
Hari berganti hari, Minggu juga berganti Minggu kehadiran dua bayi dari pasangan Tania, Niko dan Anton Melly,bayi Tania dan Niko berjenis kelamin laki-laki, sedangkan bayi Anton dan Melly berjenis kelamin perempuan.
Alisa mendengar kabar tersebut ikut merasakan senang dan mendoakan agar putra dan putri mereka sehat dan berbakti kepada kedua orang tua mereka, menjadi anak Sholeh dan Sholehah dan nantinya dapat membanggakan orang tua mereka.
5 tahun kemudian, Rafa kini sudah berusia 8 tahun, anak itu sudah bersekolah kelas satu tingkat dasar, Dan Ghina dan Ghani masih berumur 5 tahun, Mereka sangat juga sudah bersekolah, dan kali ini bi sum juga yang akan menemani Ghina dan Ghani ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadi ketiganya.
"Mom", Rafa selalu memanggil mommy nya ketika ia sudah selesai mandi, Rafa ingin mommy nya saja yang memakai kan nya seragam dan menyiapkan perlengkapannya.
"Iya sayang sebentar", Alisa saat ini tengah memasang kan dasi di leher suaminya, Fandi juga masih sama ia masih saja manja jika bukan istrinya yang memakaikan dasi, maka ia tak akan memakai dasinya kekantor.
Alisa membuang nafasnya kasar, mendengar teriakan suami dan anaknya kadang-kadang membuat ia pusing karena ulah keduanya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, benar saja, Rafa lah yang membuka pintu tersebut, Anak itu masih menggunakan handuk di pinggangnya dan menunggu mommy nya yang tak kunjung datang kekamar nya.
" Mommy", rengek Rafa saat melihat mommy nya masih sibuk dengan daddy-nya.
"Iya sayang, masuk !!, Sebentar ya", Ucap Alisa lagi.
Anak itu sudah mengerucutkan bibirnya sedari tadi.
" Hay boy, Kamu ngapain, udah besar kok masih gak bisa pakai seragam sendiri, lihat tuh Ghina sama Ghani, mereka udah siap, masak kakaknya belum juga siap", Ujar Daddy nya.
"Daddy sendiri sudah besar juga tidak bisa memasang dasi sendiri, mommy terus setiap hari", ujar anak itu yang berbalik meledek Daddy nya.
" Ayo mom cepat, aku udah telat", anak itu masih saja menunggu mommy nya tanpa sabar.
"Iya sayang, ini udah kok", dasi pun sudah terpasang dengan rapi di kerah baju suaminya.
"Sudah ya mas, aku urus Rafa dulu", Fandi hanya mengangguk, mau tak mau ia harus membiarkan istrinya, sudah tanggung jawab Alisa untuk mengurus suami serta anak-anaknya meskipun ia juga masih bekerja setiap hari.
Rafa pun sudah siap, kini mereka semua sudah berkumpul dalam satu meja makan, Ghina dan Ghani ,mereka juga sedang duduk bersama, anak-anak itu juga selalu ikut duduk bersama dengan mommy dan daddy nya, meskipun mereka masih kecil mereka tetap ingin duduk bersama saat sarapan.
"Mom, aku nanti main sama Disya ya??", Setiap akhir pekan Rafa akan minta Pak Dadang, supir baru Rafa dan si kembar yang akan mengantarkan Rafa dan si kembar ke sekolah dan ke rumah Disya putri dari Denis dan Nisa,
Sejak kecil Rafa sudah sering bermain dengan Disya, Rafa sangat sayang kepada Disya, ia akan selalu mengunjungi Disya saat akhir pekan setelah pulang sekolah.
"Iya, tapi pulang dulu, ganti baju, baru nanti boleh main ke rumah Disya", Nasihat Alisa kepada putranya.
"Iya mom, siap", Rafa terlihat senang mendapat izin dari Mommy nya, dan Alisa pun juga merasa tenang karena disana Rafa akan dijaga oleh Nisa.
" Ya udah mommy sama Daddy berangkat, assalamualaikum ", Alisa mencium ke tiga anaknya, ia sangat sayang kepada Rafa, Ghina dan Ghani.
Diperjalanan anak itu terlihat sangat senang, betapa tidak, ia nanti siang akan bertemu dengan Disya, meskipun Rafa dan Disya satu sekolah tapi Rafa tak pernah bosan bila bermain dengan Disya.
Pak Dadang berhenti di salah satu sekolah dasar dan sekolah TK yang berada di dalam satu yayasan, Rafa turun dan segera menuju ke kelasnya, Ghina dan Ghani juga masuk kedalam sekolahnya, dan pak Dadang tak pernah pulang ia akan menunggu majikannya Sampai pulang sekolah nanti.
Rafa melewati kelas satu, ia akan mencari Disya terlebih dahulu, anak itu akan lega jika sudah melihat Disya yang sudah duduk di dalam kelasnya.
Rafa tersenyum saat melihat anak perempuan yang selalu ia cari saat di sekolah, Disya anak perempuan kelas satu yang merupakan anak dari Denis dan Disya yang tentunya mempunyai wajah yang sangat cantik, dan bisa dipastikan jika nantinya jika ia besar akan mempunyai wajah yang sangat cantik juga seperti mamanya.
__ADS_1
Didalam kantor, Denis masih menjadi Sekertaris Fandi sampai saat ini, Dan kedua hot Daddy itu juga sampai sekarang masih menjadi idola di kantor mereka meskipun usia mereka sudah menginjak kepala tiga.
Denis terlihat sangat santai hari ini, pekerjaannya tak terlalu banyak jadi ia bisa memanfaatkan waktunya untuk beristirahat sejenak dari banyak nya pekerjaan nya dari hari-hari yang lalu.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, terlihat nomor yang tidak dikenal sedang ada di layar ponselnya, tak perlu menunggu lama atau mempertimbangkan Denis langsung saja menggeser layar tersebut, mungkin itu telfon penting, jadi ia tak mau memilih-milih untuk mengangkat telfon dari orang yang menelfonnya.
"Halo", Ucap dari orang yang sedang menelepon Denis, suara yang sangat familiar, dan tentunya suara itu sangat dirindukan oleh Denis selama ini, suara dari papanya, sudah bertahun-tahun lamanya denis tak mendengar suara papanya.
"Papa", Ucap Denis pasti, ia yakin jika itu adalah suara papa nya, orang yang sangat Denis rindukan.
Denis menyandarkan kepalanya di sandaran kursi nya, ia ingin mendengar suara papanya dengan jelas
"Kamu masih mengenali suara papa mu nak??",Tanya Pak Hendra, pak Hendra adalah seorang pemilik perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, dan selama beberapa tahun perusahaannya juga bertambah besar karena kepemimpinan nya yang baik.
"Iya Pah, mana mungkin Denis melupakan orang tua Denis pah, bagaimana kabar papa??", Tanya Denis tak percaya, ia masih bisa mendengar suara papanya yang sudah hampir 9 tahun ini tak ia dengar.
"Kabar papa tidak pernah baik selama kami pergi dari papa, Mamamu juga masih mengharap kepulangan mu, pulang lah, papa dan mamamu rindu kepadamu", Ujar pak Hendra.
"Jika papa menginginkan Denis pulang, Denis akan pulang pah, tapi Denis mohon pah, jangan pisahkan aku dengan Nisa pah, aku mencintainya pah", Ujar Denis, ia ingat peristiwa sembilan tahun lalu saat hubungan percintaan nya dengan Nisa tidak mendapat Restu dari keluarganya sehingga membuat Denis memutuskan untuk kawin lari dengan Nisa dan memulai kehidupan barunya dengan Nisa di Jakarta.
"Iya nak, papa sudah tidak mempermasalahkan semua itu, pulang lah, kami rindu kalian", Suara pak Hendar sudah semakin parau mungkin sebentar lagi ia akan menangis.
"Baik pah, Denis akan pulang", ucap Denis.
"Terimakasih nak, dan saat kamu pulang nanti papa mohon agar kamu mau memimpin perusahaan kita, perusahaan kita butuh pemimpin muda seperti mu, siapa lagi yang akan memimpin jika bukan kamu", Ujar Papanya.
Setelah mendapat telfon dari papanya, begitu banyak pikiran yang ada di dalam kepala Denis, bagaimana cara ia berbicara dengan Fandi, pastinya ia akan mengundurkan diri nya sebagai sekertaris bosnya tersebut, meninggalkan kantor ini, dan kota ini, ia akan kembali menuju ke kota asalnya yaitu Surabaya, kota kelahirannya.
Dan Denis juga akan berbicara terlebih dahulu dengan istrinya, meminta pendapat istrinya dengan permintaan papanya, maukah Nisa ia ajak pulang ke rumahnya, rumah yang selama ini ia tinggalkan, meninggal kan kemewahan yang selalu ia pakai disaat mulai kecil Sampai akhirnya kemewahan itu berakhir ketika ia akan berniat menikahi Nisa dan menjadikan istrinya.
Jam kerja telah berakhir, Denis keluar dari kantor setelah Fandi juga ikut keluar dan pulang, Denis melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia akan memulai berpikir, bagaimana caranya ia berbicara kepada Nisa dan juga Disya, ia mengingat putrinya, jika nantinya Nisa setuju, bagaimana dengan Disya, anak itu pasti tidak mau jika harus meninggal kan rumah dan sekolahnya, dan yang paling amat Disya rindukan adalah Rafa, memang sejak kecil Disya selalu bermain dengan Rafa sehingga membuat Hubungan pertemanan mereka sangat erat sekali.
Setengah jam kemudian Denis sudah sampai dihalaman rumahnya, rumah yang ia beli dari hasil kerja kerasnya di kantor Wiratama Corp, rumah yang dulu ia Juni sudah ia jual dan ia bisa membeli rumah yang agak sedikit besar dari ruang yang sebelumnya.
"Assalamualaikum", ucap Denis, Nisa pun mendengar nya dan menjawab dari dalam rumah tersebut, rumah tanpa asisten rumah tangga, jadi Nisa melakukan semua pekerjaan rumahnya sendirian dan terkadang Disya akan membantu mamanya sebisa apa yang akan dilakukan oleh Disya.
"Waalaikum salam", Pintu pun berbuka dan terlihat Suaminya yang sudah ada di ambang pintu dan akan memasuk kedalam rumahnya.
"Sudah pulang bang??", Tanya Nisa sambil mencium punggung tangan Suaminya.
"Iya yang, Abang masuk dulu ya, oh iya dimana Disya, biasanya jika Abang pulang anak itu akan muncul dan pastinya akan meminta gendong seperti anak kecil", Ucap Denis.
"Disya sedang dikamarnya bang, dia sedang kesal dengan Rafa, tadi Rafa sudah janji jika akan disini Sampai jam 4, tapi Rafa pulang nya jam 3 jadi Disya ngambek sama Rafa", ujar Nisa.
Denis pun menggeleng kan kepalanya, ada-ada saja tingkah putrinya itu, tapi namanya juga anak-anak, pasti Sebentar lagi sudah baikan.
"Ya sudah Abang, ke kamar dulu ya, mau mandi", Ucap Denis, kemudian ia segera menuju ke arah kamarnya.
Denis dan Nisa akan merubah panggilannya jika sedang berdua saja, jika sedang berada bersama dengan Disya, maka panggilan tersebut akan berubah menjadi Mama dan papa.
__ADS_1
Tak lama kemudian Denis pun sudah selesai mandi, dan Nisa pun sedang duduk di sofa yang juga ada didalam kamarnya tersebut.
" , Gimana Disya yang, masih ngambek??" Tanya Denis.
" Iya bang, nanti Abang coba bujuk Disya ya",Pinta istrinya dan langsung diangguki oleh Denis.
Nisa pun berdiri, ia ingin keluar dari kamarnya dan menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.
" Yang, mau kemana??, kamu disini aja ada yang ingin Abang bicarakan sama kamu, ini penting" Nisa pun seketika berhenti melangkah, penasaran dengan apa yang akan dibicarakan suaminya nanti, sepenting apakah yang akan dikatakan suaminya .
Nisa kembali duduk disamping Denis, menunggu Denis yang akan mengatakan sesuatu kepada nya.
Denis mengambil nafasnya dalam-dalam,ia akan mempersiapkan semuanya jika Istrinya nanti tidak mau, apalagi jika kabar ini terdengar oleh putrinya, bisa dipastikan jika Disya akan memperpanjang durasi ngambeknya.
" Yang, papa telfon, dan dia menyuruh kita pulang", ucap Denis langsung.
Nisa kemudian terdiam, mencerna semua perkataan yang dikatakan Suaminya tadi.
"Pulang??, pulang kemana bang??", tanya Nisa tak mengerti.
" Pulang ke Surabaya yang, apa kamu mau??", Tanya Denis lagi.
Nisa pun seketika kaget, mengapa suami nya itu tiba-tiba mengajak dirinya pulang ke Surabaya secara mendadak seperti ini.
"Aku nggak salah dengar kan bang??", Tanya Nisa lagi.
"Nggak yang, kamu gak salah dengar, tadi papa menelfon abang, dan Papa meminta kita pulang ke Surabaya dan abang juga disuruh untuk memimpin perusahaan papa", Ujar Denis.
Nisa terdiam Kembali, ia tak bicara sama sekali, pikirannya masih takut apa ia akan diterima sebagai menantu di keluarga Denis.
"Kamu kenapa yang??" Tanya Denis yang melihat istrinya hanya diam.
"Bagaimana dengan kaki bang, apa papa akan menerima aku dan Disya, aku takut jika papa akan membenci aku dan Disya, Disya tidak salah apa-apa bang", Ucap Nisa dengan segala ketakutannya.
Denis kemudian memeluk tubuh Nisa, " Kamu jangan khawatir yang, papa sudah merestui hubungan kita, dan masalah Disya, nantinya Disya akan menjadi surprise buat papa dan Mama", ucap Denis.
Nisa pun mengangguk, dan Denis pun sudah tenang, kini tinggal berbicara dengan putrinya, apakah putrinya akan mau jika ia akan pindah dari Jakarta ke Surabaya, semoga saja Disya mau dan mau mengerti.
Makan malam pun sudah siap, Disya sudah ada di meja makan meskipun wajahnya masih sedikit cemberut,
"Anak papa ini kok cemberut terus, ada apa??", Tanya Denis kepada Disya, Disya hanya diam, ia tak menjawab pertanyaan dari papanya.
"Loh, kok diam aja, biasanya Disya akan cerita sama papa kegiatan Disya di sekolah, tapi hari ini kok diam aja??", Tanya Denis lagi, Disya pun masih saja terdiam membuat Denis menghela napasnya.
"Sayang kamu lupa ya ini malam Minggu, biasanya kalau malam Minggu kamu nonton acara televisi kesukaan kamu, papa janji deh papa gak bakalan gangguan Disya nonton, tapi dengan satu syarat, Disya harus tersenyum dan gak boleh cemberut lagi" Disya pun mendongakkan kepalanya, ia pun tersenyum kepada papanya, dan kemudian segera memeluk papa yang amat ia sayangi itu.
Hai... 2000 kata lagi loh, semoga kalian suka, jangan lupa pencet tombol like ya..
terimakasih.
__ADS_1