Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tentang Sebuah Karma


__ADS_3

Di dalam butik, Elea baru saja menyelesaikan satu desain pesanan dari seorang putri konglomerat. Dia lalu meregangkan otot-otot tangannya, tersenyum saat menatap hasil karya miliknya.


"Cantik,"


Pikiran Elea tiba-tiba saja melayang pada satu mimpi yang belum pernah dia katakan pada siapapun, termasuk Gabrielle. Malam itu ketika langit tengah bergemuruh dengan kilatan petir dan angin ributnya, ruh Elea seakan di bawa pergi oleh sosok hitam dengan perawakan tinggi besar. Sosok tersebut membawa Elea pergi ke sebuah lapangan yang sangat luas di mana ada banyak sekali orang berbaris rapi di sana.


Flashback


"Tempat apa ini?" tanya Elea bingung. "Dan siapa orang-orang itu. Kenapa mereka memakai pakaian yang aneh, apa yang sedang mereka lakukan di bawah sana?"


"Ini adalah medan peperangan. Coba kau lihat ke arah sana," jawab si sosok hitam sambil menunjuk ke arah seseorang yang duduk di atas seekor kuda.


Pandangan Elea langsung mengikuti ke arah yang di tunjuk oleh sosok hitam tersebut. Di sana, terlihat seseorang dengan wajah bengis tengah menatap lurus ke arah depan sambil mengacungkan pedangnya yang runcing dan berkilau. Aura orang tersebut begitu kuat, hingga mampu membuat kaki Elea gemetaran karenanya.


"Dia adalah Jendral Liang Zhu, panglima perang utama dari Dinasti Ming."


"Dinasti Ming?"


Elea mengerutkan keningnya. Dia bingung, juga tidak mengerti kenapa dia di bawa ke tempat kuno seperti ini.


"Ya. Apa kau penasaran kenapa aku membawamu kemari?"


"Benar. Aku tidak mengerti dan tidak menemukan alasan kenapa aku bisa di bawa kemari olehmu. Apa kau ingin memberitahu kalau aku adalah bagian dari mereka?"


"Bukan kau, tapi salah satu dari ketiga anakmu."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Satu dari ketiga anakmu akan menanggung sebuah karma mengerikan yang tidak sengaja dilakukan oleh Jendral Liang Zhu. Sebagai seorang panglima perang, dia sudah membuat ratusan bahkan ribuan nyawa melayang di ujung pedangnya yang begitu tajam. Sebenarnya dia tidak salah karena itu terjadi atas dasar membela negara. Akan tetapi tidak akan di sebut adil seorang Tuhan yang tidak memberikan hukuman untuk apa yang telah dilakukan oleh hamba-Nya, terlepas dari apa yang telah di perbuatnya. Kematian yang di sebabkan oleh Jendral Liang Zhu telah menyebabkan banyak wanita dan anak-anak kehilangan anggota keluarga mereka. Dan dari air mata mereka inilah karma buruk itu datang!"


"Tapi kenapa harus anakku? Apa hubungan anak-anakku dengan perbuatan Jendral Liang Zhu? APA?!" teriak Elea histeris. Lagi-lagi dia harus melihat nasib buruk tentang salah satu dari ketiga anaknya.


"Karena anak-anakmu berada dalam garis keturunannya," jawab si sosok hitam. "Satu dari anakmu memiliki waktu dan tanggal lahir yang sama persis dengan hari kelahiran Jendral Liang Zhu. Purnama yang bersinar dengan begitu indah, bisikan angin yang begitu merdu dan juga rasa suka cita yang dirasakan oleh para penduduk di zaman Dinasti Ming, menyambut lahirnya sesosok pahlawan yang membawa banyak keberkahan di zaman mereka. Namun sayang, hal berbeda justru dirasakan ketika kau akan melahirkan anak-anakmu. Mereka terlahir dari sebuah rasa sakit dan air mata, kemarahan dan juga ketakutan di hati banyak orang. Apa aku benar?"


Pikiran Elea melayang pada hari di mana dia melahirkan Bern, Karl, dan juga Flowrence. Dia yang mengalami kecelakaan, jantungnya yang sempat berhenti berdetak, Flowrence yang hampir terlambat di selamatkan, amarah Gabrielle, juga dengan ketakutan besar yang dirasakan oleh seluruh keluarganya. Bagaimana bisa semua ini sama persis dengan yang di katakan oleh sosok hitam ini? Dan kenapa juga harus anak-anaknya? Ada apa ini sebenarnya?


"Jendral Liang Zhu lahir dengan membawa keberuntungan yang begitu besar. Sedang anakmu, dia terlahir dengan di ikuti karma yang sangat mengerikan. Kau harus sabar karena semua ini tidak bisa di tolak. Takdir tetaplah takdir yang akan tetap berjalan sesuai alurnya, terkecuali jika Tuhan sendiri yang berkehendak untuk merubahnya,"


"Tuan, bisakah kau memberitahuku siapa di antara Bern, Karl dan Flowrence yang akan memangku karma itu? A-aku ...


"Jendral Liang adalah sosok yang sangat cerdik dengan ribuan siasat serta tipu muslihat. Namun, dia adalah sosok penyayang terhadap keluarga dan orang-orang terdekatnya. Berdoalah agar ketiga anakmu tidak terlibat dalam perseteruan yang bisa membuat nyawa mereka melayang. Ketulusan serta kesabaran yang kau miliki mungkin bisa membuatnya sedikit berbelas asih dengan tidak menyakiti saudaranya sendiri!"


"Yang perlu kau ingat, Jendral Liang Zhu adalah sosok cerdik yang sangat pandai memainkan tipu muslihatnya. Hati-hati. Di dalam kehidupanmu yang sekarang, dia bisa di anggap sebagai musuh dalam selimut. Hanya dengan cara inilah kau bisa mengetahui siapa di antara mereka yang terlahir dengan membawa karma dari dosa masa lalu leluhur mereka!"


Flashback Now


"Elea ... Elea!"


Elea langsung tersadar saat ada seseorang yang menepuk-nepuk pipinya sambil berteriak memanggil namanya. Dia yang sedang terhanyut dalam lamunannya sampai tidak menyadari ada orang lain yang masuk ke dalam ruangannya.


"Elea, kau kenapa?" tanya Levita seraya menatap khawatir ke arah Elea. Dia kemudian mengelap keringat yang mengucur deras di kening calon besannya ini.

__ADS_1


"Kak, kapan kau datang? Sudah seperti arwah gentayangan yang muncul begitu saja tanpa ada suara," sahut Elea berusaha untuk menormalkan detak jantungnya.


Baru sedetik yang lalu Levita di buat khawatir, kini dia harus rela menelan pil pahit saat Elea menyebutnya sebagai arwah gentayangan. Tahu begini dia langsung menggeplak kepalanya saja tadi. Menyebalkan.


"Elea, bisa tidak kau jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat amarahku naik ke ubun-ubun?" tanya Levita sambil menahan kesal.


"Aku kan tidak mengatakan sesuatu yang aneh padamu si, Kak. Kenapa kau marah?" jawab Elea. Selalu suka setiap kali Elea bisa membuat amarah pelakor ini memuncak. Semacam hiburan yang begitu menyenangkan di kala Elea tengah diliputi perasaan gundah seperti yang sedang dia rasakan sekarang.


"Arwah gentayangan. Kau pikir itu apa hah? Suara siulan burung, iya?"


"Hehehe, maaflah. Jangan marah, itu hanya gurauan saja,"


"Cihh. Alasan!"


Elea terkekeh. Dia kemudian melihat jam di tangan. Pukul dua belas siang, sudah waktunya istirahat ternyata.


"Kak Levi, ada urusan apa kau datang menemuiku di sini? Mau pesan baju pengantin atau bagaimana?"


"Hih, untuk apa aku memesan gaun pengantin padamu. Seperti kurang kerjaan saja," jawab Levita cetus. Sedetik kemudian ekpresinya langsung berubah cerah saat teringat dengan tujuannya datang ke butik ini. "Elea, kita kan sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Bagaimana kalau setelah makan siang kita pergi jalan-jalan saja. Temanku bilang ada pameran lukisan di salah satu galeri milik kenalan temanku. Kau mau datang tidak? Siapa tahu kau tertarik untuk membeli salah satu lukisan yang ada di sana. Lumayan, penciptanya adalah pelukis terkenal dunia. Keren 'kan?"


"Bilang saja kau ingin aku membelikannya untukmu, Kak. Tidak usah malu, aku itu sudah sangat hafal dengan akal bulusmu," ledek Elea yang sudah tidak heran lagi dengan sikap pelakor satu ini. Matrenya belum sembuh juga sampai sekarang.


"Hehehe, tahu saja kalau aku sedang butuh lukisan baru untuk di pajang di kamarnya Oliver," sahut Levita sambil tersenyum malu-malu.


"Owh, untuk calon mantu ya? Kenapa tidak bilang dari tadi sih, Kak. Ya sudah kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Sekalian makan siang di luar!"

__ADS_1


Wajah Levita langsung masam melihat Elea yang begitu antusias setelah tahu kalau lukisan itu akan dia peruntukkan untuk putranya. Terkadang ... catat baik-baik ya, ini hanya terkadang saja. Terkadang Levita merasa iri melihat Oliver yang begitu di utamakan oleh Gabrielle dan Elea. Levita merasa kalau posisinya sebagai seorang pelakor telah di geser oleh putranya sendiri yang sedari embrio sudah menyandang gelar sebagai calon mantu-nya Gabrielle dan Elea. Menyedihkan sekali bukan?


*****


__ADS_2