
Dengan wajah lelahnya Levi melangkah keluar dari dalam mobil. Dia lalu menggerutu saat kakinya hampir keseleo gara-gara high heels yang dia kenakan.
"Huh, meskipun sudah bertahun-tahun menjadi model tetap saja kakiku masih bisa keseleo. Orang-orang pasti akan menertawakan aku jika melihat hal memalukan ini," gumam Levi kemudian kembali masuk ke dalam mobil.
Sambil terus mengomel, Levi mencari apakah di dalam mobilnya ada sepatu atau sandal lain atau tidak. Hingga pada akhirnya dia menemukan sepasang sandal yang biasa di pakai oleh bibi pelayan setiap kali pergi berbelanja bersamanya.
"Tidak ada akar rotan pun jadi. Tidak ada sepatu branded, sandal jepit pun jadi. Hahai,"
Tanpa ragu-ragu Levi pun mengenakan sandal jepit tersebut. Dia dengan santainya melangkah keluar dari dalam mobil kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Tapi sayangnya, begitu Levi melihat keberadaan calon suaminya, dia di suguhkan oleh pemandangan yang begitu menyesakkan dada. Reinhard-nya tengah berbincang hangat dengan seorang suster yang memiliki paras lumayan cantik. Geram karena suaminya di dekati lintah penghisap, asap kecemburuan di tubuh Levi langsung mengebul keluar. Dengan langkah lebar dia bergegas menghampiri si lintah penghisap seraya memperlihatkan tatapan yang begitu bengis.
"Owh, jadi seperti ini kelakuanmu jika sedang tidak bersamaku!"
Reinhard hampir tersedak ucapannya sendiri ketika melihat kemunculan Levi yang tiba-tiba. Tak ingin terjadi salah paham, Reinhard berniat memberi penjelasan. Tapi baru saja mulutnya terbuka, tangan Levi sudah lebih dulu menempel di sana. Alhasil Reinhard hanya bisa terdiam takut melihat bola mata Levi yang membulat lebar seperti di film hantu.
"Maaf Nona, sepertinya anda sedikit kurang ajar dalam bersikap pada dokter Reinhard. Tolong turunkan tangan anda dari sana!" tegur si suster tak terima.
"Dokter yang sedang kau dekati saja tidak merasa keberatan, lalu kau yang hanya bawahannya kenapa malah berani protes padaku? Kau mau coba-coba bersaing dengan pelakor senior atau bagaimana hah?" sahut Levi dengan kecemburuan level dewa.
"Pelakor senior? Maksudnya apa ya?"
Suster yang tengah berdebat dengan Levi sepertinya tidak tahu kalau Levi memiliki hubungan dekat dengan direktur rumah sakit ini. Dan kenyataan ini membuat kecemburuan Levi kian menjadi-jadi.
"Halah, kau tidak usah pura-pura tidak tahu ya. Dengar ya kau pelakor junior, kau jangan coba-coba menyentuh priaku. Karena apa? Karena kau tidak selevel untuk bersaing denganku. Lihat, aku sama sekali tidak berniat merendahkanmu, tapi dari seragammu saja sudah menandakan kalau kau itu masih kalah jauh jika di bandingkan dengan profesiku. Aku Levita Foster, mantan model ternama yang di blacklist gara-gara orang pemilik rumah sakit ini ingin aku menjadi temannya. Dan juga aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku. Sementara dokter yang tadi sedang kau goda, dia adalah calon suamiku. Kau yakin ingin mengajakku bersaing, hah?"
Reinhard menahan tawa melihat cara Levi menegaskan kepemilikannya. Agak ambigu memang, tapi inilah Levita Foster dengan gaya bicaranya yang selalu blak-blakan. Bukannya melerai perdebatan yang terjadi, Reinhard malah dengan sengaja menarik tangan Levi yang menutupi mulutnya kemudian menciumnya pelan. Tatapan matanya fokus pada wanita yang masih terus mengomel.
"J-jadi dokter Reinhard sudah memiliki calon istri?"
"Iya, kenapa memangnya? Kalau kau tidak percaya, lihat ini," jawab Levi sembari memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. "Dan satu lagi, saat ini aku tengah mengandung buah cinta kami. Kau sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk menjadi seorang pelakor. Paham!"
"Sayang, kau mulai lagi!" tegur Reinhard merasa tak enak saat mata semua orang membelalak kaget begitu mendengar ucapan Levi yang mengaku sedang mengandung.
__ADS_1
"Biar saja, Rein."
"Tapi orang lain bisa salah paham dengan ucapanmu."
"Aku tidak peduli. Toh bertahun-tahun aku sudah terbiasa hidup dengan hujatan jahat dari mulut para netijen yang maha benar. Jadi sekarang tidak ada bedanya dengan hal itu. Biar saja orang mau berpikir apa. Kalau mereka smart, mereka pasti bisa membuktikan sendiri apakah ucapanku benar atau tidak. Jadi kenapa kita harus repot-repot memikirkan kata mana yang pantas di ucapkan atau tidak. Ingat Rein, tangan kita hanya bisa kita gunakan untuk menutup telinga kita sendiri. Jadi jangan pedulikan apa kata orang lain. Paham?" kesal Levi sambil memicingkan mata ke arah orang-orang yang tengah asik menggunjingkan dirinya.
Reinhard tersenyum. Dia lalu menarik Levi agar menghadapnya. Mengabaikan keberadaan suster yang memang dia sadari begitu gencar mendekatinya.
"Calon istriku sangat tangguh. Aku yakin anak-anak kita nanti pasti akan terlahir kuat seperti ibunya."
"Yaiyalah, itu harus. Anak-anak kita harus menjadi anak yang paling kuat supaya mereka bisa menjadi penindas," sahut Levi dengan pipi bersemu. Dia tersipu dengan kata-kata yang di ucapkan Reinhard barusan.
"Hehe, kau ini," ucap Reinhard gemas. Dia kemudian menunduk, menahan tawa begitu tahu kalau calon istrinya yang biasanya glamor dan mahal datang hanya dengan memakai sandal jepit biasa. "Ngomong-ngomong apa kakimu tidak gatal tidak memakai sendal bermerk, hm? Ini bukan seperti kebiasaan calon istriku. Kenapa?"
Sebelum menjawab, Levi mengikuti arah pandang Reinhard. Dia mengerucut saat sandal jepit milik pelayan kesayangannya di olok-olok.
"Tadi aku hampir keseleo, jadi aku memutuskan untuk berganti sandal. Dan di mobil hanya ada sandal milik Bibi pelayan. Jadi ya sudah aku pakai saja."
"Sejarahnya sangat panjang, Rein. Kalau aku mengingatnya hatiku langsung terasa sesak," jawab Levi sambil mendesah berat.
"Kenapa bisa begitu? Memangnya apa yang terjadi?" cecar Reinhard penasaran.
"Kau tahu tidak, Rein. Waktu itu aku sedikit kasihan melihat Bibi pelayan yang hanya memakai sandal biasa-biasa saja semenjak merawatku. Jadi aku berinisiatif membelikannya sandal brended sebagai hadiah. Tapi kau tahu tidak apa yang terjadi pada sandal brended itu?"
Sudut bibir Reinhard berkedut. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi setelah melihat ekpresi kesal yang bercampur sedih di wajah Levita.
"Apa?"
"Bibi memakai sandal brended itu untuk pergi ke pasar lokal. Dan apa kau tahu alasannya kenapa memakai sandal semahal itu untuk berbelanja ikan dan sayuran?"
"Apa?" tanya Reinhard sambil menahan tawa.
__ADS_1
"Dia bilang ingin pamer pada pelayan-pelayan lainnya di sana. Sangat menyakitkan hati bukan?" jawab Levita penuh duka. "Aku harus merogoh kocek berjuta-juta hanya untuk mengistimewakan kakinya tapi dia malah dengan bangganya membawa sendal tersebut ke daerah yang tidak seharusnya. Waktu itu aku benar-benar merasa sangat frustasi, Rein. Ingin marah, tapi sedikit lucu. Jadi ya sudah, aku pasrah saja Pun sandal itu juga sudah menjadi hak miliknya," jawab Levi seraya mengulum senyum.
Dunia benar-benar bagaikan milik berdua saat Reinhard tak henti-hentinya menciumi tangan calon istrinya. Suster yang tadi menggoda Reinhard pun diam-diam melangkah pergi dari sana. Hatinya sakit sekali karena di abaikan, tapi dia juga tidak berani melakukan apa-apa.
"Rein, wanita tadi apa tidak tahu kalau tentang hubungan kita?" tanya Levi penasaran.
"Dia baru dua hari berada di sini, sayang. Kemungkinan besar dia tidak tahu kalau kita sudah bertunangan," jawab Reinhard.
"Pantas, tatapan matanya terlihat gatal sekali. Awas saja kalau kau sampai tergoda olehnya. Aku pastikan burungmu akan menjadi almarhum selamanya," ancam Levi sambil melihat ke arah daerah terlarang milik calon suaminya.
Reinhard tergelak.
"Sayang, bagaimana mungkin ada wanita yang mampu mengalahkan pesona pelakor senior dimana pelakor tersebut mampu menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seorang Gabrielle Ma? Itu tidak akan pernah terjadi, sayang. Aku berani jamin."
"Aku tidak peduli. Pokoknya awas saja kalau kau sampai ketahuan selingkuh."
"Tidak akan."
"Yakin?"
"Sepertinya calon istriku ini perlu di beri hukuman. Ayo ikut aku."
Wajah Levi merah padam saat menyadari arti dari kata hukuman yang di maksud oleh Reinhard. Dia lalu dengan patuh mengikuti langkah Reinhard yang mengajaknya masuk ke ruangan pribadinya. Dan ... hukuman pun di mulai. π
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...