Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Overprotective


__ADS_3

Elea dengan penuh semangat melangkah keluar dari dalam mobil begitu sampai di rumah mertuanya. Dia kemudian berjingkrak kegirangan saat kedatangannya di sambut dengan auman merdu milik Lan.


"Uhhhh bayi besar, apa kau merindukan aku?" tanya Elea sembari mengusap bulu halus di tubuh Lan. Dia kemudian tertawa kencang saat Lan menggigiti kakinya. "Hahahaha, jangan kuat-kuat, Lan. Nanti kau dipukul suamiku."


Wajah Gabrielle begitu masam melihat istrinya yang sedang bermesraan dengan Lan. Ingin rasanya dia menguliti tubuh binatang itu, benar-benar menjengkelkan. Jika di rumah Gabrielle harus bersaing dengan Cuwee, dan di sini dia harus kembali bersaing dengan Lan. Belum lagi dengan Jackson dan ayahnya, membuat kepala Gabrielle seperti akan pecah karena istrinya terus menjadi rebutan.


"Biasa sajalah, Bung. Lan bukan ingin mencuri Elea darimu. Dia dan Elea hanya sedang saling melepas rindu saja. Pelit sekali!" celetuk Jackson yang sedang berdiri menyender di dekat pintu.


"Kau jangan banyak bicara, Jack. Rasakan penderitaan ini setelah kau menikah dengan Kayo nanti. Aku ingin lihat apa kau masih bisa berkata seperti itu lagi atau tidak!" sahut Gabrielle meradang.


Jackson tersenyum. Dia lalu memperhatikan adiknya yang terlihat sangat cantik ketika tertawa saat bermain dengan Lan. Elea-nya begitu istimewa, berlian di mata semua orang.


"Jangan coba-coba memikirkan tentang istriku ya. Awas saja kau!" ancam Gabrielle seraya menunjuk wajah Jackson saat mendengar apa yang dia pikirkan.


"Lalu apa gunanya aku mempunyai otak kalau tidak digunakan untuk berpikir? Konyol sekali," sahut Jackson santai. Cukup menyenangkan saat membakar amarah di diri pria posesif ini meski dia sendiri jauh lebih parah dalam hal mengidap kebucinan terhadap sang adik.


Gabrielle mendengus. Sambil menggerutu tidak jelas, dia kembali fokus memperhatikan Elea yang sedang sibuk menjahili Lan. Saking asiknya dia dan Jackson mencemburui binatang besar itu, mereka sampai tidak menyadari kalau pemilik rumah tengah menatap mereka sambil menggelengkan kepala.


"Tidak suami tidak kakak, kenapa kalian bisa sampai sebegitunya memperhatikan Elea? Tenang saja, Lan tidak akan mungkin tega menelannya," ledek Greg tak tahan menyaksikan kebucinan dari kedua pria tampan ini.


"Kalau dia sampai berani menyakiti Elea, aku akan langsung merendamnya dengan racun supaya Lan tidak mempunyai bulu lagi," sahut Gabrielle asal.


"Lalu setelah itu aku akan memenggal kepalanya," imbuh Jackson.


Gluukk


Tengkuk Jackson meremang. Dia tanpa sadar telah memantik kemarahan dari ketiga pemilik binatang yang ingin dia penggal kepalanya. Sambil menormalkan detak jantungnya, Jackson memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Dan benar saja. Ayah dan ibunya Gabrielle saat ini tengah menatapnya tak berkedip, yang mana tatapan itu membuat Jackson seperti berada di ujung kawah berapi.


"Just kidding."


"Hmmm, coba saja kalau kau berani menyakiti Lan. Akan kukirim kau penjara bawah tanah!" omel Greg kesal.


"Tidak akan pernah saya lakukan, Tuan Greg. Kecuali jika terdesak."


"Itu sama."


"Baiklah, saya minta maaf," sahut Jackson mengalah.

__ADS_1


Liona tak mempedulikan percakapan antara suaminya, Jackson dan juga Gabrielle. Matanya fokus memperhatikan sang menantu yang terlihat begitu gembira saat bermain dengan Lan. Liona seperti sedang melihat Grizelle versi remaja dimana putrinya selalu tertawa bahagia setiap kali bermain dengan binatang peliharaan keluarganya.


"Lan, sudah dulu ya. Lihat, semua orang sudah menungguku untuk makan malam. Kasihan, nanti mereka pingsan," bisik Elea di samping telinganya Lan.


Bagai mengerti maksud dari tuannya, Lan dengan berat hati melangkah pergi dari sana. Setelah itu Elea bergegas menghampiri suami, kakak, dan juga kedua mertuanya.


"Selamat malam Ibu Liona, Ayah Greg, Kak Jackson. Maaf ya, aku terlalu sibuk bermain dengan Lan sampai lupa untuk menyapa kalian terlebih dahulu."


"Tidak apa-apa, sayang. Ibu maklum. Kau dan Lan pasti saling merindukan bukan?" sahut Liona sembari memeluk tubuh mungil menantunya.


"Ayah diam di tempat. Jangan coba-coba bergenitan pada istriku!" cegah Gabrielle dengan cepat ketika melihat sang ayah hendak memberikan pelukan pada istrinya.


Greg langsung melayangkan tatapan sinis pada putranya yang sangat kurang ajar ini. Bisa-bisanya dia di larang untuk memeluk menantunya sendiri.


"Sudahlah Kak, jangan bertengkar dengan Ayah Greg dulu. Kasihan, Ayah sudah tua. Bagaimana kalau jantungnya tidak kuat mendengar suaramu yang keras itu?" omel Elea kemudian beralih memeluk ayah mertuanya. "Ayah, aku lapar. Bisakah kita makan malam sekarang? Sepertinya Lan sudah menyerap semua energiku tadi."


"Oh, tentu saja bisa sayang. Ayo masuk ke dalam, abaikan saja kedua pria menyebalkan ini. Oke?"


Dengan patuh Elea mengangguk setuju atas perkataan ayah mertuanya. Dia kemudian mengajak keduanya untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan suaminya yang sedang menganga tak percaya karena lagi-lagi di lupakan begitu saja.


"Ah, kenapa dadaku terasa seperti di tusuk seribu pedang ya? Sakit sekali!" ledek Jackson sambil berjalan masuk menyusul sang adik.


Kini semua orang telah berkumpul di ruang makan. Gabrielle pun dengan penuh perhatian mengambilkan makanan untuk Elea. Dia mengulum senyum saat istrinya ini membalas perlakuannya dengan membuat bentuk hati menggunakan jari tangan.


"Jangan mulai, Gabrielle!" tegur Jackson jengkel. Dia tidak siap jika harus melihat kebucinan pria ini lagi.


"Ck, apa sih!"


"Kau dan Elea jangan membucin di sembarang tempat. Hargai aku dan kedua orangtuamu. Paham?"


Liona dan Greg saling pandang begitu mendengar perkataan Jackson. Mereka sudah terbiasa menyaksikan bagaimana Gabrielle menunjukan rasa cintanya pada Elea.


"Jack, sebenarnya kau itu punya dendam apa sih pada kami berdua? Aku perhatikan setiap kali kami bermesraan selalu saja kau bertingkah begini. Kau cemburu atau bagaimana hah?" cecar Gabrielle sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Elea. "Kunyah dengan baik ya, sayang. Perhatikan kesehatan lambungmu."


Elea mengangguk. Dia begitu khusyuk menikmati makanan yang ada. Elea tidak begitu mempedulikan perdebatan antara kakak dan juga suaminya. Dia sedang dalam mode malas.


"Aku tidak cemburu ya. Hanya sedikit kesal karena kau terus menebar kebucinan di semua tempat!" jawab Jackson sembari mengunyah makanan di mulutnya.

__ADS_1


"Jack, kapan kau akan pergi melamar Kayo?"


Pertengkaran antara Jackson dan Gabrielle langsung terhenti begitu Liona menyinggung tentang Kayo. Kedua pria itu kemudian fokus dengan makanan masing-masing sembari membahas tentang lamaran yang ingin Jackson lakukan.


"Kalau boleh saya ingin meminta anda dan Tuan Greg mencarikan hari baik untuk melamar Kayo, Nyonya Liona. Jujur saja saya tidak memiliki pengalaman apa-apa mengenai masalah seperti ini," jawab Jackson pasrah.


"Oh, begitu. Ya sudah nanti biar kami saja yang mengatur harinya. Lalu jaminan apa yang akan kau berikan untuk masa depan keponakanku? Kau tidak mungkin membiarkannya tidur di jalanan bukan?"


"Itu tidak akan pernah terjadi selama saya masih hidup, Nyonya. Semua harta kekayaan yang saya miliki sudah saya balik nama menjadi milik Kayo dan juga Elea. Dan saya pun membaginya secara adil."


Liona langsung menatap tajam ke arah Gabrielle saat melihatnya hendak menyela perkataan Jackson. Dia tahu, sangat tahu kalau putranya itu pasti tidak terima istri kesayangannya mendapat harta dari pria lain. Sungguh laki-laki yang sangat overprotective.


"Bu, aku tidak bisa membiarkan istriku menerima hadiah dari pria lain. Terlebih lagi pria itu adalah dia. Aku tidak rela pokoknya!" protes Gabrielle tak mempedulikan peringatan dari sang ibu.


"Sudahlah Gab, jangan rewel. Lagipula Jackson berhak memberikan hartanya untuk Elea. Dia itu kan adiknya!" omel Greg.


"Yang di katakan oleh Ayahmu benar, Gabrielle. Jackson dan Elea adalah kakak adik, apa yang harus di cemburui? Benar tidak, Elea?" tanya Liona sembari melihat ke arah menantunya yang sedang asik menikmati makan malam.


"Ibu Liona, bukankah Ibu pernah bilang padaku kalau bicara saat makan adalah sesuatu yang sangat tidak sopan? Tolong jangan mengajakku bicara dulu karena aku tidak mau mati tersedak!"


Jawaban Elea sukses membungkam mulut semua orang. Liona, Greg, Jackson dan Gabrielle langsung terdiam seribu bahasa begitu wanita mungil ini membuka mulut. Sungguh, hanya Elea satu-satunya manusia yang berani membuat orang-orang berkuasa ini diam tak berkutik. 🀣🀣🀣


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


HALO KAKAK-KAKAK... kami adalah pasangan bucin mendarah daging yang paling fenomenal di novel ini πŸ’œπŸ’œ



Β 



**


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2