
Fandi dan Alisa harus merelakan Rafa dan Disya pindah dari rumah nya.
Dan disini tempatnya, Rumah baru Rafa dan Disya.
Setelah tadi pagi melakukan perjalanan. Siang ini Rafa, Disya dan Fasya Sudah sampai di rumah baru mereka.
Rumah baru dengan kehidupan baru juga.
Jauh dari orang tua dan saudara, dan mereka akan hidup mandiri setelah ini.
Semua barang mereka sudah sampai terlebih dahulu, satu buah mobil box Sudah mengangkut barang-barang mereka yang sengaja memang mereka bawa semua. bukan baju tapi lebih tepatnya barang-barang Fasya seperti tempat ranjang Fasya yang tidak mungkin muat untuk dimasukkan ke dalam mobil Rafa. awalnya Rafa tidak mau membawa tempat tidur putrinya itu tapi Disya merengek untuk membawa tempat tidur itu karena Fasya sangat aman tempat itu.
Jadi Rafa menurut saja.
saat ini Fasya sedang tertidur dengan pulasnya mungkin bayi itu sudah sangat lelah dengan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh.
Rafa sengaja pindah keluar kota agar bisa mudah untuk mengelola perusahaan milik Mamanya yang saat ini sudah diberikan kepadanya.
Bachtiar group cabang saat ini sudah di kelola oleh Rafa.
dan untuk Wiratama Corp, nantinya Rafa akan menghandle dari jauh.
sebenarnya Rafa tidak mau jika harus memegang dua perusahaan, tapi adiknya Ghani sudah tidak mau untuk mengelola sebuah perusahaan. Ghani sudah memantapkan dirinya untuk mengabdi menjadi seorang dokter di rumah sakit.
"Sayang, Kita Makan siang yuk. Udah aku siapin", Disya memanggil Rafa dengan panggilan yang membuat Rafa tersenyum senang.
Panggilan yang sangat Rafa sukai, karena dengan panggilan sayang membuat Rafa merasa jika ia benar-benar sangat di cintai dan disayangi oleh Disya.
"Sebentar sayang. Aku cuci tangan dulu", Rafa segera menyudahi pekerjaannya.
Memindahkan barang-barang yang harusnya berada di tempat yang sudah di sediakan disana.
Pasangan suami istri itu pun duduk berdua di meja makan yang tak terlalu besar.
Memang Rafa sengaja memilih meja yang tak terlalu besar karena akan memakan tempat jika memilih barang-barang yang terlalu besar.
Rafa juga ingin putrinya nantinya akan leluasa di dalam rumah tersebut, apalagi melihat pertumbuhan Fasya saat ini. putrinya itu akan segera bisa berjalan dan Rafa tidak mau jika rumahnya itu terlalu banyak barang-barang yang terlalu besar hingga membuat Fasya akan susah dan tidak leluasa disana.
__ADS_1
"Besok sudah akan ada bantu kamu sayang, jadi kamu tidak perlu susah-susah untuk mengurus rumah ini. Kamu cukup mengurus Fasya sama Papa nya ini",
Disya pun tersenyum malu. untuk mengurus Fasya itu bukan hal yang susah untuk Disya.
Tapi untuk mengurus papanya memang harus lebih ekstra sabar melebihi putrinya Fasya.
"Memangnya Papanya Fasya mau diurus gimana sih kalau udah besar", Ujar Disya sambil terus tersenyum ke arah sang suami.
"Papanya juga perlu diurus sayang, dari atas sampai bawah pun harus diurus. apalagi dia..., " tunjuk tangan Rafa ke arah yang juniornya. Membuat Disya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Disya pun memilih diam. memilih untuk meneruskan makan siangnya yang hampir habis.
Matanya juga terfokus pada piring yang ada di depannya.
Tak mau melihat suaminya karena pastinya saat ini Rafa sudah memasang senyuman mesumnya.
Setelah makan siang selesai disya pun segera membereskan sisa-sisa piring kotor tadi.
dan Rafa sudah kembali ke kamarnya karena badannya juga sudah lengket dan dia juga harus segera melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Niatnya untuk melihat putrinya. Tapi apa yang Disya lihat. Rafa saat ini sedang tidur di samping Fasya.
Mungkin Rafa sudah sangat lelah membuat Disya pun menghampiri kedua orang tersayang nya itu.
Disya ikut berbaring disana. Perjalanan tadi pagi juga cukup menguras tenaganya, dan tak sampai lima menit Disya juga ikut terbawa mimpi bersama suami dan anaknya.
***
Pukul 3 sore, Ocehan dari bayi itu pun terdengar.
Fasya sudah bagun terlebih dahulu.
Mulai memukuli lengan papanya yang tak kunjung bangun.
Rafa merasakan pergerakan tangan mungil di sekitar wajahnya.
Fasya saat ini sudah memukul wajah sang papa sehingga membuat mata Rafa terbuka.
__ADS_1
Rafa tersenyum saat putrinya duduk sambil membangunkan dirinya, dan ada yang membuat Rafa tampak bahagia saat ini, Wanita cantik yang ada disampingnya juga ikut berbaring di dekatnya. membuat tingkat kebahagiaan Rafa serasa sempurna.
"Sayang nya Papa udah bangun ternyata ya, sini sama Papa", Rafa kemudian mengangkat tubuh kecil itu dan ia dudukkan di pahanya.
"Jangan ramai ya sayang, Nanti Mama kamu bangun", Fasya hanya tersenyum saja, tangannya mulai memainkan jempol Rafa dan di masukkan kedalam mulut bayi itu.
"Fasya lapar ya. Mau susu??", Bayi itu kembali tersenyum dan tatapan nya kini beralih ke arah Mamanya yang masih terlelap.
Mau tak mau saat ini Rafa harus membangunkan Disya, Putrinya itu itu tak mau bersabar lagi dan saat ini dia sedang haus dan ingin asi ibunya.
Rafa kemudian mulai menggoyangkan tubuh Disya dengan pelan agar Disya tak sampai kaget dengan apa yang ia lakukan.
"Sayang Bangun. Fasya haus minta asi", Dengan satu goyangan di lengan Disya pun akhirnya terbangun. Bukan hal sulit membangunkan istrinya. Cukup satu kali saja pasti sudah bangun. Beda lagi dengan dirinya yang hingga sampai saat ini jika di bangunkan akan sangat susah.
Disya bangun dengan segera. Melihat Putri nya yang saat ini sudah bangun membuat Disya seakan kehilangan rasa kantuknya.
"Ada apa sayang, Haus ya??", Tanya Disya sambil meraih Fasya dari tangan Rafa.
Disya pun mulai membuka kancing bajunya, Mengeluarkan aset berharga nya yang saat ini sudah berpindah kepemilikan.
Hanya Fasya seorang, bukan Rafa suaminya.
Fasya benar-benar sangat haus, Sejak datang tadi Fasya sama sekali belum meminum asi Disya sama sekali.
Rafa melihat putrinya meminum asi milik Disya dengan sangat cepat, seakan takut jika sang papa akan mengambil kepunyaannya.
"Fasya sayang, kalau minum hati-hati ya. Papa gak minta kok. Papa mintanya nanti ke Mama. Pas kamu udah gak minum asi lagi", Satu pukulan pun mendarat di lengan Rafa yang terbuka itu.
Rafa tidur hanya menggunakan celana pendek tanpa baju.
"Aw... Sakit sayang", Rafa mengaduh kesakitan karena satu pukulan keras dari istrinya.
"Hukuman buat kamu", Jawab Disya yang tak menggubris jika suaminya saat ini benar-benar kesakitan.
"Ya udah minta maaf, Tapi nanti malam boleh kan??, Kan rumah baru sayang, Kita awali lagi malam ini", sepertinya Disya sudah tidak bisa menolak untuk urusan itu.
Bagaimana Disya bisa selamat nanti malam, Apalagi hanya ada mereka bertiga, dan jika Fasya tidur maka akan tinggal Rafa dan Disya saja.
__ADS_1