
Patricia menunggu dengan sangat gelisah kedatangan suaminya. Kalau saja dia sudah di izinkan untuk pulang, Patricia pasti akan langsung membawa bayinya kembali ke rumah orangtuanya. Dia sangat panik saat Junio mengatakan kalau Grandma Clarissa kritis.
"Junio, kau sebenarnya pergi kemana sih? Kenapa lama sekali. Aku kan ingin segera mengetahui kabar Grandma Clarissa. Tolong cepatlah kembali," gumam Patricia seraya menggigit ujung kukunya.
Ceklek
Nafas Patricia sedikit tertahan saat dia menunggu kemunculan seseorang yang baru saja membuka pintu ruangannya. Dia langsung menghembuskan nafas panjang begitu melihat kalau suaminya lah yang datang.
"Kau lama sekali, Junio. Kemana saja, hm? Mencari wanita cantik untuk di jadikan manekin lagi? Iya?" cecar Patricia sedikit emosi.
Mulut Junio ternganga lebar begitu mendengar tuduhan tidak manusiawi yang di lontarkan oleh istrinya. Dia tidak percaya Patricia tega menuduhnya seperti itu hanya gara-gara dia yang datang terlambat.
"Tutup mulutmu, bodoh. Nanti ada lalat yang masuk untuk menitipkan telurnya di dalam sana."
"Ck, sayang. Bisa tidak sih kau jangan cetus-cetus padaku? Memangnya kau tidak khawatir kalau bayi kecambah kita akan menirukan perkataanmu?" omel Junio sambil berjalan mendekat ke arah box bayi tempat anaknya memanjangkan diri.
"Cio, Junio. Sekarang anak kita sudah memiliki nama, jadi jangan memanggilnya bayi kecambah lagi. Aku tidak suka!" protes Patricia tak terima.
"Bagiku tetap sama saja, sayang. Cio adalah bentuk nyata dari bayi kecambah yang selama ini menumpang tidur di dalam perutmu. Jadi mau sebesar apapun dia nanti, dia akan tetap menjadi bayi kecambah kesayanganku. Iya kan, Cio sayang? Waahhh, anak Daddy pulas sekali tidurnya. Ayo cepat buka mata dan siksa Mommymu supaya berhenti mengomel pada Daddymu yang tampan ini. Cio sayang, ayo buka matamu, Nak!"
Bughhh
Antara kesal dan ingin tertawa, Patricia melemparkan guling kecil ke arah Junio. Dia menarik nafas dalam-dalam saat Junio malah sibuk sendiri dengan bayi mereka.
"Jun, Grandma bagaimana? Dia baik-baik saja kan?" tanya Patricia penasaran.
Junio menoleh ke arah Patricia kemudian menggelengkan kepala. Setelah itu dia berjalan ke arah ranjang, meninggalkan bayi kecambahnya sibuk bermain di alam mimpi.
__ADS_1
"Tadi saat aku pulang ke rumah keadaan Grandma benar-benar sangat kritis, sayang. Dia sudah tidak sadarkan diri dan tekanan darahnya terus menurun. Dan sampai sekarang pun Grandma masih belum sadar. Sebenarnya dokter sudah menyarankan agar Grandma di bawa ke rumah sakit saja. Tapi reaksi di tubuhnya seperti menolak untuk keluar dari rumah. Sepertinya Grandma hanya ingin terus berada di kamarnya almarhum Kakek Karim. Semacam cinta sejati mungkin," ucap Junio menceritakan apa yang terjadi.
"Ya ampun, kenapa bisa begitu ya?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa."
"Lalu Elea, apa dia ada di rumah juga? Apa dia menangis?" tanya Patricia. Dia sangat yakin kalau adiknya itu pasti akan sangat sedih melihat keadaan nenek mereka. Secara, Elea sangatlah menyayangi Grandma Clarissa. Begitu juga sebaliknya.
Junio mengangguk. Dia kemudian merebahkan kepalanya di kaki Patricia. Wajah Junio tiba-tiba berubah murung. Jujur saja, dia masih trauma dengan kehancuran yang terjadi di keluarganya dulu. Juga kematian sang ibu yang masih sangat mengguncang batin Junio hingga di detik ini.
"Sayang, kenapa Tuhan harus mempertemukan orang-orang kalau pada akhirnya akan Dia pisahkan dalam suatu perpisahan yang sangat menyakitkan? Melihat Elea yang begitu hancur karena kondisi Grandma Clarissa, aku jadi teringat dengan kematian Ibu dulu. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan, sayang. Sesak, seperti tubuh kita sedang di cabik-cabik dengan belati yang sangat tajam."
Patricia tersentak kaget saat mendengar perkataan suaminya. Junio adalah type orang yang jarang sekali terbuka tentang kehidupan masa lalunya. Dan tiba-tiba saja pria gila ini membahas sesuatu yang jarang sekali Patricia dengar. Sepertinya hati pria ini sedikit terguncang setelah melihat keadaan Grandma Clarissa di rumah tadi.
Jun, apa kau sedang mengingat kejadian kelam yang terjadi di masa lalumu? Kau jadi terlihat lebih manusiawi jika sedang seperti ini, sayang.
"Apapun itu jangan terus di ingat jika hanya menyakiti hati, Junio. Sekarang kau sudah hidup di sama depan. Ada aku dan juga Cio yang akan menghiasi hari-harimu. Jadi aku harap kau jangan sampai terbawa emosi gara-gara terkenang dengan masa lalumu itu ya? Meskipun cara kita bersatu sedikit tidak wajar, tapi aku benar-benar menyayangimu. Aku sedih jika melihatmu terluka begini. Begitu juga dengan Cio. Ikatan batin di antara kalian pasti akan membuatnya ikut merasakan apa yang sedang kau rasakan sekarang. Percaya padaku!" ucap Patricia sembari mengelus rambut hitam suaminya.
"Hei, kenapa kata-katamu jadi manis begini, hm? Apa sebelum datang kemari kau memborong permen lolipop satu pabrik kemudian memakannya sampai habis? Bulu kudukku sampai berdiri semua karena mendengarnya."
Mendengar kata-kata menjurus yang di ucapkan oleh Patricia membuat Junio menyeringai lebar. Beberapa pikiran mesum langsung memenuhi rongga pikirannya yang mana membuat Patricia mengerutkan keningnya heran.
"Kau kenapa, Jun?" tanya Patricia.
"Sayang, kenapa tiba-tiba kau menyinggung tentang permen lolipop sih? Apa kau sudah tidak sabar ingin segera bercinta denganku?" sahut Junio balik bertanya.
Bluussssshhh
__ADS_1
Wajah Patricia langsung memerah seperti buah tomat saat mendengar pertanyaan Junio yang sangat luar biasa mesum. Bisa-bisanya suaminya ini terfikir ke arah sana hanya karena dia menyebut kata permen lolipop. Menurut kalian otak Junio perlu di loundry tidak?
"Jun, bahkan Cio baru saja di lahirkan ke dunia ini. Bagaimana bisa kau bertanya apakah aku ingin bercinta denganmu atau tidak? Kau pikir milikku tidak sakit apa setelah mengeluarkan Cio dari dalam perut. Seenaknya saja kau menguap!" omel Patricia tak habis pikir.
"Aku kan hanya bertanya saja, sayang. Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa, aku kan tidak memaksa. Galak sekali," sahut Junio sambil mengerucutkan bibir.
Sebenarnya Junio juga tahu kalau dia akan libur panjang dalam urusan ranjang. Hal ini dia ketahui dari ayah mertuanya yang mau berbesar hati memberikan nasehat. Awalnya Junio berfikir untuk langsung tancap gas membuatkan adik untuk Cio. Tapi begitu mendengar petuah dari ayah mertuanya, Junio jadi kaku sendiri membayangkan rasa sakit yang harus di tanggung oleh Patricia jika dia tetap memaksa untuk mengajaknya bercinta.
"Selama seratus hari kau tidak boleh menyentuhku, Junio. Setidaknya sampai aku tidak mengalami pendarahan lagi."
"Seratus hari? Alamak, lama sekali, sayang. Apa tidak bisa di diskon sedikit? Lima puluh hari mungkin?" kaget Junio berusaha menawar.
Kasihan rudal tempurnya kalau di anggurkan sampai selama itu. Bisa-bisa olinya kering yang membuat gerakannya menjadi melambat.
"Kau pikir aku ini pasar loak yang bisa kau tawar sesuka hati apa? Dasar gila."
Patricia tertawa saat melihat Junio yang merajuk. Tapi lama-kelamaan dia menjadi tidak tega. Sambil menahan rasa malu, Patricia membisikkan sesuatu yang langsung membuat mata Junio bersinar dengan sangat terang.
"Nanti setelah masa-ku selesai, aku akan memberikan jamuan yang sangat istimewa untukmu. Jadi sekarang kau bersabar dulu saja ya. Aku janji nanti aku akan memberikan servis yang sangat memuaskan. Oke?"
Hehehehe, sepertinya mulai hari ini aku harus sudah mulai menyusun gaya apa saja yang akan aku lakukan nanti. Ahay, kenapa rasanya bahagia sekali ya.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...