
Gabrielle dan Elea masih saja menertawakan amarah Levi meski sekarang panggilan telepon mereka tak lagi terhubung. Puas sekali rasanya bisa mengerjai pengantin baru yang sudah langsung sibuk dengan tugasnya sebagai seorang CEO.
"Kau nakal sekali, sayang. Nanti kalau Levita merajuk padamu bagaimana, hm?" tanya Gabrielle sembari membelai rambut istrinya yang separuh di ikat.
"Itu masalah gampang, Kak Iel. Aku tinggal mengajaknya pergi berbelanja barang-barang branded. Setelah itu sikap Kak Levi pasti akan kembali normal seperti biasa," jawab Elea dengan begitu santai.
"Hmmm, kenapa sayang sekali sih pada pelakor itu? Memangnya kau tidak takut uangmu habis di belanjakan?"
Elea terkekeh. Sekalipun semua uang miliknya habis di kuras untuk pelakor itu, Elea tidak perlu merasa cemas karena dia masih mempunyai tambang uang yang kekayaannya tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan. Belum lagi dengan harta warisan pemberian dari ayahnya, neneknya, kakaknya, juga dari ayah dan ibu mertuanya. Dengan harta sebanyak itu mungkinkah seorang Levita mampu menghabiskannya? Oh ayolah, jangan bercanda.
"Kak Levi adalah orang pertama yang akan selalu aku manjakan dengan semua uang yang aku miliki, Kak. Biarpun biji matanya sampai keluar, dia tidak akan pernah sanggup untuk menguras isi dompetku. Apa Kakak ingin tahu alasannya?"
Gabrielle mengangguk.
"Apa alasannya, sayang?"
"Alasannya adalah karena aku mempunyai banyak tambang uang. Belum lagi dengan ATM berjalan-ku. Tidak mungkinlah Kak Levi mampu melakukannya. Aku akan langsung menyembah bokongnya jika dia mampu membuat kita berdua jatuh miskin."
Setelah berkata seperti itu Gabrielle dan Elea tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa lucu sendiri karenanya.
Tok tok tok
"Permisi Tuan Muda, Nyonya Elea!" sapa Ares seraya menundukkan kepala.
"Ada apa?" tanya Gabrielle.
"Ada Tuan Jackson di luar," jawab Ares. "Dia ingin bertemu dengan Nyonya."
Gabrielle menghela nafas. Berani sekali dokter itu mengganggu waktunya bersama Elea. Meski tak rela, dengan berat hati Gabrielle terpaksa mengizinkan Jackson untuk bertemu dengan istrinya. Dengan syarat kalau mereka akan mengobrol di ruangan ini, tepat di hadapannya.
"Bawa dia masuk."
"Baik, Tuan Muda."
__ADS_1
Elea yang tanggap akan kecemburuan suaminya pun segera menangkup kedua pipinya. Dia dengan kuat menekannya, sengaja agar bibir suaminya mengerucut.
Cup
"Nah, aku sudah membuat tanda kepemilikan untuk Kakak. Jadi jangan cemburu lagi ya saat aku mengobrol dengan Kak Jackson," ucap Elea sesaat setelah mengecup bibir suaminya.
"Tidak berasa, sayang," protes Gabrielle sembari menjilat bibirnya sendiri. Rasanya manis. Entah karena Elea yang menciumnya, atau karena rasa dari lipstik yang di pakai oleh istrinya ini. Yang jelas Gabrielle ketagihan. Dia butuh ciuman yang kedua, ketiga, keempat dan juga seterusnya. Hehe.
"Kalau mau yang berasa ya nanti malam saja di dalam kamar, Kak. Kakak mau gaya apapun pasti akan kuturuti. Sungguh."
"Benar ya? Kalau bohong bisulan."
"Ehh, kenapa jadi menyumpahiku si, Kak. Kakak lupa ya kalau aku memang sudah bisulan?" tanya Elea.
"Hah? Yang benar saja, sayang. Di mana bisulnya? Berani sekali dia muncul di tubuhmu."
Elea terkekeh melihat suaminya yang langsung sibuk memeriksa. Setelah itu Elea memegang kedua melon yang ada di dadanya sambil menatap penuh goda ke arah suaminya.
"Ini bisulnya, Kak. Ada dua, dan bisul ini adalah bisul favoritnya Kak Iel. Benar tidak?"
"Sialan kau, Gab. Bisa tidak jangan sembarangan berbuat mesum. Ini kantor, bodoh. Bukan kamar kalian!" teriak Jackson emosi.
"Memangnya siapa yang bilang kalau ruangan ini adalah ******, Kak?" sahut Elea dengan polosnya bertanya. Dia lalu menarik rambut suaminya agar sesegera mungkin menyingkirkan kepala dari tempat yang empuk ini. "Pending dulu. Memangnya Kak Iel tidak khawatir kalau Kak Jackson akan mencuri-curi pandang ke bisul ini? Tidak kan?"
Ingin marah, tapi itu adalah Elea. Jadi Jackson hanya bisa menarik nafas berat saat di tuduh ingin ikut melihat apa yang sedang Gabrielle nikmati. Entahlah, lebih baik diam daripada terus menjadi korban kepolosan adiknya ini. Kasihan jantungnya.
"Ck, mengganggu saja," omel Gabrielle setelah menyembunyikan bisul favoritnya agar tidak dilihat oleh Jackson. Setelah itu dia menyender ke kursi kerjanya sambil mengusap pinggang Elea yang sudah kembali sibuk menggambar desain pakaian. "Mau apa kau datang kemari, Jack? Kalau jawabannya ingin membawa Elea pergi, maka sampai kiamat pun aku tidak akan mengizinkannya. Paham kau?"
Sebelum menjawab Jackson berbalik badan terlebih dahulu. Dia menghela nafas lega karena Gabrielle sudah tak lagi melakukan tindakan mesum.
"Aku hanya ingin memberitahu Elea kalau setelah kau dan Group Ma berulang tahun, pernikahanku dengan Kayo akan segera di gelar. Di awal acara kami akan mengikuti pernikahan adat di keluarganya. Setelah itu barulah aku menggelar resepsi di sini," ucap Jackson menjelaskan maksud kedatangannya.
"Lalu apa hubungannya dengan Elea? Yang akan menikah itu kan kau dan Kayo, kenapa malah datang kemari. Aneh!"
__ADS_1
"Jelas saja ada hubungannya, Gabrielle. Elea adalah adikku, dia satu-satunya keluarga yang kumiliki," sahut Jackson dingin.
Benar-benar kau, Gab. Aku sudah akan menikah dengan sepupumu, kenapa kau masih juga mencemburuiku. Kau ini sebenarnya waras atau tidak sih?
Elea menoleh ke belakang saat mendengar suaminya berdecih. Setelah itu dia berbalik menatap ke arah kakaknya yang terlihat begitu tertekan. Kasihan, sepertinya kakaknya ini menjadi sangat tegang menghadapi detik-detik pernikahannya dengan Kayo. Wajahnya terlihat begitu frustasi karenanya.
"Jangan terlalu tegang, Kak Jackson. Santai saja, menikah itu enak kok. Iya kan, Kak Iel?"
"Iya, sayang. Menikah memang sangat enak," jawab Gabrielle penuh maksud.
"Elea, aku sama sekali tidak tegang," ucap Jackson.
"Oh ya? Tapi kenapa wajah Kakak terlihat seperti orang yang sedang tertekan? Kakak takut ya menjalani adat-adat di keluarganya Kayo? Mereka itukan berdarah campuran Jepang, pasti nanti mereka akan menggunakan samurai untuk memastikan apakah Kak Jackson masih perjaka atau tidak," sahut Elea memulai ketengilannya. "Hati-hati, Kak Jackson. Belutmu jangan sampai terpotong habis. Nanti Kayo kabur ke ranjang pria lain jika Kakak tidak bisa membuatnya menjerit di tengah malam."
Tanpa mengatakan apapun lagi Jackson langsung kabur dari sana. Dia sudah tidak kuat mendengar kata-kata adiknya yang sangat luar biasa mesum. Sebenarnya tadi itu dia bukan tertekan gara-gara memikirkan pernikahan adat yang ada di keluarga Eiji. Akan tetapi dia sedang tertekan karena ulahnya Gabrielle dan Elea. Namun sayang, adiknya yang bodoh itu sama sekali tidak menyadari. Membuat Jackson jadi emosi sendiri.
"Huh, tahu begini aku tidak usah datang kemari saja. Elea-Elea, bagaimana bisa kau mengatakan hal semengerikan itu pada kakakmu yang sebentar lagi akan menikah? Bukannya memberi kesan yang indah, kenapa kau malah membahas tentang samurai. Dasar adik kurang ajar," ucap Jackson sambil berjalan keluar dari Group Ma. Dia sangat amat merutuki kebodohannya yang memilih datang ke neraka dunia ini. Menyesal sudah dirinya.
Ares yang melihat dokter Jackson pergi dengan raut wajah yang begitu buruk hanya bisa menarik nafas dalam seraya mengelus dada. Sangat mudah untuk di tebak kalau di dalam tadi dokter Jackson pasti mendapat sambutan yang mampu membuat bulu-bulu di seluruh tubuhnya gemetar karena menahan emosi.
"Inilah yang akan terjadi jika kau datang di waktu yang tidak tepat, dokter Jackson. Semoga saja kau tidak mati setelah sampai di rumah," gumam Ares prihatin.
πππππππππππππππππ
π’π’GENGSS.... Novel PESONA SI GADIS DESA akan tayang di *** ya. Di sana ada perubahan di beberapa paragrafnya, jadi akan sedikit berbeda dengan yang ada di youtube dan yang sudah kalian baca di sini. Yang punya aplikasinya jangan lupa mampir ya biar kalian bisa ngikutin kisah cintanya Fedo, Luri, Nania, Galang dan juga Jovan. Jangan lupa juga mampir ke novel emak yang baru ya. π
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...