
(Alur di percepat ya gengss.)
"Glleeennnn!!!!"
Lusi berteriak dengan sangat kuat ketika merasakan kontraksi di perutnya. Sambil menahan rasa sakit dan menunggu kedatangan Gleen, Lusi berusaha untuk melihat ke arah kalender. Dia lalu mengerutkan keningnya heran.
Ini masih pertengahan bulan, tapi kenapa perutku sudah mengalami kontraksi? Dokter bilang kan perkiraan aku melahirkan akan terjadi di akhir bulan, masa iya aku akan melahirkan sekarang?
Posisi Gleen yang saat itu sedang berada di ruang kerja membuatnya tak bisa mendengar suara teriakan Lusi. Gleen sibuk memeriksa pekerjaan kantor yang memang sengaja dia bawa pulang ke rumah. Semakin bertambah tua usia kehamilan Lusi, istrinya itu jadi semakin sulit tidur. Bukannya mengeluh, Gleen hanya mencari kesibukan saja supaya tidak tertidur dan meninggalkan istrinya menderita sendirian. Biasalah, kalian yang sudah pernah mengandung pasti tahu kan apa yang dirasakan oleh istrinya sekarang? Ya begahlah, ya sakit punggunglah, dan yang lain-lainnya. Tapi Gleen menikmati semua itu dengan perasaan yang sangat bahagia. Bagaimana tidak bahagia. Sebentar lagi kan hasil jerih payahnya membuat Lusi menjerit-jerit setiap malam akan segera berwujud dalam bentuk seorang bayi. Jadi sudah pasti Gleen merasa sangat antusias sekali menyambut kelahiran juniornya itu.
"Gleeeennnn!"
Lagi. Lusi kembali berteriak kuat saat Gleen tak kunjung masuk ke dalam kamar. Hingga tak berapa lama kemudian pintu kamar akhirnya terbuka, tapi yang datang bukan Gleen. Melainkan dua orang pelayan yang langsung berlari cepat menghampiri Lusi yang saat itu sedang berdiri kesakitan sambil memegangi tembok.
"Nyonya kenapa? Apa yang sakit?" tanya si pelayan panik.
"Perutku. S-sepertinya aku mau melahirkan. Tolong bawa aku ke rumah sakit sekarang, nanti anakku keluar sendiri," jawab Lusi dengan nafas yang mulai terengah-engah.
"Astaga, jadi Nyonya mau melahirkan?"
Dengan sigap salah satu dari pelayan membantu mengatur pernafasan Lusi yang mulai sesak, juga membimbingnya agar duduk di ranjang saja. Sedang pelayan yang satunya lagi langsung berlari keluar untuk mencari bantuan. Sekalian melapor pada tuan mereka bahwa sang Nyonya akan segera melahirkan.
__ADS_1
Tok tok tok
"Tuan Gleen, Nyonya Lusi mengalami kontraksi. Beliau akan segera melahirkan!"
"Oh, ya sudah tidak apa-apa."
Sedetik setelah Gleen berkata seperti itu, pena di tangannya langsung terjatuh ke lantai. Dia kemudian menelan ludah, menatap penuh syok ke arah pelayan yang juga tengah menatapnya dengan tatapan syok juga.
"Tuan, Nyonya akan melahirkan. Apanya yang tidak apa-apa? Apa perlu saya panggilkan Nona Nania kemari untuk menyadarkan anda kalau sekarang Nyonya sedang menahan sakit karena bibit bayi yang anda semai sudah akan keluar? Maaf jika saya lancang, tapi sikap anda barusan sangat amat mengecewakan. Tolong jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Tuan Gleen. Bukan malah menjadi laki-laki yang bisanya hanya menumpang enak saja. Ayo cepat keluar, kasihan Nyonya. Beliau sedang sangat kesakitan sekarang!"
Bak kerbau yang di colok hidungnya, dengan patuh Gleen mengikuti apa yang di katakan oleh pelayannya. Mungkin di antara kalian ada yang merasa heran mengapa pelayan tersebut bisa begitu berani pada Gleen. Jawabannya satu, pelayan tersebut adalah mata-mata yang di kirim oleh Nania. Adik iparnya satu itu dengan sengaja membayar pelayan tersebut agar menjaga Lusi dan mengawasinya di rumah ini. Dan jika kalian penasaran mengapa Nania sampai bersikap demikian, adalah karena Gleen yang pernah tidak sengaja membuat Lusi menangis gara-gara dia yang lupa pulang dari kantor dan juga lupa untuk menghubunginya. Alhasil, hikmah dari kejadian itu rumah ini mendapat kiriman dua pelayan yang entah kenapa membuat Gleen merasa terintimidasi. Namun karena hal tersebut bertujuan baik untuk keselamatan Lusi, Gleen dengan terpaksa mengalah saja. Juga karena dia tidak mau berurusan dengan adik iparnya yang memiliki kelakuan sedikit abnormal. Kalian pasti tahulah seperti apa Nania.
"Perutku, Gleen. Bayinya sudah mau keluar," jawab Lusi sambil meringis-ringis menahan desakan dari dalam perutnya.
"Tapi ini masih tengah malam, sweety. Apa tidak apa-apa kalau anak kita lahir sekarang? Kalau nanti dia tersesat dalam perjalanan keluar bagaimana?"
Mungkin ini adalah jenis pertanyaan terbodoh yang pernah di dengar oleh Lusi dan kedua pelayannya. Kata-kata aneh yang terlontar dari mulutnya Gleen sukses membuat mulut mereka bertiga ternganga lebar. Bahkan Lusi sampai melupakan rasa sakitnya sekejap saking tidak percayanya dia mendengar perkataan Gleen barusan. Bayangkan saja! Bayi mana yang akan tersesat hanya gara-gara lahir di tengah malam. Bukankah menurut kalian ini sangat amat tidak masuk akal?
"Hubungi Nona Nania sekarang. Nyonya Lusi dan bayinya bisa berada dalam bahaya kalau tidak segera di bawa ke rumah sakit. Nanti ketubannya pecah di dalam!" perintah pelayan pada temannya setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Baiklah."
__ADS_1
"Hei hei hei, apa yang kalian lakukan hah! Kenapa harus menghubungi Nania segala. Yang menjadi suaminya Lusi itu aku, bukan Nania!" kesal Gleen mencegah si pelayan agar jangan menghubungi adik iparnya. Bisa panjang urusannya nanti.
"Maaf, Tuan Gleen. Anda terlalu lelet dalam bertindak. Nyonya sedang kesakitan karena akan melahirkan, tapi kenapa anda malah sibuk memikirkan tentang kemungkinan bayi anda akan tersesat. Dan juga kami berdua itu mengemban tanggung jawab besar yang di amanahkan oleh Nona Nania. Jadi sudah sewajarnya kami menghubungi beliau untuk meminta bantuan. Karena jika sampai terjadi sesuatu pada Nyonya Lusi dan bayinya, kamilah yang akan dimintai pertanggungjawaban olehnya nanti. Anda tahu sendiri bukan seperti apa perangai Nona Nania?" jawab pelayan yang tadi akan menghubungi majikannya.
"Akhhhh, kalian ... kalian cepat tolong aku. Bayiku, bayiku akan segera lahir. Jangan berdebat!" teriak Lusi sambil mengejang ketika merasakan satu desakan kuat dari dalam perut. Saat ini wajahnya sudah bermandikan keringat dingin dan giginya terus saja menggeletuk kuat. Lusi kesakitan.
"Astaga, aku lupa!" pekik Gleen.
Tanpa membuang-buang waktu lagi Gleen segera mengangkat Lusi ke dalam gendongannya lalu membawanya keluar. Dia meringis pelan saat Lusi tiba-tiba mencengkeram wajahnya sambil berteriak kuat.
"Cepatlah sedikit, Tuan Gleen. Jarak rumah sakit cukup jauh dari sini, saya khawatir air ketuban Nyonya Lusi pecah di dalam perut. Itu akan sangat berbahaya untuk bayi kalian nanti!"
"Cepatlah-cepatlah. Kau pikir sekarang aku sedang apa hah? Berenang?" sungut Gleen jengkel. Mendengar Lusi menjerit kesakitan saja sudah membuat Gleen sangat panik, ini si pelayan kiriman Nania malah dengan asiknya meminta agar dia cepat-cepat. Di pikirnya menggendong wanita yang sedang hamil besar itu tidak berat apa? Musti hati-hati, bisa bahaya kalau Gleen dan Lusi sampai terjatuh. Yang ada bayi mereka akan menjadi bayi sandwich gepeng nantinya.
Ketika pelayan membukakan pintu utama, Gleen teringat kalau perlengkapan bayi belum dia bawa. Namun sebelum sempat gerahamnya terbuka, kedua pelayan itu dengan kurang ajar sudah lebih dulu membungkam mulutnya hingga tak mampu berkata apa-apa lagi. Gleen kikuk.
"Semua aman, Tuan Gleen. Anda hanya perlu membawa Nyonya ke rumah sakit. Berkas dan semua data, popok, pakaian bayi, susu, perlengkapan mandi untuk Nyonya Lusi dan bayinya, semua sudah kami siapkan sejak dua bulan lalu. Jadi bisakah sekarang anda fokus? Lihatlah wajah Nyonya. Beliau sudah sangat kesakitan!"
Lagi-lagi Gleen hanya bisa mematuhi perintah si pelayan. Dia dengan sigap memasukkan Lusi ke dalam mobil setelah salah satu pelayannya membukakan pintu samping. Tanpa memikirkan penampilannya yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos rumahan, Gleen memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Beruntung karena sekarang adalah tengah malam, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Membuat Gleen tak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di rumah sakit.
*****
__ADS_1