
Di kediaman keluarga Ma, terlihat Gabrielle yang tengah berjongkok dengan di temani oleh Cuwee dan juga Lan. Hal ini sengaja Gabrielle lakukan dengan harapan bisa meredakan rasa kesepian yang tengah mendera jiwanya. Ya, Gabrielle serasa mati karena di tinggal pergi oleh pawangnya. Dan yang lebih menyedihkan lagi dia di larang untuk datang ke tempat di mana pawangnya berada. Sungguh pria yang sangat malang bukan?
"Elaa, sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur di kamar. Aku tidak bisa jika tidak ada dirimu di ranjang kita," gumam Gabrielle lirih sembari menatap langit malam.
Seolah mengerti akan kesedihan yang tengah di rasakan oleh majikannya, Lan dan Cuwee pun melakukan pose yang sama dengan sang majikan. Mereka duduk berjejer seraya menatap langit, hanya pikiran mereka saja yang berbeda. Jika Gabrielle hanya terfokus pada Elea, maka Lan dan Cuwee fokus pada jam berapa mereka akan mendapat jatah makan. Tak lupa juga mereka mengucap syukur karena rival baru mereka untuk sementara tidak akan tinggal di rumah ini. Lan dan Cuwee merasa tersaingi karena semenjak Tora datang, majikan kecil mereka hanya fokus padanya saja. Padahal kan Lan dan Cuwee jauh lebih senior jika di bandingkan dengan harimau konyol itu. Kalian yang mengikuti Lan dan Cuwee dari seasons satu pasti tahu kan betapa berat perjuangan mereka dalam melawan Tuan Muda dan juga serangan pelakor bar-bar itu? 😅
"Lan, Cuwee. Kira-kira sekarang Elea sedang apa ya? Kalian merindukan dia tidak?" tanya Gabrielle. Dia kemudian menoleh, menatap datar ke arah dua ekor binatang berbeda gender yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.
Lan mengaum, sedangkan Cuwee hanya meringkik pelan. Mungkin kedua binatang ini bermaksud menjawab pertanyaan Gabrielle bahwa mereka juga merindukan wanita hamil itu, tapi yang keluar hanya suara seperti itu saja dari mulut mereka.
"Hmmm, tidak kusangka malam ini aku akan berdamai dan duduk bersama kalian berdua di sini. Aneh 'kan?"
Dari ruang bawah tanah, Hansen tengah mengamati gerak-gerik Gabrielle melalui kamera CCTV. Sesekali sudut bibirnya nampak berkedut melihat betapa akurnya Gabrielle menjadi akrab dengan binatang-binatang yang selama ini di anggap musuh olehnya. Kabar tentang kepergian Elea ke rumahnya dokter Jackson sudah di dengar oleh seluruh penghuni rumah. Jadi mereka semua sudah mengetahui alasan kenapa pria dingin itu terlihat begitu kesepian dan juga menyedihkan.
"Kak Hansen, apa tidak sebaiknya kau temani Tuan Muda saja di sana? Aku takut dia nekad mencekik Lan ataupun Cuwee untuk memelampiaskan perasaannya," ucap Mario.
"Entahlah. Nyonya Liona tidak memberikan perintah apapun tentang hal ini. Aku khawatir dia sedang menghukum Tuan Muda dengan sengaja membiarkannya seperti sekarang," sahut Hansen meragu.
"Kau yakin dia sedang menghukum Tuan Muda?" tanya Mario seraya menaikkan satu alisnya ke atas.
"Lalu?"
"Aku malah berpikir kalau Nyonya itu sedang merajuk karena Tuan Muda tidak becus menjaga Nona Elea hingga membuatnya memilih untuk kabur ke rumah dokter Jackson!"
Hansen menghela nafas.
"Tuan Muda bukan di tinggalkan. Mereka hanya sedang menuruti keinginan si kembar yang ingin menginap di rumah pamannya. Kalau mereka memang sedang bertengkar, tidak mungkin kan Nona Elea berpamitan dengan begitu sopan pada Tuan Muda? Perpisahan mereka bahkan terlihat begitu romantis tadi."
Kini ganti Mario yang menghela nafas. Sambil menepuk bahu Hansen, dia kembali mengingatkan tentang sikap Nyonya kecil mereka.
"Kak Hansen, apa sebelum ini kau pernah melihat Nona Elea benar-benar marah?"
__ADS_1
"Tidak. Kenapa memangnya?" sahut Hansen balik bertanya.
"Mau Nona Elea marah atau tidak, sikapnya akan tetap sama pada Tuan Muda. Marahnya Nona Elea itu sangat tidak tertebak. Sedetik dia merajuk, tapi sedetik kemudian beliau sudah bermesraan dengan Tuan Muda Gabrielle. Lagipula kau itu kan sudah lama tinggal di sini, apa masih tidak paham juga hal apa yang bisa membuat Tuan Muda jadi seperti itu selain karena istrinya yang sedang merajuk?"
"Astaga, benar juga ya. Kenapa aku bisa sampai abai seperti ini. Ya sudah, aku pergi menemani Tuan Muda dulu. Kau awasilah keadaan dengan baik. Segera tolong siapapun jika Tuan Muda sampai hilang kendali!" ucap Hansen sesaat sebelum pergi dari ruang bawah tanah.
Mario menggelengkan kepala sambil menatap kepergian Hansen. Setelah itu dia kembali ke meja kerjanya, memantau apakah pria malang itu menyerang Lan dan Cuwee atau tidak.
Kak Hansen sudah mulai pikun ternyata.
Sesampainya Hansen di dekat Gabrielle, dia langsung mendepak bokong Cuwee agar bergeser dari sana. Namun sialnya binatang berwarna putih itu hanya menoleh sekilas ke arah Hansen sebelum akhirnya kembali ke posisi semula. Hal ini tentu saja membuat Hansen merasa tergelitik. Alhasil, dia akhirnya mengalahkan dengan membiarkan Cuwee tetap berada di posisinya.
"Paman Hansen, aku sangat malang bukan?" tanya Gabrielle tanpa menoleh.
"Nona Elea hanya pergi sebentar saja, Tuan Muda. Besok pagi dia pasti sudah akan kembali ke rumah ini. Jangan sedih," jawab Hansen mencoba untuk menghibur kesedihan di diri pria malang ini.
"Bagaimana mungkin aku tidak sedih, Paman. Istriku memilih untuk tidur di rumah pria lain alih-alih tidur bersama suaminya sendiri. Dengan masalah sebesar ini apakah mungkin aku tidak merasa sedih? Aku sangat sedih, Paman Hansen. Akan tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa Elea pulang kemari. Dia mengancam akan tinggal di rumah Jackson untuk selamanya jika aku berani menampakkan wajahku di sana. Kasihan sekali bukan?"
"Tuan Muda, kenapa kau tidak telepon Nona Elea saja? Dia tidak mengatakan bahwa haram untukmu menghubunginya 'kan?" tanya Hansen menyampaikan ide yang dia temukan.
"Ah, benar juga. Kenapa dari tadi aku tidak berpikir ke arah sana ya? Bodoh sekali," jawab Gabrielle. Dengan terburu-buru dia segera menekan nomor satu di ponselnya yang akan langsung terhubung dengan Elea. Akan tetapi nihil. Istrinya itu tidak merespon.
"Telepon Nun saja. Nona Elea kan selalu lupa meletakkan ponselnya. Dia bahkan tidak tahu kemana perginya kartu-kartu hitam yang dia dapatkan dari membegal semua orang!"
"Ah iya lupa!"
Segera Gabrielle menghubungi Nun yang langsung di jawab dengan begitu cepat. Gabrielle bahkan sampai mengerutkan kening saking herannya dia akan kesigapan di diri Nun.
"Halo, Tuan Muda. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu di rumah?"
"Aku merindukan istriku. Bantu aku bicara dengannya, Nun," jawab Gabrielle.
__ADS_1
Hening. Hanya terdengar suara seperti ada seseorang yang sedang mencangkul dan juga mengoceh tanpa henti. Dan Gabrielle tahu kalau itu adalah suaranya Elea. Mungkinkah istrinya itu sedang meminta Jackson menggali kuburan? Pikiran Gabrielle jadi was-was sekarang.
"Nun, kenapa kau diam saja. Cepat berikan ponselmu pada Elea. Aku ingin bicara!" desak Gabrielle tak sabar.
"Tuan Muda, saat ini Nyonya sedang tidak ingin di ganggu. Beliau dan dokter Jackson sedang sibuk berkebun bunga. Kalau anda nekad ingin mengobrol dengannya, saya khawatir kalau Nyonya akan meminta saya untuk menjemput anda kemudian menjadikan anda sebagai salah satu bunga yang akan di tanam di sini. Mohon anda untuk bersabar, Tuan Muda!"
Hansen hampir saja tidak bisa menahan suara tawanya setelah mendengar perkataan Nun. Namun secepat kilat dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat menyadari kalau Gabrielle tengah menatapnya dengan begitu kesal. Lucu sekali.
"Lalu apa yang kau lakukan di sana? Bukannya ikut membantu menanam bunga, kau malah enak-enakan bermain ponsel. Mau mati atau bagaimana, hah?" tanya Gabrielle jengkel.
"Tuan Muda, Nyonya Elea sudah menjadikan saya sebagai bunga pertama yang di tanam di sini. Beliau mengatakan bahwa mutan seperti saya tidak akan mungkin mati hanya karena di tanam kakinya hingga sebatas paha. Nasib ini saya alami karena mencoba menghentikan Nyonya supaya jangan mencangkul tanah. Dan hasilnya adalah saya yang di tanam. Itulah kenapa saya melarang anda agar jangan mengganggu Nyonya dulu. Saya khawatir anda akan bernasip sama seperti saya!"
Klik. Gabrielle langsung memutuskan panggilan begitu Nun selesai bicara. Setelah itu Gabrielle menoleh ke arah lain, yang mana hal itu juga dilakukan oleh Hansen. Keduanya sama-sama sedang menahan tawa setelah mengetahui nasib tragis yang di alami oleh Nun, tapi sama-sama enggan untuk menunjukkan kelucuan tersebut di hadapan Lan dan juga Cuwee.
"Paman Hansen?"
"Ya?"
"Apa perutmu sakit?"
"Usus di dalam perut saya bahkan sudah hampir membeku gara-gara menahan tawa."
"Sama, aku juga."
"Kalau begitu haruskah kita melepas suara tawa ini?"
"Baiklah. Dadaku juga sudah sangat sesak karena menahannya."
Dan dalam hitungan detik ketiga, tawa Gabrielle dan Hansen pun akhirnya pecah. Mereka tertawa terpingkal-pingkal hingga membuat air mata bercucuran. Sungguh, nasibnya Nun benar-benar sangat kasihan di tangan Elea. Wanita hamil itu dengan santainya menanam Nun seperti bunga dengan alasan karena dia adalah mutan. Entah kesalahan apa yang telah dilakukan olehnya hingga Elea menjadi marah seperti ini. Benar-benar menggelitik hati.
*****
__ADS_1