Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tabungan Jangka Panjang


__ADS_3


📢 Jangan lupa mampir ke novel My Destiny (Clara & Eland) 💜


📢 Jangan lupa juga mampir ke novel Pesona Si Gadis Desa 💜


Cup


"Good morning, my wife," ....


Elea tersenyum sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Tidak terasa kini baby BKF sudah hampir berusia satu bulan sejak dilahirkan. Dan sejak itu pula kediaman keluarga Ma tak pernah sepi dari kunjungan para ibu-ibu yang dengan begitu asik menjadikan anak-anak mereka sebagai bahan kontes. Namun karena Elea masih harus berhati-hati akan luka bekas kecelakaan waktu itu, dia terpaksa menyewa seorang baby sitter sebagai komando perlombaan. Sebenarnya bisa saja sih Elea meminta ibu dan ibu mertuanya untuk menjaga Bern, Karl, dan juga Flow. Akan tetapi dia sedikit tidak yakin mengingat kalau mereka sudah agak tua. Elea khawatir kedua ibunya itu akan patah pinggang karena sekarang baby BKF mulai mengalami fase penggemukan.


"Apa tidurmu nyenyak, hem?" tanya Gabrielle sambil menciumi kening Elea.


"Kau terus memelukku sepanjang malam jadi mana mungkin tidurku tidak nyenyak, Kak?" jawab Elea. "Tolong bantu aku duduk ya. Berbaring seperti ini aku jadi tidak bisa menikmati ketampananmu dengan khusyuk!"


Gabrielle tertawa mendengar perkataan Elea. Setelah itupun dia membantu menarik Elea bangun kemudian menata beberapa bantal untuk di jadikan sandaran. Walaupun saat ini Gabrielle sudah mengenakan pakaian kantor, dia tak ragu untuk ikut menyandar seperti Elea. Gabrielle suka suasana yang seperti ini. Hangat dan juga menenangkan.


"Di mana anak-anak kita, Kak? Mereka tidak membuat Nani kewalahan bukan?" tanya Elea setelah semua nyawanya berkumpul menjadi satu.


"Mereka ada di bawah, sayang," jawab Gabrielle. Dia lalu mengeluhkan akan sesuatu hal pada Elea. "Pagi-pagi buta pelakor itu sudah datang ke rumah kita. Alasannya sih karena Reinhard dan kedua orangtuanya tidak ada di rumah, padahal dia datang karena tahu kalau anak-anak kita akan melakukan spa pagi ini. Hmmm, lama-lama aku merasa kalau Oliver itu adalah anak bungsuku, sayang. Anak itu menerima semua hal yang kadang anak-anak kita sendiri tidak merasakan. Benar tidak?"


"Jangan mengeluh begitu, Kak Iel. Anggap saja apa yang kita berikan pada Oliver adalah tabungan jangka panjang untuk masa depan putri kita kelak. Kau lupa ya kalau Oliver itu adalah calon menantu kita? Masa iya kita akan membiarkan Flow menikah dengan laki-laki bermasa depan suram?"

__ADS_1


Andai saja pelakor itu mendengar apa yang di katakan oleh Elea barusan, bisa di pastikan dari kedua lubang telinganya akan langsung mengeluarkan asap tebal karena tak terima kekayaan yang putranya miliki di anggap sebagai tabungan jangka panjang. Namun untungnya Levita sedang tidak ada di sana, jadi Gabrielle tak perlu mendengar suaranya yang cempreng dan berisik itu.


"Kak Iel, ayo kita turun. Aku ingin melihat seperti apa reaksi anak-anak kita saat menerima perawatan spa untuk yang pertama kali," ajak Elea sembari mengguncang pelan lengan Gabrielle.


"Baiklah. Ayo!"


Dengan penuh perhatian Gabrielle menunggu Elea turun dari ranjang kemudian membantu merapihkan pakaiannya. Mungkin di antara kalian ada yang penasaran mengapa baby BKF tidak tidur satu kamar dengan Gabrielle dan Elea. Penyebabnya adalah karena Gabrielle tidak ingin vase penyembuhan Elea jadi terganggu jika malam-malam harus bangun untuk menyusui anak-anak mereka. Jadi setelah melakukan meeting bersama keluarga besarnya, Gabrielle memutuskan untuk menyewa seorang nani lalu memonitor para kurcaci melalui alat khusus yang di buat oleh Paman Hansen. Hal ini kemungkinan besar tidak akan berlanjut sampai baby BKF besar karena selama hampir satu bulan ini kesembuhan Elea terus mengalami peningkatan yang signifikan. Bisa jadi baby BKF akan tidur di kamar yang sama dengan mereka setelah ini.


"Hati-hati!" ucap Gabrielle.


"Haih, aku ini bukan nenek-nenek yang sedang menyebrang jalanan, Kak Iel. Jadi tolong berhenti memegangiku seperti ini. Aku masih bisa kok berjalan sendiri!" protes Elea yang merasa sedikit risih akan sikap Gabrielle yang terlalu berlebihan. Masa Elea berjalan dengan terus di apit seolah dia bisa jatuh dan terjerembab kapan saja. Kan aneh.


"Aku khawatir, sayang. Kalau kau jatuh lalu lukamu kembali memburuk bagaimana?"


"Baiklah. Tapi sedikit saja ya jangan banyak-banyak!"


"Iya, sayang,"


"Istri yang baik. I love you,"


"Love you to, Kak Iel."


Percakapan romantis antara Gabrielle dan Elea rupanya di perhatikan oleh Levita sejak tadi. Akan tetapi anehnya pelakor itu hanya berdiri diam tanpa ada drama marah-marah seperti biasanya. Elea yang pertama kali menyadari sikap aneh Levita pun memutuskan untuk mendekat. Dia takut ada hal buruk yang terjadi.

__ADS_1


"Kak Levi, tumben sekali kau tidak mengomel. Ada apa? Mulutmu sedang sariawan?" tanya Elea penasaran.


"Jangan mengada-ada kau, Elea. Suamiku itu dokter, mustahil aku sariawan," jawab Levi masih dengan ekpresi wajah yang aneh.


"Aku tahu kalau Kak Reinhard adalah seorang dokter. Tapi kau jangan lupa Kak kalau suamiku adalah pemilik dari semua gedung rumah sakit tempat suamimu bekerja!"


Kriikk kriikk kriikkk


Gabrielle dan Ares sama-sama menahan tawa ketika menyaksikan si pelakor yang langsung kicep karena di skak matt oleh istri sah. Sungguh, ekpresi wajahnya sekarang terlihat sangat mengenaskan. Niat hati ingin bersombong diri, malah lupa kalau di atasnya ada Elea yang selalu menemukan cara untuk membungkam kesombongan orang lain. Jadilah sekarang Levi hanya bisa merajuk dengan mulut manyun ke depan.


"Eh, Elea. Aku perhatikan sejak kau pulang dari rumah sakit aku tak pernah lagi melihat Nun di mana-mana. Pergi kemana dia? Kau tidak membunuhnya 'kan?" tanya Levita.


"Oh, Pak Nun sedang healing, Kak," jawab Elea.


"Healing?"


Elea mengangguk. "Kak Iel bilang Pak Nun meminta waktu untuk mengistirahatkan otaknya yang sudah overdosis pekerjaan. Dia lelah, dan ingin mencari suasana baru untuk beberapa minggu ke depan. Makanya saat aku pulang dari rumah sakit dia langsung meminta izin untuk libur!"


Apa kalian pikir Levita akan percaya begitu saja pada perkataan Elea? Ohoho, tentu saja tidak kawan. Sampai detik ini Levita bahkan masih belum lupa dengan kejadian di mana Gabrielle menggila seperti monster. Dan dari semua orang yang terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Elea, hanya Nun satu-satunya orang yang tidak menerima hukuman dari Gabrielle. Jadi besar kemungkinan kalau perginya Nun sekarang berhubungan dengan hukuman susulan itu mengingat kalau Gabrielle telah memberikan tanggung jawab penuh pada Nun perihal keselamatan Elea dan ketiga anaknya.


Heh, dasar monster gila. Kau mungkin bisa membodohi Elea dengan mengatakan kalau Nun sedang meminta cuti untuk berlibur. Tapi sayangnya kau tidak akan bisa membohongiku. Aku yakin sekali kalau Nun pasti sedang berada di suatu tempat dalam kondisi terikat dan kepala terbalik. Kau pasti sedang menghukumnya. Dasar psikopat gila kau, Gab. Huh


Gabrielle berdehem pelan sambil mengendurkan dasi di lehernya saat mendengar apa yang baru saja di pikirkan oleh Levita. Ingin marah tapi tidak mungkin dia lakukan karena apa yang di pikirkan oleh Levita adalah benar adanya. Setelah Elea di bawa pulang ke rumah, Gabrielle langsung menjatuhi hukuman pada Nun dengan cara mencabut program dan baterai khusus yang terpasang di tubuhnya. Setelah itu Gabrielle mengirim Nun kembali ke labolatorium untuk di perbaiki agar bisa lebih waspada untuk ke depannya. Sebenarnya Elea telah mengetahui hal ini, tapi tidak mungkin juga kan dia memberitahu Levita tentang keberadaan Labolatorium Grisi? Bisa-bisa jiwa sok ingin tahu di diri Levita mencuat yang mana akan membuatnya merengek dan memohon pada Elea agar di antarkan pergi ke sana. Bisa gawat nanti. Benar tidak man-teman?

__ADS_1


*****


__ADS_2