan berdua dengan seorang laki-laki tadi siang.


"Rat, ada yang ingin aku bicarakan", Ucap Ghani dan Ratna pun menanti, menanti apa yang akan dikatakan oleh Ghani kepadanya.


"Ratna, tatap mataku, lihat aku", Ratna pun menurut ia saat ini menatap Ghani dengan seksama.


"Aku mau kita seperti kemarin, menjalin hubungan, bukan seperti ini, jujur aku tersiksa, aku cemburu melihat mu pergi berdua bersama laki-laki lain", Ucap Ghani, Ratna pun tak mengerti, ia masih bingung dengan hubungan apa yang di maksud oleh Ghani, hubungan pura-pura lagi, atau lebih dari itu, dan Ratna pun butuh penjelasan.


"Maksud kamu kita menjalin hubungan pura-pura lagi??", tanya Ratna, Ghani pun menggeleng, bukan itu maksudnya.


"Bukan itu maksud ku, aku ingin menjalin hubungan yang sesungguhnya, aku cinta sama kamu, kamu mau jadi kekasih ku??", Akhirnya Ghani pun mengungkapkan perasaan nya, perasaan yang membuat ia tersiksa seharian ini, jujur Ghani baru saja menyadarinya Jika ia mencintai Ratna dengan tulus dan ingin menjalin hubungan yang sebenar-benarnya dengan Ratna.


Ratna seketika terharu, ia tak menyangka jika Ghani akan mengungkapkan perasaannya saat ini.


Ratna pun mengangguk, ia mau jadi kekasih Ghani, kekasih dokter tampan dan dingin ini.


Ghani pun tersenyum lebar, ia dan Ratna kini sudah menjadi sepasang kekasih yang sebenarnya, dan bukan pura-pura atau yang lebih trend nya kekasih settingan.


"Jadi kita beneran pacaran ya, dan kamu jangan lupa Minggu depan kamu harus datang di acara pernikahan kakakku", Ucap Ghani, dan Ratna pun seketika mengangguk mantap.


Tak lama setelah itu terdengar suara adzan Maghrib berkumandang, Ghani pun kemudian berpamitan pulang, dan Ratna pun mengangguk dan mengantar Ghani menuju ke mobilnya Kembali.


"Aku pulang dulu ya, jangan lupa sekarang kamu pacar aku, jadi kami hak boleh jalan sama laki-laki lain, terlebih laki-laki tadi siang, aku gak suka", tanda peringatan pun sudah di bunyikan oleh Ghani, dan Ratna pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Iya, itu cuma sahabat aku mas, aku gak ada hubungan apapun, kamu gak perlu kayak gitu", ucap Ratna, Ratna tak menyangka jika Ghani akan cemburu dengan Rio, padahal kan Rio sahabatnya dan gak mungkin dirinya akan suka dengan Rio.


"Aku cuma mengingatkan, sekarang kamu milik aku, dan gak boleh ada laki-laki lain yang dekat bahkan sampai ingin memiliki mu", Ghani kemudian masuk, Setelah memberikan peringatan kepada Ratna Ghani yakin Ratna akan mengerti dan mau mengikuti apa yang ia katakan.


"Ya sudah aku mau pulang dulu, Assalamualaikum", ucap Ghani.


"Waalaikum salam, hati-hati mas", Ratna pun akhirnya masuk, wajahnya sudah terlihat berbeda, ia terlihat sangat bahagia sekali, hari ini ia memutuskan hubungan pura-pura nya dan hari ini juga ia mempunyai hubungan yang baru dan serius dengan Ghani.


Ratna pun masuk kedalam rumah, tak sangka sedari tadi Mama dan juga bibi mengawasi Ratna dan Ghani sedari tadi.

__ADS_1


"Hmm..., kayaknya ada yang lagi senang ya Bi, tuh lihat wajahnya udah ceria dan gak sedih kayak tadi", ucap Dina, mamanya akan terang-terangan menggoda Ratna dan itu membuat Ratna seketika malu kepada mamanya.


"Apaan sih ma, Ratna gak seneng kok, biasa aja", ucap Ratna yang langsung melenggang masuk kedalam kamarnya, wajahnya sudah memerah karena menahan malu, benar ia memang tadi sangat sedih, tapi kesedihan itu sudah berubah menjadi kebahagiaan.


Ratna pun masuk kedalam kamarnya, wajah dokter tampan itu masih terbayang sampai ke kamarnya ini.


Tak lama setelah itu Ratna pun masuk kedalam kamar mandi, ia belum melaksanakan sholat Maghrib, jadi Ratna pun segera mengambil wudhu dan segera menunaikan kewajibannya.


Dijalan Ghani sengaja berhenti di masjid, jika ia tetap meneruskan perjalanan nya tentu saja waktu sholat nya akan terlewat nantinya, jadi Ghani memutuskan terlebih dahulu untuk berhenti di salah satu masjid yang ia lewati.


Ghani kemudian turun dan segera masuk kedalam masjid dan segera ikut Sholat berjamaah bersama.


🌼🌼🌼


Didalam rumah, kini Alisa terlihat mondar-mandir, ia masih menghawatirkan Ghani yang belum pulang, menurut penuturan Rafa tadi Ghani pulang dan ia kemudian pergi lagi tanpa pamit.


Fandi yang saat ini melihat istrinya pun hanya menggelengkan kepalanya, "Ma, sudah jangan mondar-mandir terus, papa pusing dari tadi lihat Mama yang terus saja berjalan bolak-balik", ucap Fandi kepada istrinya, Rafa dan Ghina pun juga sama, ia juga pusing melihat Mommy nya yang tak kunjung duduk.


"Mom, sudah ayo duduk, dan lebih baik kita sholat Maghrib dulu, udah adzan tuh", ucap Ghina dan Rafa pun mengangguk.


"Iya mom, lebih baik kita sholat Maghrib dulu", Alisa Kemudian berhenti, ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan segera menunaikan sholat Maghrib yang memang sudah memasuki waktunya.


Fandi, Rafa dan Ghina akhirnya bisa bernafas lega, setidaknya Mommy nya saat ini bisa beristirahat dan tidak berdiri saja sedari tadi.


Ghani saat sudah keluar dari masjid, ia kembali menjalankan mobilnya dan segera pulang kerumahnya karena pasti Mommy nya saat ini tengah menunggu dan menghawatirkan nya.


Setengah jam kemudian mobil Ghani kini sudah terparkir bersama mobil-mobil lain yang ada di garasi rumahnya, ia kemudian segera keluar dan segera masuk kedalam rumahnya dengan melewati pintu yang ada di garasi tersebut.


Ghani tak melihat satu orang pun, Ghani yakin jika mereka semua pasti sedang sholat Maghrib, dan Ghani pun segera masuk kedalam kamarnya.


Alisa mengetuk pintu tersebut, dan terdengar suara dari dalam jika ada orang di dalam, "Boleh Mommy masuk??", tanya Alisa yang melihat putranya sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Iya mom, masuk aja", Jawab Ghani, dan Ghani pun bangun dan menyambut kedatangan mommy nya.


"Ada apa mom??", Tanya Ghani seolah tak ada apa-apa, padahal ia tidak tahu jika sedari tadi mommy nya begitu menghawatirkan nya.


"Kamu dari mana saja, kata kak Rafa kamu keluar dan tak bilang sama kakak mu", ucap Alisa.


Ghani pun mengerutkan keningnya,


Setahu Ghani, saat ia pergi tadi tak menemukan seorang pun yang ada dikamar, ya memang begitu lah kalau sedang galau, orang yang ada di depannya pun ia tak tahu.


"Kak, Rafa??, dimana??, Ghani gak tau kak Rafa ada dimana tadi mom", Jawab Ghani. Ia benar-benar tidak tahu tadi kakak nya ada dimana pada saat ia datang dan mau pergi.


"Ya sudah yang terpenting kamu sudah pulang, tadi kamu kemana, kok baru pulang??" Tanya Alisa lagi, penasaran, memang, Alisa sangat penasaran kemana putranya itu pergi.


"Ada urusan penting mom", Jawab Ghani.


Alisa pun membuang nafasnya secara kasar, Tika mungkin ia memaksa Ghani berkata jujur ia akan kemana, yang Alisa rasa saat ini putra nya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ya sudah, lebih baik kita makan malam dulu, ayo, udah ditunggu Daddy sama yang lainnya", Ghani pun mengikuti langkah Mommy nya, dan sekarang ia lebih memilih menggandeng tangan Mommy nya saat turun dari tangga.


Mata Ghani tertuju pada Ghina, Ghani takut jika Ghina akan menceritakan apa yang terjadi tadi, kejadian yang hampir membuat keduanya celaka.


Ghani duduk tepat disamping Ghina membuat Ghani langsung mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Ghina.

__ADS_1


"Lo gak ngomong apa-apa kan sama mommy??", tanya Ghani menyelidik.


"Nggak, Lo tenang aja, rahasia aman", Jawab Ghina yang tak ingin mereka semua tahu, ia cepat-cepat membalikkan posisi duduknya yang semula.


"Bagus, pinter, nanti kapan-kapan gue kasih hadiah", Mata Ghina seketika menoleh, ia tersenyum lebar.


"Beneran, makasih, tapi awas kalau cuma bohongan", ucap nya lagi.


Kasak-kusuk mereka terlihat oleh Daddy nya membuat Fandi seketika ber dehem.


Ehemm..., "Apa yang kalian bicarakan??, Tumben akur??", Tanya Daddy yang yang Ghina tersenyum lebar kegirangan karena pembicaraan nya bersama Ghani.


Mereka bersua pun gelagapan, bingung harus menjawab apa,


"Nggak ada apa-apa kok dad", ucap Ghina kepada Daddy nya.


"Pah, sudah, lebih baik kita makan dulu, Dan buat kalian ayo cepetan makanannya keburu dingin nanti", ucap Alisa, Rafa saja sudah mengunyah makan malam nya, tapi untuk kedua adiknya itu sama sekali belum mengambil makanan di piring mereka.


Kini mereka makan malam dalam diam, Setelah semuanya selesai Alisa dan Ghina pun membersihkan sisa makan malam mereka, dan kemudian membawanya ke dapur dan mencucinya sekalian.


Didalam kamarnya, kini Disya sedang bergulung-gulung di atas kasurnya, memikirkan sesuatu, memikirkan acara pernikahannya nanti, mampukah Rafa mengucapkan ijab kabul dengan lancar??, Disya pun masih memikirkan itu.


Kurang Empat hari lagi tepatnya, dan itu semakin cepat saja, Waktu terasa begitu cepat menurut Disya, Dadanya juga sudah dah Dig dug, empat hari lagi ia akan resmi menjadi istri dari Rafardhan Syahreza Wiratama, orang yang sangat ia cintai sejak dulu.


Di lain tempat, Nisa dan Suaminya Denis kini masih sibuk degan urusan pernikahan putrinya, mereka masih sering mengubungi Alisa jika ada sesuatu yang membuat mereka harus meminta pendapat kepada orang lain, Nisa ingin Alisa juga tahu Semuanya, tak ada yang ditutupi untuk masalah persiapan pernikahan putra dan putri Mereka.


Panggilan pun sudah tersambung, dan kini Nisa sedang berbicara dengan Alisa, urusan persiapan masih belum begitu sempurna,


"Bagaimana nis, apa yang perlu aku bantu, aku siap, kamu tidak perlu sungkan", Ucap Alisa, Nisa pun tersenyum, memang dari dulu Alisa sering membantu dirinya.


"Semuanya sudah hampir selesai mbak, tinggal sedikit lagi, dan ada sedikit masalah, tapi sepertinya aku bisa menyelesaikan sendiri", ucap Nisa.


"Jika ada sesuatu hubungi aku, ada masalah apa sebenarnya??", tanya Alisa.


Nisa pun membuang nafasnya kasar, "Begini mbak, aku baru dapat kabar tadi, gaun yang akan dipakai Disya belum juga jadi, aku takut jika gaun itu tidak selesai dalam tiga hati kedepan", ucap Nisa.


"Ya Allah, bagaimana bisa Nis, Apa Disya sudah tahu??" Tanya Alisa,


"Aku sengaja tidak memberitahu Disya mbak, aku takut Disya kecewa, tapi aku sudah mengatakan jika gaun itu harus selesai tiga hari kedepan, Jiak tidak, aku sendiri belum tahu harus bagaimana, Disya sangat menginginkan gaun itu", ucap Nisa.


"Baiklah Nis, jika ada apa-apa lagi cepat hubungi aku, aku akan mengusahakan semuanya agar semua berjalan dengan lancar", Nisa pun lega, dengan berbagi masalahnya itu bisa sedikit mengurangi beban yang ia pikul saat ini.


Alisa terlihat juga sedang memikirkan sesuatu, Fandi yang melihatnya pun ikut mengerutkan keningnya, ia kemudian menghampiri istrinya, ingin tahu apa yang sedang terjadi, mengapa setelah berbicara dengan Nisa raut wajah istrinya seketika berubah.


"Mah, kami kenapa??", tanya Fandi, ia dapat melihat perubahan wajah istrinya saat ini.


"Ada sedikit masalah pah, Gaun yang akan dikenakan Disya belum juga selesai", ucap Alisa.


Fandi pun dapat mengerti, istrinya begitu sangat menyayangi Disya, Disya sudah di anggap seperti putri nya sendiri jauh sebelum Disya akan menjadi calon menantunya.


"Mama gak perlu khawatir ma, yakin semuanya akan selesai dalam waktu yang sudah ditentukan, Mama optimis aja", Alisa kemudian mengangguk, ia sedikit lebih tenang sekarang, dan Alisa juga berdoa semoga semuanya akan lancar tanpa ada suatu halangan apapun.


**Sebenarnya part ini mau aku up tadi malam, tapi berhubung aku nya ketiduran jadi pagi ini aku sempetin up.


Selamat membaca ya

__ADS_1


Semoga kalian suka, like nya jangan lupa, dan satu lagi vote aku dong 😘😘😘**


__ADS_2