
Akhirnya Ghina bisa merasakan empuknya kasur hotel yang saat ini sudah ia tempati, Ghina kini mulai merenggangkan tubuhnya karena badannya sudah sangat pegal-pegal karena perjalanan dari Jakarta ke Surabaya.
Ghina kemudian bangun dari tidurnya, ia kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi hotel, ia ingin mandi terlebih dahulu karena badannya pun sudah sangat lengket sekali.
Berbeda dengan Rafa, pemuda ini bukannya membersihkan dirinya tapi kini ia sedang sibuk dengan ponselnya, ia lagi-lagi masih mendengarkan suara dari Disya, baru saja bertemu tapi Rafa sudah ingin mendengar suara kekasihnya itu, tenang bang, sebentar lagi halal kokðŸ¤ðŸ¤.
Setelah Ghina selesai mandi, ia sedari masih belum.menyentuh ponselnya sama sekali, ia lupa, ia masih mengabari Zian sama sekali, meskipun mereka masih belum punya status, tapi Zian sudah memberitahu Ghina agar mengabarinya jika sudah Samapi di Surabaya.
Benar saja, sudah banyak panggilan tak terjawab dari Zian, dan bahkan ada lebih dari 10 chat yang Zian kirimkan untuk Ghina, Ghina pun menutup mulutnya, ia benar-benar. tidak menyangka jika Zian akan menelfonnya sebanyak ini, dan Sekarang akhir Ghina membalas isi chat dari Zian, Ghina tidayn mau Zian merasa khawatir dengan dirinya yang belum sama sekali mengabari dirinya.
Alhamdulillah aku dan mommy sudah sampai di Surabaya, dan maaf baru bisa membalas chat kamu, tadi kami masih harus kerumah calon kakak ipar ku dulu.
Setelah menekan tombol send, Ghina pun meletakkan ponselnya kembali, Ghina sudah menganggap jika Zian mungkin sudah tidur, tapi siap sangka, ponsel Ghina kembali berbunyi, dan ternyata Zian membalas pesan yang baru saja ia kirimkan.
Aku lega, akhirnya kamu membalas chat ku, ya sudah selamat istirahat Ghin.
Ghina kemudian menerima isi balasan chat dari Zian, Ghina tiba-tiba tersenyum sendiri sambil membaca chat tersebut, hanya mengucapkan selamat istirahat saja sudah membuat Ghina tersenyum apalagi jika hal yang lainnya.
Keesokan paginya, Semuanya pun sudah siap, kini mereka semua pun segera menuju ke loby hotel untuk persiapan pergi menuju butik tempat Rafa dan Disya akan melakukan fitting baju pengantin mereka.
Sebelum itu Rafa sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Disya, mereka akan langsung bertemu di butik yang sudah di rekomendasikan oleh Mama Nisa.
Kini mereka semua berangkat ke butik, Rafa terlihat santai saja, bahkan yang saat ini heboh adalah adiknya Ghina.
"Nggak sabar deh lihat kak Rafa nikah, Kak, nanti bulan madunya ke Paris aja kak, kan enak bisa lihat menara Eiffel dengan jelas", ucap Ghina.
Rafa pun hanya menggelengkan kepalanya,
"Kamu kok ngomong bulan madya aja sih, kamu tuh masih kecil dek, belum saat nya", ucap Rafa sedikit meledek Ghina.
"Ih apaan, Ghina tuh udah besar kan mom, Ghina kan udah kerja dan bisa cari uang sendiri",
"Sudah, sudah, ini udah Deket, masa kalian mau kayak gini terus gak sama Ghani gak sama Rafa terus saja saling ejek, mommy jadi pusing nih", Ucap Alisa Berpura-pura kesal, Alisa sudah terbiasa mendengarkan hal seperti ini dari anak-anaknya, dan lebih sering lagi dengan Ghina dan Ghani, kadang Alisa bingung harus bagaimana saat Ghani sudah kesal kepada Ghina.
Tak lama setelah itu, mereka kini sudah sampai di depan butik yang sudah di beritahukan sebelum.nya oleh Disya, dan disana sudah terlihat Disya dan Mama Nisa yang sudah sampai terlebih dahulu.
Nisa menyambut Alisa dengan penuh rasa bahagia, Nisa tak menyangka jika hubungan mereka akan semakin erat dengan pernikahan antara putra dan putri mereka, dan Nisa pun tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat ini.
Mereka semua pun masuk kedalam, dan mereka semua pun disambut oleh para pegawai butik tersebut.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu??", tanya salah satu pegawai kepada Nisa dan Alisa.
Nisa dan Alisa pun saling melempar senyum kepada pegawai tersebut.
__ADS_1
"Saya ingin mencari kebaya untuk acara pernikahan putri kami mbak", Ucap Alisa kepada pegawai tersebut.
Pegawai tersebut kemudian mengangguk dan mengarahkan kedua ibu-ibu Tersebut kedalam lemari kaca yang didalamnya terdapat berbagai macam-macam kebaya dari berbagai model.
"Sya, kesini, Rafa juga ya", Nisa memanggil putrinya sekaligus Rafa, Nisa ingin Disya sendiri yang memilih kebaya mana yang ia sukai.
Disya dan Rafa pun mendekat, mereka kini mulai memilih kebaya yang ada di dalam lemari kaca Tersebut.
Disya kemudian menjatuhkan pilihannya terhadap kebaya berwarna putih, kebaya yang sangat indah menurut Disya, tidak terlalu rame dan tidak terlalu glamor.
"Kak, bagaimana, bagus atau tidak", Disya meminta pendapat kepada Rafa calon suaminya dan Rafa pun mengangguk menandakan ia juga menyukai pilihan dari Disya.
Sekarang giliran Rafa, Alisa kemudian memanggil pegawai butik itu lagi dan memintanya untuk mencarikan kemeja dan jas yang senada untuk kebaya yang akan dikenakan okeh Disya.
Mereka beralih menuju ke pakaian pria, Benar saja, pilihan yang diberikan oleh pegawai tersebut terlihat sangat bagus, saat Rafa menempelkan jas tersebut di badannya terlihat sangat pas sekali di badan atletis Rafa.
"Mbak, untuk jas warna lain, sekalian untuk resepsi nya ya??", ucap Alisa
Pegawai itu pun mengangguk mengerti dan membawakan berbagai warna jas untuk dipakai di acara resepsi pernikahan Rafa.
Rafa kemudian melirik Disya, Rafa ingin Disya saja yang memiilih warna nya, Rafa ingin Disya menentukan sendiri warna apa yang disukai oleh calon istrinya tersebut.
"Sya, kamu pilih aja warnanya, kalau kamu suka kakak juga Suka", Disya kemudian memilih jas berwarna navy, Dan nantinya warna itu juga yang akan disamakan dengan gaun resepsi pernikahannya.
Akhirnya urusan gaun pun sudah selesai, kini hanya tinggal undangan pernikahan mereka, dan lainnya sudah diurus sendiri oleh Nisa beberapa Minggu ini dan itu pun juga sudah selesai.
"Ya udah Mama pulang ya, kalian hati-hati dijalan, dan kalau semuanya sudah selesai kalian harus cepat pulang jangan kemana-mana",
Mereka berdua akhirnya meninggalkan kedua orang tua mereka dan melaju menuju ke percetakan undangan untuk memilih model seperti apa undangan yang diinginkan oleh mereka.
Dan kini para orang tua dan Ghina pun juga pergi meninggalkan butik dan segera pulang menuju ke rumah keluarga Denis.
Nisa sudah memberitahu pembantunya agar memasak makan siang lebih banyak karena keluarga Fandi akan makan siang bersama juga nantinya, tidak tahu kalau Disya dan Rafa, mungkin mereka berdua akan makan siang diluar.
Satu jam kemudian Rafa dan Disya sudah selesai dengan urusan undangan pernikahan mereka, tinggal selanjutnya adalah menunggu semuanya jadi.
Rafa dan Disya kini menuju ke salah satu resto yang sudah direkomendasikan oleh Disya, resto yang menurut Disya sangat pas di lidah nya.
Mereka makan siang berdua untuk kedua kalinya, dan untuk seterusnya mungkin mereka akan mengulang hal seperti ini saat sudah sah menjadi pasangan Suami dan istri.
Disya sangat bahagia sekali, terlihat dari wajahnya yang sedari tadi menunjukkan senyuman tiada henti, Rafa pun juga dapat melihat perubahan wajah calon istrinya tersebut.
"Sya, apa kamu bahagia??" Tanya Rafa kepada Disya.
__ADS_1
"Iya kak, aku sangat bahagia sekali, akhirnya kita akan menikah", ujar Disya.
"Iya, kakak tidak menyangka, akhirnya penantian kakak selama ini tidak sia-sia", Ucap Rafa.
"Penantian??, maksud kakak apa??", tanya Disya tidak mengerti.
"Iya sya, selama ini kakak menanti hal seperti ini, kita akhirnya akan menikah, dan akhirnya kamu benar-benar jadi jodoh kakak", ucap Rafa kepada Disya.
"Iya kak, aku juga tidak menyangka, rasanya ini seperti mimpi, akhirnya orang yang selama ini aku cintai kini akan menjadi suami ku, orang yang akan berada disamping ku sampai nanti",
"Sampai kita tua ya sayang", ucap Rafa dan diangguki oleh Disya.
Ditempat lain, Setelah makan siang dan setelah menunaikan sholat dhuhur nya, Ghina kini tengah berada di taman rumah Disya, Ghina sengaja keluar karena ia mendapat chat dari Zian.
Ghina sampai sekarang pun belum mendiskusikan ini dengan kedua orangtuanya maupun dengan kakak nya Rafa, dan nanti malam Ghina berniat untuk membicarakan hal ini, meminta pendapat kepada orangtuanya dan kakaknya.
Tak lama setelah itu, terlihat mobil yang masuk pekarangan rumah Disya, dan Ghina yakin itu adalah kakaknya.
Ghina pun berdiri, memastikan jika itu benar kakak nya dan calon kaka iparnya.
Disya melihat Ghina yang duduk di bangku taman kecil yang ada di depan rumahnya, Setelah itu Disya mengajak Rafa untuk menghampiri Ghina yang tengah duduk sendirian dan melamun.
"Dek, kamu ngapain disini sendirian??", Tanya Rafa.
Ghina kemudian mendongak dan melihat kakaknya yang sudah ada di hadapannya.
" Gak ngapa-ngapain kak, oh ya kak, boleh bicara sebentar??", tanya Ghina dan langsung diangguki okeh Rafa.
"Kak Disya disini aja, jangan pergi", ucap Ghina saat Disya akan pergi meninggalkan kakak dan adik itu berbicara, Disya tak ingin mencampuri dan tak ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh keduanya.
Disya pun mengangguk dan kini duduk tepat disamping Ghina, dan Ghina kini berada tepat ditengah, tepat diantara Rafa dan Disya.
"Kamu ingi ngomong apa, gak biasanya kayak gini, pasti ada sesuatu nih", tebak Rafa yang langsung diangguki oleh Ghina.
"Ini soal Zian kak, Zian udah nyatain perasaan nya sama aku", ucap Ghina.
Rafa pun tersenyum, benar dugaan Rafa selama ini, dan itu tidak meleset sama sekali.
"Terus??", Tanya Rafa lagi.
"Menurut kakak gimana, aku terima atau aku tolak, aku belum bisa menjawab itu sampai sekarang", Ujar Ghina.
"Itu terserah kamu, yang menjalani semuanya adalah kamu, kalau kamu mantap dan yakin pada Zian tidak ada salahnya dek, lagi pula Zian itu baik, kakak tahu itu, Zian itu sungguh-sungguh sama kamu, kakak yakin Zian laki-laki yang baik", ucap Rafa kepada Ghina.
__ADS_1
Ghina pun terdiam ia mulai mencerna kata-kata dari kakaknya.
"Ikuti kata hatimu, jangan sampai keputusan mu buat kamu menyesal dek", ucap Rafa yang langsung diangguki oleh Ghina.