
Di saat Levi dan Reinhard masih enggan menemui orangtua mereka, di tempat lain ada Junio yang tengah menatap jengkel pada Elea yang baru saja selesai membersihkan diri. Junio masih sangat amat mendendam setelah insiden ranjau darat yang sengaja di tempelkan ke lengannya. Untung saja Patricia membawakan baju ganti untuknya. Jika tidak, maka Junio pasti akan langsung mengacak-acak lemari pakaian Gabrielle sebagai bentuk pembalasan atas apa yang telah dilakukan Elea terhadapnya.
"Sudahlah, Jun. Elea kan hanya bercanda saja tadi, tidak perlulah sampai semarah ini. Lagipula lenganmu juga masih baik-baik saja. Iya kan?" ucap Patricia sambil mengelus punggung suaminya yang sedang merajuk. Dia geli hati sendiri jika mengingat kehebohan yang terjadi antara suami dan juga adiknya.
"Kak Cia benar, Paman Junio. Aku hanya bercanda, tidak sungguhan!" timpal Elea bicara tanpa beban. Dia puas sekali melihat ayahnya Cio terlihat begitu frustasi sekarang.
"Apanya yang bercanda. Jelas-jelas ranjau yang kau tempelkan ke lenganku itu nyata!" hardik Junio semakin kesal. "Elea, astaga. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau bisa begitu jahat kepadaku. Apa di antara kita pernah ada dendam pribadi atau bagaimana sih sampai-sampai kau selalu membuat hidupku menjadi tidak tenang setiap kali kita bertemu. Punya masalah apa kau sebenarnya, hah?"
"Jangan meneriaki istriku!"
Gabrielle segera menghampiri Junio lalu menatapnya tajam. Dia sangat tidak suka jika ada orang yang berani bersikap tidak sopan pada istrinya.
"Ini lagi. Mau apa kau sekarang, Gab? Sudah tidak takut lagi melihat ranjau yang keluar dari bokong anakku, iya?" protes Junio lantang.
"Ck, apa-apaan kau ini, Junio. Apa hubungannya aku dengan ranjau milik anakmu itu? Kau yang sebagai ayahnya saja sampai menjerit ketakutan saat Elea menempelkan ranjau itu ke tubuhmu, apalagi aku yang hanya sebatas pamannya saja. Jadi jangan merasa menjadi yang paling baik kau!" sahut Gabrielle tak terima.
Patricia dan Elea hanya diam mendengarkan suami-suami mereka berdebat tentang siapa yang paling hebat menghadapi ranjau darat milik bayi yang kini tengah asik menikmati asi di dada ibunya. Sungguh, kelakuan dua orang ini benar-benar sangat kekanakan. Mereka seperti tidak merasa malu meributkan seonggok kotoran yang mana membuat keduanya sampai lari kocar-kacir.
"Gabrielle, Junio. Apa-apaan kalian? Apa yang sedang kalian ributkan?" tanya Greg bingung. Dia lalu menatap bergantian ke arah dua orang pria yang sama-sama tengah menatap dengan sengit.
"Ayah, Junio menuduhku sebagai laki-laki pengecut. Aku tidak terima!" jawab Gabrielle mengadu pada sang ayah.
"Itu memang benar, Paman. Buktinya ada," timpal Junio tak mau kalah. "Tadi saat Gabrielle melihat ranjau darat di bokongnya Cio, dia langsung hilang dalam sekejap mata. Sikap seperti itu bukankah hanya akan dilakukan oleh seorang pengecut saja. Iya kan?"
"Ranjau darat? Apa itu?"
__ADS_1
Elea tersenyum. Sebuah smirk jahat muncul di sudut bibirnya.
"Ayah Greg, ranjau darat yang di maksud oleh Paman Junio adalah pup-nya Cio. Itu yang warnanya kuning kehijauan. Ayah tidak mungkin tidak tahu kan?"
Gluukkk
Mendadak bulu kuduk di tubuh Greg jadi berdiri semua begitu dia tahu apa itu ranjau darat. Selintas ingatan masa kelam ketika dia membantu Liona merawat si kembar muncul di dalam kepalanya. Ya, dulu pernah sekali Greg mengalami kejadian yang membuatnya trauma sampai detik ini. Grizelle, ya, Grizelle. Anak nakal itu pernah melepaskan bom atom tepat di telapak tangannya ketika Greg hendak memakaikan popok. Dan apa kalian tahu apa yang terjadi pada seorang Greg Ma waktu itu? Dia muntah-muntah sebelum akhirnya di larikan ke rumah sakit karena jatuh tak sadarkan diri. Kesan yang begitu brutal bukan?
"Em, Elea. Maaf, sepertinya perut Ayah sedikit tidak nyaman. Ayah pergi ke toilet dulu ya?"
"Oh, silahkan saja, Ayah," sahut Elea kemudian menarik tangan ayahnya yang hendak pergi. "Ayah, apa Ayah tidak mau menyapa Cio dulu. Dari tadi kan Ayah belum bermain dengannya. Mau ya?"
Dan persis seperti Gabrielle, Greg langsung hilang dari pandangan mata semua orang ketika Elea memintanya untuk bermain dengan anaknya Patricia dan Junio. Melihat betapa jahilnya Elea pada sang ayah, membuat Gabrielle menjadi gemas di buatnya. Dia mengacuhkan kekesalannya pada Junio kemudian duduk di sisi Elea.
"Sayang, kenapa kau tega sekali pada Ayah. Kenapa, hm?" tanya Gabrielle sembari membaui aroma sampo di rambut istri tersayangnya.
"Bisikan kecil?" beo Gabrielle, Junio, dan Patricia bersamaan.
Astaga, ini gawat. Sepertinya pasukan kurcacinya Gabrielle dan Elea akan menjadi biang rusuh setelah mereka lahir nanti. Ini tidak bisa di biarkan. Cio tidak boleh berdekatan dengan mereka, bisa gawat kalau kekejaman anak-anak Elea sampai menular kepadanya. Huh.
Ingin rasanya Gabrielle membelah kepala Junio menggunakan kapak setelah mendengar apa yang dia pikirkan. Bisa-bisanya Junio berpikiran buruk tentang anak-anaknya yang bahkan masih berbentuk kacang polong. Sungguh paman yang sangat jahat. Awas saja nanti.
"Oh ya, Kak Iel. Aku ingin minum sampanye. Sekarang."
"A-APAAA?!!!"
__ADS_1
Seperti orang yang kerasukan, Gabrielle memekik dengan suara yang sangat kuat begitu mendengar apa yang di inginkan oleh Elea. Dan hal itu tanpa sengaja membuat mata Elea menjadi berkaca-kaca. Elea sedih, dia merasa sakit hati karena di bentak oleh suaminya.
"Ibu, Ibu Liona. Lihat, Kak Iel jahat padaku!" adu Elea kemudian pergi menemui ibu mertuanya.
Patricia menghela nafas. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan betapa paniknya Gabrielle dalam menghadapi masa mengidamnya Elea yang begitu sensitif. Sebenarnya Patricia bisa maklum alasan kenapa Gabrielle sampai berteriak seperti itu. Sampanye, astaga. Adiknya itu sedang hamil tiga ekor bayi tapi mengidamkan minuman beralkohol cukup tinggi. Ini gila bukan?
Sebenarnya kau itu sedang mengandung bayi jenis apa, Elea? Apa salah satu dari anakmu nanti akan menjadi seorang bartender di sebuah club? Astaga.
Tak mempedulikan isi pikiran Patricia, Gabrielle bergegas pergi menyusul Elea. Tubuhnya sudah panas dingin memikirkan kemarahan sang ibu yang tentunya akan sangat mendidih setelah tahu kalau Gabrielle baru saja membentak menantu kesayangannya. Eh, ralat. Bukan membentak, tapi tidak sengaja berteriak. Suami mana lah yang tidak akan kaget mendengar permintaan istrinya yang menginginkan minuman beralkohol dalam kondisi sedang hamil muda. Jadi wajar saja bukan kalau reaksi Gabrielle sampai sekaget itu? Ya Tuhan, istrinya kenapa aneh-aneh saja sih mengidamnya. Sampanye, oh my God.
"Hehehe, rasakan kau, Gab. Setelah ini ibumu pasti tidak akan membiarkanmu berdekatan dengan Elea. Ckck, ternyata karma itu ada ya. Karma is real!" ucap Junio merasa sangat gembira membayangkan penderitaan seorang Gabrielle.
"Jun?"
"Ya, sayang. Ada apa?"
"Sepertinya Cio kembali pup. Bisa tolong bantu aku untuk mengganti pokoknya tidak? Aku lelah," ucap Patricia sambil menatap tajam ke arah suaminya. Dia kesal sendiri mendengar ucapannya barusan.
"A-apa, sayang? Mengganti pokoknya Cio? Pup?"
Junio syok. Kalau seperti ini ceritanya, bukan hanya Gabrielle yang terkena karma, tapi dia juga.
"Iya. Kenapa memangnya? Tidak mau?" tanya Patricia. "Ya sudah tidak apa-apa."
Junio menghela nafas lega. Namun sedetik kemudian dia di buat sesak nafas oleh perkataan Patricia.
__ADS_1
"Nanti malam kau tidur di kamar lain. Aku butuh tempat yang luas untuk menyegarkan pikiran. Aaa, satu lagi. Sepertinya Cio membutuhkan sosok ayah yang jauh lebih perhatian lagi kepadanya. Jadi maaf, kau tidak lolos dalam seleksi ayah yang siaga!"
*****