
Denis dan Fandi akhirnya pun sampai di kantor Bachtiar Group , Denis dengan sedikit berlari segera menuju ke ruangan Bu bosnya, Denis sudah diberitahu jika Nisa sedang beristirahat diruang bosnya jadi Denis tak perlu lagi bertanya.
Fandi pun sama, ia mengikuti langkah kaki sekertaris nya yang sedikit berlari, Nafas Fandi pun seketika ngos-ngosan saat sudah sampai ruangan istrinya, Denis tak tampak lelah, ia terlihat sangat khawatir lebih-lebih ia kini sudah mengetahui ke adaan istrinya yang sangat lemah dan tak mampu membuka matanya.
" Yang ", Denis pun kemudian menghampiri istrinya yang tengah tertidur, Denis kemudian menatap Alisa dan Alisa seketika mengisyaratkan agar tak mengganggu Nisa tidur.
" Biarkan dia istirahat dulu ",Denis kemudian mengangguk.
Tak lama kemudian Fandi pun masuk, ia langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
" Sayang ", Fandi pun duduk di depan Istrinya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Peluh sudah bercucuran di dahi dan pelipis Fandi membuat Alisa pun bertanya-tanya.
" Kamu habis lari maraton mas ??", Tanya Alisa membuat Fandi kemudian menatap Alisa dalam-dalam.
Denis pun juga begitu, mendengar Alisa bertanya Denis pun sedikit tertawa menyaksikan bos nya yang sudah penuh dengan keringat.
Bukan Fandi yang menjawab Denis lah yang kemudian menjawab semua pertanyaan Alisa.
" Si bos tadi ikut aku lari bu bos ", Ujar Denis sedikit menahan tawanya, Denis juga tak menyangka jika bosnya ikut berlari bersama dirinya untuk sampai ke ruangan Alisa, meskipun mereka menaiki lift, tapi Fandi masih saja berkeringat.
Alisa Kemudian menatap wajah Suaminya lagi, dan Fandi dengan lemasnya langsung mengangguk kan kepalanya.
Tak lama kemudian Nisa pun sudah bangun dan dengan sigap nya Denis langsung membantu istrinya untuk duduk.
" Bagaimana keadaan kamu yang, Masih pusing ??", Denis pun langsung bertanya keadaan istrinya dan Nisa pun masih terlihat pucat dan lemas.
" Kita kedokter aja ", Ajak Denis yang langsung diangguki oleh Nisa.
Denis awalnya ingin menggendong tubuh istrinya, tapi Nisa menolak selagi ia masih bisa jalan ia akan jalan tapi dengan dipegangi oleh Denis tentunya.
Mereka pun kemudian berpamitan kepada Fandi dan Alisa,
" Den lebih baik kamu bawa Nisa ke dokter kandungan " Saran Alisa kepada Denis, dan Denis pun langsung mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
" Iya Bu bos, doakan semoga Nisa benar-benar hamil ", Denis pun keluar dan tinggal lah Fandi dan Alisa yang berada di ruangan tersebut.
Fandi kemudian berjalan ke arah sofa dan langsung merebahkan tubuhnya,
" Sayang mas haus, kamu gak mau ngasih suami kamu minum ", Fandi pun kembali cemberut.
" Oh iya mas, maaf jadi lupa ", Alisa kemudian mengambilkan minumannya yang ada di meja nya lalu ia berikan kepada suaminya.
Kali ini Fandi benar-benar haus, ia teguk sampai habis air minum yang ada di gelas tersebut.
" Alhamdulillah leganya ", Fandi kemudian menaruh kembali gelas tersebut di atas meja.
" Haus banget ya mas ??", Alisa pun bertanya dengan polosnya.
" Iya lah sayang, kamu gak lihat apa mas ngos-ngosan dari tadi ", Ujar Fandi kesal.
" Iya mas, maaf kan istrimu ini yang tidak tahu kalau suaminya sedang haus " Ujar Alisa.
Kemudian Alisa mendekat dan duduk di sebelah Suaminya, Tangan Fandi kemudian langsung melingkar di pinggang istrinya dan wajahnya di tempelkan di telinga istrinya
" Kamu gak mau ikut ke Dokter kandungan ??", Ujar Fandi kepada istrinya.
" Mau mas, aku mau kesana, aku mau lihat Nisa, ayo kita berangkat sekarang ", Ujar Alisa.
" Bukan itu maksud mas ",
Alisa pun semakin bingung, " Sekarang maksud kamu apa mas??, Tanya Alisa yang tidak mengerti maksud dari Suaminya
" Kita kesana buat periksa kamu lah sayang, mungkin aja kamu hamil lagi ", Ujar Fandi.
Alisa kemudian mencubit lengan Fandi.
" AW.. sakit sayang, ngapain main cubit-cubit, harusnya cium dong ", Ujar Fandi dengan tampang polosnya.
" Kamu ada-ada aja deh mas, masa iya aku hamil, Rafa tuh masih kecil mas, masa iya udah mau dikasih adik lagi, aku gak mau nanti Rafa gimana??", Ujar Alisa cemberut.
__ADS_1
Fandi pun tertawa, " Iya sayang, mas ngerti kok, kamu gak mau kan kasih sayang Rafa nanti terbagi, apalagi dia masih kecil ",Ujar Fandi mengingat putranya usianya belum genap satu tahun.
" Tapi mas ingin kasih adik buat Rafa suatu saat nanti ", Ujar Fandi.
" Iya mas, tapi nanti ya kalau Rafa udah agak besar ", Jawab Alisa.
Denis kini sudah sampai di rumah sakit dan dia langsung mengambil antrian untuk menuju ke poli kandungan.
Denis kemudian mencarikan tempat duduk ternyaman untuk istrinya, ia tahu Nisa masih lemas saat ini.
" Yang, duduk dulu di situ, kita nunggu antrian", Denis pun langsung membawa istrinya ke kursi antrian yang ada di depan meja Receptionist.
Setengah jam kemudian Denis dan Nisa pun di panggil, karena Denis datangnya agak siang jadi ia mendapat nomer urut yang terakhir.
" Silahkan masuk Mas, Mbak ",Ujar suster jaga yang sedang mendampingi dokter kandungan Yanga dan di dalam.
Mereka pun duduk di depan meja dokter Tamara, dokter yang sama yang menangani kehamilan Alisa dulu.
Nisa kemudian di suruh untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan dokter Tamara pun langsung mengoleskan gel di perutnya, Denis pun memperhatikan semua apa yang dilakukan dokter Tamara, Setelah pemeriksaan selesai Nisa dibantu oleh suster tersebut untuk membersihkan gel yang dioleskan diperutnya.
"Kandungan nya sudah masuk usia 6 Minggu dan saya akan berikan vitamin untuk mengurangi rasa mual " Ujar dokter Tamara yang kemudian menyerahkan secarik kertas yang berisikan resep vitamin untuk dikonsumsi oleh Nisa.
Terlihat wajah bahagia dari sepasang suami istri tersebut, mereka benar-benar tidak menyangka jika mereka akan mempunyai seorang bayi.
"Terimakasih dokter, kalau begitu saya permisi dulu ", Denis dan Nisa pun langsung pamit dan meninggalkan ruangan dokter Tamara.
Setelah mereka menebus semua vitamin yang di berikan oleh dokter Tamara, Denis dan Nisa pun segera keluar dari rumah sakit tersebut.
" Yang,maka. duku ya, kamu pasti lapar ??",Denis masih melihat wajah istrinya yang masih pucat.
" Nggak usah bang, aku gak lapar, ", Nisa pun menolak, ia sama sekali tidak nafsu makan hari ini.
" Kamu jangan begitu yang, kamu udah lemes banget, dan kamu harus ingat kamu lagi hamil kami harus jaga pola makan kami dan kalau kamu gak makan kasihan anak kita yang ", Denis pun dengan sabarnya membujuk istrinya.
Benar kata Suaminya, Nisa tidak boleh egois ia harus memikirkan anak yang ada didalam kandungan nya sekarang, akhirnya Nisa pun pasrah, dan Nisa mengangguk kan kepalanya, Denis pun tersenyum lega karena istrinya mau, dan dia langsung mengemudikan mobilnya menuju resto terdekat agar istrinya bisa cepat mendapatkan makanannya.
__ADS_1