Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Permainan Kehidupan


__ADS_3

Flowrence dengan sangat serius membaca lembar soal yang ada di atas meja. Matanya yang bening sampai menyipit saking stresnya dia memikirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di lembar tersebut.


“Ekhmm, ekhmmmm!”


Flowrence diam tak bergeming saat ada seseorang yang berdehem dari arah samping. Dia sedang fokus. Jadi meskipun ada dinosaurus lewat di depannya Flowrence tidak akan mempedulikannya. Saat ini Flowrence benar-benar sedang tidak mau diganggu. Dia sedang banyak pikiran sekarang.


“Hahhhh, lama-lama aku bisa mati kering di sini. Yakkk Flow, kapan kau akan menyelesaikan sebutir soal itu hah! Ini sudah dua puluh menit terlewat, tapi kenapa kau hanya memelototinya saja. Ayo cepat tulis jawabanmu!” keluh Karl habis kesabaran menunggu adiknya menyelesaikan satu pertanyaan yang dia buat. Rasanya Karl ingin sekali mengganti otak yang ada di dalam kepala adiknya ini. Bodohnya benar-benar tidak ada obat.


“Kak Karl, Kakak bisa tenang dulu tidak sih. Tidak lihat ya kalau aku sedang bekerja keras mencari jawaban untuk soal ini. Aku sedang berjuang, Kak Karl!” sahut Flowrence tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar soal.


“Berjuang ya berjuang, tapi tidak selama ini juga Flowrence. Astaga!”


Bern yang sedang mengotak-atik laptopnya tampak melirik sekilas saat Karl tak henti mengomeli adik mereka. Besok adalah ulangan kenaikan kelas, jadi mereka mengajak Flowrence untuk belajar bersama karena tak mau disalahkan jika adik mereka itu sampai mendapat nilai jelek. Oya, mungkin di part ini sengaja alurnya dimajukan karena emak sudah di uber-uber oleh para pembaca untuk segera membongkar siapa sebenarnya yang menanggung karma buruk. Jadi harap untuk maklum kalau ceritanya menjadi sedikit lebih singkat. Jadi jangan demo lagi ya?


“Kak Bern?”


“Hmmm,”


“Em, sepertinya aku telah kehilangan energiku karena tak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang Kak Karl berikan untukku,” ucap Flowrence takut-takut. Dia lalu menoleh ke arah kakaknya sambil mengigit ujung jari tangannya. “Maukah Kakak menolongku?”


“Sudah aku duga,” sahut Karl jengkel. Dia kemudian berdiri sambil berkacak pinggang. Adiknya ini benar-benar, soal semudah itupun tak mampu menyelesaikannya. Karl jadi ragu kalau Flowrence ini sebenarnya bukan adik kandungnya, melainkan seorang anak yang dipungut dari pinggir jalan. Karl dan kakaknya begitu pintar, tapi kenapa Flowrence bisa begitu bodoh? Padahal soal yang Karl tulis hanya sebatas pembagian di bawah seribu, tapi kenapa Flowrence masih tak bisa menjawabnya? Sungguh, Karl sudah tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Kesabarannya sudah habis tak bersisa.

__ADS_1


Ceklek


“Apa Ibu mengganggu?”


Elea menyembulkan kepalanya setelah membuka pintu kamar. Dia lalu tersenyum saat ketiga anaknya kompak menganggukkan kepala.


“Ibu, Kak Karl jahat sekali. Sejak tadi Kakak terus saja memarahiku. Iya kan, Kak Bern?” ucap Flowrence mengadu pada sang ibu akan sikap kakak keduanya yang begitu galak. Dia tadi sudah hampir kencing di celana karena kaget saat kakaknya tiba-tiba berdiri kemudian memelototinya.


“Iya,” jawab Bern singkat. Dia kembali fokus dengan laptopnya saat sang ibu melangkah masuk ke dalam kamar.


“Karl, jangan jahat-jahat pada adikmu. Bersabarlah, Flowrence itukan tidak sama seperti kau dan kakakmu. Jadi mengertilah saat dia lamban dalam mencerna apa yang kau katakan. Ya?” ucap Elea dengan penuh kasih mengelus pipinya Karl. Putra keduanya ini memang sedikit tidak sabaran jika berurusan dengan Flowrence.


“Benarkah?”


Karl mengangguk. Dia lalu melirik ke arah Flowrence yang sedang memperhatikannya dengan tatapan yang begitu polos. Lucu sih, tapi kebodohannya benar-benar membuat orang darah tinggi. Huh.


“Memangnya soal seperti apa yang kau tulis untuk adikmu, Karl?” tanya Elea sambil tersenyum gemas. Walaupun sama-sama berusia lima belas tahun, tapi Flowrence masih suka bersikap seperti anak berusia delapan tahunan. Elea jadi merasa kasihan pada Karl dan Bern. Mereka pasti merasa tertekan menghadapi kepolosan adiknya. Hmm.


“Aku membuatkan soal pembagian di bawah seribu, Bu. Dan Flowrence tidak bisa menuliskan jawabannya. Itu sangat memalukan sekali bukan?”


Pandangan Elea kemudian beralih pada Flowrence yang tengah menggigit bibir bawahnya sambil menggesek-gesekkan kedua ujung jari telunjuknya. Putrinya ini … bagaimana mungkin Elea akan tega memarahinya hanya karena tak bisa menjawab soal yang diberikan oleh putranya. Flowrence-nya begitu istimewa, jadi bukan masalah besar bagi Elea jika Flowrence tumbuh menjadi gadis yang kurang pintar.

__ADS_1


“Ibu, apa Ibu akan memarahiku seperti Kak Karl?” tanya Flowrence yang merasa bersalah akan ketidakmampuannya dalam belajar. “Ibu, aku juga ingin pintar seperti kedua kakakku. Akan tetapi itu tidak bisa aku lakukan. Padahal aku sudah berusaha keras mencari cara untuk membuat bangga semua orang, tapi gagal terus. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa begitu bodoh. Aku sungguh heran mengapa aku bisa terlahir berbeda dari Kak Karl dan juga Kak Bern. Aneh sekali bukan?”


“Sayang, kau itu tidak bodoh. Apa kau tahu, kau adalah yang paling istimewa dari kedua kakakmu. Kau lembut seperti salju, dan wajahmu sangat cantik seperti bidadari. Penyebab kenapa kau tidak bisa menjawab soal itu adalah karena Ibu yang jarang meluangkan waktu untuk mengajarimu belajar. Jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi ya? Ibu jadi sedih sekarang,” jawab Elea dengan mata berkaca-kaca. Dia lalu menatap Karl dengan begitu dalam. “Karl, adikmu tidak bodoh. Dia hanya terlalu istimewa, makanya dia tidak pintar sepertimu dan seperti kakakmu. Ke depannya nanti kalau kau merasa tidak sanggup untuk mengajarinya belajar, tolong jangan memarahinya lagi ya. Kasihan Flowrence!”


Bern yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya segera menghampiri sang ibu kemudian memeluknya dengan sepenuh hati. Hatinya tak nyaman melihat ibunya terlihat sedih saat membicarakan kekurangan adiknya. Sedangkan Karl, dia diam terpaku melihat mata ibunya yang tergenangi air mata. Merasa bersalah, itu sudah pasti. Karl sungguh tidak menyangka kalau kata-katanya akan membuat sang ibu merasa sedih.


“Ingat pesan Ibu baik-baik, Karl. Kalau hal ini sampai terulang lagi, kau akan berhadapan denganku!” ucap Bern sambil menatap datar ke arah Karl. Dia tidak suka dengan suasana seperti ini.


“Iya, Kak,” sahut Karl patuh. Dia lalu ikut memeluk ibunya seperti yang dilakukan oleh sang kakak. “Ibu, aku minta maaf ya. Aku janji lain kali aku tidak akan bersikap galak lagi pada Flowrence. Malam ini aku telah melakukan kesalahan yang tak kusengaja, tolong Ibu jangan marah padaku ya.”


“Ibu mana mungkin bisa marah pada kalian. Kalian bertiga adalah anak-anak hebat yang selalu membuat Ibu merasa bangga. Ibu bicara seperti itu hanya karena ingin melihat kalian bertiga selalu akur meski Flowrence tidak sehebat kalian berdua. Tolong bantu Ibu menjaganya ya?” ucap Elea penuh maksud. Bukan tanpa alasan mengapa Elea sampai tak kuat menahan air matanya. Hatinya terlampau sakit saat memikirkan kalau Flowrence suatu hari nanti akan dicelakai oleh kakaknya sendiri. Hal inilah yang membuat Elea merasa begitu sedih.


“Kak, Ibu, tolong peluk aku juga!” rengek Flowrence sambil mengulurkan kedua tangannya meminta agar dipeluk serta. Gara-gara kakinya pendek, Flow jadi kesulitan saat ingin memeluk ibu dan kedua kakaknya. Menyedihkan sekali bukan?


“Hahhh, dasar gadis bantat. Kemari kau!” sahut Karl meminta Flowrence mendekat padanya. Setelah itu Karl mengangkat tubuh Flowrence kemudian memeluknya bersamaan dengan sang ibu.


Ruang belajar yang tadinya berisi suara teriakan Karl yang kesal pada Flowrence kini berganti dengan suara gelak tawa penuh canda yang berasal dari mulut seorang ibu bersama ketiga anaknya. Dan saking bahagianya keempat orang tersebut, mereka sampai tidak menyadari kalaiu ada seseorang yang tengah menyeka air matanya dari balik pintu kamar. Gabrielle, dia merasa sangat sesak mendengar suara tawa Elea bersama ketiga anak mereka. Sungguh, dalam hal ini Elea-lah yang paling menderita. Dia seperti wasit yang dipaksa untuk adil dalam sebuah permainan kehidupan.


Elea, aku sangat mencintaimu. Aku harap kau tabah menjalani semua cobaan ini. Demi anak-anak kita, sayang. Aku mohon kuatlah ….


***

__ADS_1


__ADS_2