Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 63


__ADS_3

Setelah acara mandi bersama mereka, Rafa tak benar-benar hanya menjaga agar Disya tak pusing, hasrat nya muncul ketika melihat tubuh polos istrinya yang berada di dalam bathtub tersebut,


Mereka keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sedikit berbeda, jika Rafa masih menampakkan senyumannya, berbeda dengan Disya, ia terlihat mengerucutkan bibir nya meskipun itu hanya akting saja, ia ingin melihat suaminya tersebut merasa bersalah ataukah ia menjadi bertambah bahagia karena aktifitas nya tadi.


Disya saat ini masih mengenakan handuk kimono nya, meskipun pusing nya sudah hilang, ia ingin mengetahui apakah suaminya masih menghawatirkan dirinya saat ini.


Rafa yang melihat istrinya terdiam kemudian menghampirinya,


"Apa masih pusing sayang??" Tanya Rafa kemudian, melihat istrinya yang tak berbicara satu katapun membuat Rafa terlihat bingung dan juga merasa bersalah.


Disya pun menggeleng, ia masih tak menjawab, tapi jujur, melihat ekspresi wajah suaminya saat ini dia ingin sekali menertawakan nya, tapi untuk saat ini ia tahan dulu.


"Kamu lapar??, biar kakak ambilkan aja, kamu dikamar aja gak usah turun" Disya kembali menggeleng,


"Gak perlu Kaka, kita makan di bawah saja" Disya pun kemudian berdiri, sekilas ia melewati meja riasnya seperti ada yang ingin ia ketahui, tapi ia urungkan dulu, ia ingin mengganti pakaiannya dulu sebelum nanti kembali ke meja riasnya.


Setelah Disya berpakaian lengkap, ia kemudian duduk di depan meja tersebut, Rafa masih berada di dalam kamar mandi, jadi tidak tahu apa yang dilakukan Disya saat ini.


Pandangan Disya saat ini tertuju pada Kotak kecil di sana, Disya sangat penasaran pastinya, dan ia mencoba untuk membuka benda tersebut sebelum suaminya datang.


Terlihat didalam kotak tersebut ada sebuah cincin, cincin yang sangat sederhana tapi sangat cantik menurut Disya, Disya pun tersenyum, ia ingin sekali mengenakan nya, tapi ia urungkan, ia tak mau mengambil barang yang belum tentu juga miliknya, siapa tahu suaminya membeli cincin tersebut untuk Mamanya.


Rafa keluar dengan berpakaian lengkap, kaos dan celana pendek sudah melekat di tubuhnya, tapi kini pandangan Rafa justru tertuju pada istrinya yang tengah memegang kotak kecil itu.

__ADS_1


"Kenapa gak dipakai sayang??" Tanya Rafa, dan Disya pun menoleh.


"Ini buat aku??" Tanya Disya memastikan.


"Iya sayang, buat siapa lagi kalau bukan buat kamu, Kakak sengaja meletakkan di meja riasmu agar kamu tahu" Ucap Rafa lagi, dan Disya pun terlihat menampakkan senyumannya.


Rafa kemudian mendekat, ia mengambil kotak tersebut lalu mengambil cincin tersebut dan di pasang kan di jari istrinya, Disya terlihat sangat bahagia sekali, ternyata cincin tersebut miliknya.


"Terimakasih kak" Ucap Disya dan ia segera memeluk suaminya.


"Iya, terimakasih juga karena sudah mau menjadi istri kakak" Ucap Rafa yang kemudian mencium bibir istrinya sekilas.


Disya pun terlihat sangat bahagia sekali,


"Iya kak, aku juga sangat bahagia sekali bisa menjadi istri kakak, itu impianku sejak dulu dan kini sudah menjadi kenyataan.


Semuanya ternyata sudah berkumpul, tinggal pasangan suami-istri muda itu, mereka segera ikut bergabung dengan semuanya yang sudah menunggu mereka.


"Maaf kami lama" Ucap Rafa, dan Alisa kemudian mengangguk menandakan jika Mommy nya itu mengerti.


Mereka semua akhirnya makan siang bersama-sama, memang jarang, hanya saat hari libur saja keluarga ini makan siang dengan formasi lengkap seperti ini, biasanya mereka semua akan makan siang di kantor, dan Ghani di rumah sakit, hanya Disya saja yang berada di dalam rumah jadi ia sudah terbiasa untuk makan siang sendiri dan terkadang ia mengajak Bibi untuk menemaninya makan siang.


Malam harinya, mereka bukannya beristirahat, Rafa dan Disya saat ini sedang sibuk untuk memasukkan barang-barang nya yang akan mereka bawa nantinya pindah ke apartemen, tak banyak barang yang mereka bawa, ia juga masih meninggalkan beberapa barang mereka agar saat mereka ingin menginap disini tak perlu membawa barang bawaan yang terlalu banyak.

__ADS_1


Setelah mereka selesai, Mereka pun memutuskan untuk segera istirahat, Disya juga sudah merasakan jika ia merasa sangat lelah saat ini, tidak tahu mengapa akhir-akhir ini badan nya sangat mudah lelah sekali.


Mereka pun seketika tertidur, sejak kedatangan nya tadi siang mereka sama sekali belum beristirahat, apalagi setelah aktivitas mereka tadi, mereka pun langsung menuju ke meja makan untuk mengisi tenaga mereka tanpa istirahat terlebih dahulu.


Pagi harinya, koper sudah siap di ruang tamu, Rafa pagi-pagi sekali sudah membawa 2 kiper besar miliknya dan milik istrinya, dan nanti setelah sarapan mereka akan benar-benar pindah dari rumah besar itu.


Setelah sarapan selesai, Rafa pun berpamitan kepada Keluarganya, dan yang terlihat paling berat melepas nya adalah Mommy nya.


"Mom, jangan menangis, aku kan gak jauh-jauh pindah nya, kita bisa main ke sini kok, kita cuma ingin hidup mandiri Mom" Ucap Rafa sambil terus memeluk Mommy nya tersebut.


"Mah sudah, mereka cuma ingin hidup mandiri, dan sepatutnya kita mendukung mereka, kalau Mama mau Mama bisa mengunjungi mereka" Ucap Fandi memberi pengertian kepada istrinya, Alisa pun akhirnya berhenti mengeluarkan air matanya dan kemudian melepas pelukannya kepada Rafa.


Setelah berpamitan kepada semua anggota keluarganya, Rafa dan Disya kemudian segera pergi karena ia juga harus pergi ke kantor setelah mengantar Disya di apartemen.


Tak sampai satu jam mereka sudah sampai, Rafa menyeret dua koper sekaligus, tak mau membebani istrinya dengan barang-barang berat lainnya dan Disya pun sangat senang sekali.


Rafa dan Disya akhirnya sudah memasuki apartemen mereka, apartemen yang dulu juga ditempati oleh Mommy dan Daddy nya setelah menikah.


"Sayang, kamu gak perlu kerja berat, tunggu kakak pulang, kamu gak perlu bongkar-bongkar koper dulu, kita kerjakan sama-sama nanti" Ujar Rafa yang tak ingin membuat istrinya kelelahan.


"Hm.. apa kamu butuh pembantu??, kakak akan Carikan" ujar Rafa lagi.


Disya pun menggeleng, untuk apa dirinya di Carikan pembantu, bukannya mandiri di sini, dia malah enak-enak an.

__ADS_1


"Gak perlu kak, aku masih bisa kok, bukannya aku duku juga hidup sendiri dan tidak ada pembantu" Ucap Disya mengingatkan Rafa jika selama kuliah diluar negeri Disya benar-benar hidup mandiri.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, kakak pergi duku ya, jaga diri, kalau butuh sesuatu Tinggal telfon kakak" Ucap Rafa dan kemudian mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2