
Tepat pukul 5 sore, Setelah Alisa berbicara dengan Ghani, akhirnya mereka berempat berangkat menuju ke Surabaya, Ghani tak masalah jika ia harus sendiri di rumah, lagi pula pasiennya dirumah sakit sedang menunggu nya, jadi apa jika Ghani meninggalkan pasiennya dirumah sakit saat semua pasiennya sedang menunggu dirinya.
Ghani akhirnya melawan rasa kantuk nya kembali untuk mengantar Mommy nya ke bandara,
"Kamu beneran kuat nyetir sendiri, Mommy gak mau sampai terjadi sesuatu sama kamu", Ujar Alisa saat melihat putra keduanya yang ingin mengantarkan dirinya meskipun dia sedang mengantuk.
"Aku gak apa-apa mom, mommy tidak perlu khawatir, aku bisa kok",Ghani tetap memaksa, dan Alisa pun hanya pasrah saja.
Mereka membawa satu mobil yang cukup muat untuk 6 orang, Dan ide Alisa pun muncul, Ghani tak perlu membawa mobil sendiri, ia akan membawa supir untuk mengemudikan mobilnya sementara Ghani bisa duduk manis dan tak perlu menyetir mobilnya sendiri.
Mereka kini sudah sampai di bandara, Ghani masih duduk sambil menunggu keberangkatan keluarganya.
"Kamu jangan sampai lupa makan, mommy akan selalu telfon kamu setiap hari, mommy tidak mau sampai kamu lupa makan karena pekerjaan kamu", Alisa pun kini duduk tepat disamping Ghani, meskipun Ghani sudah dewasa tapi untuk urusan kesehatan putra putrinya Alisa akan turun sendiri, meskipun Ghani seorang dokter terkadang ia melupakan makan siangnya karena terlalu banyak pasien atau mungkin ia masih terjebak di dalam meja operasi saat jam makan siangnya.
"Iya mom, Ghani akan selalu jaga kesehatan Ghani, kan gak lucu mom jika dokter sakit gara-gara lupa makan", ucap Ghani yang membuat Alisa terkekeh.
"Ya sudah mommy mau check on dulu, kamu hati-hati dirumah",
Ghani kemudian memeluk dan mencium Mommy nya.
Setelah itu ia juga mencium punggung tangan Daddy nya,
"Hati-hati ya dad", Ujar Ghani kepada Daddy nya.
"Iya kamu juga hati-hati dirumah, ingat pesan Mommy mu ya", ucap Fandi mengingatkan
"Iya dad, pasti, Ghani tidak akan mengecewakan Mommy.
"Selamat jalan kak, hati-hati dijalan, jaga mommy kak, dan salam buat Kaka ipar", Rafa pun mengangguk dan menepuk bahu adiknya tersebut.
Lalu Ghani beralih ke adik kembarnya tersebut,
"Itu tadi sore pacar Lo ya,boleh juga, ganteng, selera Lo bagus", bukan kata-kata perpisahan yang di katakan Ghani, melainkan ia membahas laki-laki yabg mengantar Ghina tadi sore.
"Iya, itu calon pacar gue, Lagian ngapain bahas dia sih, bukannya ngucapin selamat tinggal, hati-hati dijalan, eh malah ngomong hal lain", Ucap Ghina kesal.
Alisa dan Fandi dapat melihat jika kedua anak kembarnya itu sedang berdebat lagi, dan Alisa dan Fandi hanya saling menggelengkan kepala mereka.
"Sudah-sudah, kalian ini gak dirumah, gak disini kok berdebat aja", ucap Fandi.
Mereka berdua pun kemudian saling diam,
"Ya udah Lo hati-hati dijalan, Jangan lupa telfon pacar Lo nanti dia ngambek lagi kayak Lo", Raga yang melihatnya pun juga ikut menggeleng kan kepalanya,
__ADS_1
"Sudah-sudah, kalian tuh udah besar",
"Dek, kakak berangkat dulu", ucap Rafa kepada Ghani,
"Iya kak, hati-hati".
Beberapa menit kemudian akhirnya Alisa, Fandi , Rafa dan Ghina sudah berangkat, Ghani pun segera kembali dan mengajak supirnya untuk pulang ke rumah karena ia sudah tidak kuat lagi untuk membuka matanya, didalam perjalanan pulang, Ghani sudah tidak bisa membuka matanya kembali, ia tertidur pulas sampai supir yang sedang mengemudi pun merasa kasihan kepada majikannya tersebut.
Kini Ghani sudah berada di pelataran rumahnya, dengan pelan supir itu pun membangunkan Ghani,
"Den, sudah sampai, ayo turun Den", Ghani pun menggeliat, ia kemudian perlahan membuka matanya dan saat ia lihat pertama kalinya ia masih berada di dalam mobil.
"Sudah sampai ya pak, terimakasih ya, kalau gitu aku masuk dulu", supir itu pun mengangguk dan Ghani kemudian segera masuk kedalam rumahnya dan segera melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu tadi.
Disya, yang sudah mengetahui jika Rafa dan keluarganya akan datang, terlihat sangat gembira, ia kini sedang membantu mamanya untuk menyiapkan makan malam untuk tamunya tersebut,
Keluarga Rafa tidak menginap di rumahnya, Rafa dan keluarganya memilih untuk menginap di hotel terdekat dari rumah Disya, bukannya mereka tidak mau, tapi mereka menjaga agar Disya dan Rafa tidak bertemu terlalu sering, apalagi mereka ada dalam satu rumah dalam 2 malam ini.
Tepat pukul setengah 8 malam, supir yang ditugaskan oleh Denis sudah sampai di pelataran rumah mereka, Disya yang sudah berdandan sangat cantik terlihat sangat senang sekali bisa bertemu dengan Rafa.
"Assalamualaikum", ucap Fandi dan Alisa saat mereka sudah sampai di depan rumah Denis.
"Waalaikum salam bos, akhirnya bos datang juga", Denis masih memanggil Fandi dengan sebutan bos, awalnya Fandi tidak mau, tapi Denis merasa nyaman dengan sebutan itu sampai sekarang.
Disya yang melihat Rafa pun seketika tersenyum, Rafa juga sedari tadi menunjukkan senyum manisnya kepada Disya sehingga Disya terus saja memandang Rafa tanpa berkedip sekalipun.
Ghina yang batu pertama kali melihat Disya pun menjadi kagum, ia hanya melihat calon kakak ipar nya itu cuma dari foto saja, dan Ghina bisa lihat jika Disya lebih cantik aslinya dibandingkan dengan fotonya.
Ghina kemudian mendekat dan menyalami Disya terlebih dahulu.
"Hay kak, aku Ghina, adik ipar kamu",Ucap Ghina kepada Disya.
Disya pun menyambut uluran tangan Disya dan kemudian memeluk adik iparnya tersebut.
"Nama aku Disya, kamu cantik ya Ghin", ucap Disya.
"Pastinya dong kak", ucap Ghina dengan penuh percaya diri nya membuat Disya tertawa.
Rafa pun tak di gubris sama sekali, Disya kini malah asyik ngobrol dengan Ghina,
Rafa kemudian memilih untuk menyalami calon mertua nya dan setelah itu Rafa memilih untuk duduk sendiri di taman yang ada di depan rumah Disya.
Disya merasa Rafa tidak terlihat, kemudian Disya berpamitan kepada Ghina untuk mencari Rafa terlebih dahulu.
__ADS_1
Disya pun kembali keluar, ia kemudian mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok laki-laki yang ia cari saat ini, Rafa kini tengah duduk sendiri di bangku taman itu sendirian, dan kemudian Disya pun segera menghampiri nya.
"Kak??", panggil Disya dengan penuh kelembutan.
Rafa pun menoleh dan ia melihat Disya yang sedang tersenyum kepadanya.
" Kok gak masuk kak, gak kangen sama aku??"Tanya Disya.
Rafa Kemudian menoleh, kini ia menatap. Disya dari jarak dekat dan hanya disinari oleh lampu taman yang hanya remang-remang saja.
"Kakak hanya sedang gerah saja, siapa bilang kakak gak kangen kamu, kakak yang paling kangen sama calon istri kakak sendiri", Ujar Rafa membuat Disya lagi-lagi tersenyum kepada Rafa.
"Kak, Ghina baik ya, sama seperti kamu", Rafa mengangguk membenarkan, Adiknya itu memang baik, tidak manja dan mau melakukan pekerjaan dapur sama seperti Mommy nya.
"Di memang seperti itu, dan banyak juga yang mengatakan hal yang sama seperti kamu, terkadang banyak juga laki-laki yang menanyakan Ghina lewat aku, tapi tidak aku tanggapi", Ujar Rafa.
"Aku tidak mau mencari jodoh adikku, Yang aku mau dia mencari dan mendapatkan sendiri tapi degan satu syarat, dia harus baik dan bisa menjaga Ghina dengan baik, mampu mengerti dengan sikap Ghina yang masih seperti anak kecil", Disya sangat kagum dengan ucapan Rafa, dan itu membuat Disya semakin mencintai calon suaminya tersebut.
Tak lama setelah itu, Ghina pun datang,
"Kak, di panggil Daddy sama Mommy", Ujar Ghina, dan Rafa maupun Disya pun mengangguk.
Mereka berjalan bertiga, Ghina dan Disya terlihat semakin akrab saja, mereka seperti sudah lama mengenal.
Mereka bertiga kini tiba di meja makan, para orang tua sedari tadi menunggu kedatangan anak-anak mereka yang masih berada di luar, mereka sengaja membiarkan Rafa dan Disya berbicara, setidaknya membiarkan mereka melepas rasa rindu mereka walaupun hanya sebentar saja.
Mereka makan malam bersama, terlihat Disya dan Rafa saling melempar senyum manisnya, dan bisa dilihat, piring mereka masih. penuh dan tak ada yang mereka makan satu pun.
"Ehem...", satu suara pun membuyarkan mereka berdua.
"Udah jangan senyam-senyum terus, makanan nya itu dimakan, masak dia aduk-aduk terus, kalian memang tidak lapar??", Mereka berdua pun langsung tersadar dan segera memakan makanan yang ada di piring mereka, semua orang yang ada di sana pun secara tidak langsung sedang menahan senyum mereka.
"Besok pagi kalian berdua harus segera fitting baju pengantin kalian, pernikahan Kalian itu sudah dekat, tapi kalian masih santai-santai saja", ujar Alisa sedikit cemberut.
"Iya, dan besok semua urusan baju harus sudah selesai, dan hari berikut nya kalian juga sudah harus menyelesaikan urusan undangan dan lainnya, kalian yang menikah tapi mama sama mommy kamu yang harus ribet, sedangkan yang mau nikah kok bisa santai seperti ini sih??", Kini Nisa yang berbicara, ibu-ibu ini pun menumpahkan segala keluh kesah tentang pernikahan putra dan putri mereka.
Disya dan Rafa pun hanya tersenyum saja, benar yang dikatakan mommy dan mamanya, Disya maupun Rafa sangat santai, mereka berdua masih belum mengurus segala sesuatu nya, entah apa jika mereka yang akan mengurus pesta pernikahan mereka sendiri, mungkin tidak ada pesta, yang ada hanya acara ijab Kabul dan kemudian selesai.
"Iya mom,mah, maaf, kami berdua memang belum mengurusnya sama sekali, dan terimakasih Mommy dan Mama mau mempersiapkan pesta pernikahan kita", ujar Rafa.
"Ya sudah, lebih baik cepat habis kan makan malam kalian, habis ini kita akan kembali ke hotel, Mama sudah lelah sekali, rasanya Mama mau merebahkan tubuh mama di atas kasur", Ucap Alisa.
Rafa pun mengangguk dan kemudian ia segera menghabiskan makanannya, dan setelah itu Rafa akan memberitahu Daddy nya jika Mommy nya mengajak untuk kembali ke hotel sekarang, Rafa juga sudah melihat Mommy nya sudah kelelahan dari tadi.
__ADS_1