Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Fakta Mengerikan


__ADS_3

Greg berjalan cepat menghampiri Liona yang baru saja keluar dari dalam mobil. Tanpa bertanya apa-apa, dia langsung memeluknya dengan sangat erat kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit.


"Honey, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Greg. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk membeli air minum. Greg sungguh bingung. Tubuh Liona bergetar dengan sangat kuat, seolah istrinya ini baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Tapi apa?


"Apa Gabrielle dan Elea sudah datang ke rumah sakit?" tanya Liona beralih ke topik lain. Dia lalu mengajak Greg berdiri di dekat jendela, kemudian menyenderkan tubuhnya ke dinding. Tatapan Liona menyendu. Perih.


"Sudah, Hon. Mereka sedang berada di ruangan Flowrence sekarang," jawab Greg.


"Dan yang lainnya?"


"Selain Kayo, Jackson, Abigail dan Mattheo, semua orang juga berada di ruangannya Flowrence. Mungkin mereka sedang memarahi para bodyguard itu yang gagal melindungi cucu kita!"


"Mereka tidak bersalah, Greg. Tolong nanti katakan kepada para orangtua agar jangan menghukum anak-anak. Terutama Ares!" ucap Liona dengan berat hati. Rasanya seluruh tubuh Liona seperti menggigil hebat saat dia terkenang dengan bayangan Bern yang bisa begitu mudah menghabisi empat orang bandit dengan cara yang cukup brutal.


Mata elang Greg terus memperhatikan dengan seksama setiap perubahan ekspresi dan juga tarikan nafas di diri Liona. Greg tahu, sangat-sangat tahu kalau Liona pasti telah melihat sesuatu yang membuat perasaannya cukup terpukul. Ini Greg yakini karena sangat jarang Liona bersikap sedemikian rupa. Jadi sudah pasti ada hal buruk yang baru saja dilihatnya.


"Ayah, Ibu. Kalian sedang apa di sini?"


Gabrielle yang berniat pergi menghampiri Jackson tidak sengaja melihat orangtuanya yang sedang berdiri di dekat jendela. Segera dia berjalan mendekat kemudian menatap satu-persatu wajah mereka.


"Gabrielle, apa kau senggang? Ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan padamu," ucap Liona. Sesedih apapun putranya nanti, Gabrielle berhak tahu kalau Bern adalah jawaban dari tanda tanya mereka selama ini.

__ADS_1


"Tadinya aku ingin pergi menemui Jackson untuk membahas tentang kondisi Flowrence, Bu. Tapi karena Ibu ingin bicara, biar nanti saja aku baru pergi menemuinya," sahut Gabrielle langsung menyanggupi keinginan sang ibu.


"Bern, dia adalah otak di balik kecelakaan yang di alami oleh Flowrence dan Sisil. Musibah ini telah di rencanakan sebelumnya, Gab. Dan pelakunya adalah Bern, kakaknya Flowrence!"


Deg deg deg


Jantung Gabrielle dan ayahnya langsung berdebar dengan sangat kencang begitu mereka mendengar fakta tersebut. Syok, jangan di tanya lagi. Bahkan mereka sempat sulit bernafas saking terkejutnya mengetahui fakta kalau Bern adalah pelaku di balik kecelakaan mengerikan yang hampir merenggut nyawa Flowrence, Russel dan juga Sisil. Sungguh, ini sangat jauh dari perkiraan.


"B-bagaimana mungkin Bern ada di balik semua kejadian ini, Bu. Flowrence adiknya, dan selama ini dia sangat menyayanginya. Mustahil Bern tega melakukan hal sekejam itu pada adiknya sendiri. Mereka kembar, Ibu!" ucap Gabrielle sambil mencengkeram rambutnya dengan kuat.


"Ibu awalnya juga tidak ingin mempercayai hal ini, Gab. Tapi setelah Ibu menyaksikan sendiri seperti apa brutalnya kemarahan Bern saat menghabisi nyawa orang suruhannya, Ibu akhirnya sadar dan percaya kalau Bern adalah dalang di balik musibah ini!" sahut Liona kemudian menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes keluar. "Dia orangnya, Gab. Bern adalah jawaban dari pertanyaan yang selama ini membuat kita semua merasa khawatir. Dia orangnya!"


Greg dengan sigap memeluk istri dan putranya yang sedang sama-sama terpukul setelah mengetahui fakta kalau Bern memiliki sikap yang begitu kejam. Dia sebenarnya juga sangat syok, tapi Greg berusaha kuat agar bisa menenangkan anak dan juga istrinya.


"Ayah, bagaimana mungkin Bern tega menyakiti adiknya sampai seperti ini. Apa salah Flowrence? Dia hanya seorang gadis kecil yang bahkan tidak tahu bagaimana cara mengikat rambutnya sendiri. Ini ... ini sulit untuk ku percaya, Ayah. Sangat sulit!" ucap Gabrielle dengan suara gemetar.


"Tidak ada yang sulit di sini, Kak. Karena sebelum datang ke rumah sakit, aku sudah tahu kalau pelakunya adalah salah satu dari putra kita. Tapi aku tidak menyangka kalau itu adalah Bern. Karena di awal setelah melihat mimpi itu aku sempat berpikir kekejaman ini adalah hasil perbuatan Karl. Miris!"


Gabrielle, Greg dan Liona sama-sama tersentak kaget saat mereka mendengar suara Elea. Segera mereka berbalik kemudian menatap wanita cantik yang tengah berdiri dengan tatapan kosong.


"Sayang, kenapa kau kemari, hm? Flowrence bagaimana?" tanya Gabrielle sambil berjalan menghampiri Elea. Dia lalu memejamkan mata saat Elea mundur menjauh darinya. "Please, Elea. Jangan biarkan emosi menguasi pikiranmu. Kau kuat, sayang. Kita pasti bisa melewati masalah ini. Oke?"

__ADS_1


"Kak Iel, aku sungguh bingung kenapa anak-anakku harus menerima karma seperti ini dari seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal. Siapa sebenarnya pembawa karma itu, hah! Dan ... dan kenapa harus Bern yang dia pilih? Apa kesalahan yang telah dilakukannya? APA?" tanya Elea dengan suara meninggi. Mati-matian dia menahan diri agar tidak menangis, berusaha untuk tetap kuat meski hatinya telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.


"Elea, tenanglah, sayang. Kejadian ini tidak boleh sampai di dengar oleh orang lain. Kasihan Bern nanti. Tenang ya?" bujuk Liona panik melihat reaksi Elea. Perlahan-lahan dia berjalan mendekat kemudian mengulurkan tangannya. "Kau tidak sendiri, Elea. Masih ada Ibu dan juga Ayah yang akan menemanimu melewati semua masalah ini. Jadi jangan panik dan tetaplah tenang. Oke?"


"Hikssss, kenapa semuanya jadi seperti ini, Bu. Padahal aku telah meminta pada Tuhan agar melimpahkan semua penderitaan padaku saja. Tapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan permintaanku? Sesulit itukah?"


Gabrielle menengadahkan wajahnya ke atas melihat ibunya yang berhasil menenangkan Elea. Sungguh, dia juga tidak mengerti kenapa keluarga kecilnya bisa menerima kenyataan seberat ini. Gabrielle pun merasa heran sebenarnya siapa yang telah melakukan kejahatan hingga harus menyeret kehidupan putranya. Dia penasaran sekali pada orang tersebut.


"Bu, Flowrence baru saja memberitahuku kalau dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Dia juga mengakui kalau Oliver selalu membuatnya merasa nyaman karena mampu melindunginya dari gangguan mereka yang tak terlihat. Bukankah ini artinya kalau Flowrence itu tidak menuruni kelebihan Kak Iel yang bisa mendengar isi pikiran orang lain?"


Geg dan Liona terperangah.


"Ya Tuhan. Kenapa kelebihan yang Flowrence miliki bisa berbeda dengan kelebihan yang kalian punya?" ucap Liona terkaget. Aneh, ini benar-benar sangat aneh.


"Aku dan Elea juga bingung kenapa Tuhan memberinya kelebihan yang seperti itu, Bu," sahut Gabrielle.


"Berarti selama ini ada orang lain yang menuruni kemampuanmu itu, Gab!" ucap Greg ketar-ketir sendiri. Dia lalu membelalakkan mata saat menyadari sesi hal. "Astaga. Apa jangan-jangan Bern mencelakai Flowrence karena dia pernah mendengar kau atau Ibumu membatin kalau semua aset milik Flowrence kini telah teratas namakan pada Levita dan Oliver? Ya Tuhan, bulu kuduk Ayah sampai berdiri semua. Bern benar-benar sangat jahat jika benar dia tega melakukan semua ini hanya karena ingin memiliki apa yang Flowrence miliki. Psycho dia!"


Suasana menjadi sangat hening setelah Greg mengatakan semua itu. Bahkan Elea yang tadinya sedang menangis sampai terdiam kaku begitu mendengar akan kengerian yang selama ini tidak dia dan Gabrielle sadari.


Bern, kau kenapa bisa jadi sekejam ini hanya karena harta, Nak? Harusnya kau langsung membahasnya saja dengan Ayah dan Ibu tanpa harus mencelakai saudarimu sendiri, sayang. Kenapa kau begitu serakah, hm?

__ADS_1


*******


__ADS_2