
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Pagi harinya, di kediaman keluarga Ma terlihat Elea yang baru saja bangun. Di sebelahnya ada Gabrielle yang tengah memandangnya penuh cinta, yang mana hal itu membuat Elea tersenyum kecil.
"Aku apa membuatmu terbangun, Kak?" tanya Elea. Dia lalu melesak masuk ke pelukan Gabrielle, membaui aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh kekar milik suaminya ini.
"Tidak sama sekali, sayang," jawab Gabrielle. "Aku memang sengaja bangun lebih awal karena ingin memberikan kejutan untukmu."
"Kejutan?" beo Elea. Dia lalu menengadahkan wajah ke atas, menatap penuh penasaran ke arah Gabrielle. "Kejutan apa, Kak? Seingatku aku tidak sedang berulang tahun hari ini,"
"Memangnya kejutan baru boleh di berikan ketika kau sedang ulang tahun saja apa?"
Gabrielle tertawa. Dia lalu mencium kening Elea lama, meresapi betapa dia sangat mengkhawatirkan keadaannya semalam.
Setelah Gabrielle berhasil membawa Flowrence pulang dari rumahnya Jackson, dia bergegas membawa Flowrence untuk menemui Elea. Akan tetapi bukannya sadar, Elea malah mengingau histeris yang mana membuat putri mereka ketakutan. Dan apa kalian tahu apa yang terjadi pada Flowrence?
Flashback
"Jangan, jangan sentuh Ibuku. Jangann!" teriak Flowrence ketika Elea mengingaukan kata yang sedikit sulit untuk dimengerti.
"Sayang, hei. Flowrence, ini Ayah, Nak. Ada apa? Siapa yang ingin menyentuh Ibu, hm?" tanya Gabrielle panik melihat Flowrence yang seperti orang ketakutan.
"Bibi itu, Ayah. Dia ingin mencekik Ibu. Ayo cepat selamatkan Ibu. Cepat, Ayah. Cepat!" jawab Flowrence masih dengan berteriak kencang sambil menunjuk ke arah ranjang. Mata yang biasanya selalu terlihat bening kini memancarkan aura ketakutan yang begitu besar.
"Bibi?"
Gabrielle mengerutkan keningnya bingung. Saat ini di dalam kamar hanya ada dia, Elea, Flowrence dan juga Nun. Lalu dari mana datangnya Bibi yang di maksud oleh Flowrence? Apa yang sebenarnya sedang dia lihat?
Khawatir kalau putrinya berhalusinasi karena sedang kelelahan, Gabrielle pun segera memerintahkan Nun agar membawa Flowrence pergi ke kamarnya saja. Namun begitu Nun ingin mengajak Flowrence untuk keluar dari sana, tiba-tiba saja Flowrence menjerit dengan sangat kuat sembari melemparkan sepatu ke kepala Elea. Sontak saja sikap aneh Flowrence ini membuat Gabrielle dan Nun terkesiap kaget. Mereka benar-benar tidak paham mengapa Flowrence bisa tertingkah seperti ini.
"Ayah, Paman Nun. Apa yang terjadi?" tanya Bern dan Karl bersamaan.
"Kak Bern, ada yang ingin menyakiti Ibu. Cepat masukkan Bibi itu ke dalam karung dan berikan pada Tola. Cepat, Kak Bern. Bibi itu sangat jelek, aku takut!" jerit Flowrence begitu melihat kakaknya datang.
Bern dan Karl cengo. Mereka tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh Flowrence. Setelah itu mereka menatap ke arah ranjang di mana Ibu mereka sedang terbaring diam tanpa merasa terusik meski suara teriakan Flowrence sangatlah kuat.
"Ayah, sebenarnya ini ada apa? Dan ... Bibi siapa yang di maksud oleh Flowrence?" tanya Karl penasaran.
__ADS_1
"Entahlah. Ayah juga bingung dan tidak mengerti kenapa adikmu bisa bicara seperti itu," jawab Gabrielle seraya menarik nafas panjang.
"Flow, tenanglah. Mungkin kau hanya sedang kelelahan setelah bermain seharian. Kemarilah, Kakak akan menggendongmu," ucap Bern tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Flow yang begitu ketakutan.
"Tapi Bibi itu bagaimana, Kak?" tanya Flow sambil terus menunjuk ke arah ranjang.
"Jangan khawatir. Ayah, Paman Nun dan Karl yang akan mengurus Bibi itu. Sekarang kita pergi ke kamarmu saja ya? Ibu sedang tidak sehat, jadi kau tidak boleh mengganggunya dulu. Oke?"
"Tapi ....
"Flow?"
Gabrielle dan Nun cukup kaget melihat Flowrence yang tiba-tiba berlari memeluk Bern. Sedangkan Karl, dia hanya berdiri diam sambil terus menatap ibunya yang terlelap. Aneh, ini benar-benar sangat aneh. Karl merasa penasaran kenapa adiknya begitu histeris ketika menyebutkan kalau ada seorang Bibi yang ingin menyakiti ibu mereka.
Flowrence tidak mungkin gila 'kan? Jelas-jelas di sini tidak ada wanita lain selain Ibu. Ck, ini gawat. Kalau sampai Flowrence gila, aku tidak akan mempunyai boneka mainan lagi. Ahh, tidak asik.
Rasanya Gabrielle ingin sekali menendang bokongnya Karl begitu mendengar apa yang sedang dia pikirkan. Bisa-bisanya ya Karl membatin dengan menganggap adiknya sendiri sudah gila. Kelewatan.
"Kak Karl, tolong jaga Ibu baik-baik ya. Bibi itu sekarang berdiri di sebelahmu, cepat tangkap dan berikan pada Tola saja," ucap Flowrence setelah berada dalam gendongan kakaknya.
"Tora Flowrence, Tora. Astaga, mau sampai kapan sih kau memanggilnya seperti itu. Heran!" omel Karl kesal mendengar adiknya yang lagi-lagi memanggil Tora dengan sebutan Tola.
Bern yang sadar kalau ada yang tidak beres dengan Flowrence pun segera membawanya pergi tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Karl, anak itu hanya diam saja sambil menatap bergantian ke arah Nun dan ayahnya.
"Ini sudah malam, Karl. Kau pergi dan temanilah adikmu dulu. Kalau keadaannya masih histeris seperti tadi, kau dan kakakmu tidak boleh meninggalkannya sendirian. Awas saja kalian, nanti Ayah akan pergi memeriksa!" ucap Gabrielle penuh peringatan.
"Ayah, tadi Ayah dengar sendiri kan kalau Flowrence memintaku untuk menangkap Bibi itu? Kalau aku pergi meninggalkan Ibu, Flow pasti akan kerasukan setan reog dan berteriak seperti tadi," sahut Karl sedikit enggan diminta pergi oleh sang ayah. Dia mendadak ingin merebut posisi ayahnya untuk malam ini.
Jtaaakkkk
"Jangan kau kira Ayah tidak tahu tujuanmu yang sebenarnya ya. Cepat sana pergi dan temani adikmu tidur. Dasar nakal!" omel Gabrielle setelah menjitak keningnya Karl. Benar-benar ya anak satu ini.
"Ck, tahu saja kalau aku ingin tidur bersama Ibu. Dasar pelit!" gerutu Karl sambil berjalan keluar dari dalam kamar orangtuanya.
"Karl, Ayah dengar apa yang kau katakan!"
"Hehe, maaf, Ayah!"
Flashback Now
__ADS_1
"Kak Iel, kau melamun," ucap Elea sembari mengelus pelan dagunya Gabrielle.
"Ah, benarkah?"
"Iya. Ada apa, hem? Masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang?"
Gabrielle menghela nafas. Dengan sangat hati-hati dia menggeser tubuh Elea kemudian duduk. Setelah itu Gabrielle beranjak turun dari ranjang, lalu mengulurkan tangan pada Elea yang tengah menatapnya heran.
"Ayo bangun. Aku ingin kau bisa segera melihat kejutan yang telah kusiapkan," ucap Gabrielle.
Elea menoleh ke arah jam di dinding. Masih pukul enam kurang. Kira-kira kejutan seperti apa yang akan di berikan oleh suaminya di waktu yang masih begini pagi? Elea jadi penasaran.
"Selamat pagi Nyonya, selamat pagi Tuan!" sapa Nun ketika kedua majikannya keluar dari dalam kamar sambil berpegangan tangan. Sekarang kadar kegilaan di diri majikannya sudah sedikit berkurang, jadi Nun dan para pengawal tidak harus menundukkan kepala lagi ketika sang Nyonya muncul.
"Selamat pagi kembali, Nun. Kau sudah bangun?" tanya Elea seraya membalas sapaan Nun.
"Sudah, Nyonya."
"Bagaimana, Nun. Apa mereka semua sudah bangun?" tanya Gabrielle.
"Sudah, Tuan,"
"Mereka siapa, Kak? Dan mereka bangun dari mana?" tanya Elea kian penasaran setelah mendengar obrolan Gabrielle bersama Nun.
"Adalah pokoknya," jawab Gabrielle. "Yang jelas mereka ini akan membuat pagimu terasa sangat bahagia. Ingin segera melihat siapa mereka tidak, hem?"
Dalam keadaan yang masih kebingungan Elea mengangguk meng-iyakan ajakan Gabrielle. Dia patuh-patuh saja ketika di bawa menuju kamar salah satu anak mereka. Teringat akan mimpi itu, mendadak hati Elea dilanda perasaan gelisah. Telapak tangannya sampai mengeluarkan keringat dingin saat membayangkan sesuatu yang tidak-tidak tentang ketiga anaknya.
"Tenanglah. Ketiga bayi besar kita baik-baik saja. Jangan cemas. Oke?" hibur Gabrielle ketika menyadari kegelisahan di diri Elea.
"Mana mungkin seorang ibu bisa tetap tenang ketika keselamatan anak mereka sedang terancam, Kak? Mustahil itu terjadi," sahut Elea lirih.
"Aku tahu, sayang. Akan tetapi yang akan kau lihat adalah satu pemandangan yang sangat melegakan hati. Ini yang aku maksud dengan memintamu untuk tenang. Kalau untuk masalah yang lain, kami para ayah sudah bersiaga sedari semalam. Dan aku pastikan hanya takdir dari Tuhan saja yang bisa membuat salah satu dari anak-anak tertimpa musibah. Paham?"
Elea menghela nafas. Sebisa mungkin dia bersikap tenang untuk sekarang ini. Elea lebih memilih untuk berserah diri, mencoba untuk berdamai dengan ketakutannya meski itu terasa cukup sulit.
Yakinlah, Elea. Semua pasti akan baik-baik saja.
*******
__ADS_1