Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 11


__ADS_3

Ghina setidaknya malam tadi bisa tidur sedikit nyenyak, Ghina tak memusingkan itu, ia akan meminta pendapat kepada keluarganya terlebih dahulu, dan jawaban yang diberikan oleh keluarganya itulah yang akan Ghina berikan kepada Zian.


Sama seperti biasanya, Ghina kan berangkat bersama dengan Rafa, Ghina masih belum mau berangkat dengan orang tuanya karena semua orang belum tahu siapa Ghina kecuali Zian sendiri.


Setelah melambaikan tangannya kepada kakaknya, Ghina kemudian masuk kedalam kantornya.


Ghina kemudian segera masuk dan segera menuju ke ruangannya yang berada di lantai 5, ruangan yang juga Zian tempati disana.


Tak lama setelah itu, terlihat Nita juga baru datang, Nita kemudian menghampiri Ghina yang ada dimeja nya.


"Tumben Lo udah Dateng", Nita kemudian duduk di depan meja Ghina, di tempat duduk karyawan lain yang juga satu divisi dengan Ghina dan Nita.


"Iya besok kan weekend, jaga-jaga nanti tiba-tiba pekerjaan numpuk jadi gue bisa ngerjain cepet dan gak perlu lembur", Ujar Ghina kepada Nita, dan Nita hanya manggut-manggut saja.


Jam kerja pun di mulai, benar perkiraan Ghina, pekerjaannya sangat banyak sekali sehingga ia tak dapat lagi memegang ponselnya sebentar, dan di satu sisi Mommy nya kini tengah menelfonnya sedari tadi.


Di dalam ruangannya, Alisa masih memegang ponselnya, Fandi yang melihatnya terlihat mengerutkan keningnya, sedang apa istrinya itu sehingga sedari tadi mondar-mandir seperti itu.


Fandi kemudian berdiri dari tempat duduk nya dan menghampiri istrinya yang masih dalam posisinya tadi, terus mondar-mandir tanpa henti.


"Kamu kenapa mah, dari tadi papa lihat Mama mondar-mandir terus, sambil pegang hp lagi, emang lagi telfon siapa??",


Fandi kemudian duduk disofa, sambil merangkul istrinya, Alisa pun pasrah dan kemudian mengikuti Fandi yang kini mengajak dirinya untuk duduk bersama nya.


Alisa membuang nafasnya kasar, sesekali ia memijat pelipisnya karena hampir pusing karena ulah nya tadi.


"Kamu lagi telfon siapa sih mah??", Fandi mengulang pertanyaan nya tadi dan sampai sekarang masih belum di jawab oleh Alisa.


"Mama lagi telfon Ghina pah, tapi gak diangkat-angkat, kemana ya anak itu??", tanya Alisa.


Fandi kemudian tertawa, ia merasa aneh dengan istrinya, bukannya putrinya sedang bekerja dalam satu kantor dengannya.


"Mah, mah, Ghina kan lagi kerja mah, dan kerjanya juga satu gedung sama kita, kenapa kamu gak kesana aja", Alisa pun tersenyum mendengar penuturan dari Suaminya.


"Benar juga ya pah, kenapa mama gak sampai kesitu ya mikirnya", terkadang bingung membuat apa yang mudah menjadi sulit, seperti halnya Alisa, ia mempersulit dirinya sendiri dengan panggilan yang tak kunjung di terima oleh Putrinya.


Alisa kemudian keluar dari ruangannya, Fandi pun hanya menggelengkan kepalanya karena ulah istrinya tersebut.


Alisa pun masuk kedalam lift dan menekan tombol angka 5, Ia akan turun dari lantai 15 untuk menemui putrinya yang sedang berada diruangannya.

__ADS_1


Didalam lift Alisa baru teringat jika Ghina masih menyembunyikan identitasnya, jadi Alisa harus bertindak seperti atasan yang memanggil bawahannya untuk mengikuti dirinya karena tugas.


Pintu lift pun terbuka dengan lebar, Alisa kemudian segera keluar, berjalan menuju ke ruangan putrinya tentunya.


Alisa membuka pintu ruangan tersebut dan terlihat jika Ghina kini tengah sibuk, sibuk dengan layar komputer yang ada di hadapannya.


Para karyawannya yang ada di ruangan tersebut langsung saja berdiri memberi hormat kepada Presdir besarnya tersebut, Ghina pun juga ikut melakukan nya, Ghina terlihat mengerutkan keningnya, ada apa mommy nya datang ke mari, apakah ada sesuatu yang penting sehingga mommy nya datang langsung ke ruangan ini


Alisa pun tersenyum, dan kemudian berjalan menuju ke ruangan Zian, Alisa berubah pikiran, ia akan masuk ke ruangan Zian terlebih dahulu dan nantinya ia akan meminta Zian untuk manggil Ghina.


Alisa mengetuk pintu Zian terlebih dahulu, meskipun Alisa adalah Presdir disini tapi ia akan memberi contoh kepada semua karyawan nya,


Pintu pun di ketuk dengan pelan, dan setelah mendengar suara dari dalam ruangan itu akhirnya Alisa membuka pintu ruangan Zian.


Zian pun kaget, ia kira yang mengetuk adalah karyawan nya, dan Ternyata adalah bis besar dan sekaligus orang tua Ghina, Zian pun terkesiap, ia kemudian mempersilahkan ibu Presdir itu untuk masuk kedalam ruangan nya.


"Silahkan masuk bu", Ucap Zian yang segera menyambut Alisa masuk kedalam Ruangan nya.


Alisa pun masuk, dan Zian segera menutup pintu ruangannya.


Zian kemudian ikut duduk di hadapan Alisa, Zian bingung ada apa sebenarnya sehingga ibu Presdirnya datang untuk menemui dirinya di Ruangan ini.


Alisa sedikit menampakkan senyum manisnya,


"Maaf, jika kedatangan saya mengganggu nak Zian, saya mau minta tolong kepada nak Zian", Ucap Alisa.


Mendengar calon ibu mertuanya meminta tolong membuat Zian langsung saja terkesiap di tempat duduk nya.


"Iya, ibu mau meminta tolong apa??", Zian pun rasanya sudah tidak sabar menunggu Alisa untuk mengutarakan apa yang ingin ia katakan.


"Tolong panggilkan Ghina ke sini nak Zian, ibu tahu hanya nak Zian sendiri lah yang tahu siapa Ghina sebenarnya, jadi Tante mohon panggilkan Ghina untuk Tante", Zian pun mengangguk, ternyata pertolongan yang di mintai calon ibu mertua nya pun tidak susah.


Zian kemudian berdiri, meninggalkan Alisa sendiri di dalam ruangannya.


Sedangkan di luar, Ghina sedari tadi tidak berkonsentrasi sama sekali, ia masih memikirkan mommy nya yang belum keluar juga sampai saat ini dari ruangan kerja Zian.


tak lama setelah itu, Zian pun keluar, dia pun langsung menghampiri meja Ghina membuat ghina seketika kaget.


"Ghin, ikut saya, ada pekerjaan untukmu", Ghina pun mengangguk tanda mengerti, ia yakin mommy nya kesini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan kepada dirinya, "Tapi kenapa mommy tidak menelfonku saja, aku kan bisa datang ke Ruangan mommy nanti??", Gumam Ghina sambil berjalan menuju ke ruang kerja Zian.

__ADS_1


Pintu pun di ketuk pelan, yang di dalam pun sudah mengintruksikan jika Ghina segera masuk saja, Ghina pun menutup pintu ruangan tersebut, ia kemudian duduk tepat di samping mommy nya.


"Mom, ada apa??, kenapa mommy nggak telfon aku aja, kenapa harus capek-capek kesini??", Ghina pun penasaran, dan mommy nya pun hanya tersenyum tipis kepada putrinya tersebut.


"Bagaimana mommy gak kesini, ponsel mu dimana, kenapa dari tadi mommy telfon kamu tidak mengangkat nya", Ghina pun langsung mencari dimana letak ponselnya, dan dia batu sadar jika ponselnya saat ini berada di dalam tasnya dan tengah dalam mode silent.


Ghina hanya nyengir saja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Maaf mom, ponsel Ghina ada di dalam tas, dan udah Ghina silent dari tadi pagi", ujar Ghina.


Alisa hanya mampu menghela napasnya saja,


"Lain kali ponsel kamu gak boleh kayak gini terus", Ucap Alisa kepada Ghina.


"Iya mom, maaf", Ucap Ghina sambil memeluk Alisa.


"Oh ya, mommy ngapain sih kesini, pasti ada yang penting sampai mommy bela-belain datang", Ujar Ghina.


Alisa hanya mengangguk membenarkan,


"Iya, ada sesuatu yang ingin mommy kata kan kepadamu, dan tadi malam mommy lupa sama Daddy", ujar Alisa.


Kening Ghina pun mengerut, apa yang sebenarnya ingin dikatakan mommy nya, Ghina rasa pasti ini sangat penting sekali.


"Nanti sore, mommy, Daddy dan kak Rafa mau ke Surabaya, mommy mau mempersiapkan pernikahan kakak kamu", Ucap Alisa.


Mata Ghina pun menjadi berbinar-binar, ia senang, berarti dirinya bisa jalan-jalan disana kalau Ghina bisa ikut.


"Berapa hari mom??", Tanya Ghina.


" Sampai akhir Minggu, kami temani Ghani saja, kasihan kalau harus dirumah sendirian",Ucap Alisa sengaja, ia ingin tahu bagaimana ekspresi putrinya.


"Nggak mau, Ghani kan nyebelin mom, pasti nanti Ghina pasti kalau lagi bosen langsung di usir dari kamar nya, gak mau mom pokonya Ghina mau ikut aja", ucap Ghina yang sudah menunjukkan sifatnya ketika sedang berada bersama dengan mommy nya, Ghina memang manja, tapi Maja dalam urusan kasih sayang, jika pekerjaan, Ghina pun tak pernah memanjakan dirinya, bahkan ia akan turun tangan sendiri untuk memasak di dapur bersama d Ngan para bibi yang ada di rumahnya.


Kening Zian berkerut, siapa lagi Ghani, Zian merasa belum mengetahui siapa Ghani, dan apa sebenarnya hubungan Ghina dan Ghani, kenapa seperti sangat dekat sekali.


"Itu kamu aja yang jahil Ghin, ya udah kamu ikut aja, dari pada kamu nanti sendirian",Ucap Alisa.


Mata Ghina pun berbinar,ia sangat senang, akhirnya ia bisa jalan-jalan juga di Surabaya, lagi pula ia sudah penasaran seperti apa wajah calon kaka iparnya itu, mengapa kakaknya begitu tergila-gila pada calon kaka iparnya Tersebut.

__ADS_1


__ADS_2