
Ghina segera memasuki kamarnya yang sudah di persiapkan di sana. Kamar yang sangat luas dan pastinya juga sangat indah.
Didalamnya dapat di lihat jika Di atas ranjang tersebut bertaburan banyak bunga mawar.
Ghina terlihat tak henti-hentinya memperlihatkan senyumannya. Ia sangat senang. ini mungkin sudah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya dan Kedua mertuanya.
Tak berselang lama pintu kamar tersebut tiba-tiba terbuka. Ghina pun menoleh ke arah sumber suara tersebut dan terlihat Zian lah yang masuk kedalam kamar tersebut.
"Kamu belum ganti baju sayang. Gak gerah ??" Tanya Zian yang kini sudah duduk di samping Ghina.
Mata mereka pun bertemu. Jantung Ghina rasanya berdetak cukup cepat kali ini. tak sesuai dengan ritme yang semestinya.
"I-Iya mas. Aku mau ganti baju ini" Ujar Ghina yang kemudian berdiri dan hendak ingin melangkahkan kakinya.
Zian pun kemudian tersenyum. Ia tau istrinya saat ini sedang gugup karena hanya berdua saja dengannya.
"Mau mas bantu??" Tanya Zian lagi. Ghina pun menoleh dan kemudian menggeleng kan kepalanya tanda ia tidak mau.
"Nggak perlu mas aku bisa sendiri". Ghina kemudian segera masuk kedalam kamar mandi. Tapi ia lupa tak membawa baju gantinya. Saking gugupnya ia lupa untuk membuka kopernya yang masih berada di sebelah ranjang nya itu.
Di dalam kamar mandi Ghina mulai melepas semua hiasan yang ada di kepalanya. Memang cukup susah. tapi salah Ghina sendiri tak ia lepas sebelum masuk kedalam kamar mandi. jadi ia harus berdiri sambil menatap ke arah cermin besar tersebut.
Beberapa saat kemudian, Apa yang menempel di kepalnya akhirnya sudah terlepas . Kini Ghina berusaha untuk melepaskan gaunnya. Ia sudah gerah dan ingin berendam di bathtub yang sudah terisi dengan air hangat dan yang juga sudah tercampur dengan Aromaterapi.
Kali ini masalah Datang kembali. Ia tak bisa meraih resleting yang berada di balik punggungnya. Tangannya susah meraihnya dan itu membuat Ghina tampak sangat kesal sekali.
"Kenapa tidak bisa sih. Bagaimana cara aku melepasnya.Tidak mungkin kan aku meminta mas Zian untuk membantuku. Aku malu" Ujar Ghina. Ia kemudian duduk di atas kloset yang tertutup itu. Ia bingung. tapi badannya juga sudah gerah.
Ghina memutus kan sesuatu. Tidak apa meminta bantuan. Meskipun sangat malu tapi ia harus lakukan. Ia tak mau lama-lama berada di dalam kamar mandi. Dan ia memutuskan untuk keluar kembali dan meminta bantuan suaminya.
Zian juga terlihat sudah melepas Kemeja dan jas nya. Dia terlihat sedang bertelanjang dada dan kini sedang duduk di sofa menunggu Ghina yang masih mandi.
__ADS_1
"Lama sekali" Gumam Zian. Tapi Zian masih tetap sabar menunggu Ghina sampai keluar dari kamar mandi.
Zian tak tahu kalau Ghina masih belum mandi dan pakaiannya juga masih belum bisa terlepas dari badan istrinya tersebut.
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu terbuka. Dan Zian segera menoleh kearah sumber suara tersebut.
Tampak Ghina yang belum mandi dan masih mengenakan gaun pengantinnya.
"Sayang. Kenapa belum mandi?, Ada masalah??" Tanya Zian yang kemudian mendekat ke arah Ghina.
Ghina menggigit bibir bawahnya. Ia bingung harus berkata apa. Yang jelas Ghina ingin Zian membantu dirinya untuk melepaskan resleting gaunnya yang berada di balik punggungnya.
"Hmm.. Bisa tolong aku mas??" Tanya Ghina.
"Zian pun mengerutkan keningnya. Ada masalah apa sehingga istrinya itu tiba-tiba keluar dan meminta pertolongan nya.
"Iya sayang. Ada apa??, Kenapa kamu seperti ragu untuk bicara??" Tanya Zian lagi yang melihat Ghina masih menggigit bibir bawahnya.
Ghina takut Sekali. Pertama kalinya ada orang yang membukakan resleting di punggungnya selain Mommy nya itu.
Zian pun tersenyum. Ternyata itu masalah nya sehingga istrinya itu belum mandi juga sedari tadi.
"Ok. Baiklah. Tapi tidak gratis ya. Harus ada imbalannya" Ujar Zian menggoda istrinya
Ghina pun kemudian mendelik.
"Imbalan. Imbalan apa mas??" tanya Ghina lagi.
Zian pun tak menjawab. Ia kemudian memutar tubuh Ghina dan mulai menurunkan resleting milik istrinya tersebut.
Dapat Zian lihat punggung mulus istrinya yang tak pernah ia lihat. Meskipun Ghina tak berjilbab. Tapi Ghina tak pernah memakai baju yang bisa memperlihatkan bagian tubuh yang tak seharusnya di perlihatkan.
__ADS_1
Ghina pun saat ini terlihat memejamkan matanya. Ia takut memikirkan imbalan yang di minta Suaminya. Melihat senyum nya saja Ghina pun sudah dapat berpikir jika suaminya akan meminta imbalan lebih kepadanya.
Ghina pun merasakan sentuhan tangan suaminya. Benar saja, Zian tak hanya menolong untuk membuka resleting itu. Zian pun ikut menurun kan gaun itu yang kini sudah sampai batas dada istrinya.
Senyum Zian pun mulai nakal dan Ghina pun tak bisa membuka matanya. ia sangat malu sekali.
Zian terlihat menelan ludahnya. Pemandangan yang akan ia lihat mulai saat ini. Milik istrinya dan sudah tentu halal untuknya.
Zian kemudian langsung menggendong tubuh istrinya. Ia kemudian membawa tubuh Ghina untuk di bawanya ke atas ranjang. Hasrat nya sudah menggebu-gebu. Awalnya ingin ia tahan terlebih dahulu. Tapi setelah melihat dari belakang saja Zian sudah tak mampu untuk menahan hasrat yang sudah bergejolak sedari tadi.
Tangan Zian juga sudah mulai nakal. Gaun Ghina pun pun sudah hilang entah kemana.
Zian pun mulai melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Dan malam ini pun Ghina sudah menjadi istri Zian sepenuhnya.
Satu jam kemudian. setelah apa yang mereka lakukan tadi. Ghina pun ingin bangun dari tidurnya. Rambut yang tadi hanya ia kuncir biasa kini sudah berantakan.
Ghina ingin sekali membersihkan tubuhnya. Badannya sudah lengket apalagi dengan kegiatan yang baru saja ia dan Zian lakukan.
"Mas. Aku mau mandi dulu" Ujar Ghina kepada Zian. Zian pun ikut bangun. Dan juga Ingin mandi tentunya.
"Mandi bareng ya??" Pinta Zian kepada Ghina. Ghina pun tak bisa menolak. ia seketika mengangguk kan kepalanya tanda ia setuju.
Ghina pun turun. Ia tarik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tak mungkin berjalan dengan keadaan nya yang seperti ini.
Ghina dapat merasakan ada yang sakit di bagian tubuhnya. Dan tanpa sadar ia mengaduh kesakitan dan membuat Zian seketika panik.
"Kamu kenapa sayang??" Tanya Zian.
Ghina pun menoleh. Ia melihat Zian yang sangat khawatir terhadapnya saat ini.
"Hmm. Aku gak bisa jalan mas. sakit" Ujar Ghina.
__ADS_1
Tak perlu berpikir lama Zian pun akhirnya mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi untuk mandi bersama sesuai dengan kesepakatan mereka tadi.