
Zian masih sibuk memasukkan ponselnya ke saku Kemejanya, tanpa tahu di belakang ada beberapa orag yang sudah mulai mendekat, mereka sudah membuat rencana, melihat Zian yang berpenampilan seperti itu, dapat di pastikan Zian merupakan orang kaya.
Zian kemudian segera membuka pintu mobilnya, tapi belum sampai masuk kedalam mobil, tiba-tiba ada yang menarik kemeja nya hingga ia tertarik kebelakang, Zian terjatuh, sedikit meringis kesakitan tapi sambil melihat siapa yang sedang menariknya.
"Siapa kalian??" Zian mulai melihat beberapa orang yang ada di depannya, tepatnya ada 5 orang dengan tubuh yang bisa dibilang cukup kekar, bajunya juga serba hitam, dan wajahnya cukup menakutkan bagi kaum wanita yang melihatnya.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kita, yang jelas serahkan semuanya kepada kami" Preman itu berbicara, dan teman-temannya tertawa melihat Zian yang saat ini masih belum bisa berdiri.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkan apa yang ku miliki kepada kalian" Zian sedikit melawan, ia kemudian berdiri, dan Zian segera membuat ancang-ancang untuk Melawan para preman yang saat ini sedang menghadangnya, dan juga lebih dari satu itu.
"Banyak bicara dia, serang saja, dia sendirian, pasti dia kalah" Salah satu preman bertubuh kekar itu akhirnya maju, mulai menyerang Zian, tapi untungnya Zian dapat menghindar sehingga preman itu tersungkur karena dia terlalu cepat menyerang.
"Ternyata dia pintar juga, serang dia" Kini dua orang preman kini mulai maju, dan terjadilah perkelahian, Bugh.. bugh.. Bugh.., Zian agak sedikit kewalahan, tapi dia harus tetap fokus, karena jika tidak pasti dirinya yang akan ikut tersungkur di jalanan tersebut.
Zian juga mulai menyerang, meskipun sendirian ia harus bisa mengalahkan ke lima preman itu, meskipun itu tidak mungkin, Zian akan tetap berusaha, Bugh..Bugh.. Bugh.., Zian terkena pukulan dari salah satu preman yang menyerangnya, Zian kemudian tersungkur, perutnya terkena pukulan dari salah satu preman lainnya, Zian merintih kesakitan, dan salah satu preman tersebut mulai maju kembali, Zian di pukuli hingga ia babak belur, Ada darah keluar dari mulut Zian, dan preman tersebut Kembali tertawa melihat Zian yang sudah tergeletak.
Zian mencoba mengumpulkan tenaganya kembali, meskipun rasa sakit ditubuhnya sudah sangat terasa, Zian tetap berusaha berdiri dan melawan.
"Dia masih mau bangun, kurang kali pukulan yang Lo berdua kasih, kasih lagi" Zian yang bangun kini sudah tersulut emosi langsung saja melawan, ia memukul kedua preman tersebut sampai tersungkur juga sehingga membuat ketiga teman preman tersebut mendadak maju mengeroyok, Zian pun tak dapat berkutik lagi, tubuh nya sudah di Pegang oleh kedua preman tersebut, dan yang satu lagi memukuli nya habis-habisan.
"Lepaskan saya" Zian sedikit berteriak, tapi para preman tersebut tak menghiraukan sama Sekali.
__ADS_1
Wajah Zian sudah mengeluarkan darah, pipinya lebam, darah keluar dari mulut Zian, ia sudah tak kuat lagi, Zian kemudian pingsan, dan membuat kelima preman tersebut tertawa.
"Dia sepertinya sudah pingsan bos, kita bisa ambil mobil dan lainnya, lumayan" Saat hendak melangkah menuju ke arah mobil, ada dua mobil yang lewat dan berhenti, para preman tersebut seketika ketakutan melihat mobil tersebut berhenti.
"Hey, kalian mau apa??" salah satu pengendara mobil tersebut turun dan meneriaki preman tersebut, Ke Lina preman tersebut kemudian menoleh dan dapat ia lihat jika ada 3 orang laki-laki yang turun dari mobil tersebut.
"Jangan ikut campur, ini bukan urusan Kalian" Salah satu preman tersebut berbicara.
Salah satu dari ketiga laki-laki itu pun maju dan mulai menantang para preman itu, ketiga laki-laki tersebut adalah Ghani, vio dan Farel, mereka baru saja pulang dari Tempat acara mereka.
Para preman tersebut kemudian maju dan Ghani, Vio dan Farel pun langsung menghadapi mereka berlima.
Untung saja mereka bertiga pernah mengikuti taekwondo, jadi untuk ke tiga laki-laki tersebut melawan lima preman sangat lah mudah.
Ghani masih belum tahu jika yang ia tolong adalah Zian, Zian tersungkur sehingga Ghani tidak bisa melihat wajah calon adik iparnya itu.
Vio dan Farel kemudian mendekat ke arah Ghani.
"Lebih baik kita segera tolong laki-laki itu sebelum terlambat" Ghani kemudian mendekat, dan saat tubuh Zian sudah terlentang, dapat Ghani kenali jika yang ia tolong saat ini adalah Zian.
"Zian!!!", Ghani sedikit mengeraskan suaranya, dan membuat Farel dan Vio menoleh.
__ADS_1
"Lo kenal laki-laki ini Ghan??" Tanya Vio, Ghani pun mengangguk, "Iya gue kenal banget, dia calon suami adik gue Ghina"
Mata Farel dan Vio pun membulat.
"Berarti ini calon adik ipar Lo, ayo kita segera bawa ke rumah sakit" Ke tiga dokter muda itu pun segera mengangkat Tubuh Zian menuju ke arah mobil Ghani, sedangkan Vio yang tidak membawa mobil kini membawa mobil Zian.
"Lo yakin bisa bawa mobil sendiri sambil menjaga Zian??" Tanya Farel,
"Lo berdua tenang aja, lebih baik kita Segera berangkat, Zian harus segera mendapatkan pertolongan"
Ghani segera membawa Zian ke ruah sakit, meskipun Ghani tahu Zian hanya pingsan saja , setidaknya Ghani harus membawa Zian ke rumah sakit agar tau bagaimana kondisi dan bagaimana kondisi tubuhnya setelah di keroyok oleh lima preman tadi.
Setengah jam kemudian Ghani sudah sampai di rumah sakit, Ghani segera masuk dan membawa Brankar rumah sakit untuk membawa Zian masuk kedalam.
Vio dan Farel yang baru saja datang juga ikut membantu, ketiga dokter tersebut segera membawa Zian ke IGD.
Dapat dilihat dengan jelas lunak di wajah Zian yang sangat banyak, suster yang mendampingi Ghani segera ikut membantu membersihkan dan mengobati luka di wajah Zian..
Setelah melakukan tindakan, Ghani segera keluar dari IGD, ia harus menelfon adiknya, itu, Ghina harus tau jika.calon suaminya itu saat ini sedang terbaring pingsan di dalam IGD, dan belum sadar.
Sudah ke tiga kalinya Ghani menelfon Ghina tapi masih belum ada jawaban, dan Ghani kemudian mencoba lagi, dan setelah beberapa kali mendengar nada sambung di ponselnya akhirnya gajian mengangkat telepon darinya.
__ADS_1
"Halo kak, ada apa??, kok malam-malam telfon, gak bisa buka pintu apa??" Tanya Ghina yang selalu membukakan pintu depan rumahnya.
"Ghina, ini penting, bukan urusan pintu atau yang lainnya, Zian kecelakaan Ghina, dan sekarang ada di rumah sakit" Mendengar kabar tersebut mata Ghina kemudian mendelik, baru setengah jam yang lalu Ghina mendapatkan telfon dari Zian dan saat ini ia sudah mendengar jika Zian tengah berada di ruang sakit.