
Suasana di dalam gedung ini sudah sangat ramai, banyak tamu yang sudah berdatangan. Kini Disya sedang bersama kedua orangtuanya. Rafa, Disya, dan Mama dan Papanya kini berada dalam satu meja. Dan dapat mereka lihat diatas panggung Daddy dan Mommy nya dan juga Orang tua dari Zian yang sudah standby di sana.
"Ghina cantik ya Kak, apalagi Ghina saat ini sudah mau berhijab" Ungkap Disya sambil terus menatap ke arah adik iparnya itu.
Sebenarnya Disya ingin sekali mendampingi Disya mulai awal acara tadi, berhubung dirinya sedang hamil, dan suaminya sedikit posesif jadi Disya hanya duduk saja sambil menikmati acara tersebut.
"Iya, Aku senang melihat Disya bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan bisa terwujud" Ucap Rafa, dan Disya masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh suami nya.
"Maksud kamu gimana Kak??" Tanya Disya.
"Sayang, kamu kan tahu kalau yang akan menikah dulu adalah Ghani. Dan Ghina tak masalah dengan itu. Tapi didalam hati Ghina kakak tahu jika ia ingin menikah terlebih dahulu. Apalagi dia salah satu saudara perempuan antara kakak dan Ghani. Jadi pasti Ghina tidak ingin jika Ghani menikah dulu. dan sekarang akhirnya terwujud"
Disya pun hanya manggut-manggut saja. Dia baru ingat jika yang mengatakan akan menikah adalah Ghani. Dan Ternyata kini malah Ghina yang menikah duluan.
Nisa dapat melihat putri dan menantunya dalam berbicara. Rafa sangat baik. dan Nisa sangat bahagia mendapatkan menantu seperti Rafa.
"Kamu lapar sayang??, Biar mama ambilkan" Ujar Nisa.
"Papa lapar juga??, biar Mama sekalian ambil" Ujar Nisa lanjut. dan Denis pun mengangguk tanda ia setuju.
"Aku ikut Mama aja" Ujar Disya yang sudah berdiri.
"Aku ambil makan dulu ya kak" Rafa pun mengangguk dan melihat kepergian istrinya bersama Mama mertuanya.
Kini tinggal Rafa dan Denis yang masih berada dalam satu meja.
"Bagaimana pekerjaan mu Fa??" Tanya Denis kepada Rafa.
"Alhamdulillah Pah. Semuanya lancar. Hanya saja sekarang sedikit sibuk" Ungkap Rafa.
__ADS_1
"Itu hal biasa. Yang terpenting kamu bisa membagi waktu kamu. Dan kamu jangan khawatir Disya bukan tipe Anak manja. Dia cukup mandiri menurut Papa. Dan Papa rasa Dia bisa mengerti" Ujar Denis.
Rafa pun hanya tersenyum. Bukan soal Disya yang mandiri saat ini. tapi ini dirinya yang memang tak tega untuk meninggalkan istrinya lama-lama di kantor. Perasaan khawatir nya terus saja membayangi setiap berada di kantor.
"Iya Pah. Tapi aku yang tidak tega meninggalkan Disya Pah. Aku sangat khawatir. Apalagi sekarang dia sedang hamil. Aku takut nya Disya melakukan sesuatu yang berat-berat. Papa tahu kan bagaimana Disya. Disya suka masak. Dan keinginan dia tidak bisa aku hentikan" Rafa mengingat beberapa hari ini memang istrinya lebih suka di dapur, dan itu membuat Rafa pusing melihat keinginan istrinya tidak bisa di hentikan.
"Papa mengerti Fa. Tapi Papa yakin Disya tidak akan apa-apa. Kamu tenang saja" Ucap Denis.
Tak lama setelah itu kedua Ibu dan anak itu pun tiba. Nisa dan Disya berjalan bersama dan di belakang di ikuti oleh dua pelayan yang membawakan makanan mereka.
Awalnya mereka berdua ingin membawa nampan itu sendiri. Tapi Alisa mengetahui jika Disya akan membawa makanan itu beserta Nisa. Jadi Alisa menyuruh Kedua pelayan yang bertugas untuk mengantar makanan itu ke meja Menantu dan besannya itu.
Kedua pelayan tersebut langsung saja meletakkan nampan yang masing-masing berisi dua makanan dan dua minuman.
"Silahkan Pak Bu" Ujar pelayan tersebut.
"Terimakasih" Jawab Nisa dan kemudian pelayan tersebut segera pergi meninggalkan ke empat .
Disya berjalan dengan di tuntun oleh Rafa. Rafa memang terlihat sangat posesif sekali. tapi tak masalah buat Disya. Disya justru senang jika suaminya sangat perhatian kepadanya.
Rafa terlihat sedang memeluk adiknya itu.
"Selamat ya dek. sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. jadi istri yang baik ya. nurut sama suami" Pelukan pun kemudian di lepas oleh Rafa dan kedua kakak dan adik itu pun saling pandang.
"Iya kak, terimakasih. Kakak memang kakak terbaik ku. akan selalu aku ingat kata-kata kakak". Kini giliran Disya, Disya juga tengah mengucapkan selamat kepada Ghina dan berlanjut kepada Nisa dan Denis.
"Selamat ya sayang. Tante gak menyangka kalau kamu sudah besar dan sudah menikah. semoga samawa ya". Ujar Nisa.
"Terimakasih Tante" Jawab Ghina.
__ADS_1
Dari arah kejauhan terlihat Ghani yang tengah menggandeng Ratna. Mereka baru saja datang. karena ada acara yang tidak bisa ditinggal kan oleh Ratna akhirnya Ratna bisa datang tepat di pertengahan acara. Dan Ghina tak mempermasalahkan itu. Ghina sudah senang meskipun Ratna datang di pertengahan acara nya.
Ghani segera mengajak Ratna untuk naik keatas panggung. seharusnya memang dirinya dan Ratna yang menikah duluan. tapi berhubung Ratna masih harus fokus dengan kuliahnya. Jadi Ghani akan tetap menunggu Ratna setelah Ratna wisuda.
Ghina terlihat tersenyum melihat kakak kembarnya yang melangkah untuk naik ke atas panggung. Zian pun juga ikut tersenyum. Mereka benar-benar merasa bahagia sekali dengan pernikahan mereka.
"Selamat ya Ghin. Akhirnya kamu nikah juga. Jadi istri yang baik dan nurut sama suami" Perkataan Ghani sama persis dengan perkataan Rafa kepadanya. membuat Ghina segera mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat senang sekali mempunyai kedua kakak laki-laki yang begitu menyayangi dirinya.
"Terimakasih kak" Jawab Ghina dan Zian secara bersamaan.
"Selamat ya. Semoga samawa" Ucap Ratna sambil memeluk Ghina. Tak lama juga Ratna akan mejadi kakak iparnya. Jadi Ghina juga tidak sabar untuk menantikan hari itu.
"Terimakasih. Semoga Kalian juga cepat menyusul kami" Jawab Zian yang ikut melihat bagaimana kedua perempuan ini berpelukan.
Beberapa jam kemudian semua tamu pun sudah meninggalkan acara resepsi tersebut. Rafa dan Disya pun juga sudah pulang bersama Papa dan mama mertuanya. kini tinggal Sepasang kedua orang tua mereka. Fandi, Alisa, Niko dan Tania mulai pamit kepada anak-anak mereka.
"Sayang, Daddy dan Mommy pulang dulu ya. Kalian selamat istirahat" Ucap Alisa kepada Ghina sambil memeluk putri nya itu. Alisa tak mau mengganggu Putrinya yang baru saja menikah itu.
"Iya Mom. Daddy dan Mommy hati-hati dijalan" Ujar Ghina.
Dari arah kejauhan Tania pun berjalan mendekat ke arah Ghina juga.
Tania juga sedang berpamitan kepada Zian jika dirinya juga akan pulang ke rumah yang akan Zian tempati nantinya. Rumah orang tua Tania yang kosong sejak beberapa tahun lalu.
"Zi, Mama dan Papa pamit dulu. Ingat kamu harus bisa membahagiakan Ghina. Ghina sekarang adalah tanggung jawabnu" Ujar memberi nasehat kepada putranya.
Assalamualaikum. Aku kembali.
Maaf sebelumnya seminggu ini saya gak up karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal kan.
__ADS_1
tapi sekarang Aku usahain up ya. Semoga bisa double up ya.
Selamat membaca