
Disya sudah berada di apartemennya, ia memutuskan untuk segera istirahat, selama kehamilannya ini Disya merasa mudah lelah sekali,
Sebelum masuk kedalam kamarnya Disya terlebih dahulu pergi ke dapur, ia akan membuat susu yang sudah ia beli tadi, sesuai pesan dari suaminya tadi dirinya harus meminum susu tersebut secepatnya.
Disya kemudian segera membuat susu khusus ibu hamil, dan setelah itu ia segera meminum susu tersebut, rasanya sedikit membuat Disya tersenyum, rasa itu cocok sekali di lidahnya dan Disya cukup menyukainya.
Rafa saat ini sedang berada di kantornya, setelah mengantar istrinya tadi Rafa segera ke kantor karena pekerjaannya sudah menunggu nya.
Rafa sebenarnya tidak tenang meninggalkan istrinya sendirian, Rafa tahu kesehatan istrinya sedang tidak sedang bagus, dan Rafa pun sangat menghawatirkan itu.
Rafa segera mengambil ponselnya, ia ingin menghubungi istri nya yang sedang sendirian di apartemen.
Saat ini Disya sedang membaringkan tubuhnya sambil menonton acara televisi, dan tak lama setelah itu ponselnya pun berbunyi, Disya segera mengambil ponselnya dan nama Suaminya lah yang ada di layar ponselnya, segera Disya menggeser layar ponselnya.
"Assalamualaikum kak" Ucap Disya.
"Waalaikum salam sayang, kamu sedang apa??" Yang Rafa.
"Aku sedang istirahat kak, kenapa ??" Tanya Rafa.
"Tidak apa-apa sayang, kamu hati-hati ya" Disya pun tersenyum, suaminya sangat perhatian sekali kepada nya dan kepada anak yang sedang ia kandung tersebut.
"Iya kak, aku pasti akan hati-hati, kamu gak perlu khawatir"
Setelah mengakhiri panggilan nya Rafa pun kembali menatap layar laptopnya.
Ditempat lain saat ini Ghina dan Zian sedang berada di ruangannya, Zian dan Ghina saat ini sedang merencanakan konsep pernikahan nya, banyak sekali konsep yang sudah di lihat oleh keduanya, tapi salah satu dari mereka masih belum menentukan konsep pernikahan yang bagaimana yang mereka sukai.
__ADS_1
"Kamu suka yang mana sayang??" Tanya Zian, dan Ghina pun terlihat masih bingung, ia menyukai semuanya, dan itu membuat nya sangat bingung.
"Aku suka semuanya mas, aku jadi bingung", Ucap Ghina, dan Zian pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kamu aja yang tentukan sayang, aku juga pusing lihat kamu bingung dari tadi, lebih baik kamu pikirkan dulu, setelah kamu sudah punya jawabannya baru kasih tahu ke aku".
Ghina pun mengerucutkan bibirnya, dan ia juga menutup buku konsep pernikahan nya dan pergi keluar dari ruangan Zian.
Zian terlihat sangat bersalah sekali, tapi jujur hari ini ia sangat pusing sekali, ia banyak sekali pekerjaan dan harus di selesaikan secepatnya, apalagi melihat Ghina yang dari tadi membalikkan katalog yang di lihatnya tadi membuat ia sedikit merasa pusing, ia memerlukan istirahat sebentar.
Ghina kemudian langsung duduk di balik mejanya, ada Nita yang sedari tadi memperhatikan nya, Nita bingung tidak biasanya Ghina keluar dari ruangan atasannya dengan muka seperti itu.
"Lo kenapa Ghina??" tanya Nita, Nita sungguh sangat penasaran dengan Ghina yang terlihat sedang cemberut itu.
"Nggak apa-apa, cuma lagi kesel aja" Ucap Ghina membuat Nita mengerutkan keningnya.
"Lo gak lagi bertengkar sama pak Zian kan??" Tanya Nita, dan Ghina kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Nita kemudian tidak bertanya lagi, dan beberapa saat kemudian Ghina membuka tangannya kembali.
"Yuk kita keluar, aku mau cari minum, aku pusing disini" Kini wajah Ghina sudah terlihat kembali seperti semula, ia sudah tenang, tak lagi kesal lagi, ia sadar jika Zian juga sedang lelah, jadi Ghina pun bisa memaklumi nya.
Kedua wanita ini seger keluar dari ruangannya, rencananya Ghina akan pergi ke kantin Kantor untuk sekedar meminum kopi untuk menghilangkan rasa pusing nya, dan ia nanti juga akan membawakan kopi untuk Zian agar rasa pusing di kepalanya hilang.
saat ini Ghina sudah membawa cup berisi kopi, Ghina segera membawa kopi tersebut ke ruangan Zian, terlihat Zian masih menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya, dan kemudian Zian membuka mata saat merasa ada orang yang masuk kedalam ruangan nya.
Ghina tersenyum kepada Zian dan kemudian meletakkan segelas kopi tersebut diatas meja.
__ADS_1
"Aku belikan kopi untuk mu mas, semoga dapat menghilangkan rasa pusing mu" Ujar Ghina.
"Terimakasih sayang, maaf jika mas tadi sempat membuat kamu kesal" Ghina pun mengangguk, dan membalas dengan senyuman saja.
"Sekarang kamu cepat minum kopi kamu mas, nanti keburu dingin" Zian kemudian segera mengambil kopi tersebut dan seger meminumnya selagi masih panas.
Sore harinya, Zian yang mengantarkan Ghina pulang, semenjak Rafa sudah menikah, Ghina sudah tidak dapat lagi tumpangan, jadi Ghina berangkat kerja bersama dengan orang tuanya, dan pulang pun juga begitu, kebetulan hari ini orang tuanya sedang ada meeting di luar kota, jadi Zian lah yang mengantarkan Ghina pulang hari ini.
Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah Ghina, Ghina pun segera turun dari mobil Zian, "Gak mau mampir dulu mas??" Tanya Ghina.
"Tidak usah sayang, sudah sore, lain kali aja, oh ya, nanti malam aku jemput kamu ya, mama minta kamu datang, mumpung mama masih ada di Jakarta" Ujar Zian, dan Ghina pun mengangguk.
"Nanti aku jemput jam 7" Ghina pun mengangguk dan Zian pun seger berpamitan.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, assalamualaikum" Ucap Zian.
"Waalaikum salam mas, hati-hati dijalan" Ghina kemudian masuk kedalam rumah setelah bayangan mobil Zian hilang dari depan rumahnya.
Ghina segera masuk kedalam kamarnya, mulai bersiap-siap untuk nanti malam, memilih baju untuk ia kenakan nanti malam, cantik, bagus dan sopan, meskipun Ghina masih belum berhijab, tapi Ghina tak pernah memakai pakaian yang di luar batas, ia masih tahu batasan berpakaian, tak ingin membuat orang tuanya malu, jadi Ghina harus menyesuaikan pakaiannya.
Entah kapan Ghina akan berhijab, tapi ada keinginan dalam hati Ghina, dan Ghina masih belum tahu kapan ia bisa melakukan nya.
Setelah memilih pakaian yang pas, Ghina segera mengambil handuk kimono nya, ia kemudian berjalan menuju ke kamar mandi, ia ingin segera mandi karena badannya juga sudah sangat lengket sejak tadi.
Guyuran air dingin mampu membuat badan Ghina segar lagi, tak mau mandi di dalam bathtub, Ghina memilih memakai shower agar mampu membasahi seluruh badannya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki nya.
Badannya terasa sangat segar lagi, sehingga membuat pikiran Ghina kembali jernih lagi.
__ADS_1
Tepat Ghina selesai mandi, adzan Maghrib sudah di kumandangkan, jadi Ghina sholat terlebih dahulu sebelum ia bersiap-siap menuju ke rumah Zian.