
Setelah berpamitan dengan Fandi Denis langsung keluar dari kantor dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak mau tergesa-gesa apalagi sampai mengebut dijalan, ia masih memikirkan keselamatan nya kali ini.
Denis pun segera mencari resto terbaik yang menyajikan salad buah Ter enak, ia tak mau Nisa kecewa karena salad yang ia beli tidak enak dan tak sesuai pesanan istrinya.
Denis pun mulai masuk, dia kemudian menghampiri meja kasir dan langsung memesan salad dengan toping keju yang sangat banyak.
Denis pun duduk sambil menunggu pesanannya selesai, bisa saja Denis memesan lewat aplikasi online, tapi kali ini Denis tidak mau, ia harus memastikan sendiri pesanan istrinya sesuai dan tak ingin istrinya kecewa.
Setelah membayarnya Denis pun segera keluar dengan menenteng tiga buah kantung keresek, bukan hanya salad buah yang ia beli tapi setelah melihat berbagai menu Denis sangat ingin membeli Beef steak untuk dirinya dan istrinya.
Denis pun semakin tidak sabar untuk segera sampai di rumah nya, ia ingin melihat ekspresi istrinya saat ia berhasil membawa salad buah pesanan istrinya.
Denis memarkirkan mobilnya tepat dihalaman rumahnya, ia segera keluar dari dalam mobilnya, tapi rasa bahagia Denis saat ingin bertemu istrinya seketika pudar ketika mengingat jika istrinya tidak bisa ia dekati untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Denis melangkahkan kakinya, ia mengetuk pintu rumahnya dan beberapa saat kemudian Nisa keluar dengan segera, Nisa sudah tau jika yang datang adalah suami nya.
" Assalamu'alaikum ", Ucap Denis dan langsung dijawab oleh Nisa.
" Waalaikum salam bang, Nisa kemudian ingin meraih tangan Suaminya dan Suaminya pun sedikit memundurkan langkahnya.
" Gak usah yang, Abang takut kamu mual lagi, Abang gak tega lihat kamu lemas terus ",
Nisa pun tersenyum kepada suaminya, ia mengerti jika suaminya sangat memperhatikan nya sampai menjaganya agar tidak mual saat berdekatan dengannya.
" Ya udah ayo masuk bang ", Nisa pun berjalan terlebih dahulu dan Denis mengikutinya dari belakang, jika biasanya mereka akan berjalan berdampingan dan saling menggenggam tangan satu sama lain, kali ini mereka harus saling berjauhan demi kesehatan Nisa.
Denis kemudian menyerahkan kantung kresek yang ia bawa tadi,
" Ini salad buahnya yang, dan yang di kresek satunya ada beef steak ", Ujar Denis.
Tak biasanya Denis akan membeli aneka olahan daging, biasanya ia akan lebih dominan dengan sayur.
" Kamu beli beef steak bang ??", Tanya Nisa tak percaya.
__ADS_1
" Iya Abang lagi pengen yang ", Jawab Denis yang kemudian memasuki kamarnya dan segera membersihkan badannya.
" Abang mandi dulu yang, kalau mau makan saladnya dulu nggak apa-apa, nggak usah nunggu Abang", Ujar Denis.
Nisa pun segera membuka kantung keresek yang ada di atas meja makannya, ia begitu sangat ingin memakan salad sore ini.
Nisa kini tengah melihat suaminya yang memakan daging itu dengan lahap, biasanya Denis akan menyingkirkan makanan yang berhubungan dengan daging tersebut.
" Enak banget ya bang ??", Nisa melihat suaminya kali ini berbeda dengan biasanya.
" Iya yang enak banget, kamu gak ikutan makan ??", Tanya Denis.
Nisa pun berpikir mungkinkah kali ini Suaminya ngidam ??, Nisa pun jadi tersenyum sendiri.
Sore ini Fandi begitu ingin mengunjungi Restonya, sudah hampir satu bulan ini ia tak datang dan memantau langsung perkembangan restonya,
Laporan keuangan pada bulan ini hanya dikirim kan lewat email dari Dina, Dina juga tidak punya waktu untuk datang menemui bosnya tersebut karena resto tersebut selalu ramai dan tak pernah sepi pengunjung.
Fandi dan Alisa hanya datang untuk melihat sebentar restonya, dan mereka masih memakai pakaian kerjanya,
Alisa duduk di sofa dan memperhatikan Suaminya yang tengah membuka laptop nya dan sedang memeriksa semua laporan yang sudah Dina kirim sebelumnya,
Alisa menatap ruangan ini sambil mengingat masa lalu nya disini, disinilah ia bertemu dengan suami nya, bos yang begitu dingin dengan orang lain tapi begitu hangat dengannya.
Fandi tidak akan menampakkan senyumnya kepada para pegawainya, ia merupakan sosok bos yang sangat tegas dan para pegawai nya pun sangat menghormati dirinya.
Alisa Kemudian mengingat kejadian dirinya saat disekap di gudang resto ini, ingatannya masih tajam, ia masih trauma jika ia harus pergi ke belakang sendiri dan melihat gudang tersebut.
Entah bagaimana kabar Leni, orang yang yang telah menyekap dirinya satu malam didalam gudang gelap yang ada dibelakang Resto ini, sungguh suatu kebetulan atau memang sudah digariskan oleh Allah SWT, Alisa di tolong oleh Fandi dan kini sudah menjadi suami nya.
Wajah Alisa begitu sangat tegang dan Fandi pun melirik istrinya saat masih menatap layar laptopnya.
" Sayang kamu kenapa ??", Tanya Fandi tapi Alisa sama sekali tak merespon nya.
__ADS_1
Alisa masih larut dalam pemikirannya sendiri mengingat kejadian yang menimpanya di resto ini.
Fandi Kemudian mendekat, ia sentuh pundak istrinya membuat Alisa Seketika tersentak kaget.
Wajah Alisa terlihat sangat tegang dan Fandi melihat ada yang sedang di pikirkan istrinya.
" sayang, kamu kenapa ??", Tanya Fandi kepada istrinya.
Alisa pun terdiam kenapa tiba-tiba ia mengingat kejadian itu, wajah Alisa pun seketika berubah.
"Aku tidak apa-apa mas, aku hanya mengingat Leni ", Ujar Alisa yang kini mulai merubah mimik wajahnya.
" Leni ??", Tanya Fandi.
" Iya mas, aku mengingat kejadian itu ", Ujar Alisa.
Fandi tak menyangka jika istrinya akan mengingat kejadian buruk yang menimpanya.
" Apa kamu masih takut ???", Tanya Fandi. raut wajah Alisa saat ini menggambarkan jika rasa trauma yang dimiliki Alisa masih ada.
" Kami jangan takut lagi sayang, mas akan selalu bersamamu dan menjagamu, mas tidak akan pernah mengizinkan ada orang lain yang menyentuh apalagi menyakiti mu, kamu jangan khawatir ", Ujar Fandi.
Fandi sebenarnya juga tidak tahu kabar mantan pegawainya yang telah menyekap istrinya, apalagi Fandi tahu jika Leni dulu terobsesi kepadanya.
Alisa pun tersenyum tipis kepada suami nya, ia berusaha menyingkirkan rasa traumatis tersebut agar tidak membuat Fandi merasa khawatir kepadanya.
" Ayo sayang, sebaiknya kita segera pulang, mas tidak mau jika kamu terus berada disini akan mengingatkan mu dengan kejadian itu ",
Mereka berdua pun keluar dari resto, Alisa kini sudah bersikap lebih biasa lagi dan debaran jantung nya juga mulai stabil,
"Seandainya Leni sudah kembali mas tidak akan pernah mengizinkan Leni untuk menatap apalagi menyentuh kuku mu walaupun hanya ujungnya saja".
Dilain tempat ada orang yang tengah mengawasi mereka dari jauh dan masih menatap tak suka kepada Alisa,
__ADS_1
Mungkinkah itu Leni ???