Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Sama-sama Hamil


__ADS_3

Fandi hari ini berniat menemui dokter Tamara tanpa sepengetahuan Alisa,


Kini Fandi berjalan melewati koridor rumah sakit, ia sebenarnya malu, tapi ia harus menanyakan hal ini demi kebutuhan biologis nya bersama dengan istrinya, jika ia diam saja mungkin ia tidak akan mendapatkan jatah sampai batas yang akan diberikan dokter kepada nya.


Fandi semakin dekat, tapi apa yang ia lihat saat ini, antrian panjang untuk menemui dokter Tamara sangat membuang waktunya, itu kesalahannya sendiri mengapa Fandi tak membuat janji terlebih dahulu sebelum datang kemari, jadi bisa dipastikan dirinya akan masuk terlebih dahulu dan tak perlu mengantri pastinya.


Fandi duduk di kursi tunggu, banyak pasang mata Yang memperhatikannya dia kali ini, para ibu-ibu yang datang terheran melihat Fandi, sedang apa seorang laki-laki datang menemui dokter kandungan, Ada masalah apa ??, Atau mungkin para ibu-ibu itu mengira jika Fandi ada hubungan dengan dokter tersebut.


Satu per satu para pasien sudah di panggil, kini tinggal Fandi dan ibu-ibu tadi yang memperhatikan dirinya sedari tadi, tapi nasib baik berpihak kepada Fandi, dan akhirnya Fandi lah yang masuk terlebih dahulu kedalam ruangan dokter Tamara.


" Selamat siang Pak Fandi, ada apa pak Fandi datang sendirian ke ruangan saya tanpa ibu Alisa ??", Tanya dokter Tamara penasaran.


Fandi pun terdiam sejenak, ia mengambil nafasnya dalam-dalam untuk mulai memikirkan bagaimana kata-kata yang akan ia ucapkan nantinya.


" Maaf Dok, saya kesini ada perlu dengan dokter sendiri, tapi saya kesini untuk membicarakan kehamilan istri saya ", Ujar Fandi,


Suster yang sedari tadi mendampingi dokter Tamara juga terlihat memperhatikan Fandi,


" Iya pak Fandi, apa ada masalah ??", Tanya dokter Tamara lagi.


" Begini Dokter ", Ucap Fandi terjeda sejenak.


" Iya pak Fandi, apa masalah nya ??", Tanya dokter Tamara yang menunggu Fandi tak kunjung membuka suaranya.


" Tapi dokter jangan menertawakan saya ", Ucap Fandi sedikit ragu.


Mendengar perkataan Fandi, sebenarnya dokter Tamara ingin tertawa, tapi ia tahan karena tak mau membuat orang Yang ada didepannya ini semakin malu, suster pun juga begitu, ia juga sedang mati-matian menahan tawanya.


" Bagaimana saya akan menertawakan anda pak Fandi, anda saja belum mengatakan apapun kepada saya ", Ucap dokter Tamara heran.


Fandi pun tersenyum malu, Dan dia kembali membuang nafasnya lagi.


" Begini dokter, saya mau menanyakan hal yang menyangkut kebutuhan saya ", Lagi-lagi ucapan. Fandi terjeda.


" Lalu ??", Tanya dokter Tamara lagi.

__ADS_1


Dokter Tamara sungguh sangat tidak sabar, apalagi mengingat masih banyak pasien yang sedang berada di luar dan sedang menunggu giliran untuk menemuinya.


" Apa boleh saya berhubungan suami istri dengan istri saya dok, mengingat kehamilan istri saya masih baru satu bulan ", Tanya Fandi.


Dokter Tamara sedikit menyunggingkan senyumannya.


" Begini Pak Fandi, anda boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu sering ya, dan jangan terlalu memaksa Bu Alisa, karena bu Alisa butuh ketenangan bukan paksaan ", Ujar dokter Tamara menjelaskan.


Fandi sedikit tersenyum, ia lega bisa mengetahui apa yang menjadi pikirannya semalaman tadi,


Meskipun tak setiap hari, tapi setidaknya Fandi sudah lega dan dia bisa menyentuh istrinya malam ini.


" Terimakasih Dok, kalau begitu saya permisi ", Fandi pun berpamitan, ia kini sudah memegang handle pintu untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


Dokter Tamara dan dua orang suster didalam langsung saja tertawa, melihat tingkah Fandi tadi membuat ketiga orang itu sengaja menahan tawanya sampai Fandi keluar dari ruangannya.


Fandi pun keluar dengan senyuman yang masih terukir diwajahnya, memang ia begitu lama di dalam sehingga para ibu-ibu lainnya menatap Fandi dengan heran, apalagi Fandi keluar dengan senyum yang tiada henti.


Satu lagi ada ibu yang masuk kedalam ruangan dokter Tamara, dan ibu itu segera masuk kedalamnya,


Pasangan itu pun mengangkat kepalnya, kemudian Fandi pun baru tahu jika itu adalah Niko dan Tania yang juga berada di sini dan bisa dipastikan jika Tania juga sedang hamil.


" Niko, Tania ", Ucap Fandi.


Keduanya pun menoleh, ia mencari siapa yang sedang memanggil nya saat ini.


Mata mereka pun bertemu, dan Niko pun berdiri untuk mendekat ke arah Fandi.


" Mas Fandi ??", Ucap Niko.


Fandi pun tersenyum, ia kemudian bersalaman dan saling berpelukan dengan Fandi.


" Sedang apa kalian disini ??", Tanya Fandi.


Tania pun berdiri, ia kemudian berjalan dan berdiri tepat di samping Niko, suaminya.

__ADS_1


" Kami sedang memeriksakan kandungan Tania, Alhamdulillah Tania sudah hamil ", Ucap Niko.


Fandi pun kembali tersenyum.


" Selamat untuk kalian, semoga bayi dan ibunya selalu sehat ", Ucap Fandi yang langsung diamini oleh keduanya.


Para ibu-ibu tadi kini memperhatikan interaksi antara ketiga orang tersebut, Mereka pun sedikit menguping, ibu itu ingin memastikan apa benar laki-laki tampan itu ada hubungan khusus dengan dokter tersebut.


" Kamu disini ada perlu apa Fand ??", Tanya Tania, Tania juga penasaran dengan adanya Fandi di sini, ini merupakan ruang dokter praktek kandungan dan seperti yang Tania lihat Fandi disini sendirian dan tanpa Alisa istrinya.


" Aku disini ada perlu dengan dokter Tamara, aku sedang berkonsultasi dengan kehamilan Alisa ", Jawab Fandi.


Niko dan Tania pun terlihat saling memandang, mereka berdua juga tersenyum senang mendengar kabar kehamilan Alisa.


"Selamat mas, ternyata istri mas Fandi juga sedang hamil ", ujar Niko.


" Selamat ya Fand, semoga kandungan Alisa juga baik-baik saja", Ucap Tania.


" Makasih ya Tan, Ko ", Ucap Fandi.


" Kalau begitu aku pamit duluan, aku masih banyak pekerjaan ", Fandi kemudian melangkah pergi meninggalkan Tania yang masih menunggu antrian untuk bisa bertemu dengan Dokter Tamara.


Fandi pun masuk kedalam mobilnya, ia tak menyangka bisa bertemu dengan Tania dan Niko di sini.


" Bagaimana bisa kebetulan, Alisa dan Tania sama-sama sedang hamil", Ucap Fandi sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Fandi kemudian melajukan mobilnya menuju ke kantornya kembali, jam makan siangnya sudah terlewat, ia berniat untuk makan siang dikantornya saja setelah sholat dhuhur nanti.


Satu jam kemudian Fandi sudah sampai di kantornya kembali, ia masuk dan segera menuju lift untuk membawanya menuju ke ruangannya Yang berada di lantai 10.


Pintu lift pun terbuka, ia berjalan menuju ke ruangan kerjanya, tapi sebelum masuk ia berhenti dulu di depan meja Denis.


" Den, tolong pesankan aku makan siang, jika kamu belum makan kamu bisa pesan dua ", Perintah Fandi kepada Denis dan langsung diangguki oleh Denis.


" Siap bos ", Jawab Denis dengan semangat, Denis ternyata juga belum makan siang, Setelah mendapat perintah dari bosnya Denis pun segera memesan makanan lewat aplikasi online.

__ADS_1


__ADS_2