
(KISAH CINTA MASA LALU FLOWRENCE & OLIVER)
Publis setelah novel yang lain tamat. Lapak Karl, Bern, dan juga Russel bakalan ada sendiri.
***
"Kau benar tidak apa-apa di rumah sendirian?” tanya Oliver sembari menatap Flowrence yang duduk di sebelahnya. “Kalau kau merasa tidak tenang, tinggallah dulu di rumahku. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja, Flow.”
Flow menoleh. Dia tersenyum tipis saat matanya beradu pandang dengan mata Oliver. Pria ini … bagaimana cara Flowrence menjelaskannya? Tadi setelah ibunya tersadar, Flowrence memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Dia sedang ingin sendiri di mana tidak ada orang yang bisa mendengar suara teriakan maupun isi pikirannya. Namun karena tekanan yang Flow rasa begitu besar, dia sedikit lepas kendali ketika berbicara dengan Oliver. Flowrence terbawa perasaan hingga tak menyadari kalau dia menunjukkan sikap yang berbanding terbalik dengan sikap yang biasa dia tunjukkan. “Kak, apa kau bisa menebak siapa di antara Kak Bern dan Kak Karl yang benar-benar tulus menyayangiku?” tanya Flowrence.
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti ini padaku, Flow?”
“Karena aku ingin tahu jawabanmu.”
Oliver terdiam. Dia menatap lekat wajah Flowrence, merasa tak nyaman dengan ekpresi berbeda yang di tunjukkan olehnya. Sebagai salah satu orang yang mengenal Karl dan Bern sedari lama, Oliver jelas bisa membedakan siapa di antara mereka yang benar-benar tulus menyayangi Flowrence. Namun, haruskah dia mengatakannya?
Flow, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kalau kau itu tidak seperti Flowrence yang aku kenal. Apa yang sedang kau sembunyikan? Tidak bisakah kau berkata jujur padaku agar kita bisa sama-sama mencari jalan penyelesaian dari apa yang sedang kau rasa? Aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu. Aku tidak mau ada yang berubah darimu, sayang.
__ADS_1
“Karl dan Bern adalah kakak kandungmu, dan kalian kembar. Menurutku mereka sama-sama tulus menyayangimu meski terkadang Karl sedikit keterlaluan saat sedang bercanda denganmu. Apa jawaban seperti ini yang ingin kau dengar?” ucap Oliver mencoba memberi jawaban yang tidak akan menyakiti hatinya Flowrence meski Oliver sendiri merasa tak yakin dengan jawabannya barusan. Semacam ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, tapi dia tidak tahu apa itu.
“Kak Oli, bisakah aku menyampaikan sesuatu hal kepadamu?” tanya Flowrence.
Oliver mengangguk. Dadanya berdebar kuat melihat kedua mata Flowrence yang berkaca-kaca. “Kau bisa mengatakan apapun yang kau mau, dan aku janji aku tidak akan bertanya apa alasannya. Bicaralah. Luapkan semua beban yang simpan di dalam hati. Aku siap menjadi pendengar.”
“Aku … takut.”
“ … “ Hening. Oliver tak menjawab. Dia benar-benar mengunci mulutnya meski sangat ingin dia bertanya masalah apa yang membuat Flowrence merasa takut.
“Aku belum mau mati. Aku masih ingin bersama kalian semua di sini, dan aku masih ingin mencintaimu sebanyak mungkin. Tapi bagaimana caranya?”
Flowrence membiarkan air matanya tumpah membasahi kemeja Oliver saat pria ini mendekapnya dengan begitu erat. Posisi mereka yang masih berada di dalam mobil tak membuat pelukan mereka berjarak, malah secara perlahan tubuh Flowrence sudah berpindah ke atas pangkuan Oliver. Barulah di sana Flowrence meluapkan isak tangisnya ketika dia mendengar suara detak jantung Oliver yang terdengar begitu merdu. Jika biasanya Flowrence akan merasa sangat bahagia setiap kali mendengar suara detakan tersebut, saat ini Flowrence justru merasa begitu sedih karena sebentar lagi kisah cintanya dengan Oliver akan terhapus seiring perginya karma buruk yang selama ini membayang-bayangi hidup keluarganya.
“Kau tahu, Flow. Dulu aku pernah merasa sangat muak saat kau terus mengekoriku dan berkata kalau kita telah di jodohkan. Waktu itu aku berpikir kau adalah gadis berisik yang selamanya tidak akan pernah aku nikahi. Sikapmu yang konyol, kepolosanmu, tawamu, pokoknya semua hal yang kau lakukan secara perlahan mulai mengulik perasaanku. Ternyata kau sangat cantik dan manis. Dan sekarang kau menangis di pelukanku seperti ini. Bersediakah jika aku mengajakmu menikah malam ini juga? Orangtua kita selalu mengatakan kalau Tuhan itu tidak pernah tidur. Bukankah itu artinya kita bisa meminta restunya kapan saja?” ucap Oliver dengan tulus mengutarakan keinginan hatinya untuk menikahi Flowrence. Hatinya tak tenang, dia seperti sedang terkecam oleh suatu perpisahan yang sangat menyakitkan. Oliver takut Flow-nya pergi diam-diam.
Aku sangat ingin menikah denganmu, Oliver. Tapi aku tidak bisa. Bahkan aku tidak yakin apakah nantinya kita masih bisa bersama atau tidak. Semuanya sudah ada di depan mata, kisah kita akan segera berakhir. Hiksss, Oliver. Aku takut. Tolong selamatkan aku dari Kak Karl, aku masih sangat ingin menghabiskan waktu bersamamu. Tolong aku, hikss ….
“Kau bilang akan membuatkan istana untukku. Lalu di mana kita akan tinggal kalau istananya saja belum ada?” tanya Flowrence sedikit mengalihkan pembahasan tentang pernikahan. Setelah itu Flowrence mendongak, memperhatikan wajah Oliver dengan begitu seksama. Wajah tampan ini, bagaimana mungkin dia akan merelakannya? Dia sudah sangat mencintainya sedari kanak-kanak, mampukah Flow untuk melepaskannya?
__ADS_1
“Aku akan membuat istanamu mulai besok pagi. Apa kau punya permintaan khusus?” tanya Oliver.
“Aku ingin balkon kamar yang di buat seperti balkon-balkon yang ada di dalam dongeng para peri. Setelah kita menikah nanti, kita akan menikmati langit malam yang berhiaskan bintang dan bulan lewat balkon kamar. Saat itu terjadi, kita pasti akan merasakan suatu kerinduan yang begitu dalam. Bisakah kau mewujudkannya?”
“Tentu. Apapun yang kau minta aku pasti akan mewujudkannya,” jawab Oliver dengan senang hati menyanggupi keinginan Flowrence. Setelah itu Oliver menyeka air mata yang masih menetes dari mata kekasihnya ini, mencoba untuk terus menahan diri agar tidak bertanya mengapa dia terlihat begitu sedih. “Sayangku, tersenyumlah. Tidak apa-apa, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ada aku bersamamu.”
Flowrence tersenyum. Bersamaan dengan itu tiba-tiba turun hujan yang begitu lebat. Flowrence dan Oliver sama-sama menoleh ke samping saat mendengar suara auman Tora dan ringkikan Cuwee. Mereka kemudian terkekeh.
“Lihatlah kedua binatang nakal itu. Tahu saja kalau kita sedang bermesraan,” keluh Oliver yang sudah tak heran lagi dengan keposesifan Tora dan Cuwee.
“Tora dan Cuwee tahu kalau sebentar lagi kau akan lebih sering datang menemui mereka. Makanya mereka menyambut kedatanganmu di sini,"sahut Flowrence penuh maksud. Dia lalu meminta Oliver menurunkannya agar Flowrence bisa keluar dari dalam mobil.
Seorang penjaga dengan cepat berlari sambil membawa payung ketika tuan putri keluarga Ma hendak keluar dari dalam mobil. Sedangkan Oliver, dia hanya terdiam sambil memperhatikan Flowrence yang langsung berlari menghampiri kedua binatang kesayangannya.
“Aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh Flow. Sejak datang ke kantor dia terus saja menunjukkan sikap yang aneh. Aku yakin pasti ada sesuatu yang dia tutupi dariku,” ujar Oliver yang merasa janggal melihat keanehan di diri Flowrence. “Kenapa ya aku merasa kalau kata-kata Flowrence selalu menjurus pada perpisahan? Dia tidak sedang menyukai pria lain bukan?”
Tak mau mati penasaran, Oliver segera mengirim pesan pada sang ibu yang masih berada di rumah sakit. Dia memberitahukan tentang sikap Flowrence yang begitu berbeda, juga dengan kecurigaannya akan kemungkinan adanya orang ketiga dalam hubungan mereka. Setelahnya Oliver pun keluar dari mobil dan melangkah menghampiri Flowrence yang tengah bercanda dengan Tora. Dia lalu ikut bermain bersama mereka bertiga.
***
__ADS_1