
"Enak sayang. Lebih keras lagi dong",
Rafa begitu ke enakan saat kepalanya di pijit oleh Istrinya. Kepalanya yang semula sedikit pusing kini berubah menjadi sedia kala.
Enak dan rasanya ringan sekali.
"Hm.. dari dulu kemana aja. Dulu aja bilang kalau tanganku gak enak kalau mijit. eh sekarang ketagihan kan..??", goda Disya dan Rafa masih dengan posisi yang sama matanya terpejam sambil menikmati pijitan dari Sang istri.
"Ya nggak gitu juga sayang. Gitu aja di bahas. Iya tangan kamu memang jago kalau mijit aku", akhirnya Rafa mengakui kelihaian istrinya dalam memijit dirinya.
Mereka pun menyudahi perdebatan aneh mereka. hanya masalah pijatan mereka sedari tadi hanya berdebat saja. tapi tangan Disya masih dengan setia memijit kepala suaminya.
Disya kemudian teringat dengan anak Bu asih tadi. rasanya tadi Disya ingin diam. tapi kenapa rasanya saat ini Disya ingin menceritakan tentang anak dari art nya itu.
Disya pun sedikit terbengong. dan Rafa kemudian mendongak ke atas melihat istrinya yang hanya diam saja tanpa melakukan apapun.
"Hey.. sayang..", Tangan Disya yang berhenti memijat itu pun seketika di goyang kan dan itu membuat Disya tersadar dari lamunannya.
"I-Iya, Ada apa??", Tanya Disya yang kaget. saat ini Suami nya Tengah menatap keheranan dengan tingkah Disya.
"Kenapa??. Ada masalah??",
"Aku tahu pasti ada sesuatu" Ujar Rafa, dan Disya pun menggeleng tak mengaku.
"Ya sudah kalau nggak mau cerita", Rafa pun sedikit menghindar. berakting marah seperti nya bisa membuat istrinya itu membuka suara nya
"Iya. Aku mau cerita", Rafa pun tersenyum puas karena rencananya berhasil dan membuat istrinya Jujur.
"Tadi siang. Ada anaknya Bu Asih datang. Aku juga kurang tahu. tapi sepertinya Bu asih marah saat tau anaknya datang", Ujar Disya.
Rafa pun mengerutkan keningnya. Biasanya seorang ibu jika anaknya datang pasti akan sangat senang. tapi tidak dengan Bu Asih. Bu asih sangat tidak suka.
"Terus??",
"Ya aku suruh masuk. Kan kasihan juga sama Riska. namanya itu Riska yang. Dia masih SMA", Seru Disya.
"Oh...", Rafa hanya merespon begitu saja tak mood juga untuk membahas anak orang lain. bukan maksud Rafa seperti itu. tapi Rafa belum tahu bagaimana anak dari Bu asih. jadi Rafa tak mau banyak berkomentar.
__ADS_1
"Sayang. Pindah sini dong", Rafa kembali menunjuk ke arah dimana Disya harus memijat. Tepatnya di pundaknya. Bagaimana tidak badannya juga terasa pegal sekali.
Disya perpindah mengikuti arahan dari sang suami yang saat ini tengah memejamkan matanya karena ke enakan saat di pijat.
"Lebih enak kan..??", seru Disya. Lama-lama perbincangan mereka akan menjurus ke hal aneh. Tak bisa di pungkiri sejak pindah di rumah ini Rafa dan Disya masih belum sempat untuk melepas hasrat mereka. tak tau nanti malam. Sejauh ini yang Rafa rasakan badannya sangat sakit semua.
"Iya sayang ku. Kamu selalu perfek kalau lagi mijitin aku. Enak banget", Ke lebai an Rafa akhir nya keluar malam ini.
"Hm.. Ngerayu, Biar apa sih", seru Disya lagi.
"Ya kak gak salah muji istri sendiri. Iya kan??", Disya pun tersenyum mendengar hal itu.
"Makasih ya. Kamu memang selalu bisa membuat hatiku senang", Ujar Disya.
"Tapi. Semua itu nggak ada yang gratis ya. Aku mau jalan-jalan", Rengek Disya.
"Mau lihat kota ini. kan kita belum sempat keluar rumah selama pindah", Ujar Disya lagi
"Iya. Malam Minggu ya. hm.. atau hari minggunya. Gimana??", Tanya Rafa kepada istrinya.
"Hm... Boleh deh. Kita piknik",
"Nggak janji kalau itu", Disya pun sedikit cemberut.
"Kenapa??", Disya pun berpindah tempat duduk di samping suaminya kali ini. dan menyudahi sesi pijat memijat.
"Kan aku belum tahu betul kota ini. Takut nyasar", Jawab Rafa.
Rafa kemudian merangkul istrinya dari belakang. Dan meletakkan dagunya di atas bahu istrinya.
"Piknik lain kali aja ya. Kita muter-muter aja dulu. Setelah kita tahu dimana tempatnya. janji setelah itu kita piknik",
Akhirnya Disya pun mengalah, Dan mengangguk.
Lagi pula benar juga apa yang dikatakan oleh Rafa suaminya. Jika mereka nyasar dan nggak tahu tempatnya bisa-bisa rencana piknik akan gagal.
"Tapi kan ada GPS??. kan bisa juga cari lewat GPS", Seru Disya lagi.
__ADS_1
"Tapi nggak Minggu ini ya. Minggu depan. Acara kita tetap muter-muter aja hafalin jalan",
"Iya sayang", Disya kemudian beralih. Saat ini dirinya lah yang bersandar di badan suaminya. Memang sudah beberapa hari ini mereka tak seromantis sebelumnya. dulu mereka hanya bisa romantis di kamar. tapi saat ini mereka sudah leluasa karena di rumah mereka hanya ada mereka bertiga. Dan Fasya pun juga sudah tidur.
"Ngantuk", Tiba-tiba Disya menguap. Dan matanya juga sudah ingin terpejam.
"Naik aja dulu. Aku masih mau ke ruang kerja aku", ujar Rafa.
"Jangan lama-lama ya", Mereka berdua kemudian naik ke lantai atas. Disya ke kamar mereka dan Rafa ke ruangan sebelah mereka. dimana letak ruangan kerja Rafa yang bersebelahan dengan.kamar mereka. karena alasan Rafa jika ia sudah mengantuk Rafa tak perlu jauh-jauh untuk menuju ke kamarnya.
"Iya. Tunggu aku, Malam ini aku mau kamu", Mata Rafa pun sedikit berkedip membuat Disya lagi-lagi tersenyum ke arah suaminya.
"Iya. Janji nggak tidur dulu. Tapi bener ya jangan lama-lama", Ujar Disya lagi.
"Iya", Rafa kemudian masuk kedalam ruangan kerjanya dan Rafa juga.
Rafa kembali membuka tas kerjanya dan membuka laptopnya.
Mengecek email yang baru saja masuk. dari klien dan dari sekertaris nya.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja. Dan setelah itu Rafa akan pergi ke kamarnya.
Didalam kamar. Disya pun melupakan rasa kantuknya.
Yang ia lakukan saat ini mempersiapkan dirinya. Mencari sebuah pakai haram yang tak lupa Disya bawa dari rumah mertuanya. yang sengaja ia selipkan di dalam koper bagian bawah agar tak tahu mama mertuanya, Bisa malu.
Disya terlihat berdiri di depan cermin kamarnya. melihat pantulan dirinya yang sedang membawa sebuah baju haram berwarna hitam dan merah maroon.
Warna yang sangat tajam dan itu membuat kulit putih Disya semakin ter ekspos dengan indah.
"Yang mana ya??", Gumam Disya. Rasanya Disya bingung harus menggunakan yang mana. semuanya bagus dan juga terlihat sangat **** sekali. bisa-bisa Disya malam ini Disya tak akan tidur. mengingat bagaimana perlakuan suaminya sebelumnya. Tak membuat Disya tidur dengan nyenyak meskipun sudah memiliki anak.
Disya memilih warna merah maroon. sepertinya sangat cocok, dan Disya pun tersenyum dengan melihat pantulan dirinya di cermin.
Disya segera berganti pakaian. Tak lupa cuci muka. Dan pakai skincare dulu. Tak mau wajahnya terlihat kusam. Disya sangat rutin sekali. Hanya saja saat mengalami ngantuk berat Disya akan lupa dengan benda yang terjejer rapi di meja towaletnya.
Bagian akhir Disya kemudian menyemprotkan sedikit parfum di tubuhnya. Suaminya sangat senang sekali Jika Disya menggunakan parfum yang pernah di belikan Rafa waktu itu.
__ADS_1
Setelah selesai barulah Disya berjalan ke arah ranjangnya. Menunggu suaminya yang janji akan datang dalam waktu setengah jam.