Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sumber Racun


__ADS_3

Mata Flowrence bersinar dengan sangat terang seperti ada lampu di dalamnya begitu dia melihat kedatangan Oliver, kekasih hatinya. Dia yang kala itu sedang meringik kesakitan karena merasakan ngilu yang cukup parah di tubuhnya seketika langsung berubah tenang begitu Oliver datang mendekat. Pawangnya datang, jadi Flowrence harus menunjukkan sikap yang manis supaya Oliver tidak membencinya.


"Jangan ditahan. Kalau sakit menangis saja," ucap Oliver sambil meng*lum senyum saat ekor matanya menangkap kain perban yang basah. Dia tahu kalau Flowrence baru saja menangis.


"Aku tidak sedang kesakitan kok, Kak," sahut Flowrence berkilah.


"Masa?"


Flowrence mengangguk. Tapi sedetik kemudian air matanya menetes sendiri saat luka di tangan Flowrence tak sengaja membentur pinggiran ranjang. Sangat sakit, tapi Flowrence harus tetap kuat karena sekarang Oliver sedang duduk di sebelahnya. Dia tidak boleh mati gaya.


"Aku bilang jangan ditahan, Flow. Menangislah yang kencang," ucap Oliver penuh rasa khawatir. Dia mengambil selembar tisu kemudian dengan sangat hati-hati mengelap air mata yang terus mengalir dari mata indahnya Flowrence. Seketika dadanya sesak, tak tega melihat gadis nakal ini menanggung lara yang cukup parah. "Apa sakit sekali?"


"Hiksss, iya," jawab Flowrence jujur.


"Mau kupanggilkan Ayah tidak?"


"Kata Ibu Levita semua dokter yang ada di rumah sakit ini sangat payah. Jadi aku rasa tidak akan ada gunanya memanggil Ayah kemari."


Jackson yang sedang duduk bersama Gabrielle langsung menoleh ke arah ranjang begitu dia mendengar perkataan Flowrence. Setelah itu Jackson beralih menatap Levita yang sedang berpura-pura menghitung cicak di dinding.


"Racun apa yang kau tanamkan di pikiran putriku, Levita?" geram Jackson. Pelakor ini benar-benar ya. Selalu saja mencari masalah.


"Kau sudah gila ya, Jack. Untuk apa aku menanam racun di pikiran Flowrence kalau otaknya saja adalah sumber dari segala racun yang ada di muka bumi ini. Hati-hati ya kalau bicara!" sahut Levita enggan di salahkan meskipun benar dialah yang telah memberitahu Flowrence kalau semua dokter di rumah sakit ini memiliki kinerja yang buruk. Termasuk Jackson dan suaminya juga. Haisss.


"Alasan saja kau. Selain dirimu, tidak mungkin ada orang lain yang mampu berpikiran seperti itu. Kau lupa ya kalau suamimu juga adalah seorang dokter? Direktur dari semua rumah sakit milik keluarga Ma malah. Bisa-bisanya ya kau mencuci otaknya Flowrence sampai seperti ini. Dasar gila!"


Gabrielle menunjukkan black card ke hadapan Levita saat pelakor ini ingin kembali mengajak Jackson berdebat. Dan benar saja. Begitu kartu dewanya Gabrielle keluar, Levita langsung berubah menjadi seekor anak anjing yang sangat manis. Sambil tersenyum malu-malu dia menyambar black card dari tangan Gabrielle kemudian memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu Levita membuat gerakan mengunci mulut, lalu membuang kuncinya ke dalam tong sampah. Kalian tahu sendirilah apa maksudnya. Hehehe.

__ADS_1


"Kak Oliv?" panggil Flowrence ragu-ragu.


"Hm?" sahut Oliver. Dia lalu menatap hangat ke arah Flowrence. "Ada apa?"


"Boleh tidak kalau aku pindah ke sekolah yang sama dengan Kakak? Aku ... aku merasa tidak aman bersekolah di sana. Aku takut diseret lagi seperti kemarin," ucap Flowrence dengan mata berkaca-kaca.


Oliver bingung. Dia lalu menoleh ke belakang untuk meminta jawaban dari ayahnya dan juga dari Paman Gabrielle.


"Paman Gabrielle, aku rasa Flowrence sebaiknya di pindahkan saja ke sekolah kami. Kasihan dia. Sudah kecil, lemah, terpencil pula. Untung kemarin dia hanya dilemparkan ke jurang. Jika seandainya Flowrence di buang ke dalam sumur kemudian sumur itu ditimbun, kan kami juga yang akan mati. Tolong izinkan Flowrence pindah ke sekolah yang sama dengan kami saja ya Paman, Bibi. Dengan begitu kami bisa lebih ketat lagi dalam mengawasinya!" timpal Cio membantu memuluskan keinginan Flowrence.


"Aku setuju dengan Cio, Ayah. Flowrence lemah, jadi tolong izinkan Flowrence untuk bersekolah di tempat yang sama dengan kami. Iya kan, Kak?" imbuh Karl sambil menyenggol lengan kakaknya.


Sebelum menjawab, Bern melihat ke arah ranjang terlebih dahulu. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya ada goresan tak berdarah melihat tubuh mini adiknya terbungkus perban seperti mumi. Walaupun kejadiannya sudah terencana, Bern sebenarnya tidak benar-benar ingin melukai Flowrence sampai seperti ini. Dia hanya berniat memberi peringatan saja. Sungguh.


"Kak Bern, tolong bela aku juga ya. Ayah dan Ibu pasti akan mengizinkan aku pindah sekolah kalau Kakak yang memohon. Ya?" rengek Flowrence penuh harap.


Semua mata beralih menatap Bern yang hanya diam sambil menatap Flowrence. Elea yang menyadari kalau keinginan putrinya memiliki resiko yang cukup berbahaya segera memikirkan cara untuk mencegah agar musibah lain tidak terjadi. Namun sebelum sempat Elea menemukan alasan, Bern sudah lebih dulu berkomentar. Dan komentarnya itu membuat Elea, Gabrielle dan juga Jackson berada dalam dilema yang cukup besar.


Kak Iel, bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?


"Ekhm Bern, standar yang diminta oleh sekolahmu terlalu tinggi. Dan Paman rasa Flowrence tidak akan sanggup untuk memenuhinya!" ucap Jackson tanggap akan kebingungan dan kecemasan di diri Elea.


"Kalau begitu biar aku saja yang turun kasta dengan pindah ke sekolah buangan itu, Paman. Aku tidak keberatan untuk melakukannya. Iya kan Karl, Iyas, Cio, Rei, Oliver?" sahut Bern seraya menanyakan persetujuan dari adik dan para sepupunya. "Dan aku rasa Russel juga tidak akan keberatan untuk pindah ke sekolahnya Flowrence. Tanyalah jika tidak percaya!"


Karl, Cio, dan juga Reiden tercengang syok mendengar pertanyaan Bern. Masing-masing dari mereka mulai membayangkan betapa buruknya sekolah yang kemungkinan akan segera mereka tempati. Sedangkan Andreas dan Oliver, kedua remaja itu terlihat santai-santai saja saat Bern mengajak mereka untuk pindah ke sekolahnya Flowrence. Itu bukanlah masalah yang besar bagi mereka berdua.


"Em Bern, masalah ini biar Ayah diskusikan dulu dengan Ibumu. Bukannya apa, Ayah hanya tidak ingin melihat Flowrence tertekan karena tidak bisa mengejar ketertinggalannya. Kau tahu sendiri bukan kalau adikmu itu sangat spesial? Dia tidak seperti kalian yang pintar di bidang akademik sekolah. Tolong kau mengerti ini ya?" bujuk Gabrielle sambil membuang nafas berat. Sungguh, Gabrielle seperti sedang dihimpit batu yang sangat besar sekali. Rasanya sesak dan nyeri.

__ADS_1


"Ayah, kenapa aku selalu di bedakan dari Kak Bern dan Kak Karl? Apa karena aku anak tiri? Lihat, tubuh mereka sangat besar. Sedangkan aku? Aku mirip cacing yang tinggal di dalam tubuh manusia. Setiap hari aku makan banyak, tapi hanya di bagian perut saja yang membesar. Apa aku terkena kutukan?" tanya Flowrence sedih.


Mulut semua orang langsung terkatup dengan sangat rapat begitu Flowrence bicara. Bahkan Bern yang biasanya terlihat tenang sampai terbengang heran mendengar celotehan adiknya yang err ... cukup nyeleneh.


"Kak Oliv, apa di matamu aku terlihat seperti seekor anak cacing yang tidak bisa membesar?"


"Kau kunang-kunang yang mempunyai sinar begitu cantik. Lagipula mana ada cacing yang semenggemaskan dirimu, Flow. Tidak ada," jawab Oliver sambil tersenyum manis. Dan senyumnya semakin bertambah manis melihat Flowrence yang bertingkah malu-malu sambil menusuk pelan punggung tangannya.


"Hehe, kenapa tubuhku seperti berubah menjadi jelly ya, Kak?"


"Itu karena kau cantik dan manis,"


"Benarkah?"


"Tentu saja."


Di belakang Flowrence dan Oliver, ada tiga remaja yang sedang menahan diri agar tidak muntah menyaksikan kebucinan mereka. Sedangkan Bern dan Andreas, mereka hanya diam sambil sesekali melirik ke arah para orangtua yang terus menghela nafas panjang.


"Elea, Oliver keren sekali bukan?" bisik Levita bangga melihat putranya yang sat set sat set dalam memenangkan hatinya Flowrence. Hahai, kekayaan sudah ada di depan mata. Akhirnya ya.


"Oliver keren karena aku yang memilihnya, Kak," jawab Elea dengan santai.


"Aku yang melahirkannya,"


"Dan aku adalah orang yang membuat Oliver kaya raya. Mau apa kau?"


Levita kicep. Dia tidak menang jika Elea sudah membahas tentang kekayaan.

__ADS_1


Sialan. Tidak kusangka nasib seorang pelakor akan semenyedihkan ini. Tapi tidak apa-apalah. Kan Gabrielle baru saja memberiku kartu dewa. Setelah pulang dari rumah sakit sebaiknya aku pergi berkeliling saja untuk mencari apartemen baru. Kan lumayan untuk investasi di hari tua. Hehehe.


***


__ADS_2