Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kau Sempurna


__ADS_3

"Eughhhhhh," ....


Elea melenguh sembari menggeliatkan tubuhnya. Dia kemudian meringis pelan ketika merasakan nyeri di bagian kepalanya.


"Selamat pagi, sayangku!"


Gabrielle menatap wajah cantik istrinya yang baru saja bangun dari tidur. Dia tersenyum, selalu tergila-gila setiap kali menyaksikan wajah cantik dan natural milik istrinya di setiap pagi. Gabrielle kini tengah berbaring menyamping dengan menjadikan satu tangannya sebagai tumpuan kepala. Dia sebenarnya sudah bangun sejak jam lima tadi, tapi dia enggan untuk beranjak dari tempat tidur dan lebih memilih untuk menikmati maha karya Tuhan yang selalu membuatnya terpesona. Biasalah, membucin di pagi hari selalu menjadi rutinitas Gabrielle semenjak menikah dengan Elea.


"Pagi juga, Kak Iel," sahut Elea dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Jam berapa ini, Kak?"


"Jam tujuh," jawab Gabrielle. "Kenapa? Apa kau menyesal karena bangun siang?"


Elea tanpa ragu menganggukkan kepala. Dia kemudian membelalakkan mata saat terkenang dengan kejadian dimana dia meneguk minuman aneh yang membuatnya tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Khawatir dirinya telah menciptakan kekacauan di acara pemberkatan pernikahan Levi dan dokter Reinhard, Elea berniat untuk menghubungi pengantin baru tersebut. Sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, Elea bergerak turun dari ranjang untuk mengambil ponsel. Namun aneh, tubuhnya mendadak tidak bisa di gerakkan.


"Eh, apa aku sedang bermimpi?" gumam Elea bingung.


Gabrielle sekuat hati menahan diri agar tidak tertawa saat mendengar gumaman Elea. Ya, penyebab kenapa Elea tidak bisa bangun adalah karena kakinya yang melilit pinggang Elea. Perempuan ini belum menyadarinya karena nyawanya masih belum berkumpul sepenuhnya.


"Kak Iel, kenapa aku tidak bisa bangun? Apa di punggungku ada tumbuh akar yang mengait ke tempat tidur? Tolong aku, Kak. Aku perlu menelfon Kak Levi untuk menjelaskan kalau kemarin aku tidak sengaja mabuk. Tolong aku!" rengek Elea antara panik dan juga bingung.


"Mereka baik-baik saja, sayang. Dan kau juga tidak perlu menelfon Levita karena kemarin kau tidak melakukan hal yang salah di sana," sahut Gabrielle santai. "Aku ada bersamamu kemarin. Jadi kau tidak perlu risau karena aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang salah. Jangan khawatir, oke?"


Selain kau yang terus merengek meminta agar di izinkan tidur di atas ekor gaun pernikahannya Levita, kau tidak melakukan kekacauan apapun, sayang. Sekalipun memang kau membuat kekacauan, bagiku kau tetap saja tidak bersalah. Karena dimana pun kau berada, istrinya Gabrielle akan selalu benar. Hehe.

__ADS_1


"Benarkah?"


Elea bertanya sembari menatap dalam ke manik mata suaminya. Dia ingin percaya, tapi hati kecilnya berkata jangan. Dari kebucinan yang selama ini dia rasakan, adalah hal yang sangat wajar kalau suaminya berkata seperti itu. Gabrielle akan selalu menganggap Elea benar meski pada kenyataannya dia berbuat salah. Ya kalian pasti tahu sendiri lah betapa bucinnya pria ini. 😝


"Sayang, aku ada kabar gembira untukmu," ucap Gabrielle saat teringat dengan pesan yang di kirimkan Ares ke ponselnya. Sengaja dia katakan sekarang agar istrinya ini tidak lagi membahas Levita. Cemburu, itu yang di rasakan oleh Gabrielle setiap kali nama pelakor itu muncul di sela-sela obrolan hangat mereka.


"Kabar gembira apa, Kak?" tanya Elea ingin tahu.


"Dini hari tadi Patricia sudah melahirkan. Kita sekarang sudah menjadi Paman dan Bibi," jawab Gabrielle.


"Apa? Jadi bayi kecambah itu sudah lahir ya, Kak? Waaahhhh, senangnya. Paman Junio pasti terus tertawa lebar sampai giginya kering setelah resmi menjadi ayah. Benar tidak, Kak?"


Gabrielle mengangguk. Pria manekin itu tidak hanya tersenyum lebar setelah bayinya lahir. Tapi juga ketempelan setan karena di pagi-pagi buta membuat kerusuhan dengan menelponnya puluhan kali. Kalau saja saat itu Elea tidak terbangun dan kembali mengigaukan kata yang menggemaskan, Gabrielle pasti sudah akan meneriaki ayah baru tersebut karena sudah berani menggangu jam istirahatnya. Tapi ya sudahlah, Gabrielle tak mau ambil pusing. Dia baru akan membuat perhitungan dengan Junio saat datang menjenguk Patricia dan bayinya di rumah sakit nanti.


"Ayah dari bayi kecambah itu menelponku di jam tiga dini hari tadi. Dan tidak hanya aku, tapi semua nomor yang ada di ponselnya juga di hubungi. Ares yang bilang padaku setelah dia pulang dari rumah sakit!" jawab Gabrielle sambil memainkan bulu mata Elea. "Sayang, saat ini kita sedang berdua. Tolong berhenti membicarakan orang lain ya. Aku rindu padamu."


Elea mengerjap-ngerjapkan mata sambil menatap wajah tampan suaminya. Seluruh jiwa dan raganya ada di sini, tapi kenapa suaminya berkata rindu padanya di saat dia sendiri berada tepat di depan matanya? Aneh bukan, tapi inilah Gabrielle dengan segala tingkat kebucinannya.


"Jangan menatapku seintens itu, sayang. Nanti aku tergoda."


"Memangnya kenapa kalau Kak Iel tergoda? Kan kita adalah pasangan suami istri. Jadi tidak masalah lah kalau Kak Iel tergoda pada pesona istrinya sendiri. Benar tidak?" sahut Elea sambil tersenyum genit. Anggaplah ini adalah undangan hangat di pagi hari.


Tatapan mata Gabrielle berubah sayu saat menyadari ada nada undangan dari sang istri. Dia yang saat itu tengah melilit tubuh Elea tanpa di komando langsung naik menindih tubuhnya. Ini yang selalu Gabrielle suka dari diri istrinya. Setiap kali dia menginginkan sesuatu, Elea akan langsung merespon dengan tangan terbuka. Seperti sekarang. Begitu Gabrielle menindih tubuh Elea, istrinya ini langsung menarik lehernya kemudian mengajaknya untuk berciuman. Tidak seagresif biasanya memang, mungkin karena masih ada pengaruh alkohol yang semalam Elea minum jadi dia masih merasa pusing. Kendati demikian, Gabrielle sudah merasa sangat bersyukur karena setidaknya Elea sudah berusaha menunjukkan betapa dia selalu siap untuk Gabrielle sentuh.

__ADS_1


"Kak Iel, a-apa kau menginginkan aku sekarang?" tanya Elea dengan nafas terengah. Permainan bibir suaminya selalu saja membuat Elea kewalahan, tapi dia sangat menyukainya. Hehe.


"Sangat. Tapi aku tidak akan melakukannya, sayang. Karena aku jauh lebih mementingkan kesehatanmu daripada gelenyar n*fsuku. Biarlah, seperti ini saja aku sudah sangat bahagia. Kau ada bersamaku, itu sudah lebih daripada cukup," jawab Gabrielle seraya menyentuh bibir Elea yang sedikit membengkak setelah dia makan.


Seulas senyum manis langsung tersungging di bibir Elea saat lagi-lagi dia di buat meleleh oleh ketulusan hati suaminya. Dengan penuh sayang, Elea membelai wajah tampan dari pria yang masih belum beranjak dari atas tubuhnya.


"Harus bagaimana aku membalas semua ketulusan yang kau beri, Kak? Kau terlalu baik, terlalu sempurna untuk wanita sepertiku. Maaf ya jika sampai saat ini aku masih belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Tapi aku janji ... aku janji setelah ini akan berusaha menjadi wanita yang bisa kau banggakan. Juga menjadi Mama dari semua keturunan Kakak nantinya. Jangan lelah untuk mencintaiku ya, Kak?"


"Sayang, kau tidak perlu membalas apapun kepadaku. Cukup dengan kau yang selalu mencintai dan selalu berada di sisiku, maka aku akan merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia ini. Kau jantungku, sayang. Kau segala-galanya di hidupku. Jadi jangan pernah menganggap kalau kau bukan wanita yang tidak sempurna untukku. Di mataku kau adalah paket terlengkap yang tidak di miliki oleh orang lain. Kau duniaku, sayang."


Setelah berkata seperti itu Gabrielle kembali mencium bibir Elea. Setiap kali Elea mengeluarkan sisi dewasanya, hati Gabrielle bagai meleleh. Dia akan dibuat jatuh cinta dan jatuh cinta lagi saat Elea menjadi dirinya sendiri seperti ini. Dan untunglah sisi dewasa Elea hanya Gabrielle saja yang tahu. Gabrielle yakin kalau semua laki-laki pasti akan menggila jika tahu kalau sikap polos nan bodoh yang sering di tunjukkan Elea selama ini hanyalah topeng untuk menyembunyikan sikapnya yang begitu anggun.


Kau adalah poros tempat duniaku berputar, sayang. Kau sangat sempurna di mataku, kau yang terbaik. Andai bisa di ungkap, sebenarnya akulah yang tidak sempurna jika tidak ada kau di sisiku. Aku lemah, dan aku tidak akan bisa merasakan semua kehangatan ini jika saja Tuhan tidak mempertemukan kita berdua. Aku mencintaimu, Eleanor Ma.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2