Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Merengek


__ADS_3

Kayo dan Jackson sama-sama menganggukkan kepala mereka sebelum mengetuk pintu kamar tempat Eela dirawat. Setelah tadi mereka mendengar pengakuan Flowrence yang begitu mengejutkan, mereka memutuskan untuk segera datang ke rumah sakit. Mereka kini berbagi tugas demi menggagalkan rencana busuknya Karl yang ingin memecah belah kebahagiaan di keluarga Ma. Dan ya, tentunya hanya pada Elea saja mereka akan mengatakannya. Kayo dan Jackson mematuhi larangan Flowrence yang tidak ingin Gabrielle tahu kalau orang yang membawa karma buruk itu adalah ibunya, Liona Serra Ma.


Tok tok tok


“Halo kakak ipar. Bolehkah aku masuk?” tanya Kayo sambil tersenyum setelah membuka pintu kamar.


Elea yang kala itu tengah memeluk Gabrielle langsung menganggukkan kepalanya begitu melihat kedatangan Kayo dan kakaknya. Segera dia melepaskan pelukan kemudian berganti memeluk Kayo setelah dia sampai di sebelahnya.


“Apa kabar, kakak ipar?” tanya Kayo sembari mengurai pelukan. Dia kemudian menoleh, menaikkan satu alisnya ke atas ketika mendapati wajah kakak sepupunya yang terlihat begitu masam. Kayo terkekeh. “Ya ampun, Kak Iel. Jangan bilang kau cemburu ya melihatku berpelukan dengan kakak ipar. Kau tidak mungkin lupakan kalau kami itu satu gender?”


Gabrielle diam tak menyahut. Dia diam seperti ini bukan karena sedang cemburu, tapi karena Gabrielle yang kesal pada Ares. Kenapa bisa demikian? Karena Ares baru saja melapor kalau Gabrielle harus segera pergi menghadiri pertemuan penting dengan para klien yang datang dari luar negeri. Dengan keadaan Elea yang sedang tidak sehat, mungkinkah Gabrielle rela meninggalkannya hanya demi pekerjaan? Tentu saja Gabrielle tidak rela. Akan tetapi istrinya yang cantik ini terus membujuk Gabrielle agar segera berangkat ke kantor. Hal inilah yang membuat Gabrielle cemberut. Dia ingin tetap di sini, tapi kehadirannya tidak di inginkan oleh Elea. Tragis sekali bukan?


“Kayo, Kak Iel itu bukan sedang cemburu padamu. Tapi dia sedang merajuk karena tak mau berangkat ke kantor. Memang sih di kantor sudah ada Bern dan Karl yang mewakili. Akan tetapi Ares bilang para tamu itu hanya ingin bertemu dengan Kak Iel saja. Dan dia merajuk saat aku membujuknya untuk segera berangkat ke perusahaan,” ucap Elea menggantikan Gabrielle menjawab.


“Ya ampun, Kak Iel. Hanya karena hal sepele begini kau merajuk? Sudah lupa umur apa bagaimana?” olol Kayo sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak setelah mengetahui penyebab kakak sepupunya berwajah masam. Benar-benar sangat menggelikan. Ternyata sikap posesif dan juga bucin banteng pencemburu ini masih sama gilanya seperti dulu. Astaga.


“Berisik kau, Kay,” sahut Gabrielle. Sambil bersungut-sungut, Gabrielle memilih untuk menghampiri Jackson yang sedang duduk sendirian di sofa. Gabreielle kemudian memicingkan mata saat mantan pembunuh bayaran ini diam tak menyapa.


“Jack, kau masih hidup ‘kan?”

__ADS_1


“Menurutmu?”


Jackson menoleh. Dia acuh-acuh saja ketika mendapati Gabrielle yang tengah menatapnya sinis.


“Kalau kau masih hidup kenapa tidak menyapaku?”


“Apa sapaan itu begitu penting untukmu?” tanya Jackson sarkas.


“Sialan!”


Gabrielle membuang nafas dengan kasar saat mendengar suara ketukan pintu. Itu pasti Ares. “Ck, kenapa juga sih mereka kekeh ingin bertemu denganku? Padahal di perusahaan kan sudah ada Karl dan Bern yang tentunya jauh lebih hebat dariku. Mereka tidak tahu apa ya kalau istriku sedang sakit. Menjengkelkan sekali!”


“Pergilah. Biar aku dan Kayo yang menjaga Elea selama kau berada di luar. Jangan khawatir, Elea aman bersama kami,” ucap Jackson membujuk agar Gabrielle segera pergi dari sana. Dengan begitu dia dan Kayo akan mempunyai kesempatan untuk memberitahu Elea tentang apa yang di alami oleh Flowrence.


“Kak Iel, mereka bisa dibunuh Kak Levi jika berani membawaku kabur darimu. Jangan bicara yang bukan-bukanlah,” sahut Elea sambil menatap hangat ke arah Gabrielle. “Tidak apa-apa, Kak. Ada Kayo dan Kak Jackson yang akan menjagaku di sini. Lagipula sebentar lagi pelakor peliharaan kita juga akan segera sampai. Aku akan sangat aman bersama mereka. Sungguh!”


“Tapi sayang, aku tidak mau jauh darimu,” rengek Gabrielle. “Rasanya aku seperti tidak bisa bernafas jika harus pergi meninggalkanmu yang sedang sakit. Aku takut kau kenapa-napa, sayang.”


“Kan ada Kak Jackson di sini. Dia itukan dokter yang sangat hebat, juga ada Russel yang akan membantu memantau keadaanku. Iyakan, Kak?” tanya Elea pada kakaknya.

__ADS_1


“Elea benar, Gab. Sudahlah, lebih baik kau segera pergi selesaikan urusanmu itu agar kau bisa kembali lebih awal ke rumah sakit. Jangan malah merengek seperti anak anjing,” jawab Jackson dengan santainya memantik kemarahan di diri banteng pencemburu ini.


“Sialan kau!”


Akhirnya dengan berat hati Gabrielle terpaksa datang ke perusahaan. Setelah dia memeluk dan menciumi Elea hingga berulang kali, barulah dia keluar dari kamar dan mengajak Ares untuk berangkat. Untuk memastikan apakah Gabrielle benar-benar sudah pergi dari sana atau belum, dengan sengaja Jackson pergi keluar untuk memeriksa keadaan di luar. Dan setelah merasa aman, Jackson kembali masuk ke dalam ruangan kemudian mendekati Elea.


“Ada apa, Kak? Aku tahu kalian datang kemari karena ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan padaku. Aku benar ‘kan?” tanya Elea sambil tersenyum kecut. Meski dia tidak mendapat penglihatan apapun, tapi hatinya bilang kalau Kayo dan kakaknya datang dengan maksud tertentu.


“Elea, dugaanmu memang benar kalau aku dan Kayo datang dengan tujuan tersendiri. Dan ini berhubungan dengan si kembar. Flow, dia ….


Elea langsung memegangi dadanya begitu nama putrinya di sebut. Tak mau membuat Kayo dan kakaknya panik, sebisa mungkin Elea berusaha untuk menjaga emosinya. Dengan sebelah tangannya Elea menepuk kasur, meminta agar sang kakak duduk di sana.


“Jack, jangan di paksakan kalau kakak ipar tidak kuat. Aku takut kakak ipar kenapa-napa,” bisik Kayo sambil mencengkeram kuat bahunya Jackson. Dia benar-benar serba salah sekali sekarang.


“Tidak bisa, sayang. Dia harus tahu kebenarannya,” sahut Jackson. Dia kemudian mengelus tangan Kayo sebelum duduk di sebelah Elea. Sambil menatap wajah Elea yang sudah mulai memucat, Jackson membelai pelan tangan Elea yang tidak terpasang infus. Dia lalu mulai menyampaikan pesan yang di katakan Flowrence. “Elea sayang, kau percaya tidak jika aku bilang kalau putri kita itu sebenarnya memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa?”


“Apa Kakak ingin bilang kalau sikap yang selama ini Flow tunjukkan hanyalah topeng untuk menutupi jati diri yang sesungguhnya?” tanya Elea langsung menangkap maksud perkataan kakaknya. “Kalau memang itu yang kakak maksud, maka aku akan menjawab percaya. Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa kalau Flow sedang tidak bahagia. Setiap kali melihat senyumnya aku merasa sesak di dada, seperti ada ribuan anak panah yang menusuk tepat ke jantungku. Aku sebenarnya ingin sekali bicara empat mata dengan Flowrence, Kak. Tapi herannya hal itu tak pernah terwujud sampai sekarang. Aneh bukan?”


“Elea, Flowrence … dia sama sepertimu. Bahkan melebihi kemampuan yang kau dan Gabrielle miliki. Dan dia barusaja mengakuinya di hadapanku dan juga Kayo. Flowrence kita selama ini sangat menderita, Elea. Dia terkurung dalam satu fakta dimana dia mampu mendengar isi pikiran orang lain, juga dengan kelebihannya yang bisa melihat ke masa lalu dan masa depan. Flowrence … dia sudah sampai di titik dimana dia hampir gila!”

__ADS_1


Deg deg deg


***


__ADS_2