Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 50


__ADS_3

Hari-hari Rafa dan Disya terasa sangat menyenangkan, bahkan mereka sangat menikmati liburan mereka kali ini, menikmati udara pantai yang tak bisa ia dapati setiap hari.


"Apa kamu suka sayang", sudah berkali-kali Rafa menanyakan hal itu kepada istrinya, Disya pun tersenyum senang, Ia bahagia, bahagia sekali, sudah jelas tercetak di wajah cantiknya jika ia sangat bahagia sekali bisa berbulan madu dengan Suaminya.


"Aku sangat bahagia sekali kak, bahagia, dan rasa itu tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata lagi, ini begitu indah, apalagi aku berada bersama denganmu", Ucapan Disya mampu membuat Rafa seketika memeluk tubuh istrinya, Dan ia tak segan-segan Langsung mencium pipi istrinya.


Liburan mereka memang tinggal hari ini saja, sudah satu Minggu mereka menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan, berbelanja dan yang paling Rafa sukai jika dirinya dan Disya berada di dalam kamar, tujuannya memang itu, ingin berduaan dengan Disya tanpa gangguan siapapun.


Rafa sangat berharap, benih-benih yang ia tanam di dalam rahim Disya secepatnya bisa tumbuh, benih yang nantinya akan membuat Keluarga kecil mereka semakin lengkap, tapi Rafa tidak terlalu memaksa, semuanya ia serahkan kepada Allah SWT tentunya, hanyalah Allah SWT yang mampu mewujudkan keinginannya, dan Rafa dan Disya hanya berusaha saja sekuat tenaga mereka.


Hari sudah semakin Sore, mereka sudah sampai di dalam kamar hotelnya, tapi Disya merasa ada yang aneh, ada yang tidak enak di dalam badannya, tepatnya dia area bawahnya, Rasanya sangat penasaran, ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk memastikan semuanya.


Disya sudah menduga, pasti tamu bulanan nya datang, Disya segera membuka pintu kamar mandinya, mencari sosok Suaminya yang kini sedang duduk di sofa sambil melihat gawai yang ada di tangannya.


"Kak??", Disya memelankan suaranya, sejujurnya ia malu untuk mengatakan ini, tapi mau bagaimana lagi, ia tak punya stok pembalut di dalam tasnya.


Rafa kemudian menoleh, mencari suara istrinya yang kini tengah memanggilnya, dan benar saja, Disya saat ini tengah menampakkan kepalanya saja.


"Ada apa sayang??", Rafa semakin mendekat, dan Disya pun mencoba menghentikannya.


"Stop kak, disitu aja, jangan masuk", Rafa seketika berhenti, menuruti apa yang di katakan oleh istrinya.


"Kamu kenapa??, Kok aneh gini??", Rafa merasa ada yang aneh dengan istrinya, ada apa dengan istrinya saat ini, ia terlihat menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


"Boleh minta tolong kak??", Tanya Disya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Iya sayang, apa??", Semakin penasaran Rafa terhadap istrinya, apa yang sebenarnya terjadi, tak biasanya selama beberapa Minggu ini hidup bersamanya, baru kali ini Disya bersikap seperti itu.


"Kak, boleh minta tolong belikan aku pembalut, Aku lagi datang bulan", Rafa seketika memelototkan matanya, Mendengar itu saja ia merasa aneh, apalagi membelinya.


"Kamu yakin menyuruh kakak yang beli, kakak kan gak pernah beli kayak gituan sayang", Rafa berharap istrinya mengurungkan niatnya, bagaimana caranya ia beli, bentuknya saja ia tidak tahu.


"Iya kak, mana mungkin aku beli sendiri, Kak, ayolah, tolong aku, tolong kakak belikan di supermarket ya, jika kakak tidak tahu boleh tanya sama mbak nya", Ada sedikit keraguan sebenarnya, tapi Rafa tidak mau membuat istrinya kecewa karena tidak mau membelikan barang seperti itu.


"Kita pesan online aja ya sayang??", Tawar Rafa, berharap istrinya mau dan ia juga berharap itu adalah solusi terbaik.


"Kelamaan kak, kan di seberang jalan ini ada supermarket, kakak aja yang beli lebih cepat kan, kalau online kelamaan kak", Memang merayu suaminya itu sangat sudah sekali menurut Disya, untuk membuat Rafa berkata iya dirinya harus menggunakan jurus yang paling ampuh.


Disya pun tersenyum lebar, Sebelum suami nya berangkat ia terlebih dahulu memberi semangat dan meyakinkan Suaminya jika ia tak perlu malu ataupun ragu.


Rafa akhirnya sampai di depan supermarket tersebut, memang benar, jika ia memesan online mungkin barang itu akan sampai satu jam Lagi.


Rafa kemudian masuk masuk kedalam supermarket tersebut, berjalan tanpa bertanya, ia malu jika harus bertanya, jadi sebisa mungkin Rafa akan mencari barang terlarang itu sendiri.


Banyak berbagai macam model, ada yang bersayap dan ada yang tidak, Rafa kemudian mengambil dan membacanya terlebih dahulu.


Rafa merasa ada yang aneh kenapa di tulisan bungkusnya bertuliskan Wing and non wing , Rafa pun sedikit mengerutkan keningnya, memangnya bisa terbang atau gimana kok modelnya ada sayap dan non sayap.

__ADS_1


Rafa pun tak mau ambil pusing, ia segera mengambil keduanya, memilih yang paling mahal, dan pastinya lebih lembut dan entah banyak lagi kelebihannya menurut Rafa, segera ia bawa ke meja kasir, berharap cepat selesai dan ia segera pulang.


Mbak-mbak kasir yang sedang bertugas pun menatap Rafa yang ganteng itu dengan penuh tanda tanya, untuk apa cowok ganteng seperti Rafa ini membeli dua jenis pembalut.


Rafa yang merasa diperhatikan pun segera cepat membayar barang yang ia beli, ia ingin segera pergi dan tak mau membeli barang aneh ini lagi.


Rafa segera kembali ke hotel, menyerahkan barang tersebut kepada istrinya, Disya yang mendapat barang tersebut merasa sangat senang, "Makasih ya kak", Setelah mengucapkan terimakasih Disya segera menutup pintu kamar mandinya kembali.


Disya kembali keluar dengan wajah sumringah nya, dia duduk tepat disamping Rafa dan segera memeluk lengan suaminya.


Rafa dan Disya saat ini secang berkemas, besok pagi mereka akan terbang kembali menuju ke Jakarta, mulai melakukan aktivitas keseharian mereka lagi, dan Disya akan kembali ke aktivitas seperti biasa nya menjadi ibu rumahtangga yang setiap harinya akan menunggu suami pulang kerja.


"Sudah semuanya sayang??", Disya kemudian menutup kedua koper yang akan ia bawa besok.


"Sudah kak", Rafa kemudian segera mengambil kedua koper tersebut dan segera menyisihkan koper tersebut di sudut kamar hotel mereka.


"Lebih baik kita tidur aja sayang, besok kita berangkat pagi", mereka berdua segera istirahat dan pagi-pagi sekali mereka akan bangun karena mereka harus segera ke bandara.


Tidak aktifitas apapun malam ini, karena keadaan istrinya, akhirnya Rafa menyerah sudah, ia harus menunggu satu Minggu kemudian agar bisa menyentuh istrinya kembali.


Kini mereka tidur dengan berpelukan, Merasakan kehangatan satu sama lain meskipun hanya sebatas berpelukan saja, dan itu sudah membuat mereka sangat bahagia sekali.


Disya berharap ia akan selalu seperti ini dengan Rafa, tak terpisahkan meskipun ada suatu masalah besar yang nantinya akan menimpa mereka.

__ADS_1


Disya selalu optimis, setiap masalah yang kelak akan mereka hadapi, akan mereka selesai kan secara bersama-sama.


__ADS_2