
Rafa tak jadi pulang sore ini, setelah dirasa pekerjaan nya sudah selesai ia segera pulang, ia pulang lebih awal hari ini, Disya yang sudah ia hubungi terlebih dahulu saat ini juga sudah siap, tinggal menunggu Suaminya datang dan bersiap-siap untuk berangkat menuju ke rumah sakit, tempat dimana Zian dirawat saat ini.
Pintu apartemen pun tiba-tiba terbuka, dan Disya sudah tahu jika adalah suaminya, Siapa lagi yang tahu kode password jika bukan dirinya, suaminya dan mertuanya.
"Assalamualaikum sayang, Kakak pulang" Disya yang sudah cantik pun segera menghampiri suaminya.
"Waalaikum salam kak" Jawab Disya yang kemudian berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Kakak mandi dulu ya sayang, kamu tunggu aja disini, biar kakak yang bawa tas kakak sendiri ke kamar, dan kamu cukup duduk sambil menunggu mas selesai" Perintah itu pun seketika dilaksanakan oleh Disya, memang suaminya itu sangat menyayangi nya, sampai hal sekecil pun harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Rafa, semenjak hamil memang Rafa sangat lebih perhatian, bisa dibilang dua kali lebih perhatian dari biasanya, dan itu membuat Disya bahagia, ia beruntung mempunyai suami seperti Rafa.
Setengah jam kemudian setelah mandi, sholat dan sebagainya akhirnya Rafa pun turun, ia sudah bersiap dengan setelan kaos dan celana jeans, Menurut nya ia tak perlu berpakaian terlalu formal, berpakaian senyaman nya saja.
"Ayo sayang, kamu sudah siap kan??" Tanya Rafa kepada Disya, Seharusnya pertanyaan itu Disya yang mengucapkan, dan ini malah sebaliknya.
"Udh dari tadi kak, bukannya kakak ya yang baru aja siap" Ujar Disya yang membuat Rafa terkekeh.
"Iya iya, ya udah ayo kita berangkat sayang" Keduanya pun segera berangkat menuju ke rumah sakit, tapi sebelum itu Disya meminta untuk singgah ke toko kue, ia tahu Mama nya ada di sana sekaligus Tante Tania juga, jadi Disya ingin membelikan sesuatu untuk Mama mertuanya dan Calon mertua Ghina.
Setelah sampai Disya pun segera keluar, tapi sebelum itu Rafa menahan nya untuk keluar sendiri.
"Biar kakak yang temani kamu, Jangan pergi sendirian" Disya pun mengangguk dan menunggu suaminya yang sudah turun untuk membukakan pintu mobil untuknya.
Disya segera turun dan tangan Rafa sudah menyambutnya dan tak melepaskan sama sekali, Disya begitu dijaga oleh Rafa kemanapun mereka pergi.
Disya saat ini sedang memilih beberapa aneka cake, Disya lebih memilih cheesecake untuk ia bawa, dan beberapa kue lainnya, Setelah selesai Rafa dan Disya segera membayar dan setelah itu segera Kembali ke mobilnya dan segera melanjutkan perjalanan mereka.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Di rumah sakit, Zian saat ini Sudah terlihat sangat baik, ia duduk dan sedang di suapi buah oleh Ghina, dan Ghina juga begitu telaten merawat Zian yang saat ini sedang sakit.
"Sayang, mas mau minum" Ujar Zian, dan Ghina pun segera mengambil minum untuk Zian.
Alisa dan Tania yang melihat Keduanya langsung saja tersenyum.
"Al, gimana kalau kita percepat saja pernikahan mereka" Ujar Tania, Alisa pun menoleh, dan kemudian menatap kembali Ghina dan Zian.
"Iya Mbak, Aku juga mikir seperti itu, semakin cepat semakin baik, Gak baik juga jika mereka hanya berdua tanpa status perkawinan seperti ini"
Tania pun setuju dengan ucapan Alisa, benar juga tidak baik juga jika putranya hanya begini saja.
"Nanti coba kita bicarakan saja ya Al" Alisa pun mengangguk, menyetujui ucapan dari Tania, Dan kemudian mereka berdua kembali memandang ke arah kedua putra dan putri mereka, Alisa sengaja cuti dari pekerjaannya, membiarkan suaminya saja yang menghandle semua pekerjaan di kantor.
Beberapa saat kemudian, terdengar pintu kamar rawat tersebut diketuk dari luar,
"Assalamualaikum" Ucap Disya dan Rafa secara bersamaan.
"Waalaikum salam" Jawab semua yang ada di dalam, Rafa dan Disya segera menghampiri Mommy nya yabg sedang duduk di sofa bersama Tante Tania, dan Keduanya segera menyalami Alisa dan Tania.
Setelah itu Rafa pun berjalan menuju ke ranjang rawat Zian,
"Bagaimana keadaan kamu Zi??" Tanya Rafa.
"Alhamdulillah Mas, Aku lebih baik saat ini" Ucap Zian.
"Ghina, bagaimana keadaan mu??" tanya Disya kepada Ghina yang sedari tadi duduk di sebelah ranjang Zian.
__ADS_1
"Alhamdulillah kak, aku sehat" Ucap Ghina, tapi wajah Ghina saat ini terlihat pucat, mungkin ia kurang tidur karena menunggu Zian dan tak mau digantikan oleh siapapun, ia ingin berada di dekat Zian saja.
"Tapi wajahmu pucat sekali, iya kan Kak??" Tanya Disya kepada Rafa, dan Rafa sekaligus Zian saat ini menatap ke arah Ghina, memang benar, wajah Ghina sangat pucat sekali.
"Aku nggak Apa-apa kak, kakak tenang saja" Ghina pun berdalih, meskipun saat ini ia merasakan pusing, tapi ia tetap kekeh bilang jika dia baik-baik saja.
"Ghina, kamu sebaiknya istirahat saja, Biar kakak yang menjaga Zian" Ucap Rafa.
"Iya sayang, kamu istirahat saja, lagi pula mas sudah baik-baik saja, kakak sudah tidak apa-apa, jadi kamu bisa istirahat sayang, kamu harus jaga kesehatan kamu" Ucap Zian.
Ghina pun akhirnya mengangguk, ia pergi menuju ke arah dimana Mommy dan Mama Tania berada, Ghina segera duduk dan bersandar di sana.
Ghina kemudian segera memejamkan matanya, kepalanya sangat pusing sekali, dan itu membuat Alisa khawatir, Alisa kemudian mendekat, dan segera ia mengecek suhu tubuh Putrinya itu, dan benar dugaan Alisa, putrinya itu saat ini tengah demam, dan itu membuat Alisa sedikit panik.
"Ghina, sayang, Badan kamu panas" Ujar Alisa, dan Tania pun juga mendekat, ia juga ingin mengecek suhu calon menantunya itu.
"Ya Allah sayang, badan kamu memang panas sekali" Ujar Tania, Zian pun segera mengarahkan pandangannya kearah Ghina, Saat ini posisi Zian sedang duduk bersandar jadi ia tahu bagaimana saat ini keadaan Ghina.
"Fa tolong telfon adikmu biar secepatnya memeriksa Ghina" Ucap Alisa, dan Rafa segera mengambil ponselnya yang berada di saku celana jeans-nya.
"Iya Mom Sebentar" Ujar Rafa, tangan Rafa mulai menggeser beberapa kontak Nomor di ponselnya dan mencari nomor kontak Adiknya itu.
Tak sampai Rafa menekan tombol hijau, pintu-pintu tiba-tiba terbuka dan ternyata Ghani lah yang datang, Ada perasaan lega dalam hati Alisa, entah kebetulan atau tidak dan apakah Ghani merasakan atau tidak, menurut kebanyakan orang jika saudara kembar sakit maka saudara kembar nya akan merasakan juga.
Ghani segera masuk dan melihat Ghina yang sedang bersandar di sofa dengan lemas.
Maaf baru up, dan di bagian akhir mungkin salah mungkin benar ya, jadi seandainya salah mohon di komentari ya, sangat membantu banget buat saya yang kurang pengalaman.
__ADS_1
Selamat membaca