Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
season 2 part 41


__ADS_3

Malam harinya Disya dan Rafa sedang berbenah, mereka berdua tengah bersiap untuk pergi ke Bali untuk rencana Honeymoon mereka.


Disya terlihat sangat antusias sekali, pertama kalinya ia akan pergi ke Bali bersama dengan orang yang paling ia sayangi yang tak lain adalah suaminya.


"Rencananya kita berapa hari di sana biar aku kira-kira bawa baju berapa untuk kita di sana??", Tanya Disya


"Tidak perlu banyak-banyak, lagipula disana kita bisa beli dan kakak nggak mau kamu terlalu capek karena bawa baju terlalu banyak",Disya pun mengangguk, dan ia kemudian mempersiapkan baju yang sekiranya penting untuk mereka, beberapa menit kemudian packing pun selesai dan 2 hari lagi mereka akan berangkat.


Rafa kemudian menyuruh Disya untuk segera naik ke atas ranjang, menemaninya duduk dan bersandar di sandaran ranjang tersebut.


"Sayang, kamu belum telepon mama ya hari ini??", Tanya Rafa kepada istrinya, biasanya dia akan menghubungi Mamanya sehari dua kali tapi sepertinya hari ini Disya belum sama sekali menelpon mamanya.


"Udah kok kak tadi kak, emang kenapa??, Tanya Disya.


"Nggak apa-apa, cuma ngingetin kamu aja sayang, mungkin lupa, tapi biasanya kamu telepon kalau kakak ada di rumah", Ucap Rafa


"Udah kok tadi, dan Disya juga udah kasih tahu Mama kalau kita mau ke Bali",


"Terus bagaimana reaksi Mama??", Tanya Rafa.


Disya kemudian diam mengingat ucapan Mamanya, Mamanya menginginkan cucu segera dari Disya dan Rafa.


Diaya tampak ragu untuk mengatakan itu kepada Rafa, bisa-bisa suaminya itu akan semangat jika berhubungan dengan hal yang seperti itu.


"Gimana??, apa kata Mama, Kenapa pertanyaan kakak tidak dijawab??", Tanya Rafa.

__ADS_1


"Gimana ya kak aku malu", Ucap Disya kepada suaminya Rafa.


"Malu, malu kenapa sayang cerita dong sama kakak??", Rafa pun semakin dibuat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh istrinya.


"Disya kemudian mengambil napasnya dalam-dalam bercerita hal seperti ini pasti akan membuatnya malu sekali tentunya.


"Hm.., Mama mau agar kita cepat kasih Mama cucu kak", Disya terlihat menundukkan kepalanya, ia benar-benar sangat malu saat ini.


Mendengar hal itu Rafa pun tersenyum, "Kalau itu sih gampang sayang, kakak yakin itu tidak akan lama lagi", Ucap Rafa kepada Disya dan Disya pun seketika memukul lengan Rafa, bibir Disya pun terlihat mengerucut membuat Rafa mencium kilas bibir istrinya.


Disya kemudian mendelik kan matanya, Suaminya itu memang sering mencuri kesempatan.


"Bener kan aku udah kira, makanya aku tuh enggak mau bilang sama kakak tadi, pasti jawabnya kayak gitu", Ucap Disya yang masih mengerucutkan bibirnya


Rafa kemudian lebih memilih untuk menatap wajah istrinya tersebut wajah yang selalu tak pernah bosan untuk ia pandangi,


"Lebih baik kita nyicil mulai sekarang sayang??, kan lebih enak kalau lebih cepat, jadi kita di Bali nggak usah terlalu capek", Ucap Rafa, tapi Disya nya malah semakin tidak mengerti.


"Maksud kamu apa kak??, aku ngerasa kakak nggak punya cicilan deh??", Tanya Disya yang saat ini menunggu jawaban dari Rafa.


Rafa kemudian tertawa, "Maksud kakak bukan itu, katanya Mama minta cucu jadi kita harus nyicil kan mulai dari sekarang kan", tanya Rafa.


Disya yang saat ini sudah mengerti maksud suaminya kemudian kembali memukul lengan Rafa, mesum kamu kak", Ucap Disya yang membuat Rafa terkekeh, Rafa senang bisa membuat istrinya terlihat malu-malu mau seperti itu.


Rafa kemudian menarik lengan Disya, dan Disya punjatuh ke tubuh Rafa,Rafa kemudian mengunci tubuh istrinya dan segera memeluk tubuh Disya dengan sangat erat, "Kak jangan gini dong, aku nggak bisa napas nih", ucap Disya dan Rafa kemudian mengelus rambut Istrinya dan melonggarkan pelukannya, Disya kemudian bisa bernafas dengan lega, dan

__ADS_1


keduanya pun kini benar-benar saling berpelukan.


Keesokan paginya, tepat hari ini Rafa dan Disya akan pergi ke Bali, semuanya pun sudah berkumpul di meja makan, Mereka sedang sarapan bersama seperti biasanya.


"Kalian berapa lama disana??", Tanya Fandi, dan Rafa pun mendongakkan kepalanya.


"Rafa dan Disya mungkin 10 hari dad, Dan Rafa minta tolong selama Rafa meninggalkan perusahaan, Daddy tolong urus semuanya", ucap Rafa.


Fandi pun mengangguk,


"Kalian nikmati saja liburan kalian, gak perlu memikirkan perusahaan, Daddy akan mengurus semuanya", Rafa pun mengangguk dan tersenyum.


Ghina yang saat ini yang juga sedang sarapan pun terlihat sedang memikirkan sesuatu, ia bingung ingin meminta apa kepada kakaknya.


"Kak, jangan lupa oleh-oleh buat aku ya", Ucap Ghina dan Disya pun mengangguk..


"Iya, kamu tuh dek, kakak nya belum aja berangkat, eh langsung di mintai oleh-oleh ", Ujar Rafa, dan Ghina pun hanya tertawa cekikikan.


"Ya kan aku cuma ngingetin aja, iya kan kak??", Tanya Ghina tapi matanya kini beralih ke arah Disya, dan Disya pun hanya mengangguk saja.


Satu jam kemudian Rafa dan Disya pun berangkat, dan mereka diantar oleh supir pribadi keluarga mereka ke bandara.


Disya terus saja menggandeng tangan suaminya, meskipun Rafa membawa dua koper tapi ia tak menolak jika tangan istrinya terus menggand nya.


Mereka kini duduk di dalam bandara dan menunggu jadwal penerbangan yang kurang beberapa menit lagi.

__ADS_1


__ADS_2