
Pagi ini Disya sudah siap untuk pergi ke rumah mertuanya, dan Rafa pun mengantarkan istrinya terlebih dahulu sebelum ke kantor.
Didalam rumah besar itu, hanya Ghina dan Alisa yang tak pergi ke kantor, Fandi dan Rafa tetap pergi ke kantor dan nantinya akan pulang lebih cepat dari biasanya, suasana di rumah tersebut terlihat tidak begitu sibuk, Disya yang masuk sendirian saat ini tengah melihat Mama mertuanya dan Ghina yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Assalamualaikum" Ucap Disya yang berjalan menghampiri Alisa dan Ghina.
Wajah Disya terlihat tak seperti biasanya, ia kelihatan pucat, tapi Disya sama sekali tidak menyadarinya, memang ia merasakan sedikit pusing tapi itu tidak di permasalahan oleh Disya.
"Waalaikum salam, Sayang kamu datang sama siapa??" Tanya Alisa yang tak melihat putranya sama sekali, hanya Disya sendiri yang masuk kedalam rumah nya.
Disya segera mendekat dan mencium tangan mamanya dan segera memeluknya, dan ia juga terlihat juga memeluk Ghina.
"Disya datang sama kak Rafa Ma, tapi kak Rafa nya sudah berangkat ke kantor" Ujar Disya.
"Hm.. ya sudah, tapi kaku tidak apa-apa kan sekarang, kamu kok kayak pucat banget pagi ini??" Tanya Alisa memastikan, ia tak mau jika Disya sampai sakit karena memaksakan datang kesini memenuhi permintaannya.
"Disya nggak apa-apa kok ma, Disya baik-baik aja" Ucap Disya meyakinkan.
"Iya Mbak, Mbak kelihatan pucat banget, kalau mbak lagi gak enak badan mbak istirahat saja dikamar Mbak" Ucap Ghina yang juga khawatir dengan kondisi kakak iparnya.
"Mbak gak apa-apa kok, makasih sudah menghawatirkan mbak ya" Disya kemudian berjalan menuju ke kamarnya, ia ingin meletakkan tas dan barang-barang yang ia bawa dari apartemen nya.
__ADS_1
Setelah itu Disya pun segera turun dan ia ikut bergabung bersama mama dan Ghina yang tengah duduk di sofa tadi.
Semua pekerjaan sudah di handel oleh bibi, dan Alisa juga sudah mengintruksikan apa saja yang akan di sajikan nanti malam dan bibi pun mulai bersiap mulai dari sekarang, dan untuk urusan kue, Alisa sudah memesan kepada toko langganan nya, jadi mereka tak perlu repot-repot untuk membuat kue atau yang sejenisnya.
Tak lama setelah itu terlihat Ghani yang baru saja pulang dari rumah sakit, Ghani ada jam jaga malam di rumah sakit, jadi baru pagi ini ia bisa pulang dan beristirahat dan untuk nanti sore Ghani sengaja tidak mengambil jam malam tersebut karena tak mau mengecewakan Ghina karena tidak ikut menghadiri acara pertunangan nya.
Ghani langsung saja masuk setelah mengucapkan salam, ia tidak menemui Mommy nya, ia sadar ia baru saja dari rumah sakit, jadi sebisa mungkin ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan nantinya ia akan menemui Mommy nya jika tidak ketiduran.
Disya saat ini berjalan menuju ke dapur, tangannya sejujurnya sudah gatal jika tidak menyentuh peralatan dapur, tapi apalah daya Mama mertuanya sama sekali tidak mengizinkan Disya untuk membantu bibi, jadi Disya putuskan untuk melihat saja tanpa membantu.
Begitu banyak makanan yang akan dibuat, sampai di dapur itu sudah tersebar bau bumbu yang nantinya akan di buat untuk sajian nanti malam, Disya dapat mencium aroma bakso, dan pada saat itu juga perutnya terasa mual, ia kemudian berjalan cepat untuk ke kamar mandi, perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, ia muntah-muntah begitu hebat sampai ia begitu lemas setelah nya, Alisa yang mengetahui Disya sedang muntah-muntah akhirnya berlari untuk mengecek keadaan menantunya tersebut.
Alisa kemudian keluar, ia segera meraih ponselnya, ia ingin memberitahukan keadaan Disya kepada Rafa.
Panggilan pun tersambung, dan terdengar suara Rafa dari balik telfon Tersebut.
"Halo, Assalamualaikum Mom, ada apa??" Tanya Rafa, saat ini ia tengah berada di ruangan rapat dan sedang memimpin rapat bulanan di kantornya, ia sudah izin terlebih dahulu kepada para bawahannya untuk menerima telfon, meskipun ia adalah atasan sekaligus CEO di situ, tapi tak mengurangi rasa hormat Rafa kepada semua karyawan nya.
"Fa, Disya sakit, dia muntah-muntah, wajahnya pucat, kamu pulang sekarang ya, Mommy khawatir dengan kondisi Disya" Rafa pun segera melangkah kan kakinya menuju ke luar gedung, dan sebelum itu ia menelfon sekertaris nya dulu agar menyudahi rapat yang sempat ia tinggalkan, ia harus segera pulang dan melihat kondisi istrinya,
entah apa yang dirasakan istrinya tadi pagi, tapi sungguh Rafa tak mengetahui jika istrinya sedang sakit karena Disya tak pernah sekalipun mengeluh kepadanya.
__ADS_1
Rafa melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera mengetahui bagaimana kondisi istrinya, untung saja jalanan lancar sekali, jadi Rafa dengan mudah menambah kecepatan dan tak terjebak macet sekalipun.
Rafa tuba di rumah nya, ia segera keluar dari mobil dan berlari menuju ke dalam rumahnya, Ia membuka pintu rumahnya dengan kasar, dan ia segera berlari ke arah tangga untuk menemui istrinya.
Rafa membuka pintu kamarnya, terkuat Disya yang sedang tidur dengan wajah pucat, Rafa pun mendekati istrinya, pagi tadi istrinya tidak apa-apa, tapi kenapa saat ini jadi seperti ini, wajahnya sangat pucat sekali.
"Rafa mendekat dan kemudian duduk di sisi ranjang, ia mengelus pucuk kepala istrinya, dan sentuhan nya saat ini membangun kan Disya dari tidurnya.
"Kak??" Ucap Disya sedikit lirih, kepalanya sangat pusing sekali, untuk mengangkat kepala saja ia tak mempunyai tenaga lebih.
"Iya sayang, kamu jangan banyak bergerak, apa yang kamu rasakan saat ini??" Tanya Rafa.
"Aku pusing kak, kepalaku rasanya berputar-putar, dan perutku rasanya mual" Ucap Disya.
"Kita ke dokter ya sayang, kakak akan bawa kamu ke rumah sakit" Ucap Rafa, dan Disya pun seketika menggeleng,
"Aku nggak mau ke dokter kak, aku istirahat aja" Ucap Disya menolak, dan tak lama setelah itu terdengar suara pintu diketuk dan terlihat Alisa lah yang datang dengan membawa satu mangkuk bubur dan teh hangat untuk Disya.
"Kamu makan dulu sayang, kamu pasti lapar lagi kan??" Tanya Alisa,
"Aku gak lapar ma, perutku mual, aku gak nafsu sama makanan itu" Ucap Disya, Alisa saat ini mulai menyadari ada keanehan dari menantunya tersebut, dan yang dipikirkan Alisa saat ini adalah Disya yang sedang hamil.
__ADS_1