
Setelah acara usai, Reinhard segera membawa Levita pulang ke rumahnya. Mereka sengaja tidak pulang ke hotel karena ingin memiliki waktu sendiri di tempat yang akan menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka.
"Sayang, kau lelah tidak?" tanya Reinhard sambil membukakan pintu rumah untuk istrinya. Dia dengan penuh perhatian membantu memegangi ekor gaun pengantin istrinya yang sangat panjang seperti sungai Amazon.
"Lelah, Rein. Apalagi hati dan mentalku," jawab Levita seraya menarik nafas berat.
"Memangnya apa yang terjadi dengan hati dan mentalmu, sayang? Apa kau tidak bahagia dengan pernikahan kita?"
Tak tak tak
Levi dengan sengaja menghentakkan hak sepatu tingginya dengan keras sebagai tanda kalau dia kesal dengan jenis pertanyaan yang di layangkan oleh Reinhard. Tanpa harus di jelaskan harusnya Reinhard sudah tahu hal apa yang membuatnya bisa merasa seperti itu di hari paling bahagia di hidup mereka.
"Sayang, hei. Kenapa kau malah marah padaku sih?" tanya Reinhard sambil menahan lengan Levita yang ingin menaiki anak tangga.
"Rein, di dunia ini selain para tikus botak yang berada di perusahaan, siapa lagi memangnya yang bisa membuatku stress hingga di level yang paling tinggi selain istrinya Gabrielle? Makhluk kecil itu dengan santainya mengejekmu kalah ganas dari Gabrielle hanya karena kita terus mendebatkan tentang ciuman di hadapan para tamu. Mental siapa yang tidak akan down jika di ledek seperti itu?" sahut Levi yang malah balas memberi pertanyaan pada Reinhard.
"Jadi kau seperti ini karena Elea?"
Levi mengangguk. Dia lalu mengerucutkan bibir saat teringat dengan rengekan Elea yang terus meminta agar di izinkan tidur di atas ekor gaun miliknya. Sungguh, makhluk kecil itu sangat menjengkelkan begitu berkenalan dengan minuman beralkohol. Levi kemudian terfikir saat resepsi pernikahannya nanti dia akan meminta ke bagian panitia agar tidak sembarangan meletakkan gelas minuman yang bisa membuat orang menjadi mabuk. Gara-gara minuman itu, Levita jadi kehilangan momen berharga bersama Elea. Dia sama sekali tidak bisa mengambil foto
bersama dengan perempuan yang sudah dia anggap seperti saudara kandungnya sendiri karena Gabrielle sengaja menjauhkan mereka agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Sedih, tapi Levita tak bisa berbuat apa-apa. Sudah terlanjur terjadi, yang terpenting Elea tetap hadir meskipun sempat membuatnya terbakar emosi hingga membuat Levita mencium Reinhard dengan sangat ganas di hadapan para tamu undangan.
"Hmmm, kau seperti tidak paham dengan lidahnya Elea saja, sayang. Mau mabuk ataupun tidak, di mana-mana Elea akan selalu membuat orang lain merasa resah. Tapi jujur, saat dia mabuk lidahnya jadi semakin mengerikan dari yang biasanya. Dia benar-benar harus di jauhkan dari yang namanya alkohol," ucap Reinhard.
"Kau benar, Rein. Lebih baik saat acara resepsi pernikahan kita di gelar, minta pihak panitia agar jangan mengeluarkan minuman beralkohol. Aku takut Elea akan kembali tertarik untuk tidur di atas gaun milikku, Rein."
__ADS_1
Reinhard langsung terpingkal-pingkal saat teringat dengan permintaan Elea yang sangat nyeleneh. Dia baru berhenti tertawa ketika Levita menjambak rambutnya.
"Awww, sakit sayang."
"Makanya jangan menertawai Elea-ku terus. Begitu-begitu aku tidak suka ya ada orang lain yang mengejeknya. Elea itu sudah seperti separuh jiwaku, jadi hanya aku saja yang boleh mengejeknya, orang lain tidak!" omel Levita.
"Iya-iya, maaf."
Levita dan Reinhard saling berpandangan lama setelah itu. Mereka menyelami pikiran masing-masing, saling mengagumi akan kecantikan dan ketampanan pasangan mereka. Seolah ada magnet yang menarik, perlahan-lahan Reinhard mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Levita. Dia lalu memiringkan kepala seraya menatap penuh n*fsu ke arah bibir penuh berwarna peach milik istrinya. Reinhard kemudian tersenyum ketika melihat Levita yang memejamkan mata. Tanpa memberi aba-aba, dia langsung mengangkat tubuh Levita ke dalam gendongannya kemudian membawanya menaiki anak tangga.
"Yakkk Reinhard, kau ingin melihatku mati jantungan ya!" pekik Levita kaget sembari melingkarkan tangan ke leher suaminya. Dia pikir akan terjadi ciuman panjang yang jauh lebih ganas dari sebelumnya, siapa sangka kalau suaminya ini malah mengangkat tubuhnya seperti karung beras.
"Sayang, bermain di tangga itu tidak enak. Aku tidak puas menyentuhmu nanti. Lagipula posisi kita tadi sangat tidak enak. Jadi ya sudah, aku putuskan untuk membawamu masuk ke kamar pengantin kita saja. Kan di sana jauh lebih luas dan empuk. Kita jadi bisa bergerak sesuka hati nanti. Benar tidak?"
Bluusssshhh
"Mesum pada istri sendiri kan tidak ada salahnya, sayang. Lagipula selama kita berpacaran kan kau begitu tidak sabaran ingin segera melakukannya denganku. Nah, sekarang waktunya sudah tiba. Jadi bersiaplah karena aku akan membuatmu mend*sah sampai kau kehabisan tenaga," jawab Reinhard tanpa malu-malu.
Tak lama kemudian sampailah kedua sejoli ini di dalam kamar pengantin mereka. Dan di saat yang bersamaan, barulah Levita teringat kalau dirinya sedang ....
Mati aku. Bagaimana ini? Aku lupa memberitahu Reinhard kalau pagi tadi tamu bulananku baru saja datang. Gawat, mana dia sudah begitu bern*fsu ingin segera menaiki tubuhku pula. Aaaa, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan, tolong aku. Buat agar burungnya Reinhard jangan berdiri dulu. Aku tidak mau mereka syok saat tahu kalau aku sedang libur panjang.
Levita menelan ludah saat Reinhard membaringkannya di atas ranjang putih yang di penuhi kelopak mawar merah. Dia panik saat Reinhard langsung mendekatkan wajah hendak menciumnya.
"T-tunggu dulu Rein, sabar. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Tahan dulu. Ya?"
__ADS_1
"Ada apa, hm? Apa kau begitu gugup, sayang? Tenang saja, aku janji akan melakukannya secara perlahan-lahan. Aku ini kan dokter, jadi aku tahu bagaimana cara melakukan ini pada wanita yang baru pertama kali bercinta. Jadi kau jangan takut, oke?" tanya Reinhard dengan sorot mata sayu. N*fsunya sedang berada di puncak yang mana sampai membuat kepalanya dan kepala si junior sama-sama berdenyut.
"Ihh, kau ini bicara apa sih!" sahut Levita dengan wajah yang sudah berubah warna menjadi abu-abu saking malu dan bingungnya dia. "Rein, aku ....
Belum sempat Levita menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah lebih dulu di bungkam oleh bibirnya Reinhard. Mau tidak mau Levita akhirnya merespon ciuman tersebut dengan membahas cumbuan dari suaminya. Ciuman mereka begitu intens, hingga membuat keduanya sampai terengah-engah.
Tepat ketika tangan Reinhard hendak menyibak gaun yang Levita kenakan, barulah wanita ini tersadar kalau dia sedang dalam mode palang merah. Dia gugup sekali saat Reinhard menatapnya seolah sedang bertanya, kenapa kau menahan tanganku?
"Maaf Rein, aku lupa memberitahumu. Sepertinya untuk malam ini dan beberapa hari ke depan kau belum bisa menyentuhku. Aku ... sedang datang bulan."
Reinhard, jangan di tanya lagi. Ruh di dalam tubuhnya seperti terbang keluar begitu dia mendengar kalau istrinya sedang dalam mode palang merah. Ingin segera rasanya dia mencekik leher wanita ini karena baru mengatakan ketika n*fsunya sudah naik ke ubun-ubun.
"Lain kali jangan di ulang lagi kesalahan seperti ini ya, sayang. Karena aku bisa saja memasukanmu ke dalam oven kemudian memanggangmu di sana. Paham?" geram Reinhard sebelum akhirnya pergi mencari tempat bersemedi untuk menjinakkan rudalnya yang gagal bertempur.
Ruangan kamar terasa begitu sunyi meskipun masih ada satu manusia yang tengah berbaring sambil menahan tawa. Ya, bukannya takut akan ancaman yang di lontarkan oleh Reinhard, Levita malah merasa sangat lucu setelah melihat ekpresi di wajah suaminya tadi.
"Hihihi, kalau aku menceritakan hal ini pada Elea, kira-kira dia kencing di celana tidak ya? Hahaha."
πππππππππππππππππ
...MAAF YA GENGSS... INI HARUSNYA UP SUBUH TADI. TAPI GARA-GARA SALAH ATUR JAM, JADI BARU BISA UP SEKARANG πππ JANGAN LUPA BOM KOMENTAR KALIAN YA π...
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...