
"Kak Ning, sekarang bisakah kau ikut pergi bersamaku untuk makan malam dengan Grandma Clarissa?" tanya Elea sambil tersenyum manis.
Untuk beberapa saat Kak Ning hanya terdiam dengan mulut ternganga lebar. Dia syok, itu sudah pasti. Bagaimana tidak! Cucu dari designer ternama itu mengajaknya untuk pergi makan malam bersama. Wajarlah kalau dia bereaksi seperti ini.
"Kak Ning, kau mau tidak?"
"M-mau, mau mau mau. Aku tentu saja sangat mau, Elea. Ah ya ampun, terima kasih banyak ya atas ajakannya. Aku merasa sangat terhormat bisa bertatap muka secara langsung dengan Nyonya Clarissa Wu. Kau pahlawanku, Elea sayang," sahut Kak Ning dengan semringah.
"Kalau begitu aku tunggu di luar kampus ya, Kak."
"Baiklah. Tolong beri aku sedikit waktu untuk bersiap ya. Aku tidak ingin memberi kesan yang buruk pada Nyonya Wu di pertemuan pertama kami. Oke baby?"
Elea mengangguk. Dia kemudian menoleh ke arah Lusi yang tengah menarik nafas panjang berulang kali. Bagai tak memiliki dosa, Elea memperlihatkan senyum manis sejuta umat ketika Kak Ning berpamitan untuk pergi bersiap. Lusi yang paham akan arti dari senyuman itu hanya bisa menggelengkan kepala. Kali ini Kak Ning benar-benar telah masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Elea. Sungguh perempuan yang sangat usil.
"Hmm, apa sekarang sudah puas?" tanya Lusi.
"Hehe, belum Kak. Kan aku belum memberi kejutan yang sesungguhnya pada Kak Ning. Aku jadi tidak sabar ingin segera melihat ekpresi terkejut di wajahnya begitu aku membawanya datang ke makam Mama Sandara. Dia pasti akan sangat senang sekali," jawab Elea sambil berjalan keluar dari kampus.
Senang dari Hongkong. Yang ada Kak Ning bisa kencing di celana karena di ajak ke pemakaman menjelang magrib begini. Kau ini ada-ada saja, Elea.
"Kau sudah mengabari Grandma-mu belum?"
"Sudah tadi pagi, Kak."
"Tadi pagi?"
Elea mengangguk. Ya, memang benar kalau dia sudah mengabari sang nenek bahkan sebelum dia mengajak Kak Ning untuk makan malam bersama. Elea melakukan hal tersebut karena sangat yakin kalau Kak Ning tidak akan bisa menolak ajakannya. Dan kebetulan malam ini dia juga sudah izin pada suaminya kalau akan pulang sedikit terlambat. Elea merindukan sang mama, begitu dia beralasan.
"Kak Lusi kenapa kaget begitu sih. Memang benar kok kalau aku sudah lebih dulu memberitahu Grandma Clarissa tentang rencana makan malam inj sebelum aku mengajak Kak Ning. Ada yang salah ya?" tanya Elea sambil menahan tawa.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah sih. Akan tetapi aku heran kenapa kau bisa menjanjikan makan malam dengan orang yang bahkan baru saja kau ajak. Kalau seandainya tadi Kak Ning menolak bagaimana? Grandma-mu pasti akan bertanya-tanya," jawab Lusi tak habis pikir.
"Tenang saja, Kak. Kak Ning itu sangat mengidolakan Grandma Clarissa, aku sangat yakin kalau dia tidak akan mungkin menolak tawaran dariku. Dan benar kan, dia terlihat sangat antusias ketika di ajak untuk makan malam bersama dengan idolanya. Kak Ning belum tahu saja kalau aku tidak akan semudah itu membiarkannya tersenyum bahagia setelah apa yang dia lakukan pada kita berdua."
"Jadi kau masih menyimpan dendam padanya ya?"
"Bukan dendam sih, Kak. Tapi lebih tepatnya gemas. Ya gemas, gemas dengan mulut lemesnya."
Percakapan Lusi dan Elea terhenti ketika Kak Ning datang menyusul. Setelah itu ketiganya sama-sama masuk ke dalam mobil Jackson yang sudah datang menjemput.
"Kau duduk di depan saja, Elea," ucap Jackson ketika melihat seekor kuda nil hendak duduk di sebelahnya.
"Oh, baik Kak," sahut Elea kemudian bertukar kursi dengan Kak Ning. Dia cuek-cuek saja ketika Kak Ning memasang wajah masam karena kehadirannya di tolak oleh sang kakak. "Kak Jackson, nanti tolong berhenti dulu di toko bunga ya. Aku ingin membeli bunga kesayangan Mama Sandara dulu."
"Oh, baiklah. Dengan siapa kau akan datang ke pem..... eemmmpptttttt!"
Jackson kaget setengah mati saat mulutnya tiba-tiba di bungkam oleh Elea. Dia menatap bingung ke arah adiknya yang sedang memelototkan mata sambil berkomat-kamit tidak jelas.
"Diam dan jalankan saja mobil ini, Kak. Kalau Kak Jackson berani menyebut kata pemakaman, aku akan merajuk selama satu minggu penuh. Aku juga akan mengadu pada Ibu Liona kalau Kakak sudah bersikap jahat padaku. Mau!?" ancam Elea sebelum melepaskan bungkaman tangannya.
"Jangan bilang kau ingin mengerjai kuda nil itu, Elea?" tanya Jackson berbisik-bisik. Dia kemudian mulai melajukan mobilnya ke jalanan.
"Benar sekali. Kakak mau ikut tidak? Lumayanlah untuk hiburan."
"Untuk kesenangan seperti ini tentu saja Kakak harus ikut," sahut Jackson penuh semangat. Entah mengapa sekarang dia jadi ketularan sikap tengil adiknya ini.
Tengkuk Kak Ning meremang ketika mendengar tawa cekikikan dari kursi depan. Dia kemudian menoleh ke arah samping, mengerutkan kening karena ternyata Lusi sedang menatapnya.
"Ada apa Kak Ning?" tanya Lusi dengan suara yang sedikit tercekat. Dia sedang menahan tawa gara-gara teringat dengan niat jahat yang ingin dilakukan Elea pada guru desain mereka.
__ADS_1
"Emm Lusi, kalian tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk bukan? Entah mengapa firasatku mengatakan kalau setelah ini akan ada tragedi besar yang terjadi dalam hidupku. Hatiku sangat resah," tanya Kak Ning mengungkapkan apa yang dia rasa.
"Sama sekali tidak ada niatan jahat yang sedang kami rencanakan, Kak. Sungguh. Elea kan hanya ingin mengajakmu makan malam bersama dengan Nyonya Clarissa. Tapi sebelum itu kita akan pergi mengunjungi rumah mamanya Elea dulu. Baru setelahnya kita akan makan malam bersama yang lain. Benar begitu kan, Elea, Kak Jackson?"
Elea berbalik ke belakang kemudian mengangguk cepat. Sementara Jackson, dia tetap fokus mengemudi sambil mengulum senyum. Adiknya ini benar-benar sangat jahil. Di lihat dari bentukannya Kak Ning, Jackson sudah bisa memastikan kalau kuda nil itu akan sangat ketakutan begitu mereka membawanya datang ke pemakaman. Apalagi sekarang hari sudah sangat sore, suasana di pemakaman pasti akan terasa begitu sunyi dan sepi.
"Kalau Kak Ning merasa tidak nyaman, kita batalkan saja makan malam bersama Grandma. Aku tidak mau di anggap sebagai murid kurang ajar," ucap Elea seraya memasang wajah tak enak hati. Dia sungguh sangat pandai memainkan acting.
"O-oh jangan-jangan!" sahut Kak Ning dengan cepat. Dia tidak mau kehilangan moment penting ini hanya karena feelingnya yang tidak berdasar. "Mungkin ini hanya perasaanku saja yang sedikit kelelahan makanya jadi berpikir yang tidak-tidak. Hehee...
"Elea, duduklah dengan benar. Gabrielle bisa membunuhku kalau kau sampai terlempar keluar jika aku mengerem mendadak!" tegur Jackson yang khawatir dengan posisi duduk adiknya.
Begitu nama Gabrielle di sebut, Kak Ning langsung menatap curiga ke arah Elea. Dia curiga kalau-kalau gadis ini memiliki hubungan dekat dengan pria bernama Gabrielle yang dia tahu adalah pewaris dari Group Ma. Karena penasaran, Kak Ning memutuskan untuk bertanya apakah Gabrielle yang di maksud oleh pria ini adalah Gabrielle anaknya Tuan Besar Greg Ma atau bukan.
"Elea, Gabrielle yang tadi di sebut oleh laki-laki ini apakah Gabrielle dari keluarga Ma?"
"Bukan, Kak Ning. Gabrielle yang di maksud oleh kakakku adalah seekor keledai tampan peliharaanku. Dia sangat posesif, bahkan tak segan-segan menyerang siapapun orang yang berani membuatku sedih. Apa Kak Ning ingin berkenalan dengan Gabrielle?" jawab Elea dengan santainya menyebut sang suami sebagai seekor keledai.
"Tidak. Terima kasih."
Lusi hanya bisa ternganga ketika mendengar Elea menyebut suaminya seekor keledai. Sedangkan Jackson, pria itu nampak menutup mulut menahan tawa. Dia tak bisa membayangkan betapa syoknya Gabrielle jika sampai mendengar ucapan adiknya barusan. Benar-benar sangat luar biasa.
Elea-Elea, untung saja suamimu yang posesif itu tidak ada di sini. Hmmm....
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...