Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Saling Berbalas Serangan


__ADS_3


πŸ“’ Jangan lupa bom komentar di novel My Destiny (Clara & Eland) ya bestie πŸ’œ


πŸ“’Jangan lupa juga mampir ke Pesona Si Gadis Desa πŸ’œ


Setelah kondisi Elea membaik, dia akhirnya di bawa pulang ke rumah. Dan seakan tak rela, Liona sempat merajuk ketika Gabrielle mengatakan kalau istri dan anaknya bukan akan di bawa pulang ke rumahnya. Pada akhirnya, Gabrielle pun terpaksa mengalah setelah di bujuk oleh banyak orang. Termasuk Levita.


"Sudahlah, Gab. Turuti saja apa yang di mau oleh Ibumu. Lagipula kalau Elea dan bayi-bayinya tinggal di sana, aku bisa sering bersantai di rumah Ibumu yang besar itu. Mubadzir kalau keindahan di sana tidak ada yang menikmati. Hitung-hitung ini adalah masa percobaan sebelum Oliver menjadi cucu menantunya Bibi Liona. Dia perlu tes kekayaan karena menikah dengan Flowrence adalah cobaan yang sangat berat. Putraku butuh sesuatu yang bisa membuat otaknya selalu fresh. Oke?"


Dan ya, Elea langsung mematuhi apa yang di katakan oleh Levita. Kalau kejadiannya sudah begini, mungkinkah seorang Gabrielle berani menolak permintaan istri tersayangnya? Hohoho, tentu saja tidak. Dan di sinilah dia sekarang. Memperhatikan Levi dan Elea yang sedang mengadu skill anak-anak mereka di bawah terik matahari pagi.


"Elea, dengan tubuh semini itu apa iya Oliver mau menikahi Flow? Aku bingung bagaimana cara juniornya masuk ke sana nanti," tanya Levita sambil menatap seksama wajah mungil calon menantunya.


"Itu masalah gampang, Kak. Nanti seiring bertambahnya umur, milik Flow pasti akan membesar dengan sendirinya. Kau tenang saja, Flow mempunyai orangtua yang kaya raya, jadi tidak mungkin kan aku dan Kak Iel akan diam saja ketika bagian dari tubuhnya tidak tumbuh sempurna," jawab Elea dengan begitu gampang. Setelah itu dia tersenyum miring. "Kau lupa ya Kak kalau uang itu bisa membeli segalanya?"


"Lupa si tidak. Aku hanya mengkhawatirkan nasib anakku saja," sahut Levi. "Tapi, Elea. Walaupun ucapanmu benar kalau uang bisa membeli segalanya, entah kenapa aku sedikit kurang cocok dengan kata-kata ini. Tidakkah menurutmu itu terdengar angkuh dan arogan?"


"Memang,"


Levi menoleh. Ingin sekali dia melakban mulut makhluk kecil ini.


"Sengaja aku bicara seperti itu untuk melihat apakah jiwa kematreanmu memudar atau tidak setelah mempunyai anak. Dan ternyata, kau jadi lebih sadar diri, Kak. Aku sangat bangga mempunyai calon besan seeprtimu. Sungguh!" ucap Elea sambil tersenyum bahagia. Pelakornya sudah mulai tobat.


"Heh, jangan kau kira aku akan diam saja ya membiarkan harta kekayaanmu menganggur tak berguna. Walaupun sudah mempunyai Oliver, aku ini tetap Levita Foster, satu-satunya pelakor yang di akui statusnya oleh keluarga besar Ma. Jadi tolong kau jangan kesenangan dulu dengan berpikir kalau aku sudah sadar ya. Pokoknya selama Gabrielle masih menjadi bos, selama itu pula aku akan terus membayangi rumah tangga kalian. Paham?"


Sebenarnya, di hadapan Levi dan Elea sekarang ada banyak sekali orang yang sedang menonton pertengkaran mereka. Keluarga Ma, keluarga Young, keluarga Foster, dan masih banyak lagi yang lainnya, hanya bisa terheran-heran melihat pelakor dan istri sah yang sedang bertengkar di hadapan bayi-bayi mereka. Ingin heran tapi mereka adalah Levi dan Elea. Jadi semua orang hanya bisa terus menonton sambil sesekali di buat syok saat mendengar omongan nyeleneh yang keluar dari mulut kedua wanita tersebut.

__ADS_1


"Gleen, aku sarankan kau dan Lusi sebaiknya mengajarkan pada Reiden agar jangan terlalu dekat dengan anaknya Levita dan Elea," bisik Junio.


"Kenapa memangnya?" tanya Gleen heran.


"Lihat. Ajaran mereka sudah sangat sesat bahkan ketika anak mereka masih bayi. Aku khawatir Reiden dan Cio akan menjadi tumbal dari kenakalannya Ber, Karl, Flow, dan juga Oliver. Kasihan anak-anak kita nanti," jawab Junio dengan mimik wajah yang begitu serius.


"Hei kalian tukang manekin dan penjahat k*lamin, bisa tidak jangan menggunjing yang tidak-tidak tentang ke empat bayi itu?" tegur Jackson tak terima nama putrinya ikut di bawa-bawa.


"Isshhh, apalah kau ini, Jack. Dasar tukang Jack-Gal," sahut Junio balas mengatai Jackson. Enak saja dia di katai tukang manekin. Walaupun kenyataannya memang benar, Junio tetap saja tidak terima. Dia kan sudah tobat semenjak rajin membuat adonan bayi kecambah bersama Patricia.


"Kalian sesama mantan tukang tolong diamlah sebelum aku melaporkan kalian pada Bibi Liona. Mau kalian menjadi mainan Lan dan Tora, hem?"


Ancaman Kayo sukses membuat Junio, Gleen, dan juga Jackson diam di tempat. Terlalu mengerikan, begitu pikir mereka.


"Gabrielle, kapan kau dan Elea akan menggelar resepsi dan mengumumkan kelahiran cucu-cucu Ibu?" tanya Liona. Matanya terus tertuju ke arah depan di mana Elea dan Levita tak berhenti membahas masalah yang berhubungan dengan harta. Benar-benar mata duitan kedua wanita itu. Tapi entah kenapa Liona begitu mencintai dan menyayangi keduanya.


"Aku setuju dengan Gabrielle, Nyonya Liona. Elea harus benar-benar sembuh dulu karena nanti dia pasti akan sangat kelelahan saat acara berlangsung. Belum lagi dengan desakan dari awak media, aku takut itu akan memperburuk keadaan Elea jika terlalu di paksakan. Benar tidak, Bry?" timpal Yura kemudian melayangkan pertanyaan pada suaminya.


"Asal itu adalah yang terbaik untuk anak dan cucu-cucuku, maka aku akan setuju," jawab Bryan sambil mengelus kepala Cio yang kala itu tengah bermanja di pangkuannya.


"Ya sudah kalau memang seperti ini keputusannya. Aku ikut kalian saja," ucap Liona. "Dan Tuan Samuel, apa tanggapan anda tentang perjodohan Flowrence dan Oliver? Adakah rasa keberatan di diri anda dan Nyonya Lolita?"


Sebelum menjawab Samuel dan Lolita melihat ke arah Levita terlebih dahulu. Mereka terdiam cukup lama hingga pada akhirnya mereka melihat ke arah Nyonya Liona.


"Nyonya, kami bisa apa jika memang Tuhan telah menggariskan Flowrence sebagai jodoh dari cucu kami Oliver. Rasanya mustahil juga untuk menolak gadis seistimewa Flowrence di dalam keluarga kami," ucap Lolita menyerukan persetujuannya. "Akan tetapi, Nyonya. Apakah tidak apa-apa Tuan putri seberharga Flowrence menikahi pria yang tidak sepadan dengannya?"


Gabrielle yang mendengar hal itupun langsung angkat suara. Sepertinya ibunya Levita belum tahu kalau sedari masih embrio, Oliver telah mendapat dp yang sangat besar dari calon ibu mertuanya, yang tak lain adalah Elea. Belum lagi dengan hadiah kelahiran Oliver yang jumlahnya tidak main-main. Ibunya Levita perlu di beri pemahaman rupanya.

__ADS_1


"Bibi Lolita, untuk apa Bibi memusingkan apakah Oliver akan cocok untuk putriku atau tidak? Karena Elea menginginkannya, sudah pasti kami akan membuat Oliver kaya raya sebelum mereka menikah. Jangan khawatir, Levita sudah menerima dp yang sangat besar dari Elea sejak Oliver masih berbentuk embrio. Di jamin nanti Oliver akan mempunyai kekayaan dalam jumlah besar yang mana akan membuatnya pantas untuk menjadi menantu di keluarga Ma!"


"A-apa? Dp?" pekik Lolita dan Samuel berbarengan.


Apa-apaan ini? Bagaimana bisa cucuku sudah di dp sedari embrio? Sekte macam apa yang sebenarnya di anut oleh Levita dan Elea sampai-sampai mereka melakukan negosiasi semacam ini tentang anak-anak mereka? Ya Tuhan, dua manusia ini benar-benar sudah tidak tertolong lagi.


"Iya, dp. Pembayaran di muka juga telah di setujui oleh Reinhard juga. Iya kan, Rein?"


Reinhard hanya bisa pasrah dengan menganggukkan kepalanya ketika di tanya seperti itu oleh Gabrielle. Dia kalah telak di bawah kematrean istrinya.


"Oh, ya sudahlah kalau begitu. Kami sih oke-oke saja kalau memang atas persetujuan bersama," ucap Samuel santai. Kapan lagi dia bisa menemukan keluarga yang dengan begitu murah hati mau memperkaya cucunya sedari embrio. Langka sekali bukan?


Dan ketika semua orang sedang sibuk dengan rencana perjodohan antara Flowrence dan Oliver, mereka di kagetkan oleh suara kentut yang saling bersahut-sahutan mulai dari Bern, Karl, Oliver, dan yang terakhir adalah Flow. Bahkan Levita dan Elea sampai terpingkal-pingkal melihat bagaimana anak-anak mereka saling berbalas bos atom dengan begitu sengitnya.


"Ahahahaa, Elea. Oliver dan Flow sepertinya bersatu untuk menumbangkan pertahanan Bern dan Karl. Benar tidak?" tanya Levita sambil meringis menahan ngilu di perutnya.


"Benar sekali, Kak. Untung saja bom mereka tidak terlihat. Kalau berbentuk granat, wajahnya Bern dan Karl pasti sudah tidak seperti manusia lagi," jawab Elea yang juga sambil meringis menahan perih di bagian bekas operasinya.


"Hei, tapi kan Bern dan Karl adalah anakmu juga, Elea,"


"Tidak apa-apa, Kak. Mereka ada hanya untuk di bully oleh Flow."


"Wahhh, kau Ibu yang sangat kejam, Elea," ucap Levita syok.


"Terima kasih atas pujiannya, Kak. Aku merasa sangat tersanjung," sahut Elea dengan penuh bangga.


Levita terdiam. Malas dia meladeni Elea, bisa-bisa jahitan di perutnya kembali jebol kalau dia tidak bisa menahan emosinya. Benar tidak man-teman?

__ADS_1


*****


__ADS_2