
"Jack, apa kau sudah makan siang?"
Jackson mengangguk sambil menatap wanita cantik yang ada di layar ponselnya. Dia lalu memperlihatkan kotak berisi makanan yang sedang dia nikmati.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Sepertinya kau memakai make-up," tanya Jackson pada Kayo.
Setelah menghabiskan waktu untuk memeriksa para pasien yang ada di rumah sakit ini, barulah Jackson memiliki kesempatan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Dan kebetulan sekali calon istrinya ini menelpon ketika dia sedang istirahat. Jadilah sekarang dia menikmati makan siang dengan di temani oleh Kayo meskipun hanya dari jarak jauh.
"Oh, aku baru saja pergi menemani Ibu untuk menghadiri acara amal. Kenapa? Apa kau cemburu?"
"Ya, aku sangat cemburu. Jujur saja, aku tidak terlalu suka melihatmu keluar dengan berdandan seperti ini. Kau jadi terlihat semakin bersinar mengalahkan sinar matahari," jawab Jackson jujur. "Oh iya, semalam aku menyelinap ke kamar hotel yang di tinggali Kanita. Sepertinya dia akan sedikit lama berada di Shanghai. Apakah aku perlu melakukan sesuatu yang bisa membuatnya pergi dari sini?"
Kayo tak langsung menjawab pertanyaan Jackson. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Jackson yang melihat hal itu pun menunggu dengan sangat sabar. Dia tahu kalau Kayo pasti akan kembali melarangnya agar tidak mengganggu Kanita.
"Selama dia tidak menyakiti Luri, aku rasa kau tidak perlu melakukan apa-apa dulu, Jack. Lagipula bukankah masih ada Nania yang bisa menghalau Kanita agar tidak menemui Luri? Aku yakin mereka adalah lawan yang seimbang."
"Bukan lawan yang seimbang lagi, sayang. Akan tetapi aku rasa sebentar lagi Kanita akan membutuhkan seorang psikiater setelah mentalnya diinjak-injak oleh gadis itu. Sungguh sangat sial nasib seorang Kanita di saat dia datang ke Shanghai dia malah di sambut oleh kebar-baran seorang Nania. Aku prihatin melihatnya," gurau Jackson sambil tersenyum kecil.
Ya, sejak Jackson di beritahu kalau Kanita ada di negara ini, dia langsung meminta seseorang untuk terus mengawasinya. Bukannya apa, Jackson hanya tidak ingin wanita gila itu sampai menyentuh salah satu orang terdekatnya. Terlebih Kayo dan keluarga besar Nyonya Liona. Jackson bisa berasumsi seperti ini karena dia pernah merasakan sendiri kegilaan apa yang pernah dia rencanakan saat masih terobsesi pada Elea. Dan Kanita mengidap hal yang sama karena begitu terobsesi akan cintanya pada Fedo, si pria Casanova yang sebentar lagi akan segera menjadi kakak iparnya.
"Jack, coba kau bayangkan kalau seandainya Kanita di pertemukan langsung dengan Nania dan kakak ipar Elea. Dia pasti akan jauh lebih frustasi lagi setelah itu. Bayangkan saja. Dengan dia bicara dengan Nania saja mentalnya sudah langsung down. Lalu apa kabar dengan kewarasannya jika kakak ipar sampai turun tangan? Astaga, kenapa aku jadi sesenang ini ya hanya dengan membayangkan jurus-jurus beracun milik kakak ipar. Hahahaha!!"
"Jangan bawa-bawa Elea dalam masalah ini, sayang. Dia sedang terluka. Aku khawatir Gabrielle akan mengamuk pada kita jika Elea sampai terlibat dengan masalah ini," sahut Jackson kemudian menghabiskan sisa makanan terakhirnya.
__ADS_1
Sebelum pergi untuk membuang sampah dan mencuci tangannya, Jackson terlebih dahulu menyalakan tombol loudspeaker. Dia tidak mau melewatkan satu obrolan pun dengan kekasih hatinya ini.
"Apa? Kakak ipar terluka? Apa yang terjadi padanya, Jack? Siapa yang mencelakainya? Ya Tuhan, tapi kenapa Bibi Liona tidak mengabarkan apa-apa padaku ya. Aneh."
"Kakinya yang terluka, dan itu di sebabkan karena latihan bersama Levita," jawab Jackson. "Musim panas nanti Nyonya Clarissa Wu berniat menggelar pagelaran busana di Shanghai, sayang. Dia lalu menunjuk Elea dan Levita sebagai model dan tamu spesial dalam acara nanti. Mereka juga di dapuk sebagai brand ambasador terbaru dari merk pakaian miliknya."
Saat Jackson sedang mengobrol dengan Kayo, seseorang mengetuk pintu dari luar. Lalu masuklah seorang perawat wanita yang datang sambil menebar senyum manis ke arah si pemilik ruangan.
"Selamat siang, dokter Jackson. Saya datang untuk membawakan makan siang untuk anda," ucap si perawat sambil memperlihatkan kotak makan siang di tangannya.
"Terima kasih. Tapi maaf, aku baru saja membuang kotak makan siangku ke tempat ... sampah," sahut Jackson dingin sembari menekankan kata sampah ke arah si perawat.
Kayo yang mendengar ada yang sedang menggoda calon suaminya hanya diam saja sambil menahan tawa. Bahkan dia dengan sengaja tidak bersuara. Dia ingin melihat seperti apa cara Jackson dalam menghadapi para lebah yang beterbangan hendak menyengatnya.
"Karena kedatanganmu sama sekali tidak berguna, maka sebaiknya kau segeralah pergi dari sini karena aku ingin istirahat. Kau tahu bukan kalau pekerjaanku sangat banyak?" usir Jackson tak tahan melihat keberadaan wanita lain di ruangannya.
"Em baiklah. Kalau begitu saya permisi, dokter. Selamat siang."
"Ya."
Suara tawa Kayo langsung pecah setelah dia mendengar suara pintu yang di tutup. Dan tawanya semakin nyaring ketika mendapati wajah Jackson yang begitu masam seperti jeruk nipis.
"Hahhaha ... ternyata ada juga ya wanita yang tertarik padamu, Jack. Aku kira hanya aku saja satu-satunya wanita yang terjebak oleh pesona seorang Jack-Gal."
__ADS_1
"Ck, kau sangat menyebalkan, Kay. Harusnya tadi itu kau memarahinya, bukan malah diam tak bersuara. Kau tahu, perawat itu terus saja menggodaku setiap hari. Aku sampai muak melihatnya!" protes Jackson jengkel. "Kalau saja aku tidak ingat dengan pertaubatanku, aku pasti sudah langsung membunuhnya sejak beberapa hari lalu. Dia membuatku merasa tidak nyaman saat sedang bekerja di rumah sakit. Wajahnya benar-benar bebal, dia seperti tidak memiliki urat malu lagi meskipun aku tak pernah memberikan respon yang baik. Sungguh wanita yang merepotkan!"
Jackson terus mengeluarkan semua unek-uneknya tentang perawat yang tadi. Seumur-umur belum pernah sekalipun Jackson menemui wanita yang tidak tahu diri sepertinya. Dia terkadang sampai stres sendiri memikirkan cara yang bisa membuat perawat itu berhenti menggodanya. Jackson takut khilaf.
"Jack, aku tidak bersuara bukan berarti aku tidak peka padamu. Aku menyayangimu, dan kau tahu itu. Bagiku tidak ada gunanya bertengkar dengan wanita itu karena hanya akan buang-buang waktu saja. Lagipula ya, dia itu tidak sekelas jika di bandingkan dengan aku. Hanya dengan sekali tepuk, wanita tadi pasti akan langsung mati. Dan kau tahu bukan kalau aku tidak suka melawan orang yang lemah? Harga diriku bisa terluka kalau sampai berhadapan dengan lawan yang tidak seimbang. Itu memalukan, sayangku."
Kedua sudut bibir Jackson langsung terangkat ke atas begitu mendengar alasan Kayo. Dia bangga, itu tentu saja. Jackson lupa kalau Kayo bukanlah tipe wanita yang akan berkoar-koar untuk sesuatu yang tidak penting seperti tadi. Wanitanya terlalu berkelas jika harus berhadapan dengan seorang perawat yang hanya bermodal fisik dan kata-kata manis. Karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membangkitkan jiwa petarung di diri calon istrinya ini.
"Hmmm, seperti biasa, kau selalu membuatku terpukau, sayang. Ayah dan Ibu sangat beruntung karena memiliki putri sehebat dirimu," puji Jackson penuh bangga.
"Dan kau adalah orang beruntung selajutnya karena akan segera memiliki wanita hebat ini."
Jackson tertawa. Dia sama sekali tidak menampik perkataan Kayo karena itu memang benar adanya. Dan obrolan mereka baru berhenti ketika seorang perawat datang untuk memberitahukan kalau rumah sakit kembali kedatangan pasien baru. Dengan berat hati Jackson mengakhiri panggilan sebelum akhirnya pergi bertugas.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1